Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Tragedi


__ADS_3

Setelah sekarang mereka hanya berdua saja, Radit berusaha keras mengendalikan emosinya, agar tidak menarik perhatian orang-orang yang sedang bekerja di peternakannya.


Berdiri membelakangi Nadin, ia dibuat geram saat tidak mendengarkan sepatah kata pun dari mantan pacarnya itu.


"Kenapa kamu hanya diam saja? Bukankah ada hal penting yang ingin kamu sampaikan padaku?" Melirik jam tangannya, Radit mengetuk-ngetukkan jarinya tak sabar di layar jam tangannya. "Waktumu tinggal 4 menit lagi."


"Nggak!" bantah Nadin keras. "Kita belum berbicara. Jadi, aku masih punya waktu 5 menit."


"Omong kosong apa yang kamu bicarakan?" Radit membalikkan badannya.


"Akhirnya kamu menatapku juga."


"Kamu sudah membuang waktumu dengan berdiri selama 1 menit di sana. Jadi, kamu hanya punya waktu 4 menit kurang 10 detik sekarang."


"Berhentilah menghitung waktu di jam tanganmu!" cetus Nadin, memukul jam yang ada di pergelangan tangannya. "Nggaklah baik berbicara dengan orang lain sambil membelakangiku seperti tadi. Jadi, aksi diamku selama 1 menit tadi, nggak masuk hitungan."


Melambaikan tangannya di udara, Radit kemudian menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Lupakan perdebatan kita tentang waktu. Sekarang, katakan yang ingin kamu katakan padaku!" perintahnya tak sabar. "Aku nggak ingin lama-lama berbicara berdua saja denganmu. Ini hanya akan memancing gosip, asal kamu tahu saja. Apalagi kalau istriku sampai mendengar hal ini... Memikirkannya saja membuatku ngeri."


"Kalau kamu terus berceloteh panjang lebar seperti itu, kapan aku mulai bicaranya?"


Menggelengkan kepalanya, Radit menepis bayangan mengerikan wajah murka Widya dari kepalanya. Lalu ia menganggukkan kepalanya, meminta Nadin memulai pembicaraan.


"Aku nggak tahu harus mulai dari mana. Ini terlalu rumit," ucap Nadin bimbang. "Seperti yang kamu tahu, aku bohong mengenai pernikahanku tadi malam."


"Ya, aku mendengarnya sangat jelas tadi malam," angguknya menyetujui. "Sejujurnya, aku nggak mengerti sama sekali, apa maksudmu mengatakan hal ini padaku. Itu bukanlah urusanku. Itu urusan pribadimu, dan aku nggak tertarik sama sekali tentang hidupmu."


"Aku tahu. Aku sadar kisah hidupku sudah tak menarik lagi bagimu."


"Kalau kamu sadar, kenapa kamu masih menggangguku," gerutunya pelan.


"Tapi, tak tahu mengapa, saat melihatmu tadi malam, aku ingin menceritakan hal ini padamu," lanjut Nadin, mengabaikan gerutuannya. "Aku merasa, mungkin saja kamu bisa membantuku memecahkan masalahku ini."


"Kalau kamu ke sini hanya untuk mencari seseorang untuk memecahkan masalahmu, maka kamu salah tempat," celetuk Radit, memberikan raut tak tertarik sedikit pun untuk mendengarkan lebih lanjut. "Aku nggak memiliki hubungan apa pun lagi denganmu setelah kita putus. Lebih baik kamu ceritakan pada orang tuamu saja masalahmu itu."


"Justru karena itulah aku menceritakan hal ini padamu!" seru Nadin frustasi. "Aku nggak punya tempat untuk berbicara cerita hal ini, selain denganmu. Kumohon, mengertilah, dengarkan sekali saja ceritaku ini."


"Baiklah, baiklah, lanjutkan ceritamu," suruh Radit, melambaikan tangannya acuh. "Langsung ke pokok permasalahannya saja, nggak perlu berputar-putar."


"Sebenarnya... Aku sudah menikah!" ucap Nadin, menutup.kedua matanya, seakan-akan takut melihat reaksinya.

__ADS_1


Selama sesaat tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Radit untuk menanggapi pengakuan mengejutkan itu. Ia sungguh tidak memahami percakapan ini sama sekali.


Padahal kemarin Nadin mengakui padanya bahwa dia berbohong mengenai pernikahannya. Lalu sekarang, dia mengakui, jika dia sudah menikah. Jadi, yang benar yang mana? Dia sudah menikah atau belum?


"Jujur, aku nggak memahami sama sekali apa maksudmu," sahutnya, mengernyitkan alisnya. "Entah aku yang terlalu bodoh memahami ucapanmu atau aku mungkin salah mendengar ucapanmu barusan."


Membuka matanya perlahan, Nadin menghela napas, kemudian menatap matanya teguh.


"Bukan keduanya. Aku paham dengan kebingunganmu sekarang. Tadi malam aku bilang padamu, aku berbohong perihal pernikahanku, tapi sekarang aku mengatakan padamu bahwa aku sudah menikah. Mungkin, aku kurang jelas menjelaskan hal ini padamu," ujar Nadin, mengakui kerumitan ceritanya. "Sebenarnya, maksudku tadi malam, aku berbohong saat mengatakan ini pernikahan pertamaku."


"Apa maksudmu?" sahutnya, semakin kelimbungan. "Bisakah kamu menceritakan hal ini lebih jelas lagi? Aku semakin bingung saja dengan ceritamu."


"Baiklah, biarkan aku menceritakan hal ini padamu sejelas yang aku mampu, dan sesingkat waktu yang kamu berikan padaku."


Beberapa menit kemudian berlalu, saat Radit mendengarkan dalam diam cerita mengejutkan itu. Ia tahu, mungkin saat ini ia terlihat seperti orang bodoh, ketika hanya bisa menganga sambil menatap takjub pada Nadin.


Setelah mampu memulihkan diri dari rasa terkejutnya, Radit segera berdeham untuk membersihkan tenggorokkannya, yang terasa ada sesuatu yang mengganjal di sana.


"Aku nggak tahu harus berkata apa. Ceritamu barusan benar-benar mengejutkanku."


"Aku memahaminya. Siapa pun yang mendengarkan hal ini, pasti akan bereaksi sama sepertimu," setuju Nadin. "Karena inilah, aku nggak bisa menceritakannya pada kedua orang tuaku."


"Aku terlalu malu untuk mengakuinya." Nadin menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Aku benar-benar merasa bersalah pada mereka. Seandainya saja dulu aku nggak gegabah, mungkin aku nggak akan mengecewakan mereka seperti ini. Ini salahku."


"Apa Om dan Tantemu mengetahui hal ini juga?"


"Iya, mereka tahu," ujar Nadin, menganggukkan kepalanya. "Aku meminta mereka agar tak mengatakan hal ini pada orang tuaku. Makanya, aku datang ke sini untuk mengakui aibku ini, tapi setiap melihat mereka berdua, aku terlalu takut untuk mengatakannya."


"Sebentar!" Radit mengangkat sebelah tangannya, mencoba memahami situasi ini. "Kalau boleh aku tebak, apa kamu menceritakan hal ini padaku, agar aku membantumu mengatakan hal ini pada kedua orang tuamu?"


"Apa kamu keberatan?" tanya Nadin hati-hati, terlihat sangat khawatir.


"Tentu saja, aku keberatan," jawab Radit, tanpa pikir panjang. "Ini urusanmu dan orang tuamu. Aku nggak berhak sama sekali mencampuri hidupmu. Kita ini sudah nggak memiliki hubungan apa-apa lagi, Nad. Kita ini hanya sebatas... sebatas teman biasa. Kalau kamu perlu bantuan, minta tolong saja pada calon suamimu. Maaf aku nggak bisa menolongmu."


Meskipun merasa agak merasa kasihan, Radit menganggap ini memang keputusan bijak yang bisa diambilnya. Tak ada gunanya mencampuri kehidupan pribadi Nadin. Hal itu hanya akan memancing keributan di dalam rumah tangganya, jika Widya mengetahuinya.


Ia sungguh tak habis pikir dengan sikap Nadin meminta pertolongan padanya, mengenai sesuatu yang begitu sensitif seperti ini. Apa dia tak berpikir, akan sangat aneh, jika Radit menemui orang tuanya untuk mengungkapkan rahasia pahit ini.


Memangnya siapa ia bagi Nadin? Ia ini hanyalah sebatas mantan pacarnya dahulu, tidak lebih. Jadi, meskipun merasa tak enak hati telah menolak permintaannya, Radit tetap harus menarik batas di antara mereka berdua.


"Dia juga tak tahu tentang diriku yang sudah janda ini," lirih Nadin. "Jadi, bagaimana mungkin, kamu memintaku mengatakan hal ini padanya?"

__ADS_1


"Astaga, Nadin! Bagaimana bisa kamu merahasiakan ini dari calon suamimu? Walau bagaimanapun, dia berhak tahu. Apa kamu nggak memikirkan bagaimana perasaannya, saat dia tahu kamu telah menyembunyikan rahasia ini darinya?"


"Aku... aku... aku...." Nadin tergagap-gagap, mencoba mencari kata yang yang tepat untuk menjelaskan perasaannya. "Entahlah. Intinya, aku masih belum siap mengungkapkan hal ini padanya. Bahkan aku juga masih belum siap dengan pernikahan kami berdua."


"Kamu nggak berubah. Kamu selalu saja mementingkan perasaanmu," ucap Radit, teringat luka yang diberikan Nadin dulu padanya. "Sudahlah, ini bukan urusanku juga. Aku nggak peduli apa yang kamu rasakan, jadi, berhentilah menggangguku lagi. Waktumu sudah habis, permisi."


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Radit berjalan melewati perempuan egois, yang pernah dicintainya dulu itu.


"Aku belum selesai," ujar Nadin, menangkap pergelangan tangannya. "Aku minta maaf, jika dulu pernah menyakitimu. Kamu nggak tahu, seberapa menyesalnya aku telah melepaskanmu dahulu. Andai saja aku dulu menerima lamaranmu, mungkin hidupku nggak akan sehancur ini."


"Itu sudah menjadi masa lalu, semua yang kamu katakan itu sudah nggak berarti apa pun lagi padaku. Jadi, aku minta padamu, jangan mengungkitnya lagi," balas Radit, tanpa menolehkan kepalanya untuk memandang Nadin, yang berada di sampingnya. "Sebaiknya, kamu pikirkan saja, bagaimana caranya menyelesaikan masalahmu itu dengan kedua orang tuamu dan calon suamimu. Ini saran yang bisa kuberikan untukmu, selamat tinggal."


Melepaskan genggaman erat Nadin dari lengannya, Radit kembali melangkahkan kakinya. Namun, sebelum ia berjalan lebih jauh, Nadin tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Jangan pergi, Dit!" pinta Nadin, terisak di belakang punggungnya. "Aku sungguh menyesal. Kumohon, jangan perlakukan aku sedingin ini."


"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku sekarang juga!" Radit berusaha melepaskan pelukan Nadin darinya. "Apa yang akan orang pikirkan, jika melihat kita berdua seperti ini?"


Nadin semakin mengeratkan pelukannya. "Aku nggak peduli apa yang orang pikirkan tentang kita!"


"Tapi, aku peduli!" bentak Radit, kesal dengan sikap acuh Nadin.


Ia sangat tidak ingin bertindak kasar sedikit pun pada Nadin, tetapi sikap Nadin telah membuat amarahnya mendidih. Menggenggam kuat pergelangan tangan Nadin, ia perlahan melepaskan pelukan erat itu.


Sayangnya, sebelum ia sepenuhnya melepaskan pelukan erat Nadin, suara terkesiap keras menghentikannya.


"Radit!" teriak Widya lantang.


Mengangkat kepalanya, ia memandang ngeri pada pemandangan yang ada di hadapannya.


Sial! Kenapa dia ada di sini? Ekspresi wajah istrinya terlihat sangat menakutkan. Kerutan-kerutan kecil terbentuk di sudut matanya, menunjukkan rasa tidak senang atas apa yang telah dilihatnya. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya, seolah siap menghantamkan tinjunya ke wajah Radit.


Lebih mengerikannya lagi, Ririn dan Deni juga berada di sana. Mereka berdua berdiri tepat di belakang Widya, dengan mulut menganga lebar. Mungkin tak lama lagi seekor lalat akan masuk ke mulut kedua orang bodoh itu.


Berderap cepat menghampirinya, kilatan membara di mata Widya, meyakinkan Radit bahwa tak ada ampun baginya. Hancurlah sudah keharmonisan rumah tangganya. Menutup kedua matanya, Radit bersiap menerima tinju maut yang akan dilayangkan Widya padanya. Radit tahu, istrinya sangat mampu melakukan hal itu.


Ia dibuat terkejut saat mendapati tidak ada hal apa pun menimpa wajahnya. Justru sebaliknya, Widya melampiaskan amarahnya pada Nadin, yang sedang bersembunyi di belakangnya sambil memegang erat ujung bajunya. Widya tidak segan-segan menghempaskan tubuh Nadin ke tanah begitu kasarnya.


"Jauhkan tangan kotormu itu dari suamiku, dasar kamu perempuan jal*ng sialan!" cerca Widya, menudingkan jarinya murka.


Ya ampun! Hilang sudah hari indahnya. Kejadian ini pasti akan menghebohkan seluruh desa ini. Sekarang ini yang harus dilakukannya adalah meredakan situasi mengerikan ini, supaya tidak menjadi lebih parah lagi. Semoga Tuhan menolongnya.

__ADS_1


__ADS_2