
Radit berjalan dengan langkah terburu-buru agar bisa cepat sampai ke tempat tujuan mereka. Jarak rumah tukang urut dari rumah Nenek Aya hampir memakan waktu 15 menit jika berjalan kaki. Namun, kondisi Widya membuatnya begitu khawatir sehingga ia berjalan sangat cepat, meskipun saat ini ia sedang dalam keadaan membopong seseorang.
Kekhawatirannya terhadap Widya membuatnya hampir lupa jika di belakangnya Nenek Aya sedang mengikutinya. Berhenti sejenak, ditengoknya ke belakang untuk memastikan Nenek Aya tidak terlalu jauh darinya.
Memicingkan mata, Radit melihat Nenek Aya berjalan bersama Mila mengikutinya. Ketika mereka berdua melihatnya menghentikan langkah, dari jauh Nenek Aya mengibaskan tangan, memberi tanda agar ia melanjutkan perjalanannya tanpa menunggu mereka berdua. Menuruti perintah tak bersuara itu, ia kembali berderap cepat.
Merasakan rangkulan tangan Widya di lehernya melemah, ia menunduk menatapnya. Mengerjapkan matanya Radit mengira jika ia telah salah lihat. Dipelukannya Widya saat ini sedang tertidur.
Astaga! Dalam keadaan seperti ini dia malah tertidur. Kenmana perginya kucing mungil yang mengamuk memukulnya tadi?
Tidak berapa lama lagi mereka akan tiba di tempat tujuan, jadi ia sengaja menghentikan langkah untuk memperbaiki posisi Widya dalam pelukannya agar dia terbangun. Sayang sekali, rencananya gagal total, istrinya tetap tertidur lelap.
Mengangkatnya lebih tinggi, Radit berbisik di telinganya. "Widya, bangun! Kita hampir sampai."
Peringatannya malah dibalas dengan tamparan di pipinya. "Berisik!" gumam Widya, yang setengah tertidur.
"Ini bukan saatnya kamu tertidur. Sebentar lagi kamu akan diurut. Jadi, bukalah kedua matamu itu," omelnya di telinga Widya sambil meremas ringan lengannya.
Syukurlah omelannya itu berhasil membangunkan Widya dari tidurnya. Membuka matanya perlahan, dia menatap Radit kebingungan. Tampaknya selama sesaat dia lupa apa yang telah terjadi. Ketika kesadarannya sudah mulai kembali sepenuhnya, dia menyurukkan wajahnya di dada Radit. Jelas sekali dia merasa malu kepergok tertidur dalam pelukannya.
"Aku nggak tidur, aku tadi hanya memejamkan mata," lirih Widya.
"Sama saja."
"Apa katamu sajalah, Suamiku," balas Widya, meniru perkataan yang sering diucapkan Radit.
**
Sesampainya di rumah Mbah Romlah, yang dikenal sebagai Tukang Urut satu-satunya di desa Manju, Radit langsung membaringkan Widya dengan perlahan di tikar yang sudah dipersiapkan Mbah Romlah. Perlahan ia melepaskan rangkulan tangan Widya dari lehernya.
"Mau ke mana kamu? Aku nggak mau ditinggalkan seorang diri di sini," rengek Widya, menarik lengan bajunya.
__ADS_1
"Aku hanya mencari sesuatu untuk membungkam jeritanmu," ujarnya menjelaskan.
Cengkramannya kini makin kuat di lengan baju Radit. "Kenapa aku akan menjerit? Apakah rasanya akan sangat sakit ketika aku diurut?"
Menelengkan kepalanya, Radit menatap Widya terkejut. "Ini pertama kalinya kamu terkilir?"
"Tentu saja! Berkat dirimu," hardik Widya cepat. "Untung saja refleksku tadi cepat, kalau nggak, mungkin kamu akan jatuh terjungkal ke belakang. Tapi sayangnya, hal itu malah membawa bencana padaku. Kamu harus berterima kasih padaku karena berkatku kamu nggak jadi terkena gegar otak."
"Itu salahmu membuka pintu secepat kilat hingga membuatku hampir jatuh."
"Mana aku tahu kamu sedang bersandar di balik pintu."
Suara dehaman Mbah Romlah menghentikan perdebatan mereka berdua yang begitu sengit. "Apa kita bisa mulai sekarang?" tanyanya, berlutut di samping kaki Widya yang terkilir.
"Oh, maafkan kami, Mbah. Tapi, aku memerlukan sesuatu untuk membungkam jeritan istriku. Dia ini suka histeris saat menghadapi situasi seperti ini," jelas Radit pada Mbah Romlah sambil mengedarkan pandangannya.
"Aku nggak akan histeris," kata Widya menyakinkannya.
"Aku hanya kaget. Percayalah, kali ini aku nggak akan menjerit." Tangannya menggapai pergelangan tangan Radit untuk digenggamnya.
"Nggak apa, Neng, Mbah maklum kok. Nggak usah malu begitu."
"Nah, dengar tuh. Nggak usah sok kuat," tegur Radit.
"Aku pasti bisa menahannya," ujar Widya, bersikukuh dengan pendiriannya.
"Baiklah. Apa katamu saja," ucap Radit menyerah. "Silakan, Mbah. Istriku sudah siap diurut."
°°
Mendekati halaman rumah Mbah Romlah, Mila bersama Nenek Aya terdiam membeku di tempatnya saat mendengar jeritan menggelegar dari dalam rumah Mbah Romlah. Yang membuat terkejut bukanlah suara jeritan itu melainkan jeritan itu berasal dari seorang lelaki.
__ADS_1
Apa ada orang lain di sana yang sedang diurut selain Widya? Pikir Mila bingung.
Setelah rasa kagetnya dan Nenek Aya hilang, mereka kembali berjalan untuk melihat ke dalam rumah Mbah Romlah. Betapa terkejutnya Mila saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Tangannya seketika membekap mulutnya sendiri, seperti yang saat ini dilakukan oleh Widya di tikar tempatnya berbaring. Di sebelahnya, Radit sedang menggengam tangan Widya yang mencengkramnya sekuat tenaga.
Ternyata suara jeritan itu berasal dari Radit. Tawanya hampir saja meledak jika ia tidak segera membekap mulutnya sendiri. Bahkan, Nenek Aya yang tadi terlihat begitu lemas oleh keadaan Widya, juga sedang menatap geli pada pemandangan yang ada di hadapannya.
Mereka berdua mundur menjauh dari ambang pintu rumah Mbah Romlah. Berdiri di samping pintu, mereka berdua kembali menengok ketika suara jeritan Radit terdengar lagi. Kali ini Widya menggigit tangan Radit demi menahan jeritannya. Kasihan sekali temannya itu menjadi tempat pelampiasan Widya untuk menahan rasa sakitnya. Pasti nanti Radit akan merasa sangat malu saat Widya selesai diurut.
Suasana hati Mila yang memburuk telah menghilang. Kini suasana hatinya berubah menjadi perasaan senang oleh selera humornya yang tidak pada tempatnya ini. Sekeras apa pun ia berusaha, rasa gelinya tetap tidak mau pudar. Menoleh kepada Nenek Aya, mereka berdua bertukar senyuman.
"Seharusnya kita tidak boleh begini," tegur Nenek Aya. Usahanya agar terlihat tegas gagal total karena nada geli yang tak bisa ditutupinya.
"Nenek benar. Hanya saja, ini sangat lucu," cekikik Mila, menutup mulutnya dengan tangan lagi agar tidak terdengar oleh Radit.
Mereka berdua bersama-sama membungkam tawa yang hampir meledak sambil melongokan kepala, menonton Radit yang kesakitan karena rambutnya dijambak oleh Widya. Sungguh malang. Mila agak sedikit merasa bersalah karena bahagia melihat penderitaan temannya itu.
***
Warna wajah Widya begitu pucat ketika Radit membaringkannya di atas kasur. Tubuhnya terlihat begitu lemas sehabis diurut tadi. Sudut mata Widya juga terlihat masih basah oleh bekas air matanya tadi. Sepertinya tenaganya benar-benar terkuras habis saat menahan rasa sakit diurut oleh Mbah Romlah.
Menggosok bekas gigitan Widya di pergelangan tangannya, Radit menghembuskan napas. Ia kembali teringat kilatan geli di mata Nenek Aya dan Mila saat menjumpai mereka berdua yang sedang menunggu di luar rumah. Keduanya terlihat berusaha tidak menunjukkan rasa gelinya, tetapi usaha mereka berdua gagal total. Ini semua karena ulah sok kuat Widya. Dia memang tidak menjerit, tapi sebagai gantinya Radit yang menjerit. Sekarang ia pasti menjadi bahan lelucon orang-orang di luar sana.
"Aku nggak tahu kamu bisa seganas itu. Pelampiasan rasa sakitmu itu sudah membuat bekas mengerikan di tanganku," tunjuknya pada bekas gigitan serta tusukan kuku di pergelangan tangannya. "Belum lagi rambutku yang hampir rontok oleh jambakanmu itu."
"Nanti saja mengomelnya. Aku nggak memiliki tenaga untuk meladenimu," sahut Widya lesu.
"Kalau begitu, istirahatlah. Aku akan meminta pertanggungjawabanmu saat keadaanmu sudah agak membaik," katanya seraya menyelimuti Widya.
Memejamkan mata, Widya bergumam pelan. "Aku nggak mengira kalau kamu ini tipikal orang pendendam, Suamiku."
"Ini berkat dirimu, Istriku. Sekarang tidurlah!" perintahnya tegas.
__ADS_1
Membalikkan badan, untuk terakhir kalinya Radit melihat Widya yang mulai tertidur lelap di kasur empuknya. Nampak sekali jika istrinya itu sangat kelelahan.