
Melepaskan gandengan dari lengan Radit, Widya berjalan menghampiri orang tuanya untuk memeluk keduanya secara bergantian. Menoleh ke kiri dan ke kanan, ia kebingungan mencari keberadaan neneknya yang tak tampak di mana pun.
Menghadap kembali pada orang tuanya, Widya menanyakan keberadaan neneknya. Ayahnya menjawab, kalau neneknya ada di rumahnya sedang beristirahat karena kecapean menyambut para tamu seharian dan berpesta ria merayakan pernikahan cucu satu-satunya yang neneknya miliki. Ia tersenyum mengingat tingkah neneknya yang energik selama acara pernikahannya tadi siang.
Menepuk kedua tangannya tiba-tiba, Widya teringat akan sesuatu. Ia mengarahkan tangannya untuk merujuk pada sedan hitam yang menanti di depannya.
"Apa ini diperlukan?"
"Tentu saja, Sayang. Kami tidak ingin melihatmu berjalan kaki ke rumah barumu," jawab Ibunya, tersenyum cerah.
"Rumah kami nggak terlalu jauh dari sini, Ma. Nggak perlu sedramatis ini." Widya tertawa oleh ucapannya sendiri.
"Biarlah para orang tua ini melakukan apa yang mereka inginkan, Kak Widya," ujar Ririn. Ibunya pun mengangguk setuju. Mengalihkan pandangannya dari mereka, Ririn menyenggol siku Radit. "Akhirnya Abangku yang nggak laku ini menikah juga."
"Sembarangan kamu kalau ngomong," protes Radit, yang hanya dibalas Ririn dengan cengiran.
Tersenyum jahil, Ririn menggoda abangnya lagi. "Ini hal terbaik yang pernah kamu berikan padaku, Bang. Aku mendapatkan kakak ipar yang cantik."
"Aku memang hal terbaik yang kamu dapatkan. Bukankah begitu, Suamiku?" timbrung Widya, ikut menggoda Radit sekaligus mengambil kesempatan mendapatkan pujian darinya.
Selama beberapa saat rahang Radit terkatup rapat, ia terlihat berusaha menyembunyikan ekspresi geramnya menjadi raut wajah yang sangat menyenangkan. Memperlihatkan deretan gigi putihnya, ia tersenyum pada Widya.
"Tentu saja, Istri Mungilku."
Mendadak seorang pria tua sepantaran seperti ayahnya muncul di hadapan mereka, dan mohon izin membawa Radit ke sudut jalan untuk membicarakan sesuatu.
Selama mendengarkan pembicaraan keluarga Radit serta orang tuanya, perhatian Widya teralihkan pada Radit dan pria tua yang tidak dikenalnya itu. Mengerjapkan matanya, Widya terkejut saat pria tua itu mengalihkan pandangannya sebentar kepadanya sambil tersenyum penuh arti. Entah mengapa, senyuman itu membuatnya sangat gelisah. Ia merasakan bulu kuduknya tiba-tiba mulai merinding.
Widya tak tahu apa yang pria tua itu bisikan pada telinga Radit, tapi firasatnya mengatakan hal itu berhubungan dengan dirinya. Nanti ketika mereka hanya berdua saja, ia akan menanyakan persoalan ini kepada Radit.
__ADS_1
Suara bisikan Ririn di telinganya mengagetkannya. "Itu sahabat ayah. Pak Sugeng."
"Hah?" Widya menolehkan kepalanya menatap wajah Ririn dengan kebingungan.
"Aku hanya menjawab pertanyaan yang ada dalam benak Kakak. Dari tadi kulihat mata Kakak terus tertuju ke sana terus."
"Itu hanya perasaanmu saja," elak Widya tak mengakui. "Aku nggak melihat mereka."
Ririn memberikan pandangan skeptis padanya.
Tiba-tiba ibunya menyentuh pergelangan tangan Widya untuk menarik perhatiannya.
"Ada apa, Ma?" Widya kaget melihat mata ibunya berlinangan air mata. "Nggak usah menangis, Ma." Widya memeluk Ibunya kembali untuk menenangkannya.
"Benar kata Widya, Ma. Kamu hanya memperburuk suasana," tegur Ayahnya.
"Papa tidak mengerti perasaan mama. Sekarang mama ... tidak akan bisa lagi melihat Widya ...sesering dulu." Ibunya berbicara dengan suara tersendat-sendat karena menahan isak tangisnya.
"Astaga, kalian nggak perlu sesedih ini. Kalau Papa dan Mama merindukanku, kalian bisa datang kemari mengunjungiku. Lagian tempat ini hanya berjarak 2 jam dari kota, bukannya di ujung dunia," ucap Widya, memutar bola matanya. Tidak tahan dengan pertunjukan dramatis ini.
"Apa yang dikatakan Widya benar. Kalian tenang saja, selama dia di sini kami semua akan menjaganya sebaik mungkin," janji Pak Benny, menepuk punggung ayahnya memberi semangat.
"Aku tahu. Putriku pasti aman bersama kalian" ucap Ayahnya sarat emosi, lalu menengandah memandang langit menahan air matanya.
Selama menyimak pembicaraan itu, Ririn memalingkan wajah untuk menutupi air matanya yang ikut menetes juga. Widya hanya menghela napas. Tidak tahu harus berkata apa lagi untuk merubah suasana suram ini.
Untungnya Radit datang tepat waktu untuk membuatnya cepat pergi dari semua orang sentimental ini. Sebelum ia masuk ke dalam mobil, orang tuanya memberikan nasehat agar ia selalu patuh kepada suaminya. Widya hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia tidak bisa berjanji apa pun kepada orang tuanya. Karena ia tidak yakin bisa bersikap sangat patuh pada suaminya yang baru dikenalnya beberapa hari. Lebih baik diam daripada berbohong.
Membuka pintu mobil, Radit membiarkan ia duluan masuk, kemudian mengikutinya dari belakang lalu duduk di sampingnya. Setelah menutup pintu mobil, Radit menurunkan kaca mobil untuk melambaikan tangan kepada keluarga mereka berpamitan. Barulah setelah itu dia menutupnya kembali setelah mobil mulai berjalan ke arah rumah mereka.
__ADS_1
"Sekarang kamu bisa menangis," ucap Radit, mengagetkan Widya yang sedang bersandar malas di kursi mobil sambil memejamkan mata di sampingnya.
"Apa maksudmu? Aku nggak ingin menangis," ujar Widya, mengerutkan kening, kesal oleh kesimpulan Radit.
"Hentikan sikap sok kuatmu itu," kata Radit tidak mempercayainya. "Aku tahu kalau tadi kamu juga ingin menangis saat melihat kedua orang tuamu menangis. Kamu nggak bisa menipuku dengan sikap sok tegarmu itu. Jadi, sekarang menangislah. Aku janji nggak akan mengejekmu."
Memutar badan menghadapnya, Widya menekankan jari telunjuknya di dada Radit yang sekeras batu. "Yang sok di sini kamu. Jangan sok tahu deh," geram Widya lalu bergeser menjaga jarak darinya.
"Baiklah. Kalau memang itu yang kamu inginkan," ucap Radit tak acuh. "Nah, kita sudah sampai. Ayo turun!" Radit mengulurkan tangan pada Widya untuk menuntunnya keluar mobil.
Berhubung ada banyak pasang mata yang sedang memperhatikan penuh minat di sekitar mereka, Widya tidak memiliki pilihan, selain menyambut uluran tangan dari Radit, dan menyandarkan kepalanya di lengan Radit sambil menggandeng tangannya untuk melangkah memasuki rumah baru mereka yang paling besar di antara rumah yang lain.
°°
Dari kejauhan, Ririn bersembunyi di balik pepohonan yang ada di halaman rumah seseorang untuk mengamati sepasang pengantin baru itu memasuki rumah baru mereka dengan sangat mesra.
Meskipun pernikahan ini dipaksakan pada keduanya karena kesalahpahaman, seperti yang dikatakan abangnya saat ia bertanya tanpa henti mengenai apa yang terjadi malam itu di gudang. Kini ia bisa lega karena keduanya terlihat baik-baik saja dan akur. Sekarang ia hanya perlu kembali ke rumahnya untuk menyampaikan berita bahagia ini.
Seseorang memperhatikan Ririn dengan tatapan keheranan. Menyengir pada orang itu, dalam sekejap ia berlari melewatinya untuk kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ia menyampaikan kalau kedua pengantin sudah sampai ke rumah baru mereka dengan selamat kepada ayahnya dan orang tua Widya yang sedang mengobrol santai di ruang tamu. Semuanya tersenyum lebar mendengar kabar baik itu.
°°
Segera setelah pintu tertutup, Widya melepaskan pegangannya dari tangan Radit begitu kasar. Mengedarkan pandangan di sekitarnya, Widya merasa puas dengan rumah barunya. Untuk ukuran rumah di sebuah desa, rumah ini lumayan luas, dan perabotannya pun sangat tertata rapi.
Menurunkan pandangannya ke bawah, lantai yang diinjaknya terlihat putih mengilap. Setidaknya ayah Radit memiliki selera interior yang sangat bagus. Rumah ini memang tidak bertingkat dua seperti rumah ayahnya di kota atau besar seperti rumah ayah Radit. Tapi paling tidak, rumah ini sangat luas dan bersih.
Di belakangnya Radit memberitahukan padanya, kalau rumah ini sudah dibangun semenjak dia kuliah, agar nantinya diberikan padanya sebagai hadiah pernikahan. Bahkan ayahnya juga sudah mempersiapkan rumah untuk Ririn saat dia sudah menikah nanti. Sungguh ayah yang penyayang, dan tentu saja, ayah mertua yang sangat murah hati.
Dari pernikahan ini, cuma satu hal yang paling disyukuri Widya, yaitu mempunyai ayah mertua paling kaya di desa ini. Selesai berkeliling di ruang tamu, Widya melewati ruang keluarga untuk menghampiri kamar yang terlihat paling besar di rumah ini.
__ADS_1
Memutar gagang pintu, ia melangkahkan kakinya ke dalam, dan mendapati ibunya sudah meletakkan semua barangnya di dalam sana beserta semua barang Radit juga. Ia bisa menebak kalau kamar ini disiapkan untuk mereka berdua. Sayang sekali, ia sama tak tertarik satu kamar dengan lelaki menyebalkan yang sekarang sudah sah di mata hukum sebagai suaminya.