
Bersandar di pinggiran pintu, Radit memperhatikan Widya yang sibuk berlari ke sana kemari, melemparkan semua pakaiannya dari dalam lemari ke atas kasur, menumpuknya bersama barangnya yang lain di kamar itu. Rupanya istri mungilnya itu sudah memutuskan kalau kamar paling besar di rumah ini akan menjadi miliknya. Sungguh gambaran Tuan Putri yang mengatur bawahannya sesuka hatinya.
"Nah, sekarang pindahkan semua ini!" perintahnya, mengibaskan tangan pada semua barang miliknya di atas kasur. "Kamu nggak mungkin berpikir aku mau tidur satu ranjang denganmu, 'kan?" Widya mengangkat sebelah alisnya angkuh.
"Itu benar. Tapi ... aku nggak pernah mengatakan, aku nggak menginginkan kamar ini," balas Radit mengangkat alisnya angkuh juga.
Mengacak pinggang, Widya memberengut. "Oh, jadi kamu menginginkan aku yang tidur di kamar tamu?" Tunjuknya dengan gerakan kepala pada kamar di sebelah. "Aku nggak mau! Kamu saja yang tidur di sana," ketus Widya, mengangkat dagunya menantang Radit.
"Ini rumah yang diberikan ayahku padaku, jadi aku berhak mengatur kamu harus tidur di mana."
Menggeser semua barang Radit di atas kasur supaya jatuh ke lantai, Widya langsung menghempaskan dirinya ke atas kasur.
"Coba saja kalau kamu bisa!" Widya merentangkan tangannya selebar mungkin, menandakan ia tidak akan beranjak dari sana atas kemauannya sendiri, kecuali Radit memaksanya.
Menghampiri Widya, Radit memberikannya tatapan lelah dan kesal dari pinggir ranjang.
"Inilah yang membuatku nggak suka menikah dengan anak kecil. Selalu bertingkah kekanakan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya."
"Aku bukan anak kecil! Aku sudah 21 tahun, dasar kamu tua bangka!" seru Widya marah.
Dengan gerakan cepat Radit membopong Widya di atas bahunya, seperti sekarung beras.
"Apa yang kamu lakukan!?" Berontak Widya memukulnya sekuat tenaga di punggung. "Lepaskan aku, dasar kamu barbar!" teriak Widya meronta-ronta. Bahkan dia mencoba mencubit kulit Radit, yang tak ada gunanya karena kulitnya sekeras batu oleh otot yang terbentuk dari kerja kerasnya selama ini.
Membuka pintu kamar sebelah, Radit melangkah cepat mendekati ranjang lalu melempar Widya ke atas kasur, dan berdiri menjulang memandangnya dengan rasa puas.
__ADS_1
Mengibaskan rambut yang menutupi wajahnya, Widya melemparkan tatapan murka.
"Dasar kamu cowok kasar! Berani sekali kamu melemparku seperti itu."
"Kamu yang memintanya. Jangan pernah lagi memerintahku seperti tadi. Aku ini sekarang suamimu!" bentak Radit.
Memberikan tatapan merendahkan, bibir Widya mengerut mencemooh. "Kamu hanya suami di atas kertas bagiku. Kalau bukan karena kejadian menghebohkan di gudang buku itu, aku nggak akan pernah sudi menikahimu. Jadi jangan pernah bermimpi mendapatkan kepatuhan dariku."
"Sudahlah, aku capek menghadapi kekeraskepalaanmu. Kita bisa membicarakan ini besok, sekarang yang kuinginkan hanyalah istirahat." Membalikkan badannya, Radit melangkah pergi meninggalkan Widya yang melemparkan bantal ke punggungnya.
"Nggak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Aku nggak menginginkan kamar kecil ini, dasar kamu egois!" amuknya, melemparkan semua bantal yang ada di kasur.
Memungut semua bantal dari lantai, Radit mendekati Widya penuh ancaman, yang membuatnya mundur ke belakang hingga membenturkan punggungnya di kepala ranjang.
Meletakkan bantal yang dilemparnya ke atas kasur kembali, Radit mencengkram kedua bahunya pelan, kemudian mencodongkan badannya mendekat. Wajahnya begitu dekat, seolah Radit hendak menciumnya.
Seketika Widya menoleh, melihat senyum licik terpampang di wajah Radit.
"Dasar kamu mesum!"
"Apa yang kamu pikirkan, Istri Mungilku? Aku hanya berkata tidur bersama, nggak lebih. Jadi, siapa sebenarnya di sini yang mesum?" Radit menatapnya dengan raut wajah lugu.
Tanpa harus melihat ke cermin, Widya bisa merasakan kalau wajahnya sekarang pasti memerah seperti kepiting rebus. Lidahnya terasa kelu, tidak tahu harus berkata apa lagi. Tiba-tiba saja ia kehabisan kata-kata.
Ini sangat memalukan, apa yang kupikirkan?
__ADS_1
Puas dengan sikap diam Widya, rasa kemenangan yang dirasakan Radit membuat suasana hatinya kembali membaik. Sebelum meninggalkan kamar, ia mengatakan pada Widya kalau semua barang yang ada di kamarnya bisa diambilnya besok pagi. Widya tak menjawabnya sama sekali. Mungkin istrinya terlalu malu untuk mengeluarkan suara sekecil apa pun.
Biar tahu rasa dia.
^^
Menatap kosong pada pintu kamarnya, Widya segera tersadar dan berlari untuk mengunci pintu kamarnya. Lengah sedikit saja, ia bisa diserang oleh suaminya sendiri. Meski mereka berdua saling membenci, Radit tetaplah lelaki normal. Membayangkan ada perempuan cantik di sebelah kamarnya yang sekarang sudah sah di mata hukum sebagai istrinya, dia bisa saja diam-diam datang ke kamar ini lagi untuk menuntut haknya sebagai seorang suami. Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Belum sampai seminggu ia mengenal lelaki barbar itu, jadi, tak ada salahnya bersikap waspada. Mungkin orang lain akan mentertawakan perilakunya yang menolak mematuhi ataupun melayani suaminya. Tetapi, ia tidak peduli karena baginya ini hanyalah pernikahan di atas kertas, tidak lebih. Lagi pula, ia tidak bisa membayangkan dirinya disentuh begitu intim oleh suami barbarnya itu. Membayangkan hal itu saja sudah membuatnya mual.
Menarik selimutnya, Widya memejamkan mata melawan desakan untuk menangis. Lebih baik ia tidur daripada terus memikirkan takdir hidupnya yang begitu menyedihkan.
^^
Menjauhkan telinganya dari pintu kamar istrinya yang pembangkang, Radit memandang tak percaya saat mendengar suara klik dari dalam. Istri pembangkangnya baru saja mengunci pintu kamarnya. Lucu sekali. Memangnya dia pikir Radit ini binatang buas yang akan menerkamnya di tengah malam.
Walaupun mereka sekarang sudah menjadi pasangan suami istri, Radit tak tertarik sedikit pun untuk melahapnya atau sekadar tidur bersamanya. Kepercayaan diri istrinya sungguh membuat Radit merasa terhina. Serendah itukah Widya memandang dirinya?
Berjalan memasuki kamar yang tadi diperebutkannya dengan istrinya, ia memperhatikan kamar tidurnya sungguh berantakan sehabis diobrak-abrik oleh istri pembangkangnya yang mungkin sudah tertidur pulas di kamarnya. Padahal yang diinginkannya saat ini adalah istirahat, alih-alih membereskan semua kekacauan ini.
Menendang kesal pada barangnya di lantai, ia bersikap tak peduli dengan kekacauan itu. Biarkan saja istrinya yang membereskan semua kekacauan ini besok. Lagi pula ini semua perbuatannya, jadi istrinya juga yang harus membereskannya. Biar istrinya tahu, jika dia tidak bisa bersikap seenaknya lagi. Istrinya itu harus diingatkan, jika dia tidak lagi tinggal bersama orang tua yang selalu memanjakannya, melainkan seorang suami yang tidak bisa mentoleransi sikap semaunya itu, yang suka mengacaukan segala sesuatu yang tidak membuatnya senang.
Sebenarnya ia juga merasa agak bersalah memperlakukan Widya dengan kasar tadi—saat melemparnya keluar dari kamar—tapi, ia tidak akan meminta maaf karena istri pembangkangnya itu yang memulai pertengkaran dengannya. Apalagi, awalnya Radit tidak mempermasalahkan ia harus tidur di kamar mana, tetapi melihat istrinya melempar kasar semua barang-barangnya layaknya hama membuatnya naik pitam. Makanya, ia jadi ikut bersikap kekanakan, menolak mengalah soal siapa yang harus pindah dari kamar ini.
Belum sampai sehari mereka menikah, ia sudah menjadi labil seperti istrinya. Mungkin setelah seminggu ia akan menjadi gila menghadapi tingkah kekanakan istrinya. Apa yang sudah dilakukannya di masa lalu sehingga harus menikah dengan perempuan kasar itu.
__ADS_1
Pemikiran yang tak ada habisnya ini hanya membuat Radit sakit kepala. Menarik selimut sampai kepala, Radit mencoba tidur untuk menenangkan sarafnya. Semoga saja besok ia bisa menghadapi istrinya dengan kepala dingin, tanpa harus bersikap kekanakan seperti hari ini. Ya, semoga saja. Ia tidak yakin sepenuhnya.