Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Sekarang Aku Tahu


__ADS_3

Betapa frustasinya terkurung di dalam rumahnya seorang diri, renung Widya muram. Mengintip dari celah jendelanya, ia menatap penuh kerinduan pada udara sejuk di luar sana. Inilah risiko yang harus ditanggungnya karena telah membohongi semua orang di luar sana. Berpura-pura kakinya sedang terkilir seperti ini sungguh merugikan dirinya sendiri.


Jika ia ingin jujur, sebenarnya ada sedikit rasa penyesalan karena telah berpura-pura sakit begini. Tetapi, mengingat kedua perempuan ular berbisa yang mendapatkan ganjaran dari aksi kebohongannya ini, sepertinya itu sangat setimpal. Setidaknya ia bisa mendapatkan kepuasan bisa menyingkirkan salah satu musuhnya lagi, setelah Bu Leni.


Namun, jika Widya pikirkan baik-baik, alangkah baiknya kalau ini akan menjadi terakhir kalinya para warga di sini menggangu dirinya. Apakah semua orang di sini tidak punya sasaran lain lagi selain dirinya? Rasanya begitu menyebalkan mendapatkan kebencian dari banyak orang hanya karena sikap terus terangnya di pasar dulu.


Menempelkan keningnya di kaca jendela rumahnya, Widya mendesah sedih. Butuh berapa lama lagi ia harus menghadapi penderitaan diserang oleh para warga di sini? Kapan semua ini berakhir?


Tiba-tiba Widya menegakkan tubuhnya saat melihat Mila menuju ke arah rumahnya. Untunglah, ia masih memiliki seorang teman yang bisa menemaninya di saat kesepian begini, pikir Widya dalam hatinya.


Menyambut kedatangan temannya itu, Widya tertawa kecil melihat kekagetan Mila saat ia membukakan pintu sebelum temannya itu sempat mengetuk pintu.


"Dari mana kamu tahu aku akan datang?" ujarnya kaget.


"Aku tadi melihatmu dari kaca jendelaku. Masuklah!" ajak Widya, mempersilakan Mila memasuki rumahnya. "Kamu nggak tahu betapa senangnya aku bisa melihatmu, rasanya aku mau gila, seorang diri menghabiskan waktu di rumahku tanpa ada teman mengobrol."


"Syukurlah, kalau kedatanganku membuatmu senang."


Berjaga-jaga kalau saja ada yang memperhatikannya bersama Mila di dalam rumahnya, Widya menutup pintu rumahnya untuk menghalangi pandangan orang-orang di luar sana. Membiarkan pintunya terbuka hanya akan membuatnya tidak bisa bergerak dengan leluasa.


"Apa kamu baik-baik saja, Wid? Aku dengar kakimu terkilir," celetuk Mila, mengernyitkan alisnya memandang kedua kaki Widya.


"Untuk saat ini aku cuma bisa bilang bahwa aku baik-baik saja. Kalau kamu mau tahu cerita lengkapnya, lebih baik kamu duduk dulu saja. Nanti aku akan menceritakannya padamu setelah aku selesai mengambil minuman untukmu," suruh Widya, mendorong paksa Mila agar duduk di sofa ruang tamunya.


Terlalu penasaran dengan cerita lengkap yang akan diceritakan Widya padanya, Mila akhirnya memutuskan untuk menuruti kemauan Widya.


***


Entah berapa lama waktu sudah berlalu, ketika Widya selesai berbagi canda tawa dengan Mila, membicarakan soal kelakuan usilnya mempermalukan Tika dan Nita di depan banyak orang. Walaupun Mila sempat kaget dengan pengakuannya karena berani membohongi semua orang di desa ini, namun dia juga menyukai sandiwara licik yang dilakukan Widya. Sungguh di luar dugaan! Siapa yang mengira temannya yang baik hati ini akan ikut senang dengan penderitaan orang lain.


"Jujur, Mil, aku nggak mengira kamu akan menyukai tindakanku ini. Aku kira kamu akan mengkritik tipu muslihatku ini."


"Entahlah. Mungkin kalau aku yang dulu nggak akan menyukai kebohongan ini," kata Mila, mengangkat bahunya. "Tapi sekarang, aku merasa orang seperti Tika dan Nita itu memang harus diberi pelajaran supaya mereka jera. Berdiam diri dan pasrah, seperti yang kulakukan selama ini benar-benar tindakan bodoh."


"Ya, itu memang tindakan bodoh," setuju Widya, menganggukkan kepalanya. "Baik sih boleh, tapi jangan bodoh-bodoh amatlah."


"Berarti maksudmu aku bodoh nih?" ujar Mila, pura-pura tersinggung.


"Lho bukannya kamu sendiri tadi yang mengakui, kalau kamu itu memang bodoh," elak Widya, tersenyum jahil. "Aku hanya menyetujuinya saja."


Menggarukkan kepalanya, Mila tersenyum malu. "Iya juga sih."

__ADS_1


Mereka berdua pun kembali tertawa bersama. Tidak berapa lama, Mila tiba-tiba memasang ekspresi serius di wajahnya.


"Oh iya, Wid," serunya, menepuk celah di antara tempat duduk mereka. "Hampir saja aku lupa! Sebenatnya ada hal penting yang ingin aku beritahukan padamu. Kalau kamu mendengarnya kamu pasti akan terkejut."


"Hal penting apa memangnya?"


Menengok ke kiri dan ke kanan, seolah-olah takut ada yang mendengarkan, Mila mengecilkan suaranya saat mencondongkan tubuhnya mendekat pada Widya.


"Kemarin aku melihat Radit dan Gilang bertengkar di tengah jalan."


"Apa? Bertengkar, katamu!" seru Widya lantang.


"Ssttt...." desis Mila, menutup mulut Widya seraya menempelkan jari di mulutnya. "Jangan terlalu kencang ngomongnya! Bagaimana kalau nanti ada yang mendengar."


Saat Widya mengangguk paham oleh peringatan itu, Mila segera melepaskan tangannya dari mulut Widya.


"Maafkan aku," ucap Widya, meminta maaf. "Aku tadi terlalu kaget. Sekarang aku sudah bisa mengontrol nada suaraku. Lanjutkan apa yang ingin kamu katakan tadi!"


Mila pun kembali menceritakan kejadian yang dilihatnya itu pada Widya. Di tengah-tengah cerita temannya itu, ia tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi, ia tertawa terbahak-bahak. Yang tentunya, telah membuat Mila jadi kebingungan, sebab dia merasa tak ada kejadian lucu sedikit pun dalam ceritanya.


"Itu... Aku... Maaf," Widya terbata-bata, karena tidak sanggup menghentikan tawanya.


Seolah kejadian itu berada tepat di hadapannya lagi, Mila memeluk dirinya sendiri saat dirinya merinding mengingat raut murka Radit kala itu.


"Mengingatnya saja membuat bulu kudukku kembali merinding."


"Itulah lucunya!" tawa Widya riang.


"Lucu dari mananya! Memangnya kamu nggak lihat apa luka yang ada di punggung tangan Radit? Pasti itu terasa menyakitkan sekali. Apa dia baik-baik saja?"


Nada suara ragu-ragu Mila ketika menanyakan keadaan Radit pada Widya, meyakinkan ia kalau temannya itu takut rasa khawatirnya terhadap Radit akan membuat dirinya marah.


"Dia baik-baik saja. Buktinya sekarang dia masih bisa bekerja seperti biasanya, kamu nggak perlu khawatir," ucap Widya, menenangkan temannya itu.


"Aku nggak khawatir kok!" elak Mila, melambai-lambaikan tangannya dengan panik. "Untuk apa juga aku mengkhawatirkannya, kalau dia saja punya kamu untuk mengurusinya."


Merasa tidak nyaman dengan topik pembicaraan itu, Mila kembali bertanya tentang perilaku tidak wajar Widya. Karena telah menganggap kejadian menegangkan itu seperti cerita lelucon baginya.


"Bukannya aku merasa senang Radit bertengkar dengan temannya, tapi yang membuatku tertawa itu, penyebab mereka berdua bertengkar."


"Berarti kamu tahu penyebab mereka bertengkar?"

__ADS_1


"Tentu saja, aku tahu," jawab Widya dengan nada sangat yakin.


"Bisakah kamu memberitahukan padaku? Jujur, aku sangat penasaran foto apa sebenarnya yang Gilang simpan sampai Radit jadi marah begitu."


Mata Mila membuka begitu besarnya menatap Widya, dia begitu menantikan jawaban yang akan diberikan Widya dengan perasaan tidak sabar.


"Foto?" tanya Widya, kebingungan oleh informasi baru itu. "Apa maksudmu? Memangnya foto apa yang disimpan Gilang?"


"Lho, kok kamu malah nanya balik sih, Wid. Bukannya tadi kamu bilang kamu tahu penyebab pertengkaran mereka?" ucap Mila, terlihat kebingungan dengan pertanyaan Widya.


"Aku nggak tahu kalau yang kamu bicarakan itu tentang foto, aku pikir...." Widya terdiam sesaat, merenungkan kembali informasi itu.


"Kamu pikir apa? Memangnya ada hal lain lagi yang bisa menyebabkan mereka bertengkar seperti itu, selain foto misterius itu?"


"Ah! Sekarang aku tahu," teriak Widya, memukul keras sandaran tempat duduk di dekat Mila.


Terlonjak dari tempat duduknya oleh suara pukulan itu, Mila menatap Widya dengan mata melebar kaget.


"Kamu mengagetkanku!" seru Mila, menyentuh jantungnya yang berdebar kencang.


"Maafkan aku sudah mengagetkanmu," senyum Widya menyesal.


"Katakan padaku, foto siapa itu?"


"Lain kali. Aku pasti akan menceritakan hal ini padamu, tapi nggak sekarang. Aku harus memastikannya dulu."


"Memastikannya bagaimana maksudmu?"


"Nanti. Bersabarlah, aku pasti akan memberitahukannya padamu. Untuk sekarang, aku masih belum bisa mengatakannya padamu."


Selama beberapa saat, Mila memprotes penolakan Widya, yang merahasiakan soal tebakannya itu. Tetapi, karena Widya begitu bersikukuh akan mengatakan hal itu lain waktu, akhirnya Mila menyerah juga memaksanya untuk menyebutkan identitas dari foto di galeri ponsel Gilang.


Sekarang ini yang ingin dilakukan Widya adalah bertemu dengan Radit secepat mungkin dan menggodanya habis-habisan. Bayangan dua orang pria yang sudah lama berteman baik telah bertengkar karena memperebutkannya, sungguh pemandangan yang begitu menyenangkan. Andai saja ia ada di sana untuk menyaksikan hal itu secara langsung.


Setelah mendengarkan cerita dari Mila, kali ini ia paham mengapa kemarin Radit begitu bersikeras tidak ingin menceritakan penyebab luka yang didapatnya di punggung tangannya. Bagaimana mungkin, dia mau memberitahukan pada Widya, kalau penyebab lukanya itu didapatkannya karena mempermasalahkan foto dirinya yang ada di ponsel teman baiknya itu.


Widya tidak tahu sejak kapan Gilang mengambil fotonya. Sepertinya tanpa sepengetahuannya, Gilang sudah mengambil fotonya secara diam-diam, sebab ia tidak pernah sekali pun mengijinkan Gilang memfoto dirinya.


Dasar lelaki brengsek, berani-beraninya dia mengambil fotoku saat aku sedang lengah. Awas saja nanti kalau ketemu!


Note : Cuma pengen bilang makasih banyak yang sudah mendukung dan memberikan vote pada author selama ini😁semoga aja cerita ini bisa kuselesaikan sampai tamat..

__ADS_1


__ADS_2