
"Nggak perlu tegang begitu, Dit. Bapak mengajakmu berbicara bukan untuk memarahimu tentang pertengkaranmu tadi malam," kata ayahnya lembut.
Ucapan lembut ayahnya membuat Radit sedikit rileks di tempat duduknya, tapi ia belum bisa bernapas lega sebelum pembicaraan ini berakhir.
"Bapak tahu ini masalah rumah tanggamu dan bapak nggak punya hak mencampuri masalahmu dengan istrimu," lanjut ayahnya. Mengerutkan kening, ayahnya memberikan tatapan menegur. "Tetapi, bapak nggak bisa membiarkan kamu begitu saja bersikap kasar kepada Widya yang baru kamu nikahi tidak sampai 3 hari. Mungkin ada beberapa hal yang membuat kalian cekcok, namun kamu tidak perlu meneriaki istrimu, seperti yang kamu lakukan tadi malam. Kamu pasti juga sadar bahwa sikapmu itu hanya akan membuatmu dan istrimu jadi bahan gunjingan orang-orang di desa ini."
Beringsut gelisah di tempat duduknya, Radit memutar otak mencari alasan agar bisa menenangkan ayahnya. "Maakan aku sudah mengecewakan, Bapak. Ini hanya salah paham, Pak. Kami berdua nggak bertengkar. Tadi malam aku hanya kaget kompor yang dinyalakan Widya lupa dia matikan, jadi tanpa kusadari aku berteriak panik memanggil namanya. Bapak tenang saja, masalah itu nggak membuat kami bertengkar. Kami baik-baik saja, nggak ada yang perlu Bapak khawatirkan."
Menghela napas lega, ayahnya tersenyum maklum setelah mendengar penjelasannya. Memaki dalam hati, ingin rasanya Radit menampar dirinya karena telah membohongi ayahnya. Perasaan bersalah ini terasa mencekiknya. Meskipun begitu, ia tetap tak menyesal mengucapkan kebohongan itu. Karena ia tidak ingin ayahnya khawatir memikirkan masalah rumah tangganya.
Semoga saja ini pertama dan terakhir kalinya Widya membuatnya berbohong kepada ayahnya. Radit tidak ingin lagi melakukan kebohongan seperti ini. Rasanya begitu tak mengenakkan hingga membuatnya tak sanggup menatap mata ayahnya.
"Kalau memang itu permasalahannya, maka tidak ada yang perlu bapak khawatirkan. Sekarang bapak bisa tidur dengan tenang. Asal kamu tahu saja, Dit, keributan rumah tanggamu kemarin membuat bapak kurang tidur." Membuktikan perkataannya, suara kuapan ayahnya keluar dari mulutnya. "Bekerjalah kalau begitu, Nak."
Setelah berpamitan dengan ayahnya, Radit melanjutkan perjalanannya yang tertunda tadi. Beruntunglah dirinya bisa melewati masalah ini dengan ide briliannya, yang tak disangka-sangka muncul di saat yang tepat. Padahal ia mengira tak akan lolos dari masalah ini. Sekarang yang perlu dilakukannya adalah menceritakan kebohongannya ini pada semua orang yang akan bertanya kepadanya nanti. Kini suasana hatinya sudah kembali membaik.
°°
Semenjak tadi malam Widya tidak bisa tidur sama sekali, kepalanya hanya dipenuhi dengan ide, bagaimana caranya menghindar menjadi pembantu suami barbarnya. Ha! Yang benar saja mencuci dengan tangannya yang mulus ini, nggak akan! Sikap congkak Radit yang menyatakan hak kepemilikannya atas diri Widya membuat ia begitu murka Berani sekali Radit memperbudaknya dengan menyuruhnya melakukan pekerjaan kasar.
__ADS_1
Begitu susahkah mengeluarkan uang demi kenyamanan dirinya. Lagi pula ia tidak meminta perhiasan mewah ataupun batang emas darinya. Ia hanya menginginkan sebuah mesin cuci untuk mempermudah pekerjaannya. Apa suami barbarnya itu sengaja memperbudaknya seperti ini agar ia bersikap mandiri tanpa mengandalkan kepraktisan yang tersedia.
Omong kosong saja ucapannya tentang kebersihan. Ini hanyalah salah satu tindakannya untuk menundukkan sifat manja pada dirinya. Oleh sebab itu, biarkan saja suaminya itu berharap demikian. Karena ia tidak akan pernah patuh, seperti hewan peliharaan yang patuh pada tuannya.
Melempar semua pakaian dan barangnya ke dalan koper besar miliknya, Widya mengemas semua barang yang sangat dibutuhkannya saja, sisanya bisa menunggu nanti untuk diangkutnya. Beres sudah, sekarang yang hanya perlu dilakukannya hanyalah minggat dari rumah suami sialannya ini sekarang juga.
Pastilah ketika Radit pulang nanti, dia akan kebingungan mendapati istri babunya tidak ada di mana pun.
Biar tahu rasa, dia pantas mendapatkannya.
Hari masih sangat pagi ketika ia menyeret kopernya keluar dari dalam kamar. Pemikiran kabur ini sudah diputuskannya subuh tadi. Makanya, ketika ia mencuri dengar dari balik pintu kamarnya memastikan suaminya sudah berangkat kerja, ia bergegas mandi dan mengemas semua barangnya ke dalam koper.
Melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 06.40 WIB, tentunya sekarang neneknya sudah bangun. Mengingat kebiasaan neneknya yang selalu bangun pagi seperti penduduk di desa ini.
Sejenak Widya menarik napas dalam-dalam, menguatkan dirinya menghadapi tatapan ingin tahu para tetangga di luar sana. Meletakkan tangan di gagang pintu, ia memutarnya mantap. Dagunya terangkat tinggi angkuh saat bersiap menghadapi para tetangganya.
Matanya membelalak terkejut ketika yang dihadapinya bukanlah tatapan para tetangga melainkan tatapan suaminya, yang sepertinya baru saja pulang dari pasar, jika dilihat dari banyaknya bungkusan plastik yang dibawanya di kedua tangannya.
Ternyata bukan ia saja yang terkejut, kilatan kaget di mata Radit menunjukkan bahwa kemunculannya juga membuat suaminya itu terkejut. Bukan ini yang diharapkannya terjadi saat memutuskan untuk kabur dari rumah. Hancur sudah rencananya membuat suaminya mengetahui dirinya yang kabur saat pulang kerja nanti.
__ADS_1
Jika saja ia tahu suaminya ini pergi untuk berbelanja alih-alih bekerja, pasti ia akan tetap berdiam diri di kamarnya. Kenapa semenjak ia berada disini semua hal tidak berjalan lancar sesuai keinginannya.
Kini tatapan mata Radit beralih ke arah koper yang dipegangnya. Menaikkan pandangannya kembali pada Widya, sudut mulutnya berkedut dan garis kemarahan terukir di wajahnya saat mengetahui niat Widya yang ingin kabur.
"Apa yang kamu lakukan membawa koper sebesar ini?"
"Seperti dugaanmu, aku ingin pergi meninggalkanmu. Untuk sementara waktu ini lebih baik kita berpisah rumah dulu."
"Jangan bercanda! Kembali ke dalam, hal seperti ini nggak bisa kamu putuskan semaumu saja," perintahnya tegas lalu berjalan melewatinya, berharap ia akan mengikutinya.
Mengabaikan perkataan suaminya, Widya melanjutkan langkahnya keluar rumah.
"Widya, berhenti disana!" teriak Radit memperingatkan.
Tak ada gunanya, Widya tetap berjalan dengan punggung tegak lurus dan dagu terangkat untuk menantang siapa saja yang berani menghentikan langkahnya. Para ibu-ibu di sana hanya memandangnya sinis sambil berbisik-bisik, yang pastinya sedang mencibirnya karena telah melawan perintah suaminya. Ia tidak peduli, sebuah pernikahan sungguh tidak cocok baginya yang tidak suka diatur apalagi dikekang, seperti seekor kuda oleh suaminya yang tiran itu.
Tiran, hmmm.. julukan itu memang cocok untuknya.
Berbelok ke arah gang rumah neneknya, perasaan kesalnya makin bertambah saat mengetahui suami tirannya itu tidak berusaha mengejarnya sama sekali. Dasar tak berperasaan, beraninya dia mengabaikan kepergian dirinya tanpa berjuang sedikit pun menghentikan aksi kaburnya. Mungkin ini yang diinginkan suaminya selama ini, Widya pergi dari hidupnya untuk selamanya.
__ADS_1
Anehnya pemikiran itu membuat matanya terasa perih menahan tangis, tentu saja ia bukan menangis karena sedih, ini hanyalah air mata kemarahan.
Pembohong! ejek benaknya.