Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Belum Cukup


__ADS_3

Radit menyerah. Hampir selama tiga jam lamanya ia mencari keberadaan Gilang. Namun, ia tetap tidak menemukannya di mana pun. Awalnya, Radit berpikir jika Gilang memang sengaja tidak masuk kerja. Tetapi, ketika ia hendak menuju rumahnya, ia tidak sengaja mendengarkan pembicaraan salah satu pekerja Gilang saat bercerita kepada temannya, kalau Gilang tidak pernah pulang sejak pertengkarannya dengan Radit kemarin di peternakannya.


Lalu di sinilah sekarang Radit, berteduh dari terik matahari di bawah pohon rindang. Berpikir keras sedang ada di mana mantan teman baiknya itu sekarang. Semua tempat yang ia duga akan didatangi oleh Gilang, nyatanya tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali.


Sialan kamu, Gilang. Berani sekali kamu bersembunyi dariku seperti ini.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya sebuah suara, menyadarkan Radit dari lamunannya.


Menoleh ke arah sumber suara itu, Radit melihat Deni menatapnya kebingungan.


"Apa yang sedang kamu lakukan hingga belum juga datang ke peternakan sampai sekarang?" tanya Deni lagi, mengamati wajahnya cermat. "Kalau kamu penasaran kenapa aku ada di sini alih-alih di peternakan, maka aku akan menjelaskannya. Aku sedang dalam perjalanan menuju ke rumahmu."


"Maafkan aku sudah merepotkanmu. Aku tahu banyak pekerjaan yang menungguku di peternakan, tapi bisakah hari ini kamu mengambil alih tugasku? Kalau kamu nggak keberatan juga sih."


"Nggak usah sungkan." Deni menepuk pundaknya, memberi semangat. "Selesaikan saja dulu masalahmu. Sementara ini biar aku saja yang mengurus semua hal yang ada di peternakanmu. Maaf aku nggak bisa membantumu banyak."


"Kamu sudah cukup banyak membantuku. Oh ya, apa kamu sudah tahu siapa dalang gosip yang menyudutkan istriku?"


"Mengenai itu ... Sepertinya akan susah bagimu mengetahui penyebar gosip itu. Dit. Yah, kamu sendiri 'kan tahu, bagaimana gosip berjalan di desa ini. Dari mulut ke mulut. Ini benar-benar mustahil, Dit. Mencari siapa yang memulai duluan, seperti mencari jarum dalam jerami."


"Meskipun mustahil, aku pasti akan menemukan penyebab gosip kurang ajar itu."


Bermodalkan tekad dan usaha keras, Radit percaya ia pasti akan memulihkan nama baik istrinya.


∞ ∞


Terbangun karena suara bergemuruh yang berasal dari perutnya, Widya melirik jam di samping ranjangnya. Betapa mengejutkan, ia mendapati dirinya tertidur sampai sesiang ini. Beranjak bangun dari tempat tidur, Widya berjalan ke dapur, mencari sesuatu untuk memenuhi rasa laparnya.


Menarik pintu kulkas membuka, Widya dikejutkan suara ketukan di pintu rumahnya. Menutup pintu kulkas kembali, ia semakin dibuat terkejut saat mendapati tamu yang berada di teras rumahnya.


Kenapa perempuan sialan ini ada di sini? Apa dia ingin mencari mati?

__ADS_1


Mengamati Nadin sedingin es, Widya berusaha keras menahan kedua tangannya agar tidak menjambak rambut penyebab masalah rumah tangganya ini. Tidak perlu lagi menambah bahan gunjingan semua orang di desa ini.


"Apa aku boleh masuk?" tanyanya pelan, melirik risih pada beberapa warga yang berkerumun di depan rumah Widya. "Tentunya kamu nggak ingin semua orang yang ada di sini mendengarkan pembicaraan kita berdua."


"Apa hakmu menasehatiku harus bersikap bagaimana? Ini rumahku," jawab Widya sinis, menyilangkan tangannya sambil bersandar santai di kusen pintu rumahnya. "Lagi pula, nggak perlu rahasia-rahasian segala, toh semua orang di sini tahu apa yang terjadi di antara kita berdua. Bukankah begitu, Ibu-ibu penggosip sekalian?"


Nadin terkesiap oleh pertanyaan beraninya itu kepada para warga yang menguping itu. Lucunya lagi, para penguping yang disindirnya itu malah mengatainya kasar dan sebagainya. Sungguh orang-orang tak punya cermin di rumahnya, pikir Widya miris.


"Kenapa kamu bersikap seperti ini? Aku kemari untuk meminta maaf padamu soal kejadian kemarin."


"Kamu yakin benar-benar menyesal tentang apa yang telah kamu lakukan pada Radit kemarin? Aku meragukannya."


Widya menyunggingkan senyuman sinis. Muak melihat sikap pura-pura lugu perempuan tak tahu malu di hadapannya ini.


"Aku tahu telah membuatmu marah, tapi bisakah kamu melupakan masalah ini? Aku janji nggak akan melakukan hal itu lagi," ujar Nadin, menyentuh lengannya hati-hati.


Menyentak lengannya menjauh dari sentuhan itu, Widya tidak mampu menahan emosinya lebih lama lagi. Ia tahu akan menyesali perbuatannya ini nanti, tetapi menghadapi tingkah munafik perempuan tak malu ini lebih lama lagi, akan meledakkan isi kepalanya.


Suara terkesiap sialan itu lagi. Saat ingin melanjutkan perkataannya, para penggosip di depan rumahnya berbondong-bondong menyuruh Nadin segera pulang dan mengurungkan niatnya agar berbaikan dengan Widya. Lebih menjengkelkannya lagi, Si Munafik itu meminta pada mereka agar tidak ikut campur sembari mengelap air matanya yang mulai menetes.


Sikap "Playing Victim"-Nya itu semakin menyulut emosi Widya. Jika dia menginginkan permainan kotor ini, maka Widya akan dengan senang hati meladeninya.


"Belum cukup sampai disitu, kamu juga sengaja menyebarkan gosip yang akan menguntungkanmu," lanjut Widya. "Sekarang kamu senang dengan pandangan mengasihani orang-orang terhadapmu? Bagaimana rasanya menjadi korban disaat sebenarnya kamu adalah pelakunya? Rasanya pasti membahagiakan, bukan? Karena kamu telah berhasil menghasut semua orang di sini dengan gosip palsu yang kamu sebarkan."


"Apa yang kamu bicarakan? Aku nggak mengerti sama sekali."


"Nggak usah sok lugu! Kamu tahu apa yang aku bicarakan," tuding Widya, menatap tajam.


Ia tak akan tertipu oleh tipu muslihat rubah ini. Berdeham sebentar, Widya sengaja melantangkan suaranya agar bisa didengarkan semua penonton yang berada di sana.


"Wahai wargaku tercinta yang budiman dan maha benar, dengarkan baik-baik! Bagaimana rasanya memihak seseorang yang telah memeluk suamimu di depan mata kepalamu sendiri?" cemooh Widya, mengedarkan pandangannya. "Pasti menyenangkan sekali, bukan? Mendengarkan cerita seorang istri yang pencemburu melempar perempuan tak berdosa ini ke tanah, hanya karena dia tersandung batu sehingga tak sengaja memeluk suamimu. Kalau begitu, bagaimana kalau perempuan ini juga kepergok sengaja memeluk suami kalian, terus tanpa malu dia mengatakan 'Oh, maaf. Aku tadi tersandung.' Kita lihat, apa kalian akan bersikap tenang dan bilang, 'Nggak apa, toh nggak sengaja.' Seperti itukah mau kalian?"

__ADS_1


"Lancang sekali kamu membawa suami orang lain dalam masalahmu ini!" hardik salah satu Ibu-ibu di sana.


"Yang lancang itu Anda! Kalian semua di sini sama saja," balas Widya, mengacak pinggang. "Berani sekali mengataiku istri pencemburu dan penggoda! Kalian pikir dengan kalian menyebarkan gosip aku menggoda teman Radit si Gilang, rumah tanggaku akan hancur, begitu? Sebenarnya tahu apa kalian mengenai kehidupan rumah tanggaku, hah? Kalian cuma tahunya bergosip demi mendapatkan bahan obrolan yang menarik ketika menyantap makanan."


Membendung air matanya yang hampir tumpah, Widya menancapkan kuku jemarinya ke dalam telapak tangannya untuk menguatkan dirinya.


"Bagi kalian fakta yang sebenarnya nggaklah penting. Kalian hanya peduli kesenangan kalian mempergunjingkan masalah kehidupan orang lain saja," cela Widya. Lalu mengalihkan tatapannya kembali pada Nadin. "Nah, sekarang kamu puas sudah mempermalukanku? Apa kamu senang mendapatiku semakin dibenci oleh semua orang di sini? Kamu memang mendapatkan simpati dari warga di sini, tapi kamu nggak akan pernah mendapatkan perhatian dari suamiku. Ingat itu baik-baik!"


Tidak ingin mendengarkan tanggapan yang akan diberikan Nadin padanya, Widya membanting pintu rumahnya tepat di depan wajah perempuan munafik itu. Di dalam rumahnya, Widya terduduk bersandar di kusen pintu rumahnya sambil menangis meratapi nasibnya.


Setidaknya ia merasa aman di dalam rumahnya ini. Tidak ada yang akan menganggunya. Hari ini ia benar-benar ingin sendiri. Namun di sisi lain, Widya juga merindukan neneknya, orang tuanya, serta temannya Mila. Andai saja mereka ada di sini, mungkin ia tidak akan merasa kesepian seperti ini.


Radit memang selalu ada untuknya. Akan tetapi, Widya tidak ingin menunjukkan rasa sedihnya pada suaminya itu. Sudah begitu banyak hal membebani pikiran suaminya, Widya tidak mau menambahnya lagi. Ia akan mengatasi kesedihannya ini seorang diri.


Terlonjak kaget, Widya kali ini dikejutkan lagi oleh suara ketukan dari luar. Apa rubah itu belum pergi juga? Keras kepala sekali dia. Menghapus air matanya dengan lengan baju, Widya membuka pintunya dengan bersungut-sungut.


"Kamu ini ngeyel banget sih dibilangin, aku 'kan...."


Omelannya terhenti saat menatap tamu yang ada di hadapannya. Ternyata tamunya kali ini bukanlah rubah sialan itu, melainkan Ibunya.


"Kok tadi banyak orang berkerumun di depan rumah kamu, Wid. Ada apa memangnya?" Ibunya menoleh menatap para Ibu-ibu penggosip yang berkumpul di dekat rumahnya.


"Mama!"


Bukannya menjawab pertanyaan itu, Widya malah melompat ke pelukan Ibunya. Karena begitu tiba-tiba mendapatkan pelukan antusias itu, kaki Ibunya agak goyah saat menyambut pelukannya.


Menepuk sebentar punggungnya, Ibunya melepaskan pelukan Widya perlahan darinya.


"Sayang, kenapa matamu merah begini? Apa kamu habis menangis?"


Ibunya semakin panik saat melihat air mata Widya mulai menetes membasahi pipinya. Kedatangan mendadak Ibunya melepaskan pertahanan yang telah dibuatnya selama ini. Widya begitu merindukan pelukan hangat Ibunya.

__ADS_1


#TBC


__ADS_2