
Memicingkan matanya, Nenek Aya melihat kedua targetnya berada tidak terlalu jauh darinya. Mempercepat langkahnya, ia berjalan mendekat menghampiri kedua perempuan yang sudah menyakiti cucu kesayangannya itu. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat kalau keduanya sedang menghindari tatapan celaan orang-orang, yang diarahkan pada mereka berdua.
Ketika nenek Aya tiba di dekat keduanya, kerumunan yang tadinya mulai bubar kembali berkerumun lagi saat menyadari akan ada tontonan yang menarik lagi di sana. Mengedarkan pandangannya, nenek Aya menyuruh kerumunan itu pergi dari sana dengan tatapan amarah yang dilayangkannya pada mereka. Takut membuatnya lebih marah lagi, semua orang yang berkerumun tadi berjalan begitu perlahan meninggalkannya dengan Tika dan Nita.
Sengaja melangkah melambat demi bisa menguping pembicaraan nenek Aya dan kedua perempuan yang gemetar ketakutan di hadapannya, ia mengabaikan sikap menyebalkan para warga penggosip itu. Biarkan saja mereka mendengarnya, yang terpenting sekarang ini adalah kedua perempuan yang berada di hadapannya. Mata keduanya bergerak liar memandang ke sekeliling, seolah-olah mencari tempat untuk bersembunyi dari amukan nenek Aya.
"Kalian berdua, ikut nenek sekarang juga!" perintah nenek Aya.
"Tapi...." ucap Tika ingin menolak.
"Nggak ada kata 'tapi-tapian', kalau orang yang lebih tua suruh itu jangan membantah! Ada beberapa hal yang ingin nenek bicarakan dengan kalian."
Tertunduk lemas, keduanya dengan pasrah mengikuti Nenek Aya dari belakang.
Setelah sampai di rumahnya, Nenek Aya menyuruh keduanya untuk duduk di sofa ruang tamunya. Berjalan ke dapur, ia menyiapkan minuman hangat untuk kedua tamunya. Menyajikan teh hangat di meja, Nenek Aya duduk menghadap kedua perempuan itu. Tangan mereka bergerak-gerak gelisah di pangkuan sambil menunduk terus memandang ke bawah.
"Tidak usah ketakutan begitu, nenek tidak akan memukul kalian. Nenek cuma ingin memberikan nasehat pada kalian berdua," ucap Nenek Aya dengan nada lembut, tidak ingin menakuti kedua perempuan itu. "Angkat kepala kalian! Tatap mata nenek baik-baik, jangan menunduk terus."
Mengangkat kepalanya perlahan, Nenek Aya melihat keduanya menggigit bibir mereka sembari menatap gelisah padanya.
"Nenek akan mulai dari kamu dulu, Tika."
"Ya?" seru Tika, tersentak di tempat duduknya.
"Ingat, kamu itu bukanlah remaja lagi, sekarang ini kamu itu sudah jadi seorang ibu. Apa kamu tidak malu, ketika anakmu besar nanti dia akan mendengar kalau dulunya ibunya seorang penindas dan suka menganggu kehidupan rumah tangga orang," geleng Nenek Aya, prihatin atas sikap kekanakannya. "Meskipun sekarang kamu seorang janda, bukan berarti kamu bisa bertindak sesukamu seperti itu. Perilakumu ini juga mempengaruhi kedua orang tuamu, bersikaplah seperti umurmu. Kamu ini sudah 25 tahun!"
"Maaf, Nek," lirih Tika, menunduk malu.
"Dan, kamu!" lanjut Nenek Aya, menghadapkan wajahnya pada Nita.
"Aku belum menikah, Nek," sahut Nita, terdengar sangat bangga.
"Bagus sekali," ujar Nenek Aya dengan nada mencela. "Apa karena kamu belum menikah, jadi kamu bisa bertindak kasar pada siapa pun yang kamu inginkan?"
Teguran menohok itu membuat Nita meringis di tempat duduknya. Sedangkan Tika tertawa geli di sebelahnya. Suara tawanya seketika berhenti saat menyadari tatapan tajam yang diarahkan Nenek Aya padanya.
"Sebaiknya sekarang kamu memikirkan masa depanmu, jangan menjadi ekor Tika terus," lanjut Nenek Aya menasehati. "Apa kamu ingin melajang seumur hidupmu, tidak 'kan? Pikirkanlah orang tua yang sudah membesarkamu, jangan menjadi benalu dengan berkeliaran mencari masalah ke sana kemari. Kamu ini bukan anak sekolahan lagi."
__ADS_1
"Ya," sahut Nita lemah.
"Nenek berkata seperti ini demi kebaikan kalian juga. Kalau kalian selalu membuat onar seperti ini, nenek kasih tahu, itu hanya akan membuat kalian terlihat buruk di mata semua orang."
Mengambil gelas dari tatakannya, Nenek Aya juga menyuruh keduanya untuk meminum minuman mereka. Dengan hati-hati keduanya mengambil minuman itu, kemudian tersenyum canggung pada Nenek Aya dari pinggir gelas mereka.
∞ ∞
Dengan perlahan Radit mendudukkan Widya di sofa ruang tamunya, kemudian melangkah pergi untuk menutup pintu rumah mereka. Melepaskan jaket yang dikenakannya, Radit menyadarkan jaketnya di sandaran tempat duduk dekat pintu rumahnya. Widya yang sedari tadi cuma diam mengikuti gerak-geriknya, bersandar santai di sandaran tempat duduknya.
"Nah, sekarang jelaskan padaku, apa maksud perkataanmu tadi?" ucap Widya, bertanya secara tiba-tiba.
"Perkataanku yang mana?" bingung Radit.
Tidak terlalu tertarik untuk menjawab pertanyaan Widya padanya, Radit melangkah pergi meninggalkan istrinya itu yang masih santai duduk di sofa.
Mengikutinya dari belakang, Widya menjelaskan maksud pertanyaannya tadi. Dia mengatakan jika dirinya tidak memahami tindakan Radit --yang biasanya selalu melakukan hal yang dirasanya benar-- memihak padanya semata-mata karena Widya memohon padanya.
"Kemarin aku mendengar dari Sendi kalau selama ini Tika dan Nita sering melakukan hal buruk pada Mila, jadi yah...." jelas Radit, mengangkat bahunya tak acuh.
"Oh, jadi ceritanya kamu membalaskan dendam Mila nih?" ujar Widya, suaranya terdengar sedikit kecewa. "Hampir saja aku mengira kamu melakukan hal itu karena nggak ingin mempermalukanku. Sepertinya aku terlalu berharap lebih padamu."
Membuka tudung, ia sangat terkejut mendapati sop ayam yang ada di sana. Seingatnya, tadi pagi ia tidak pernah memasak sop ayam untuk mereka berdua.
"Siapa juga yang cemburu," gerutu Widya.
Menarik kursi dari meja makan, Widya langsung duduk di sana dan menyuruh Radit untuk duduk juga. Setelah Radit duduk di seberangnya, dia menjelaskan padanya kalau tadi siang dia menyiapkan makanan itu untuk Radit seorang diri. Walaupun sebelumnya dia mengaku hanya bisa merebus semata saja, tapi berkat video tutorial memasak yang dia miliki di notebooknya, dia mulai belajar memasak.
"Apa ini bisa di makan? Dari aromanya sih seperti bau makanan, entahlah kalau rasanya," kata Radit, mengerutkan hidungnya.
"Tentu saja itu bisa di makan!" kesal Widya. "Kalau kamu nggak mau, ya sudah biar aku sendiri saja yang menghabiskannya."
Menarik mangkok yang berisikan sop ayam itu dari meja, Widya meletakkan mangkok itu di dekatnya seraya melotot marah pada Radit.
"Aku hanya bercanda," tawa Radit, menarik mangkok ke hadapannya. "Aku harap sop ini nggak asin seperti telor yang kamu masak waktu itu."
"Waktu itu aku masih belum terlalu mengerti dengan istilah 'secukupnya', makanya saat itu telor yang kugoreng sangat asin," ringis Widya, mengingat rasa asin mengerikan kala itu. "Sekarang aku sudah paham, jadi kamu bisa tenang."
__ADS_1
"Aku jadi penasaran, berapa banyak garam yang kamu taburkan pada telormu waktu itu."
"Mungkin setengah sendok," Widya mengangkat bahunya tak acuh.
"Itu mengerikan!" seru Radit, meringis ngeri.
"Hmm memang mengerikan," setuju Widya, menganggukkan kepalanya. "Apa kamu mau aku panaskan dulu sopnya?"
"Nggak perlu. Aku terlalu lapar untuk menunggumu memanaskan sop ini untukku, lagipula aku harus cepat kembali ke peternakanku," tolak Radit, beranjak berdiri untuk mengambil nasi.
Widya mengikuti Radit untuk mengambil nasi juga. Lalu keduanya mulai duduk kembali untuk melahap makanan mereka sembari mengobrol santai. Seperti yang dikatakan oleh Widya, sop yang dimasaknya ini memang bisa dimakan, meskipun rasanya tidaklah seenak perkiraannya. Namun, ini lebih baik daripada telor asin yang pernah dimakan Widya dulu.
"Bagaimana dengan saranku?" celetuk Radit, ditengah percakapan mereka.
"Saran?" bingung Widya, menelengkan kepalanya.
"Iya, saranku," jawab Radit datar, sibuk menyendok makanannya. "Bayi kita."
Widya langsung tersendak mendengarkan ucapannya. Mengambil segelas air, Radit menyerahkan gelas itu pada Widya.
"Pelan-pelan dong, Wid, kalau makan."
"Aku sudah pelan-pelan makannya! Kamu saja yang membuatku kaget dengan candaanmu barusan," balas Widya, kemudian kembali meminum airnya.
"Aku nggak bercanda. Kalau kamu mau kita bisa memulainya sekarang."
Dalam sekejap wajah Radit dipenuhi oleh tetesan air yang disemburkan oleh Widya padanya. Melihat hal itu, mata Widya seketika melebar kaget lalu memgambil tisu yang ada di meja makan untuk membersihkan wajah Radit.
"Maafkan aku, aku nggak bermaksud...." ucap Widya, mengelap hati-hati wajah Radit.
Memegang pergelangan tangan Widya untuk menghentikannya membersihkan wajahnya, Radit menatap lurus pada wajah Widya yang dekat dengannya. Menarik tanganya dari genggaman Radit, istri pemalunya itu terlihat begitu gemetaran di hadapannya. Dia terduduk lemas di kursinya.
"Jangan ketakutan begitu, aku nggak akan melahapmu," ujar Rafdit santai, mengambil tisu lagi untuk membersihkan wajahnya.
"Aku meragukannya," gumam Widya, memalingkan wajahnya.
"Kenapa kamu meragukannya?"
__ADS_1
"Kilatan matamu itu terlihat seolah-olah kamu siap menyerangku kapan saja," cetus Widya, menyipitkan matanya memandang curiga pada Radit.