
Setelah mendengarkan nama lelaki itu, Widya langsung melupakan pembicaraan pentingnya dengan Gilang dari kepalanya. Lelaki berperawakan lumayan tinggi dengan potongan rambut pendek layaknya tentara itu sudah mengambil alih semua isi pikirannya. Ia sejak dulu memang ingin berjumpa dengan lelaki itu, dan akhirnya sekarang dia ada di depan Widya.
"Salam kenal," jabat Widya senang. "Kamu nggak tahu sudah sejak lama aku ingin bertemu denganmu."
Lelaki itu menatap Widya agak kebingungan, dia menoleh pada Mila dan Gilang meminta penjelasan maksud dari perkataan Widya padanya.
"Selama ini Mila banyak bercerita tentangmu padaku, dia bilang kamu...." Widya tidak bisa meneruskan ucapannya sebab Mila membekap mulutnya.
"Nggak usah dipikirkan, dia hanya berbicara omong kosong," ucap Mila tersenyum canggung.
"Aku nggak yakin Widya berbicara omong kosong," sela Gilang.
Menarik lepas bekapan Mila di mulutnya, Widya kembali melanjutkan perkataanya yang terpotong tadi. "Mila selalu malu tiap mengungkit namamu, bahkan kata Ririn kamu selalu pantang menyerah mengejarnya. Jadi, sekarang kalian udah jadian nih? Cieee."
Lelaki itu seketika tersipu malu. "Bukan, kami nggak sengaja bertemu di jalan tadi."
"Ah, masa?" senggol Gilang ikut menggoda.
"Berhenti kalian berdua!" seru Mila, wajahnya terlihat mulai memerah. "Kami nggak jadian sama sekali. Apa yang dibilang Sendi benar, kami tadi nggak sengaja bertemu di jalan."
"Iya, iya, jangan sewot gitu dong, kami kan cuma bercanda." Widya merangkul pundak Mila sambil meredakan amarah temannya itu.
"Nggak lucu," cetus Mila cemberut. "Omong-omong apa yang kalian berdua lakukan di sini?"
"Aku tadi sedang mengembalikan semua buku yang kamu bawa untukku beberapa hari lalu, dan secara nggak sengaja Gilang juga sudah ada di sini saat aku datang," jawab Widya santai.
Mila yang jarang menaruh curiga pada seseorang, tentu saja mempercayai kebohongan Widya itu.
Tidak ingin lebih lama lagi berada di rumah buku itu, Widya mengajak Mila ikut bersamanya ke rumahnya, yang langsung disetujui oleh temannya itu. Meninggalkan rumah buku itu secara bersamaan, Gilang berjalan pergi berlawanan arah dari mereka bertiga. Sedangkan Sendi berjalan dalam diam bersama Mila dan Widya, yang asyik mengobrol satu sama lain.
Di pertengahan jalan Sendi berpisah jalan dari mereka berdua, sebab arah rumah Widya berlawanan arah dari jalan rumahnya. Setelah dia pergi barulah Widya kembali menggoda Mila.
"Apa benar kalian nggak ada hubungan apa-apa?" tanya Widya curiga.
"Iya benaran nggak ada apa-apa, kami memang nggak sengaja berpapasan tadi. Karena searah makanya kami berjalan berdua, lagian kami ini teman, nggak lebih."
__ADS_1
"Oh begitu," angguk Widya mengerti. "Aku lihat dia masih menyukaimu, Mil. Apa belakangan ini dia ada menembakmu lagi?"
Menghela napas, Mila menatap Widya murung. "Sebenarnya hari ini ada yang ingin aku bicarakan denganmu mengenai masalah ini, Wid."
"Jadi benar dia ada menembakmu lagi?"
"Kalau dia cuma menembak sih nggak masalah, ini lebih dari itu."
"Dia melamarmu!" seru Widya lantang.
Menutup mulut Widya lagi, Mila menyuruhnya mengecilkan suaranya sambil menengok ke kiri dan ke kanan memastikan tidak ada yang mendengar teriakan Widya tadi. Menghela napas lega, Mila menarik tangannya dari mulut Widya.
"Bisakah kamu nggak berteriak? Aku nggak ingin orang lain mendengarkan pembicaraan kita."
"Maafkan aku. Tadi aku nggak bisa menahan diri karena terlalu terkejut." Widya tersenyum meminta maaf. "Berarti benar dia telah melamarmu, Mil?" tanya Widya sepelan mungkin.
"Aku akan menceritakannya secara lengkap setelah kita sampai di rumahmu. Membicarakannya di jalanan seperti ini sangat nggak aman dan nyaman."
"Kamu benar juga, terlalu banyak telinga di luar sini. Baiklah, ayo kita jalan lebih cepat lagi, aku terlalu nggak sabar untuk mendengar ceritamu."
~ ~
Setelah selesaI menyajikan minuman untuk mereka berdua. Widya segera duduk di sebelah Mila sambil menatap penuh penantian. Awalnya Mila masih ragu untuk memulai ceritanya dari mana dulu, tetapi melihat Widya memberikan semangat padanya dengan mengangguk kecil, akhirnya dia memberanikan diri memulai ceritanya.
"Sendi nggak melamarku."
"Hah kok gitu? Aku kira dia melamarmu," sembur Widya kecewa.
"Aku belum selesai, dengarkan dulu baik-baik, jangan asal main potong aja."
"Oh oke, lanjutkan."
"Sebenarnya kemarin Ibu Sendi datang menemuiku, dia memintaku menerima cinta anaknya dan berharap aku bersedia menjadi istri Sendi," lirih Mila. "Tentu saja aku menolaknya secara halus, tapi yang jadi masalah Ibu Sendi nggak berhenti sampai disitu saja. Setelah aku menolak permintaannya dia pergi menemui Ibuku dan meminta Ibuku membujukku agar menerima lamarannya."
"Lalu apa Ibumu mendesakmu menikahi Sendi? Apa Sendi mengetahui hal ini juga?" tanya Widya, ia tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi untuk menutup mulutnya.
__ADS_1
"Ibuku nggak mendesakku, hanya saja dia..." Mila menghela napas panjang. "Sepertinya Sendi nggak mengetahui hal itu."
"Dia apa, Ibumu kenapa? Terus kenapa kamu mengira Sendi nggak mengetahui hal ini, apa kamu yakin?" desak Widya makin tak sabar mendengar kelanjutan cerita Mila. "Yang jelas dong, Mil, kalau bercerita. Jangan terputus-putus gitu, kamu cuma membuatku semakin penasaran saja."
"Kamu ini nggak sabaran sekali," geleng Mila tersenyum kecut. "Aku sangat yakin Sendi nggak mengetahui hal itu, dia bukanlah orang yang suka memaksakan kehendaknya dengan menyuruh Ibunya mendesakku seperti itu. Aku sangat mengenalnya, dia bukanlah cowok yang menggunakan Ibunya sebagai senjata untuk mendapatkan apa yang dia mau."
Mendengarkan keyakinan dari suara temannya itu, Widya memandangnya skeptis. Ia sangat tidak menyetujui pendapat Mila, sebab lelaki manapun jika sudah ditolak beberapa kali seperti Sendi, pasti akan menggunakan cara lain demi mendapatkan perempuan yang selama ini dia inginkan. Mila sangatlah polos jika berpikir Sendi bukanlah orang seperti itu, renung Widya dalam benaknya.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Wid. Sudah kukatakan aku ini sangat mengenalnya, aku tahu Sendi nggak akan menggunakan cara kotor seperti itu demi mendapatkanku."
Mengerjapkan matanya, Widya kaget Mila mengetahui isi pikirannya. "Maafkan aku kalau sudah menyinggungmu."
"Tak apa," senyum Mila maklum. "Yang jadi pikiranku sekarang ini adalah Ibuku."
"Kenapa? Apa dia memaksamu menikahi Sendi?"
"Bukan begitu. Dia berharap aku mulai membuka hatiku untuk lelaki lain, Ibuku tahu kalau aku masih menyukai Radit. Maafkan aku," ucap Mila muram.
"Kamu masih menyukai Radit?"
"Sebenarnya aku sudah nggak terlalu memikirkan Radit seperti dulu lagi, hanya saja..." tunduk Mila lemas. "Aku masih belum bisa melupakannya, makanya aku selalu menjaga jarak darinya, aku harap kamu mengerti, Wid." Mila menggenggam kedua tangan Widya erat.
Menepuk ringan punggung temannya, Widya mengangguk paham. "Sudah aku bilang nggak perlu merasa bersalah begitu, aku tahu kamu sudah berusaha keras. Justru aku yang seharusnya meminta maaf sudah merebut Radit darimu."
"Itu nggak benar! Jangan berkata seperti itu, aku nggak pernah sekali pun menyalahkanmu. Aku tahu kalian berdua saling menyukai, aku saja yang nggak peka dengan tak tahu malunya berada di antara kalian berdua."
Mendengarkan perkataan Mila itu, Widya tidak bisa menahan dirinya, dia langsung tertawa keras di hadapan Mila, yang menatap kebingungan padanya.
"Apa yang kamu tertawakan?"
"Kamu ini lucu sekali, Mil. Dari sisi mananya aku dan Radit saling menyukai? Apa kamu lupa kalau kami berdua saling membenci sejak pertama kali bertemu?"
Mengerutkan keningnya, Mila mencerna apa yang dikatakan Widya padanya.
"Kamu benar juga, tapi kan setelah itu kalian saling menyukai. Kalau kamu nggak menyukainya kenapa kalian bisa tertangkap basah sedang bermesraan di rumah buku oleh para warga?"
__ADS_1
Diingatkan kembali pada kejadian naas itu, Widya memberengut kesal. "Itu hanyalah kesalahpahaman."