
Dilihat dari raut wajah Widya, Radit merasa wajah istrinya yang putih mulus itu kian lama semakin bertambah pucat saat pandangannya mengikuti arah jari telunjuknya. Matanya bergerak waspada saat memberanikan diri menatap matanya. Bahkan bibir Widya terlihat gemetaran saat berusaha mencari penjelasan masuk akal agar tidak membuatnya semakin marah.
"Aku bisa jelaskan," jawab Widya gugup, meremas-remas tangannya gelisah.
"Semua ini sangat jelas," sahutnya dingin.
Ini pertama kalinya Radit melihat Widya segugup ini ketika berhadapan dengannya. Andai saja Widya perempuan lemah, mungkin sekarang ini juga dia akan langsung pingsan menghadapi amukan Radit. Tetapi, istrinya bukanlah perempuan lemah, yang gampang pingsan ketika menghadapi sesuatu yang mengerikan seperti sekarang.
Menghadapi kemurkaan Radit tidak akan membuat nyali Widya ciut ataupun membuatnya gemetar ketakutan. Ekspresi yang ditunjukkan istrinya sekarang hanyalah rasa panik bercampur rasa bersalah atas hal yang telah dilakukannya di dalam lemari pakaiannya.
Pagi ini Radit tidak menyadari jika ada yang tidak beres di dalam lemari pakaiannya saat berangkat kerja. Memang ada beberapa hal ganjil yang membuatnya bingung ketika mencari peralatan cukur, alat tulis, parfum serta barang penting lainnya yang tidak ditemukannya di manapun.
Hanya saja saat itu Radit berpikir, barangnya mungkin tergeletak di suatu tempat tersembunyi, sebab ia belum sempat berbenah dengan benar sejak kepindahan mereka. Terlebih lagi malam sebelumnya, Widya sudah mengobrak-abrik barang-barangnya di dalam lemari. Jadi, wajar saja jika barangnya tidak tersusun pada tempatnya.
Yang membuatnya sangat geram, Radit jelas-jelas sudah menyuruh Widya membereskan semua kekacauan yang telah diperbuatnya pada barang-barangnya tadi pagi. Namun, berkat kebodohannya mempercayai istri pembangkangnya ini, ia dikejutkan dengan penampakan mengerikan di dalam lemari pakaiannya ketika ia sedang merapikan lipatan baju di dalam lemari pakaiannya.
Betapa mengerikan melihat tumpukan barangnya di sudut belakang bajunya bercampur aduk menjadi satu. Mungkin Radit tidak akan menyadari kekacauan itu, jika bukan karena mencium bau menyengat dari belakang bajunya. Sekarang berkat ulah perbuatan sembrono Widya, semua bajunya di rak lemari itu menjadi sangat bau tak karuan.
Isian yang tumpah dari botol parfum dan sebagainya, pastilah ulah Widya yang melemparkan semua barang-barangnya begitu kasar. Wangi parfum, minyak rambut serta wangi bajunya yang berbau pengharum baju menjadi satu. Sungguh kombinasi yang menusuk lubang hidung.
Menarik napas dalam, Widya ragu-ragu menyentuh lengannya. "Aku nggak pernah bermaksud mengacaukan isi lemarimu seperti ini. Sebenarnya aku berniat merapikannya kembali tadi siang, tapi aku lupa. Aku nggak bohong, aku nggak mengira kalau semuanya akan jadi berantakan begini." Ditatapnya Radit memelas, memohon pengertiannya.
Mendengar suara memelas Widya membuat Radit merasa agak bersalah karena telah mengamuk padanya tadi. Kemana perginya ketenangan yang biasanya ia miliki?
__ADS_1
Sejujurnya Radit juga kaget mendengar suara teriakkannya saat memanggil Widya kemari. Amarahnya telah mengambil alih dirinya selama sesaat sehingga ia kehilangan pengendalian dirinya. Sekarang pastilah para tetangga sedang memasang telinga di dekat rumahnya untuk mengetahui hal apa yang sudah membuatnya mengamuk seperti orang gila malam hari begini.
"Apa kamu sadar, sifat sembronomu yang memperlakukan barang orang layaknya sampah seperti ini," tunjuknya kembali ke lemarinya, "bisa membuatmu dalam masalah. Apa begitu susahnya meletakkan barangku seperti sedia kala? Kamu tahu, kejadian ini hanya akan membuatku terlihat buruk di mata para tetangga di luar sana," lanjutnya frustasi. "Mereka tidak tahu saja, sehari tinggal bersamamu membuat orang waras manapun akan menjadi gila."
Menarik kembali tangannya dari lengan Radit, istrinya yang angkuh kini telah kembali. "Aku tahu aku salah, tapi kamu nggak berhak mengatakan, aku ini seperti virus yang akan membawa bencana bagi orang lain," ketusnya.
"Baiklah. Aku tarik ucapanku itu, tapi begitu susahnya kah permohonan maaf terlontar keluar dari mulut pedasmu itu?" balasnya jengkel.
Bahu Widya merosot turun, dia bergumam, "Maafkan aku. Aku akan segera membereskan kekacauan ini."
Mengerjap, Radit kaget mendengar ucapan permintaan maaf terlontar dari mulut Widya untuk pertama kalinya. Mungkin ia salah dengar, rasanya begitu mustahil mulut pedas istrinya ini akan mengucapkan kata seperti itu.
Seolah membaca pikirannya, Widya mengulangi perkataannya lagi.
"Maafkan aku. Hanya saja mendengarmu mengucapkan kata itu terdengar sangat aneh."
"Kalau begitu, apa kamu memaafkanku?"
"Tentu saja." Senyum cerah terukir di bibir istrinya. "Tapi, setelah kamu membereskan semua kekacauan yang sudah kamu buat," lanjutnya, menghapus senyuman cerah itu dari wajah istrinya dalam sekejap.
"Aku mengerti."
"Jadi, kamu akan membereskannya sekarang atau nanti setelah selesai mandi?" tanyanya memastikan.
__ADS_1
"Lebih baik aku membereskannya sekarang. Kalau nanti sehabis mandi, itu hanya akan mengotori tanganku saja." Meliukkan kepalanya melihat ke dalam lemari Radit, Widya mengerutkan hidungnya jijik oleh bau tajam yang diciumnya dari sana. "Kalau kamu memperbolehkan, bisakah aku undur diri sebentar untuk mengambil maskerku di kamar, Suamiku?" ujarnya, meminta izin begitu sopannya.
"Tentu saja, Istriku."
Sembari menunggu istrinya membereskan kekacauan di dalam lemarinya yang bau, Radit menyalakan televisi yang berada di ruang keluarga. Mengganti saluran TV berkali-kali, akhirnya ia menemukan tontonan yang bisa menghiburnya dari malam suram yang panjang ini.
Tak berapa lama ia menyadari jika Widya sedang membawa tumpukan bajunya yang bau menyengat di kedua tangannya untuk dimasukkan ke dalam keranjang baju kotor. Kemudian dia kembali lagi ke dalam kamarnya.
Lalu Radit mengalihkan kembali perhatiannya terhadap tontonannya. Saking asyiknya dengan tontonnya ia tidak sadar jika Widya kini telah selesai mandi dan sekarang sedang berdiri menghadapnya untuk melaporkan tugasnya sudah beres sedari tadi.
"Aku sarankan lemarimu yang bau itu dibuka dulu untuk sementara waktu. Walaupun aku nggak bisa jamin bau menyengat itu akan hilang sepenuhnya dari sana," ucapnya lirih, melirik diam-diam pada Radit untuk melihat reaksinya.
"Sudahlah, yang penting kamu tahu kalau kamu salah dan kamu sudah membereskan kekacauan yang sudah kamu perbuat. Itu sudah cukup bagiku," kata Radit menjawab kegusaran istrinya.
"Syukurlah. Berarti masalah terselesaikan. kalau begitu, aku...."
"Belum, Istriku. Masih ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan," selanya cepat sebelum Widya kembali ke kamarnya.
"Ada apa lagi? Apa kamu menemukan kesalahanku yang lain?"
"Bukan, bukan, jangan berprasangka buruk dulu. Kemarilah!" Radit menepuk tempat duduk disampingnya. "Jangan takut, aku nggak akan menggigitmu."
Mengabaikan tawaran Radit untuk duduk disampingnya, Widya memilih duduk di sofa dekat meja telepon.
__ADS_1