
Setiap hari tidak ada yang berjalan lancar baginya. Apa pun yang dilakukannya, tidak ada yang bisa membuatnya senang. Bahkan dalam hal pekerjaan pun, ada saja masalah yang terjadi. Tak ada yang mengerti dirinya. Saat ini Gilang merasa sedang berada di titik terendah hidupnya.
Gilang tahu, ia tak seharusnya menyalahkan keadaan yang menyebalkan ini pada siapa pun. Tidak ada gunanya menyangkal, ini semua diakibatkan oleh dirinya sendiri.
Suasana hatinya selalu saja buruk setelah ia bermusuhan dengan teman baiknya, Radit. Karena itulah ia meluapkan rasa frustasinya pada semua orang di sekelilingnya.
Mungkin seharusnya waktu itu ia tak pernah kembali ke desa ini. Dengan begitu tidak akan ada pertemuan tak disengaja antara dirinya dan Widya, yang menumbuhkan rasa suka ini semakin bertambah seiring waktu berlalu. Namun, itu hanyalah harapan kosong belaka. Sepertinya, persahabatannya dengan Radit memang sudah ditakdirkan hancur begini.
Keadaan memuakkan serta suasana hati buruknya ini tidak akan pernah menghilang, kecuali ia mencoba berdamai dengan Radit dan mengakui kesalahannya. Sayangnya, harga diri bodohnya ini tak mengizinkannya melakukan hal itu. Pria dan harga dirinya yang menyebalkan, pikir Gilang muram.
Nggak, aku nggak bisa begini terus. Walau bagaimanapun, aku harus memperbaiki hubungan pertemananku dengan Radit. Saling bersikap dingin seperti ini hanya akan merugikan kami berdua saja, mengingat pertemanan yang sudah terjalin begitu lama antara orang tua mereka.
Sudah mantap dengan keputusannya, Gilang akhirnya memutuskan akan menemui Radit langsung di peternakannya. Akan tetapi, di pertengahan jalan ia tak sengaja berpapasan dengan Widya, yang sedang berjalan perlahan dengan posisi kepalanya menunduk menghadap tanah.
Kenapa dia berjalan seperti itu? Apa dia sedang mencari barangnya yang terjatuh? Nggak, nggak, jangan penasaran, Gilang! Kamu barusan sudah memutuskan untuk berdamai dengan Radit, yang berarti, jangan lagi melibatkan dirimu dengan istrinya.
Meskipun ia bertekad bulat untuk mengabaikan Widya, sayangnya, mulutnya berkehendak lain. Tanpa mampu dihentikannya, mulutnya sudah terlanjur mengucapkan sesuatu pada Widya
"Apa yang sedang kamu cari?" tanyanya, berdiri tepat di hadapan Widya.
Terlambat selangkah saja, mungkin Widya akan menabraknya. Sepertinya pikirannya sedang tidak fokus sehingga tidak memperhatikan apa yang ada di depannya.
Tetapi ada hal aneh yang menarik perhatian Gilang, ia melihat postur tubuh Widya menjadi kaku saat tadi mendengar suaranya. Dan, dia melangkah mundur selangkah dengan kepalanya yang kian menunduk.
"Maaf, kalau aku sudah mengagetkanmu," ujarnya lembut, mundur selangkah agar tidak menakuti Widya. "Aku hanya ingin membantu. Aku lihat kamu sedang sibuk mencari-cari sesuatu, makanya aku menghampirimu untuk menawarkan bantuan."
Tidak ada jawaban. Lalu, kepala Widya menggeleng-geleng kuat, dalam keadaan masih tetap menunduk. Mengibaskan tangannya tanda mengusir, Widya berjalan melewatinya dengan langkah terburu-buru.
"Hey, ada apa denganmu?" Gilang menarik pergelangan tangan Widya, menghentikannya. "Kenapa dari tadi kamu menundukkan kepalamu seperti itu? Apa sesuatu telah terjadi padamu? Kalau kamu punya masalah, katakan saja padaku, mungkin aku bisa membantumu."
Kali ini Widya tidak lagi menundukkan kepalanya, dia kali ini memalingkan wajahnya dari Gilang.
"Bukan urusanmu!" jawabnya parau, menarik lepas genggaman Gilang dari pergelangan tangannya. "Aku nggak membutuhkan bantuan siapa pun, jadi, tinggalkan aku sendiri."
Gilang mengabaikan peringatan itu, ia memaksa Widya berbalik menghadapnya. Saat itulah ia sadar kalau Widya sedang menangis. Matanya terlihat memerah, bekas tetesan air mata terlihat membasahi kedua pipinya.
"Kamu menangis?"
"Aku nggak menangis!" elaknya, menepis kasar kedua tangan Gilang dari bahunya. "Berhenti menggangguku!"
__ADS_1
"Siapa yang telah membuatmu menangis, katakan padaku!" perintah Gilang, merasa begitu marah mengetahui ada seseorang yang telah menyakiti Widya. "Apa ada yang menyerangmu lagi, atau Tika mengganggumu lagi?"
"Alangkah baiknya jika itu yang terjadi. Setidaknya aku nggak akan sesakit hati ini," gumam Widya pelan. "Aku peringatkan padamu, jangan menggangguku lagi! Aku diganggu oleh siapa pun, itu bukanlah urusanmu. Sekarang ini aku ingin sendiri. Keberadaanmu hanya memperburuk suasana hatiku saja."
"Tapi...."
Widya melemparkan tatapan membunuh padanya, saat ia berniat mengikutinya.
Berdiri terdiam di tempatnya, Gilang memandang kepergian Widya, yang saat ini melangkah cepat, seperti orang dikejar setan. Setelah ia pikirkan baik-baik, perkataan Widya ada benarnya juga, itu bukanlah urusannya. Akhirnya, ia kembali melanjutkan langkahnya, pergi ke peternakan Radit.
Meski ia berulang kali meyakinkan dirinya sendiri agar tak mempedulikan masalah Widya, tetap saja raut sedih di wajah Widya tadi masih terbayang-bayang dalam benaknya.
Ketika hampir mendekati peternakan Radit, kali ini Gilang tak sengaja berpapasan dengan Nadin, yang sedang berlari dengan wajah berlinang air mata, menuju ke arahnya. Saat ia membuka mulut hendak bertanya, Nadin malah melewatinya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Tak berapa lama, ia melihat Ririn mengendarai sepeda motornya, mendekat ke arahnya. Tanpa pikir panjang, Gilang meloncat ke tengah jalan, menghadang Ririn melewatinya.
"Saat ini aku nggak ada waktu untuk meladeni ocehan Bang Gilang, jadi, sekarang menyingkirlah dari hadapanku!" usir Ririn, kembali menancapkan gasnya.
"Kamu nggak boleh pergi, sebelum menjelaskan padaku, apa sebenarnya yang sedang terjadi!" suruh Gilang, menahan bagian depan motor Ririn untuk menghentikannya. "Beberapa waktu lalu, aku menjumpai Widya, dengan keadaan yang sama seperti Nadin tadi. Apa sesuatu telah terjadi di antara mereka berdua?"
"Kalau Bang Gilang segitu ingin tahunya, tanyakan saja pada Bang Radit. Semua kekacauan ini terjadi oleh tingkah sembrononya," gerutu Ririn. "Dia yang buat masalah, eh, malah aku yang disuruh membereskan."
"Astaga, berhentilah mengajukan pertanyaan padaku! Aku ini sedang terburu-buru. Kalau Bang Gilang mengajakku berbicara terus, nanti aku kehilangan jejak Kak Nadin."
"Kenapa harus Nadin? Bagaimana dengan Widya?"
Dengan gerakan gesit, yang telah dilatihnya selama bertahun-tahun, Ririn dengan lihai membelokkan motornya untuk menghindari menabrak Gilang yang menghalangi jalannya.
∞ ∞
Baru saja selesai mandi, dari dalam pondok, Radit mendengar suara gaduh yang berasal dari luar. Siapa lagi kali ini yang membuat keributan? Dengan langkah lebar, Radit membuka pintu pondoknya untuk melihat apa yang telah terjadi di luar sana sehingga menimbulkan kegaduhan.
"Ribut-ribut apa...."
Radit tak bisa menyelesaikan ucapannya hingga selesai, ketika sebuah tinju mendarat tepat di wajahnya. Tersungkur jatuh ke lantai, Radit menyentuh sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan kuat itu. Hari ini, ia sudah mendapatkan pukulan telak di kaki dan di wajahnya. Nanti, apa lagi?
Menolehkan kepalanya, Radit dibuat terkejut sekaligus kebingungan ketika melihat pelaku yang telah memukulnya. Pembuat keributan itu ternyata adalah Gilang, yang saat ini sedang ditahan tubuhnya oleh Deni.
Apa yang dia lakukan di sini? Apa pula yang membuatnya melayangkan tinjunya padaku, tanpa aba-aba seperti ini?
__ADS_1
Setelah memulihkan diri dari rasa terkejutnya, Radit beranjak berdiri, kemudian melayangkan tinjuan tak kalah kuatnya ke wajah mantan temannya itu. Tak pelak, semua pekerja yang sedari tadi menonton segera berlari menghampirinya untuk menahannya, seperti yang dilakukan Deni pada Gilang.
"Lepaskan aku! Biarkan aku menghantamkan tinjuku pada pria brengsek ini!" teriak Gilang, berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari pegangan Deni padanya. "Sungguh bodoh sekali aku tadi, sempat berpikir menemuimu di sini untuk meminta maaf. Untung saja sebelum tiba, seseorang telah menyadarkanku dari kebodohanku."
"Justru yang brengsek di sini itu kamu! Datang-datang langsung meninju wajah orang saja," balas Radit murka, berhasil melepaskan dirinya dari pegangan para pekerjanya.
Sekali lagi, Radit melayangkan tinjunya ke wajah Gilang. Tetapi, Gilang tidak diam begitu saja, dia juga membalas pukulan itu. Sontak saja para pekerjanya dan Deni mati-matian menangkap mereka berdua agar tidak kembali saling adu jontos lebih banyak lagi.
"Berhentilah berkelahi! Kalian bisa membicarakan ini baik-baik," ujar Deni melerai, memberikan jarak pada mereka berdua sejauh mungkin. "Aku tak tahu apa yang merasukimu, Lang, tapi kamu harus minta maaf pada Radit."
"Aku nggak sudi meminta maaf pada manusia hina itu," tolak Gilang, meludah ke tanah. "Pria bajing*n seperti dirinya nggak pantas mendapatkan maaf dari siapa pun."
"Kamu nggak berhak menyebutku seperti itu! Yang hina di sini kamu, dasar penggoda istri orang!" balas Radit, mengangkat kakinya mencoba menendang Gilang. "Semua orang di sini harus tahu seperti apa dirimu yang sebenarnya."
"Aku nggak pernah menggoda istrimu, dasar kamu tukang fitnah!" desis Gilang, mengertakkan giginya. "Harusnya kamu mengaca pada dirimu sendiri! Lihatlah apa yang telah kamu lakukan terhadap istrimu sendiri. Kamu berselingkuh darinya di depan mata kepalanya sendiri! Nggak cukup sampai di situ, kamu juga malah meminta adikmu mengurus selingkuhanmu, bukannya meminta padanya untuk mengurus istrimu."
"Tahu apa kamu sehingga berani mengkritikku seperti itu, hanya karena berdasarkan apa yang kamu lihat, hah?" sahut Radit, menggeram marah. "Kamu nggak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, jadi, jangan berani-beraninya kamu menghakimiku! Dan, mengenai apa yang apa yang aku pinta pada adikku, itu bukan urusanmu."
"Radit benar, Lang. Semua yang kamu lihat, nggaklah seperti yang kamu pikirkan," ucap Deni, membelanya.
"Kamu diam saja, Den! Hanya karena dia teman baikmu, kamu nggak harus membelanya dalam situasi apa pun. Kalau dia salah, ya, salah saja," hardik Gilang, melontarkan tatapan sinis. "Semua yang kulihat dan kudengar, sudah cukup menjelaskan padaku, bagaimana rupa asli si pria brengsek ini. Aku nggak akan mempercayai sepatah kata pun, yang terucap dari mulutmu, ataupun dari bedeb*h sialan ini."
"Kamu bukannya nggak mau mempercayai apa yang dikatakan Deni, kamu cuma menolak untuk percaya. Karena apa yang kamu lihat dan dengar dari para penggosip lebih menguntungkan bagimu," ejek Radit, memandang rendah padanya. "Bilang saja, kamu mencoba mengambil kesempatan dari pertengkaranku ini untuk mendekati Widya kembali, dasar munafik."
"Sialan kamu, Dit! Aku nggak serendah yang kamu pikirkan."
Menarik kasar lengannya dari pegangan orang yang menahannya, Radit berjalan mendekat ke arah Gilang seraya menepuk pundaknya santai.
"Percayailah apa yang kamu percayai. Aku tak peduli yang kamu pikirkan tentangku." Radit melirik temannya, Deni. "Jangan biarkan orang ini pergi, sebelum aku mencapai rumahku. Aku nggak ingin dia menghalangi jalanku untul menemui istriku di rumah."
Kemudian, ia melangkah pergi meninggalkan Gilang, yang meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari kukungan seluruh pekerjanya.
"Mau ke mana kamu? Aku belum selesai bicara denganmu, sialan kau!" teriak Gilang, suaranya melengking bagaikan burung elang yang sedang terbang di langit. "Kalian semua, lepaskan aku!"
"Diam, Gilang! Biarkan Radit menyelesaikan masalah rumah tangganya. Kamu jangan ikut campur!" bentak Deni, kesal oleh sikap ikut campur Gilang, yang tidak pada tempatnya.
Bagus, Kawan. Pembuat onar itu harus disadarkan dari kelakuan kurang ajarnya.
Perdebatannya dengan Gilang bisa menunggu. Sekarang ini prioritas utamanya adalah menyelesaikan kesalahpaham antara dirinya dengan Widya.
__ADS_1
Membayangkan Widya yang sedang menangis di kamar tidurnya, sungguh menyakiti hatinya. Radit tidak bisa membiarkan Widya larut dalam kesedihannya lebih lama lagi.