Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Terperangkap


__ADS_3

Terlalu lelah berjalan kaki siang ini, Widya langsung merebahkan tubuhnya di atas kasus kamarnya. Ini terakhir kalinya ia melakukan perjalananan sejauh itu.


Begitu banyak hal yang terjadi padanya hari ini. Jadi ia akan tidur sepuasnya demi memulihkan pegal di kedua kakinya.


**


Membuka sebelah matanya perlahan, Widya meraba meja di samping tempat tidurnya. Setelah menemukan ponselnya, ia melihat jam di sana. Ia sangat penasaran jam berapa sekarang. Terbelalak, Widya terkejut melihat jam di ponselnya menunjukkan pukul 7 malam. Tak percaya apa yang dilihatnya, Widya beranjak dari tempatnya tidur dan berlari keluar kamar melihat jam dinding di ruang tamu.


Jam dinding itu pun menunjukkan waktu yang sama dengan ponsel Widya. Astaga, ia tak menyangka bisa tidur selama itu. Mungkin ini akibat rasa lelah yang dirasakannya tadi siang. Pegal di kakinya pun sudah hilang.


“Kamu sudah bangun?” tanya neneknya, keluar dari kamarnya karena mendengar suara langkah kaki Widya.


“Maaf, sudah membangunkanmu, Nek," sesal Widya.


“Nggak perlu minta maaf. Nenek tadi nggak tidur kok.”


“Lalu kenapa nenek nggak membangunkanku? Aku nggak sadar kalau tidurku akan selama itu."


“Kamu terlihat sangat nyenyak sekali tidurnya. Nenek jadi nggak tega membangunkanmu.”


Mengambil remote TV dari meja, neneknya menyalakan televisi sembari duduk di sofa.


“Kamu mau makan? Biar nanti nenek panaskan masakkan di dalam tudung,” tanya neneknya, bersiap ke dapur.


“Nggak perlu, Nek.” Widya menyuruh neneknya duduk kembali, kemudian duduk di sampingnya.


“Kalau aku makan semalam ini, nanti aku bisa gendut.” Widya meringis, membayangkan gambaran dirinya yang gendut dalam benaknya.


“Apa salahnya gendut sedikit, Sayang.”


“Pokoknya aku nggak mau makan. Aku nggak lapar, Nek”


“Kamu yakin? Terakhir kali kamu makan, 'kan tadi siang sebelum Mila datang mengajak kamu berjalan.”


“Aku yakin sekali. Mungkin rasa lelahku menghilangkan rasa laparku, Nek.”


Tidak ingin memaksa Widya untuk makan lagi, neneknya bertanya mengenai perjalanan yang di lakukan Widya siang ini bersama Mila.


Televisi yang dinyalakan neneknya hanya menjadi penonton, bukan tontonan bagi mereka berdua. Keduanya terlalu asyik bercerita satu sama lain mengenai apa saja yang terjadi seharian ini.


Tidak terasa, sudah sejam berlalu. Neneknya menguap mengantuk dan berpamitan untuk tidur.

__ADS_1


“Kamu nggak tidur, Wid?”


“Jangan konyol, Nek. Aku baru saja bangun tidur sejam lalu.”


“Oh iya, nenek lupa. Kalau begitu, nenek tidur duluan. Jangan kemalaman tidurnya.”


“Iya.”


Setelah mematikan televisi, Widya berjalan ke arah pintu. Membuka pintu, Widya mengedarkan pandangan ke sekitarnya yang sunyi senyap. Hanya hembusan angin yang terdengar. Seperti hari-hari sebelumnya, setiap jam 8 malam pasti tidak ada satu pun orang yang lewat. Desa ini mempunyai kebiasaan untuk tidur cepat. Sangat membosankan. Menutup pintu kembali, Widya kembali ke dalam kamarnya.


Selama sejam lebih Widya menghabiskan waktunya dengan mendengarkan musik dari ponselnya, berharap rasa kantuk akan menghampirinya. Membosankan sekali. Tidak ada yang bisa dilakukannya untuk menghilangkan rasa bosannya. Melepaskan earphone dari telinganya, Widya membanting ponselnya di kasur.


Menurunkan kakinya ke pinggir ranjang, Widya menjerit saat mendengar suara cicitan tikus melintas melewati kakinya. Membekap kedua mulutnya, Widya bisa mendengar suara degup jantungnya yang sangat cepat. Untung saja suara jeritannya tidak membangunkan neneknya.


Berlari secepat mungkin keluar dari kamarnya, Widya tak sengaja membanting pintu kamarnya dengan keras. Tentu saja, kali ini suara itu membangunkan neneknya.


Dari dalam kamar neneknya terdengar suara teredam neneknya yang bertanya pada Widya, "Kenapa, Wid? Kok tadi nenek dengar ada suara bantingan pintu?"


“Bukan apa-apa, Nek. Hanya tikus,” jawab Widya singkat.


Setelah mengingatkan Widya untuk tidur. Tidak ada lagi suara yang terdengar dari kamar neneknya.


Mengambil senter di atas lemari televisi, Widya berusaha membuka pintu sepelan mungkin agar tidak membangunkan neneknya.


Jalanan di luar terlihat gelap sekali, hanya cahaya bulan yang menyinari jalanan dari kegelapan. Menghidupkan senternya, Widya berjalan sambil mengamati rumah di sekelilingnya.


Semoga saja selesai dari perjalanan malamnya ini, tikus itu sudah keluar dari kamarnya. Sebelum pergi tadi, Widya sudah membuka pintu kamarnya untuk memberikan celah agar tikus itu keluar.


Yah, setidaknya jalan malam ini bisa menghilangkan rasa bosannya atau membuatnya lelah lagi sehingga ia bisa tidur.


Mendongak memandang langit malam, Widya tersenyum memandang bintang yang bersinar dengan cantiknya di langit. Sudah lama sekali ia tidak melihat bintang sebanyak ini.


Melanjutkan perjalanannya, Widya mengenang hari-hari yang dihabiskannya selama tinggal bersama orang tuanya di kota. Setiap hari ia akan bersenang-senang bersama orang-orang yang memanfaatkannya untuk mendapatkan traktiran darinya.


Ia sama sekali tak masalah dimanfaatkan seperti itu, karena ia juga memanfaatkan mereka untuk menjadikan mereka teman palsu. Itu lebih baik daripada tidak mempunyai teman berjalan sama sekali. Jadi, setiap orang yang melihatnya tidak akan menganggapnya kesepian karena tak punya teman.


Terlalu asyik dengan pikirannya sendiri, Widya sekali lagi tidak memperhatikan jalan yang sudah dilaluinya. Ia melihat sekelilingnya, bingung dengan arah jalan pulang. Mungkin benar yang dikatakan lelaki menyebalkan itu tadi siang, ia buta arah. Tapi, ia tak akan mengakuinya pada lelaki yang selalu merasa dirinya benar itu.


Sebuah bangunan tua yang terlihat seperti gudang menarik perhatian Widya di ujung jalan. Mendekati tempat itu, Widya memperhatikan palang kayu yang di pasang di depan pintu. Menarik palang di antara dua pegangan pintu dari besi itu, Widya meletakkannya di tanah, lalu masuk ke dalam.


Entah mengapa, rasa penasaran untuk mengetahui apa yang ada di dalam membuat Widya lupa, kalau tikus mungkin saja banyak berkeliaran di bangunan tua seperti ini.

__ADS_1


Apa yang ada di dalam gudang iti mengejutkan Widya. Tadinya ia berpikir akan mendapatkan barang-barang bekas, karena tempat ini terlihat seperti gudang. Tapi, di sekelilingnya banyak sekali buku yang berjejer di rak buku. Bahkan ada juga buku yang tergeletak di lantai. Mengambil salah satu buku, lampu senter diarahkannya untuk melihat isi buku itu.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya sebuah suara berat di belakangnya.


Terlonjak kaget, Widya menjatuhkan buku yang sedang dipegangnya. Menoleh ke pintu, Widya mengenali sosok yang berdiri di sana.


“Kamu mengagetkanku!"


Lampu senter yang diarahkan ke wajahnya membuat mata Widya sakit. Menghindar, Widya bergeser ke tempat yang lebih gelap.


“Aku pikir kamu pencuri yang bersembunyi dari warga,” tuduh Widya.


Meletakkan tangannya di jantung, Widya bisa merasakan jantungnya berdegup sangat kencang.


“Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu. Kamu terlihat seperti pencuri.”


“Nggak ada pencuri secantik diriku.”


“Wajah yang rupawan nggak menjamin kalau ia orang baik, seperti yang kamu ketahui,” ucap Radit penuh makna, lalu melangkah masuk ke dalam.


“Aku malas berdebat denganmu, Tuan Maha Benar. Jadi, bisakah kamu meninggalkanku seorang diri di sini?” usir Widya, mengibaskan tangannya sembari berjalan melihat buku yang berjejer di rak.


“Apa kamu nggak takut ada hantu?”


“Bagiku sesuatu yang nyata lebih menakutkan daripada sesuatu yang kasatmata, seperti dirimu contohnya.”


“Memang apanya yang berbahaya dariku? Bagiku yang terlihat berbahaya itu justru kamu. Bukankah selama kamu di sini sudah banyak masalah yang kamu perbuat, karena sikap burukmu itu?” sindir Radit sambil mengikutinya dari belakang.


BRAKKK


Suara pintu yang tertutup tiba-tiba menghentikan Widya mengucapkan balasan yang akan diutarakannya pada Radit.


“Apa itu tadi?” tanya Widya, menoleh menatap Radit.


“Mungkin angin kencang membuat pintunya tertutup," kata Radit gamblang. "Kenapa? Apa kamu pikir itu ulah hantu?”


“Jangan bodoh! Tadi tidak ada hembusan angin kencang apalagi hantu.” Mendekati pintu, Widya menarik pegangan besi di pintu untuk membukanya, tapi usahanya tidak berhasil.


Sepertinya seseorang baru saja mengunci mereka di dalam sini. Ini tidak mungkin terjadi padanya. Mencoba sekali lagi membuka pintu, usaha Widya tetap tidak membuahkan hasil. Radit segera menghampirinya, ikut mencoba membuka pintu dan mendapatkan hasil yang sama seperti Widya.


“Kita terkurung.” Sorot panik terpancar dari mata Widya.

__ADS_1


__ADS_2