Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Menyisihkan Prasangka


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Radit langsung membuka pintu rumahnya tanpa mengetuk pintu dahulu, kemudian berderap menghampiri pintu kamar yang dulu Widya tempati. Ia menduga istrinya itu akan bersembunyi di sana lagi untuk menghindarinya. Bahkan tidak akan aneh jika ia mendapati pintu kamar itu terkunci dari dalam.


"Widya, kita harus bicara."


Radit memutar gagang pintunya, dan dibuat terkejut saat tidak mendapati Widya tidak ada di sana.


Ke mana dia? Apa dia kabur lagi? Oh Tidak, jangan lagi.


Saat ini dirinya terlalu lelah memikirkan tempat tujuan kabur Widya lagi. Melirik sekilas pintu kamarnya yang juga tertutup rapat, Radit beralih ke pintu kamar itu, berharap dapat menemukan Widya berada di sana.


Baru saja membuka pintu, ia sudah disambut lemparan sebuah benda empuk mengenai tepat ke wajahnya. Tidak perlu melihat, ia sudah tahu siapa pelakunya.


"Syukurlah kamu nggak mengunci pintu, jadi, aku nggak perlu lagi menggunakan kunci candangan milikku," leganya, memungut boneka banteng, yang dulu ia belikan untuk Widya. "Sekarang ayo ki...."


Kali ini sebuah bantal menghantam telak wajahnya.


"Widya, dengarkan aku berbicara dulu," pintanya, menepis semua bantal dan guling yang dilemparkan Widya padanya sembari berjalan mendekati ranjang. "Kalau kamu bersikap kekanakan begini, bagaimana kita akan menyelesaikan masalah antara kita berdua?"


"Jangan mendekatiku!" jerit Widya, panik melihatnya yang semakin mendekat.


Dia kelabakan mencari sesuatu di atas kasur untuk dilemparkan lagi padanya. Saat tidak menemukan apa pun lagi di sana, dia beranjak turun dari ranjang dan mengambil jam weker yang ada di atas meja kecil di samping ranjang. Mereka berdua kini dipisahkan oleh ranjang besarnya.


"Selangkah saja kamu mendekatiku, maka aku akan melemparkan ini tepat di depan wajah brengsekmu itu!" ancam Widya, mengambil posisi bersiap melemparkan benda keras itu kapan saja.


"Lempar saja kalau kamu berani," tantangnya, mencari cara menyergap Widya yang berada di seberangnya. "Tepat ketika benda itu melayang dari tanganmu, maka saat itu juga akan menangkapmu."


Mata Widya bergerak panik, mencari peluang agar lolos dari jangkauan Radit. Melirik diam-diam ke arah pintu yang terbuka, dia sengaja mengalihkan perhatian Radit dengan melemparkan jam weker itu ke atas kasur. Lalu berlari cepat ke arah pintu, sebelum Radit sempat menangkapnya.


Sayangnya, tipuan pengalihannya itu tidak semulus perkiraannya. Karena dari awal Radit sudah menebak apa yang akan dilakukannya. Menyergap tubuh Widya dari belakang, Radit sekuat tenaga menahan kedua tangan Widya di sisi tubuhnya.


Ternyata menahan kedua tangannya belum cukup, sebab dia menggunakan kakinya yang bebas, mencoba menendang Radit dari belakang.


"Lepaskan aku! Dasar kamu penyelingkuh, berhentilah menyentuhku! desis Widya, mengerahkan seluruh tenaganya agar bisa lepas dari kukungannya.


"Marah-marah begini nggak akan menyelesaikan masalah. Bersikaplah rasional, Widya!"


"Ketika berhadapan dengan penyelingkuh sepertimu, sikap rasionalku nggak diperlukan."


"Kalau kamu begini terus, aku nggak punya cara lain lagi," desah Radit.


"Apa maksud...." Widya menjerit ketika Radit mengangkat tubuhnya ke atas bahu. "Kamu gila! Turunkan aku!"


"Yang gila di sini justru kamu." Radit melemparkan Widya ke atas kasur.


"Dasar kamu barbar! Berani-beraninya...." Widya terperangah oleh sikap kasarnya, matanya berkilat marah. "Setelah menyelingkuhiku, mengabaikanku, sekarang kamu melemparkanku layaknya seonggok barang tak penting!"


Widya beringsut mundur saat Radit merangkak mendekatinya di kasur, matanya bergerak was-was mengawasi pergerakannya.


"Apa yang kamu lakukan? Menjauh dariku!" usir Widya, merasa semakin terpojok saat menoleh ke belakangnya.


Tidak ada lagi celah baginya untuk menjauh dari jangkauan Radit. Kalau dia memaksakan dirinya untuk mundur lagi, maka lantai akan menantikan dirinya di bawah sana.

__ADS_1


"Kapan aku mengabaikanmu?" tanya Radit, menundukkan wajahnya menatap Widya. "Aku nggak pernah sekalipun mengabaikanmu. Kalau yang kamu maksud soal aku yang nggak mengejarmu tadi, itu kulakukan demi kita berdua."


"Omong kosong!" Widya menjulurkan tangannya, mendorong tubuh Radit menjauh. "Itu hanya alasanmu untuk membenarkan semua perbuatanmu."


Menangkap kedua tangan Widya dari depan dadanya, Radit menghentakkannya ke samping kepala Widya seraya menahannya di sana. Sedangkan kedua kakinya, ia tahan dengan bagian bawah tubuhnya agar Widya tidak bisa bergerak sedikit pun untuk melepaskan diri darinya.


"Sedang apa kamu? Apa kamu berniat memperkosaku, setelah tadi baru saja memadu kasih dengan selingkuhanmu?" cela Widya, memberontak melepaskan diri. "Kalau kamu memang berniat melakukan itu, maka kamu akan mendapatkan perlawanan mati-matian dariku!"


Radit berdecak sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya ampun, Wid, Wid, pikiranmu liar sekali. Mana ada suami memperkosa istrinya. Kalau pun aku berniat menidurimu, kamu akan menerimanya dengan senang hati."


"Percaya diri sekali kamu," dengus Widya.


"Kenapa nggak?" balasnya. "Aku beritahukan padamu, buang jauh-jauh imajinasi liarmu itu. Aku melakukan ini supaya kamu mendengarkan penjelasanku dengan tenang."


"Jelaskan saja semaumu. Walaupun tangan dan kakiku dibelenggu olehmu, aku masih punya mulut, yang bisa kugunakan untuk menghalangiku mendengarkan penjelasanmu."


"Menurutmu aku nggak terpikirkan hal itu? Aku juga bisa membungkam mulutmu."


"Dengan apa? Menyumpalnya, begitu?"


"Ada cara yang lebih baik dari menyumpalnya," ujarnya penuh makna.


Untunglah, ancamannya itu bethasil. Widya akhirnya menyerah juga melawannya.


"Baiklah. Katakan apa yang ingin kamu katakan. Aku akan mendengarkannya dengan tenang," ucap Widya, memalingkan wajahnya. "Tapi, aku beritahu padamu, ini tetap nggak mengubah pandanganku terhadap dirimu. Bagiku kamu sudah mengkhianatiku, terlepas kamu melakukannya dengan sengaja atau nggak."


Mendengarkan permohonan bernadakan putus asa itu, Widya memalingkan wajah menatapnya.


"Kenapa begitu susahnya bagimu mendengarkan penjelasanku? Aku tahu kamu kecewa padaku, tapi kukatakan sekali lagi, aku nggak pernah sekalipun berniat mengkhianati kepercayaanmu padaku," ujarnya, semakin frustasi tiap waktunya menghadapi ketidakpedulian Widya padanya. "Aku benar-benar minta maaf, jika pertemuanku dengan Nadin tadi sudah menyakitimu. Tampar aku sesuka hatimu jika itu bisa memuaskanmu, tapi jangan bersikap dingin begini padaku. Katakan padaku, apa yang harus kulakukan agar kamu percaya bahwa kamu satu-satunya wanita dalam hidupku? Jika kamu menginginkan aku meminta maaf sambil berlutut, maka aku akan melakukannya dengan senang hati. Kamu tahu, hatiku sakit melihatmu sesedih ini."


Permohonan maaf tulus yang disampaikannya dengan putus asa itu ternyata berhasil meluluhkan hati Widya. Air matanya seketika mengalir keluar tak henti-hentinya dari pelupuk matanya.


Melepaskan pegangannya di kedua tangan Widya, Radit langsung berbaring menyamping, lalu merengkuh Widya dalam pelukannya seraya menenangkannya. Selama beberapa saat, hanya suara tangisan serta gumaman menenangkan mengisi ruangan kamar mereka.


Puas meluapkan seluruh emosinya dalam dekapan Radit, lambat laun isak tangis Widya kini mulai menghilang. Dirasakannya Widya mengambil sejumput bajunya untuk mengelap bekas air mata, yang membasahi wajahnya.


"Sekarang aku sudah tenang, mulailah penjelasanmu yang tertunda tadi," pinta Widya, menolak mendongak menatapnya. "Jangan suruh aku menatapmu lagi. Aku nggak ingin kamu melihat wajahku yang sekarang."


"Dalam situasi seperti ini kamu masih saja bersikap malu," tawanya, merasa geli oleh sikap malu-malu istrinya. "Kalau kamu lupa, aku tadi sudah melihat matamu yang membengkak saat memasuki kamar ini. Aku nggak tahu kamu bisa menangis sebanyak itu. Selama ini aku pikir air matamu itu dilanda kekeringan."


"Jangan meledekku," cubit Widya kecil di dadanya. "Kalau kamu lupa, penampilanmu bahkan lebih buruk dariku. Aku nggak tahu siapa yang sudah menyebabkan lebam di seluruh wajah bak batumu itu, dia benar-benar melakukannya dengan baik. Kamu memang pantas mendapatkan pukulan."


"Berarti kamu membenarkan perbuatan orang yang sudah menyakiti suamimu, begitu?" tuduhnya, mengangkat dagu Widya supaya mendongak menatapnya. "Aku nggak tahu kamu sekejam itu. Yah, nggak heran juga sih, kamu 'kan memang berhati dingin. Terutama saat kamu marah."


"Aku belum menyelesaikan ucapanku," sanggah Widya, memukul tangannya yang menyentuh dagunya. "Dengarkan dulu sampai selesai, sebelum memotong pembicaraanku dan marah-marah nggak jelas begini."


"Alangkah baiknya kamu mengatakan hal itu sambil bercermin," sarannya dengan nada menyindir.


Mengabaikan sindiran itu, Widya melanjutkan perkataannya yang belum tuntas.

__ADS_1


"Tetap saja aku nggak terima, siapa pun itu, telah melukai wajahmu separah ini," desah Widya, menyentuh satu per satu luka di wajahnya hati-hati. "Astaga, lihatlah! Kamu harus mengompresnya, kalau nggak, nanti semakin membengkak. Ya ampun, warnanya berangsur-angsur mulai berubah."


"Kamu tenang saja, orang yang sudah membuat wajahku seperti ini, kondisi wajahmya bahkan lebih parah dariku," bangga Radit, menyombonglan diri.


Kesal melihat kesombongan dirinya, Widya sengaja menekan bengkak di wajahnya kuat-kuat.


"Aw, sakit tahu!" Radit meringis.


"Kamu sih, kayak begini saja dibanggakan," cerca Widya, melepaskan diri dari pelukannya. "Kamu diam di sini, aku akan mengambil peralatan yamg dibutuhkan untuk mengobati lukamu. Saat aku kembali nanti kamu akan menceritakan segalanya padaku. Baik itu pertemuanmu dengan mantan sialanmu itu, dan juga mengenai siapa dalang yang telah menghajarmu habis-habisan begini."


Walaupun lebih senang merahasiakan pertengkarannya dengan Gilang dari Widya, ia tidak punya pilihan lain selain mengiyakan. Tidak ada gunanya merahasiakan hal ini dari Widya, sebab walau bagaimanpun Widya pasti akan mendengarkan peristiwa itu dari orang lain.


∞ ∞


Hari sudah sore ketika Nadin tiba di depan rumahnya bersama Ririn. Menyampaikan rasa terima kasihnya pada Ririn, yang sudah berbaik hati mengantarkannya ke rumah, Nadin segera masuk ke dalam rumahnya.


Baru saja memasuki rumahnya, Nadin disambut oleh kedua orang tuanya, yang sedari tadi menunggu kepulangannya.


"Dari mana saja kamu? Setelah kekacauan yang kamu buat, kamu malah dengan santainya berjalan bebas di luar sana," cetus Ayahnya, memukul punggungnya. "Kamu tidak bisa bayangkan, betapa malunya Bapak saat tadi mendengarkan tentang kelakuanmu di luar sana dari orang lain. Kalau kamu ke sini hanya untuk mempermalukan Bapak dan Ibu, lebih baik kembali saja sana ke Jogja."


"Pak, jangan pukul Nadin begitu. Kita harus mendengarkan penjelasannya dahulu sebelum menghakiminya," bela Ibunya, mengambil posisi melindunginya dari amukan Ayahnya.


"Apa lagi yang harus dijelaskan, Bu? Semua sudah jelas. Anak ini dengan tidak tahu malunya datang ke sini hanya untuk merusak rumah tangga orang saja," hardik Bapaknya, melotot marah padanya. "Sekarang katakan pada Bapak, kalau apa yang dikatakan semua orang di luar sana bohong. Kamu tidak melakukan tindakan tercela itu, bukan?"


"Aku nggak melakukan tindakan tercela apa pun di luar sana. Memangnya apa salahnya kalau aku menemui Radit di tempat kerjanya?" sahut Nadin, tak gentar oleh kemarahan Ayahnya. "Apa aku nggak boleh menemui Radit setelah sekian lama aku nggak bertemu dengannya? Terserah, jika orang lain menyalahartikan tindakanku."


"Nah, sekarang kamu dengar, Bu! Anak ini memang berniat mengganggu rumah tangga Radit dan istrinya," tuding Bapaknya, semakin dibuat geram setelah mendengarkan perkataannya. "Meskipun Radit itu teman lamamu sekali pun, kamu tidak berhak memeluknya di depan mata kepala istrinya sendiri!"


"Aku nggak berniat seperti itu, istrinya saja yang terlalu berlebihan menanggapi," sahut Nadin acuh. "Dia melihat apa yang mau dia lihat. Itu bukan salahku."


"Nadin! Jaga ucapanmu," ujar Ibunya marah. "Sekarang ini bukan saatnya kamu bersikap tak peduli seperti ini. Kamu harus menjelaskan pada Bapak dan Ibu apa yang sebenarnya terjadi di sana agar kami tahu bagaimana menyelesaikan masalah ini. Kamu juga jangan berkata begitu tentang istri Radit, kamu tidak tahu betapa sedihnya dia melihat suaminya berpelukan dengan perempuan lain. Ibu sarankan kamu jelaskan kesalahpahaman ini padanya. Ibu percaya kamu memang tidak berniat merusak rumah tangga mereka, seperti yang orang katakan di luar sana."


"Nggak ada gunanya aku menjelaskan situasi sebenarnya ini pada Bapak dan Ibu, ataupun kepada istri Radit dan semua orang di luar sana. Penjelasanku nggak akan mengubah pandangan orang terhadapku. Semua orang akan tetap mempercayai apa yang mereka dengar dari orang lain daripada orang yang bersangkutan," kata Nadin, menolak permintaan Ibunya.


"Tapi setidaknya, kami sebagai orang tuamu, perlu tahu hal yang sebenarnya terjadi," pinta Ibunya sekali lagi.


"Aku terlalu lelah untuk menceritakan hal ini pada kalian. Saranku, abaikan saja gosip tak bermutu itu," tolaknya sekali lagi, berjalan masuk ke dalam kamarnya.


"Nadin!" panggil Ibunya, berusaha mengejarnya, tetapi ditahan oleh Ayahnya.


"Sudahlah, Bu, biarkan saja anak keras kepala itu mengurung dirinya di dalam kamar sana. Berbicara dengannya sekarang ini cuma membuang-buang waktu saja."


"Tapi, Pak...."


"Untuk sekarang ini, tinggalkan dia seorang diri, besok kita akan menanyainya lagi," bujuk Ayahnya, yang kali ini didengarkan oleh Ibunya. "Kamu dengar itu, Nadin, pembicaraan kamu dengan kami belum selesai. Besok Bapak tidak akan menoleransi sedikit pun sikap bungkammu mengenai masalah ini."


Mendengarkan peringatan itu dari balik pintu kamarnya, Nadin sangat berharap besok Ayahnya akan melupakan masalah ini. Ia juga berharap gosip menyebalkan perihal perilakunya hari ini akan menghilang juga di telan bumi. Meskipun ia tahu, itu sangatlah mustahil terjadi.


Sekarang semua orang di desa ini akan memandang sinis padanya. Semua ini salahnya karena sudah bertindak sembrono.


Kenapa aku harus lepas kendali tadi? Seharusnya aku nggak melakukan itu.

__ADS_1


Tidak ada gunanya menyesali hal ini sekarang. Nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada jalan lain, selain menghadapinya, tapi tidak sekarang.


__ADS_2