Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Merajuk


__ADS_3

Pagi harinya Radit bersiap berangkat kerja seperti biasanya, tetapi sebelum Radit pergi ia memalingkan wajahnya melihat ke arah kamar Widya. Dan, perlahan ia berjalan mendekati pintu kamar Widya yang masih tertutup, ditempelkannya telinganya di kusen pintu untuk memastikan jika Widya memang berada di dalam kamarnya. Sayangnya, tak ada suara apa pun yang terdengar. Mengetuk pintu pelan, ia menunggu Widya menyahut ketukannya dari dalam. Namun, tetap tak ada jawaban seperti yang diinginkannya.


Menjauhkan telinganya dari pintu, Radit memutar gagang pintu, dan seperti yang telah diduganya, pintunya terkunci. Melirik ke arah meja kecil di samping kamar Widya, ia ragu sejenak, apakah harus mengambil kunci pintu cadangan kamar Widya di sana atau tidak. Akhirnya ia memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Widya kembali. Akan tetapi, kali ini lebih nyaring dari sebelumnya.


"Widya, buka pintunya! Kalau kamu tak membukanya juga, aku akan membuka pintunya dengan kunci cadangan yang kumiliki." Gedorannya semakin kencang seiring ucapannya yang terlontar.


Tetap saja gertakannya tidak mendapatkan jawaban apa pun dari dalam kamar Widya. Dengan perasaan tak sabar, dibukanya laci di meja kecil yang menyimpan kunci cadangan kamar milik Widya. Namun, sebelum Radit sempat menemukan kunci itu, terdengar suara kecil dari kamar Widya. Menempelkan telinganya lagi ke pintu kamar Widya, ia tahu bahwa suara yang didengarnya tadi adalah suara benda yang dilemparkan Widya ke pintu kamarnya. Karena tak berapa lama kemudian, terdengar lagi suara yang sama menghentak pintu kamar istrinya.


Setidaknya suara lemparan itu agak melegakan Radit, sebab Widya masih ada di dalam kamarnya, bukannya menghilang seperti dugaannya beberapa waktu lalu, saat tak mendengar respon apa pun dari dalam kamar istrinya.


"Berhentilah bersikap kekanakan." Suara lemparan benda lagi dari dalam kamar. "Bisakah kamu merespon ucapanku! Rasanya aku seperti berbicara dengan benda-benda yang melayang saja," gerutu Radit, mulai kesal perkataannya hanya dibalas dengan suara hentakan benda yang dilempar saja.


Sunyi kembali, tak ada lagi lemparan benda yang terdengar dari dalam kamar Widya. Sepertinya, istrinya yang pemarah bertekad untuk tidak berbicara apa pun padanya, dalam waktu yang Radit tak tahu sampai kapan. Menyandarkan keningnya di pintu kamar Widya, ia menghela napas panjang.


Apa pun pembelaan dirinya mengenai pembatalan perjalanan mereka yang harusnya dilakukan hari ini, tak ada gunanya, sebab Widya sudah memutuskan bahwa Radit telah memberikannya harapan palsu. Rasanya pasti sakit sekali, dihempaskan pada saat-saat terakhir harapan itu mulai terwujud di depan matamu.


Selama waktu yang begitu lama, Radit diam membisu berdiri di depan pintu kamar Widya. Menolehkan kepalanya ke arah jam dinding di atas televisi ruang keluarga, Radit sadar kalau sekarang ia sudah sangat terlambat ke peternakannya.


"Aku harap setelah aku pulang nanti kamu nggak akan bersikap membisu seperti ini lagi." Tentu saja perkataannya hanya mendapatkan kesunyian seperti tadi.


Radit melangkahkan kakinya lagi mendekati meja kecil yang lacinya sudah terbuka tadi. Lalu mengambil kunci cadangan kamar Widya yang ada di dalam sana. Ia melakukannya untuk berjaga-jaga jika Widya tetap akan mengunci kamarnya saat nanti ia pulang. Jadi, sebelum Widya berinisiatif mengambil kunci cadangan itu—supaya Radit tidak bisa masuk kamarnya—maka, ia akan menyimpan kunci itu terlebih dahulu.


Dalam perjalanannya ke peternakannya, Radit berpapasan dengan Ririn di jalan. Menelengkan kepalanya, adiknya itu menatap Radit penasaran. Pastilah dia heran melihat Radit berangkat kerja agak kesiangan dari biasanya.


"Kenapa Bang Radit baru berangkat kerja sekarang?" Ririn mengitari Radit, seperti seorang predator mengamati mangsanya. "Apa terjadi sesuatu yang menunda keberangkatan Bang Radit? Misalnya, pertengkaran suami istri, gitu?" selidiknya lebih dalam, mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagu dengan sangat serius.

__ADS_1


Menjewer telinga Ririn pelan, ia menggeleng sambil menggoyangkan telunjuknya di depan wajah adiknya, yang kepalanya selalu penuh rasa ingin tahu itu.


"Mau abang terlambat oleh apa pun, itu bukan urusan kamu, Anak Bandel."


Meringis kesakitan, Ririn melepaskan jeweran Radit dari telinganya. "Iihhh, apaan sih! Jangan main jewer gitu dong, Bang."


"Halah nggak kuat gitu kok abang jewernya. Jangan mendramatisir sesuatu yang biasa aja deh, Rin."


"Mau kuat kek, nggak kek, tetap aja sakit." Bibirnya mencebik pada Radit. "Aku 'kan cuma nanya doang, gitu aja kok sensi sih."


"Siapa yang sensi coba," protes Radit. "Sudah, sana sekolah! Oh iya, Abang dengar dari ayah baru-baru ini, kamu bertengkar sama teman sekolahmu. Sekolah itu buat belajar supaya pintar, bukannya berantem supaya jadi preman."


Pergantian topik itu berhasil menghentikan Ririn untuk bertanya lebih lanjut tentang keterlambatan Radit pagi itu. Adiknya seketika melotot marah padanya, mengacungkan tinjunya di hadapan Radit, dipukulnya dada Radit menggunakan seluruh tenaganya.


"Bang Radit tahu apa sih tentang aku. Memangnya kalau berantem sekali selalu menandakan aku ingin jadi preman, gitu?" Pukul lagi. "Ini semua kulakukan demi istri Abang juga." Ketiga kalinya pukulan itu ditahan oleh Radit.


Membuang muka, Ririn menarik kepalan tangannya dari genggaman Radit. "Cari tahu aja sendiri. Huh!"


Berjalan melewatinya, Ririn sengaja menggepakkan bahunya di siku Radit, untuk menunjukkan rasa kesalnya atas celaan yang diberikan Radit tadi. Menarik kerah baju Ririn dari belakang, Radit menghentikan adiknya pergi. Menolehkan kepalanya dari balik bahu, Ririn memukul-mukul tangan Radit agar melepaskan cengkramannya dari kerah bajunya.


"Jelaskan padaku apa maksud perkataanmu tadi, kalau kamu mau aku lepaskan."


"Mentang-mentang tenagaku nggak sekuat Abang, lalu seenaknya aja Abang narik bajuku kayak main tarik tambang gitu. Lepasin! Nanti kerah bajuku melar." Ririn meronta-ronta melepaskan cengkraman Radit dari seragamnya.


"Jawab dulu!" perintahnya dengan nada tegas.

__ADS_1


Sekejap rontaan Ririn terhenti, dia bergeming membelakangi Radit. "Aku berantem karena bela Kak Widya dari ejekan teman sekolahku," jawabnya lemah.


"Ejekan?" tanya Radit bingung.


Cengkramannya di kerah baju Ririn mengendur, yang tentunya dirasakan oleh adiknya itu, sebab dia langsung meloloskan diri dari cengkramannya yang lemah. Wajahnya kini menghadap Radit dengan tatapan geram.


"Iya, ejekan. Aku bukannya doyan berantem seperti dugaan Abang, aku cuma nggak terima aja Kak Widya dihina-hina oleh orang lain, makanya aku lepas kendali. Lalu menghajar mulut mereka yang kotor itu." Tinjunya kembali diacungkan di hadapan Radit untuk mengungkapkan rasa kesalnya kala itu.


Tanpa sadar Radit tersenyum mendengar cerita itu. Diacak-acaknya rambut Ririn yang sedang memperagakan aksinya menghajar temannya. Tentu saja hal itu tidak membuat adiknya senang sebab rambutnya jadi berantakan oleh ulah Radit, bibirnya kembali manyun sambil mengomeli Radit lagi.


"Ya sudah, abang minta maaf karena sudah nuduh kamu sembarangan tadi, tapi abang tetap nggak membenarkan perbuatanmu yang adu jontos sama temanmu itu. Lain kali jangan diulangi lagi. Kalau mereka masih mengejek istri abang, abaikan saja. Nggak ada gunanya kamu ladeni, entar mereka makin menjadi." Radit kembali mengacak rambut adiknya.


Kesal oleh tindakan Radit mengacak-acak rambutnya lagi, Ririn melompat untuk mengacak-acak rambutnya juga, kemudian berlari menjauh darinya.


"Aku nggak janji," teriaknya dari kejauhan, lidahnya menjulur keluar mengejek Radit.


Melihat tingkah adiknya itu, Radit hanya menggelengkan kepalanya, dan kembali melanjutkan perjalanannya ke peternakan.


***


Langit sudah gelap ketika Radit pulang ke rumah. Tidak seperti biasanya hari ini ia pulang agak malam, dikarenakan dirinya mampir dulu ke pusat kota untuk membelikan Widya sesuatu. Tentunya hadiah ini akan membuat istrinya yang pemarah itu akan merasa senang, terlebih lagi dia membelikan hadiah itu dari hasil penjualan cincin yang diharapkan Widya untuk dijualnya, dan ditukar dengan sesuatu untuk dirinya.


Apalagi hadiah yang akan diberikannya adalah sesuatu yang pasti akan disukai istrinya itu. Siang tadi saat Radit mengabarkan pada mertuanya bahwa hari ini ia tak jadi pergi ke kota bersama Widya, ia juga mendapatkan informasi dari ibu mertuanya, jika hadiah yang dibawanya ini akan membuat perasaan Widya kembali membaik. Makanya, sebelum pulang ia mampir ke pusat kota dulu untuk membelikan Widya sesuatu yang disukainya, berharap itu akan meredakan amarahnya.


Karena tidak sabar memberikan kejutan pada Widya secepat mungkin, Radit langsung membuka pintu rumahnya. Namun, pintunya dalam keadaan terkunci. Merogoh saku celananya Radit mencari kunci cadangan rumah yang selalu dibawanya. Setelah masuk ke dalam, ia langsung menyalakan semua lampu yang mati di dalam, kemudian meletakkan barang bawaannya ke atas meja makan di dapur sembari memanggil-manggil nama Widya. Seperti sebelumnya, tak ada jawaban dari dalam kamar istrinya.

__ADS_1


Kali ini kesabaran Radit sudah habis, jadi, dengan tergesa-gesa dibukanya pintu kamar Widya dengan kunci yang disimpannya tadi. Membuka pintu kamar itu selebar mungkin, Radit mendapati tak ada siapa pun di dalam sana. Menyalakan lampu kamar Widya, diedarkannya pandangan mencari jejak keberadaan istrinya.


Berlari ke dalam kamar Widya, ia segera membuka lemari pakaiannya, dan mendapati pakaian istrinya hanya ada sedikit di sana. Saat itulah ia sadar jika koper besar milik Widya juga tidak ada di kamar itu. Itu hanya menandakan satu hal, Istri Pembangkangnya kabur lagi.


__ADS_2