Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Perang Dingin


__ADS_3

Berjalan mundur dengan langkah terpincang-pincang, Radit duduk di sofa ruang tamunya sambil menggosok kakinya yang yang ditendang oleh Widya tadi. Ia sadar dirinya memang pantas mendapatkan tendangan ini dari Widya, tetapi di satu sisi ia juga merasa ingin menguncang-guncangkan tubuh istrinya itu agar berhenti membanting pintu saat dia sedang kesal. Mungkin tidak lama lagi semua barang yang ada di rumah mereka akan hancur oleh kecenderungannya yang suka melampiaskan kemarahannya pada benda di rumah mereka itu, pikir Radit muram.


Selama sejenak Radit termenung di ruang tamu memikirkan semua kejadian hari ini. Padahal ia mengira rumah tangganya tidak akan ada yang mengganggu lagi, setelah Bu Leni berhenti mengusik hidupnya dan Widya, semua itu berkat Ayahnya yang sudah menasehati kelakuan Bu Leni agar berhenti mencampuri urusan orang lain lagi. Akan tetapi, lihatlah sekarang, dugaannya salah besar, hilang satu masalah lalu datang lagi sumber masalah baru, sungguh pemikiran bodoh berharap ada kedamaian di dalam rumah tangganya. Apalagi mengingat begitu banyaknya warga di desa ini tidak menyukai Widya semenjak peristiwa di pasar dulu, pastilah istrinya itu mempunyai banyak musuh di luar sana.


Mengingat kembali pertikaian Widya dengan kedua perempuan yang sudah dia kenal semenjak kecil, batinnya saat itu selama sesaat sempat bergumul harus memihak kepada siapa. Ia memang tidak terlalu akrab dengan Tika dan Nita seperti halnya dia akrab dengan Mila, tapi baru kali ini ia melihat kedua perempuan itu bertengkar separah itu dengan orang lain. Tentu sangatlah wajar jika dia sempat meragukan Widya waktu itu. Namun, ia juga tahu bahwa Widya tidaklah seburuk apa yang dipikirkan semua orang. Dia memang suka berbicara kasar, tapi istrinya itu bukanlah tipe orang yang akan melakukan kekerasan terlebih dahulu. Pembawaan dirinya yang angkuh dan suka berbicara blak-blakan, tentunya akan menimbulkan spekulasi buruk kalau dirinya terlibat perkelahian dengan seseorang. Jadi, tidaklah aneh jika semua orang juga akan menudingkan jarinya pada Widya.


Mungkin jika Radit belum mengenalnya seperti sekarang, ia pastilah akan berpikiran sama seperti orang-orang di luar sana. Sekarang ia bukanlah Radit yang dulu, melainkan suami Widya, dan sudah merupakan kewajibannya melindungi istrinya itu. Meragukan istrinya sendiri di depan semua orang pastilah akan menyakiti perasaan Widya. Karena itulah tanpa berpikir lebih lama lagi ia tadi langsung membela istrinya ketika disudutkan oleh semua orang.


Nah, lalu apa yang dilakukannya sekarang? Kenapa tadi dia berbicara sebodoh itu pada Widya? Wajar saja kalau Widya mengatainya bermuka dua, ia memang tidak memiliki pendirian dengan pemikirannya sendiri. Beberapa waktu lalu dia membela istrinya mati-matian, tetapi di saat berikutnya ia malah meragukannya. Sebenarnya apa yang terjadi denganku? Apa aku memang gila? Mengacak-acak rambutnya dengan frustasi, Radit kemudian membenturkan kepalanya berulang kali ke sandaran tempat duduknya.


Melirik sekilas ke arah kamar Widya yang terdengar begitu hening, Radit segera bangkit sambil mendesah keras. Mungkin tidak ada salahnya membiarkan Widya mengurung diri selama beberapa saat, nanti setelah ia pulang bekerja mereka akan membicarakan masalah ini lagi. Dengan pemikiran itu, Radit segera pergi untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.


Di tengah perjalanannya, Radit berpapasan dengan Mila dan Ririn. Dilihat dari gerak-gerik mereka, ia bisa menduga kalau adik dan temannya itu berniat mendatangi Widya di rumahnya.


"Sebaiknya nanti saja kalian mengunjungi Widya, dia lagi dalam suasana hati yang nggak baik," ujar Radit.


"Tentu saja Kak Widya nggak dalam suasana hati yang baik, siapa pun yang habis bertengkar pasti membutuhkan seseorang di sampingnya untuk meluapkan rasa amarahnya," sahut Ririn, mengerucutkan bibirnya. "Berhubung Bang Radit terlalu sibuk dengan pekerjaan Abang, kami berdua bersedia dengan senang hati menemani Kak Widya dari rasa kesepiannya."


"Apa Widya baik-baik saja, Dit? Apa dia terluka parah?" Raut wajah khawatir Mila membuat hati Radit tersentuh melihat temannya itu begitu menyayangi Widya.


Tersenyum menenangkan, Radit menepuk pelan pundak Mila. "Widya baik-baik saja, dia nggak terluka parah, mengingat dia tadi berteriak-teriak marah seperti orang kesetanan. Perkelahiannya dengan Tika dan Nita tadi nggak menguras sedikit pun tenaganya, buktinya dia masih sanggup banting sana sini."


Dengan ekspresi kebingungan, Ririn dan Mila menelengkan kepalanya memandang Radit, keduanya saling bertukar pandang kebingungan. Terlihat sekali mereka tidak begitu memahami apa maksud perkataannya. Tentu saja mereka tidak tahu, mereka belum mendengar kabar pertengkaran Radit dan Widya beberapa waktu lalu.


"Bang Radit ngomong apaan sih, aku nggak paham. Teriak-teriak lah, banting ini itu lah, maksudnya apa coba?" Ririn mengerutkan keningnya. "Bisa dijelaskan lebih spesifik lagi? Jangan berbicara penuh teka-teki seperti itu."

__ADS_1


"Nanti juga kalian akan tahu maksudku. Mungkin sebelum hari gelap kalian akan mengerti apa yang aku katakan. Nah, sekarang kembalilah ke rumah kalian masing-masing!" Membalikkan badan Mila dan Ririn, didorongnya pelan badan mereka agar berjalan kembali ke arah sebaliknya dari jalan rumahnya. "Untuk sekarang lebih baik Widya kalian biarkan sendiri, menemuinya sekarang bukan waktu yang tepat."


Sambil menggerutu kesal, Ririn menuruti permintaan Radit tanpa bertanya lebih banyak lagi. Sedangkan Mila segera menjauhkan diri dari sentuhan Radit dari punggungnya, temannya itu masih bertindak sebisa mungkin untuk menjaga jarak darinya.


***


Suara gemuruh yang berasal dari perut Widya, membangunkannya dari tidurnya. Meraba-raba bawah bantalnya, Widya mengambil ponselnya untuk melihat jam. Matanya yang tadinya masih sedikit terpejam kini terbuka sepenuhnya. Ia tidak menyangka akan tidur sampai jam 8 malam. Beranjak bangun, ia berjingkat menghampiri daun pintu kamarnya, ditempelkannya telinganya untuk mendengarkan suara dari luar kamarnya.


Menghela napas kecewa, Widya mendengarkan suara Radit sedang tergelak menonton acara televisi. Menyentuh perutnya yang kembali bergemuruh, Widya tidak punya pilihan selain keluar kamarnya untuk mencari makanan. Sialan, kenapa lelaki brengsek itu belum tidur juga sih. Berusaha tidak mengeluarkan suara yang akan menarik perhatian Radit yang sedang asyik menonton, ia memutar kunci kamarnya sepelan mungkin. Menarik napas lega mendengar suara klik pintu kamarnya bersamaan dengan suara tawa Radit, ia dengan perlahan membuka pintu kamarnya. Sayang sekali, suara deritan sialan pintu kamarnya terdengar sangat jelas.


"Kamu sudah bangun. Aku nggak menyangka kamu akan tidur selama itu, apa kamu sudah mandi?" Sambil menanyakan hal itu, Radit tidak sekali pun menengok ke arahnya.


"Bukan urusanmu."


Menolehkan kepalanya, kening Radit berkerut begitu dalam. "Kenapa bukan urusanku?"


Lalu ia segera pergi ke arah dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakannya.


"Kalau kamu lapar, aku sudah memasakkanmu makanan, ada di dalam tudung," teriak Radit dari ruang keluarga.


"Aku bisa mengurus diriku sendiri, lagi pula aku sedang tidak bernafsu menyentuh makanan buatanmu," sahut Widya, balas berteriak dari arah dapur.


Membuka lemari dapur, Widya mengambil semua jenis cemilan yang berada di dalam sana. Mengumpulkan sebanyak mungkin bungkusan snack dalam pelukannya, ia berbalik badan untuk mengambil minuman dari dalam lemari es. Seketika semua makanan yang telah ia ambil jatuh tergeletak ke lantai saat dia menubruk badan besar di hadapannya.


"Sejak kapan kamu ada di belakangku? Lihatlah hasil perbuatanmu, semua makananku terjatuh ke lantai," gerutu Widya, menunduk untuk mengambil kembali cemilannya.

__ADS_1


Belum sempat mengambil satu pun, tangannya ditarik oleh Radit agar kembali berdiri menghadapnya. Mendelik marah, Widya meronta-ronta saat diseret ke arah meja makan. Menarik kursi dari meja makan, Radit mendorong tubuh Widya untuk duduk di sana.


"Apa yang sedang kamu lakukan? Aku kan sudah bilang, aku nggak ada nafsu untuk makan makanan buatanmu!"


Kedua tangan Radit mendorong bahu Widya kuat supaya kembali duduk di tempatnya.


"Jangan buang-buang makanan cuma karena kamu marah denganku, sadar dong, Wid, kamu itu sudah dewasa, bersikaplah seperti umurmu."


"Maksudmu bersikap sok bijak dan bermuka dua seperti dirimu, begitu?" ejek Widya, tersenyum sinis. "Kalau nggak mau buang makanan, kamu aja sendiri sana yang makan! Jangan memaksakan apa yang kamu inginkan padaku. Cuma karena kamu suamiku, bukan berarti semua yang kamu inginkan harus aku lakukan. Kalau kamu mau istri penurut, cari saja perempuan lain. Para penggemarmu misalnya."


"Jadi, hanya karena masalah ini kamu berniat cerai dariku, begitu?" tanya Radit, menggertakkan giginya.


Menghindari tatapan Radit yang terlihat begitu murka, Widya bergumam, "Bukan begitu juga maksudku." Menepis keras kedua tangan Radit dari bahunya, Widya kembali melemparkan tatapan kesal pada Radit. "Ini semua salahmu! Siapa suruh kamu membela kedua ular berbisa itu daripada aku."


"Baiklah, aku mengaku salah. Aku tahu nggak seharusnya meragukanmu seperti tadi, tapi aku bertanya seperti itu bukan karena nggak mempercayaimu, aku cuma nggak ingin salah menghakimi orang saja."


"Rasanya pertanyaanmu tadi siang nggak bermakna seperti itu," tatap Widya sinis. "Nadamu tadi terdengar... sangat meragukan diriku. Sudahlah aku nggak ingin membahas hal ini lagi, perutku lebih membutuhkan perhatianku saat ini."


Menggeser badan Radit yang menghalanginya, Widya kembali memungut bungkusan snack yang tercecer di lantainya. Lalu berjalan ke kulkas untuk mengambil botol minuman di dalam sana.


"Mereka berdua memang salah sudah menghinamu, tapi tindakanmu bertengkar begitu mengerikannya dengan mereka juga nggak bisa dibenarkan."


"Oh, jadi maksudmu aku harus diam aja gitu, mendengar mereka menghinaku seenak jidat ? Apa aku harus tersenyum dengan memamerkan gigiku juga, begitu maksudmu, wahai Suamiku Nan Bijak?"


Kilatan rasa bersalah terpancar dari mata Radit. "Bukan begitu juga maksudku, aku cuma nggak ingin kamu menarik perhatian yang nggak diinginkan. Aku cuma memintamu bersikap agak sabar menghadapi omongan orang-orang tentang dirimu."

__ADS_1


"Sayangnya, omonganmu tadi terdengar seperti itu. Dan, sudah kukatakan berulang kali, aku nggak memiliki kesabaran seperti dirimu. Selamat malam."


Berjalan kaku dengan dagu terangkat tinggi, Widya sekali lagi melemparkan tatapan sinis pada Radit sebelum masuk ke dalam kamarnya. Terduduk lesu di kursi meja makan, Radit menangkupkan wajahnya di atas meja makan. Dasar tol*l, kenapa dari semua kalimat, kamu harus mengucapkan kalimat bodoh itu? Ah, sial, aku ini kenapa sih. Bukannya mengucapkan permintaan maaf malah menambah luka lagi. Untuk yang kesekian kalinya, Radit membenturkan kepalanya di meja makan.


__ADS_2