
Di dalam kamar, Widya mondar-mandir sambil mengigiti kukunya. Ia bingung harus bagaimana menghadapi Radit, yang sekarang ini ada di balik pintu kamarnya. Dari dalam kamar ia bisa mendengar suara putus asa suaminya memohon agar ia segera keluar.
Dari ketukan pintu itu ia juga bisa merasakan kalau sekarang ini Radit pasti sedang murka oleh sikap keras kepalanya, yang tetap tak mau membukakan pintu sebanyak apa pun suaminya itu memohon.
Hening sejenak, kemudian suara ketukan pintu kamarnya terdengar makin tegas seiring waktu.
"Widya, keluar! Kita perlu bicara. Jangan bersembunyi terus di dalam sana." Gedoran pintu kamarnya kini makin nyaring. Semakin lama ia abaikan mungkin pintu kamar neneknya ini akan rusak oleh kekuatan gedoran suaminya itu.
"Hentikan! Kamu bisa merusak pintu kamar ini," seru Widya memperingatkan.
"Jika itu bisa membuatku melihatmu, maka aku tak akan segan-segan melakukannya," gertak Radit dari balik pintu.
"Kalau orang lain mendengar perkataanmu itu pasti mereka akan mengira kamu sangat merindukanku."
Selama beberapa saat tak ada jawaban. Namun tak berapa lama kemudian, Radit merendahkan suaranya. "Ya, aku sangat merindukanmu. Jadi, keluarlah dari sana sekarang, Sayang."
Mendengus mendengar ucapan itu, Widya menggelengkan kepala tak percaya. Yang benar saja, suaminya kini mengganti taktik dengan merayunya. "Aku bukan orang bodoh yang bisa dengan mudah terperdaya oleh mulut manismu itu, Suamiku. Sebaiknya kamu pulang saja, aku saat ini tak ingin melihat wajah tiranimu itu."
"Apa, Tirani?"
"Ya, Tirani. Kamu pantas mendapatkan julukan itu atas sikapmu memperbudakku."
"Jangan konyol. Aku nggak pernah ada niat memperbudakmu, kamu saja yang terlalu gampang emosi hanya karena keinginanmu tak terpenuhi," omel Radit, memukul pintu untuk menyatakan rasa kesalnya pada Widya.
Terlonjak oleh suara pukulan itu, Widya mengelus dadanya terkejut. "Bisakah kamu nggak bersikap kasar? Sifat barbarmu itu bisa membuatku terkena serangan jantung suatu hari nanti."
"Belum cukup kamu menyebutku Tirani, sekarang kamu menyebutku Barbar," geram suaminya dari balik pintu. "Aku jadi bertanya-tanya, sebenarnya ada berapa banyak julukan yang kamu buat untukku di kepala penuh idemu itu?"
__ADS_1
"Sangat banyak. Apa kamu ingin mendengarnya satu per satu, Suamiku?"
"Nggak perlu, aku sudah lelah menghadapi mulut pedasmu itu. Apa yang kamu inginkan agar mau pulang bersamaku?"
"Jangan bodoh, Suamiku. Kamu tahu apa yang kuinginkan," kata Widya mencela. "Ke mana perginya kepintaranmu yang biasanya kamu miliki?"
"Berhenti menghinaku! Atau aku akan melakukan hal yang akan kamu sesali nantinya," bentak suaminya, memukul pintu begitu keras hingga membuat pintunya bergetar.
"Baiklah. Maafkan aku, kutarik ucapanku tadi." Tanpa disadarinya, Widya melangkah mundur oleh pukulan keras itu.
Hening lagi. Berjalan pelan mendekati pintu kamarnya, Widya menempelkan telinganya di pintu untuk memastikan apakah Radit masih berada di sana.
Terdengar helaan napas panjang suaminya. "Baiklah. Kali ini kamu menang, aku akan membelikanmu mesin cuci."
Terlalu senang oleh pemberitahuan menggembirakan itu, Widya segera membuka pintu kamarnya.
Akibat kejadian yang begitu mendadak itu kaki kanan Widya jadi terkilir. Menjerit kesakitan, dipegangnya kaki kanannya.
Panik mendengar suara jeritannya, Radit langsung berlutut di sampingnya, menanyakan apa yang terjadi padanya.
Untunglah, tangannya yang menahan punggung Radit tadi tidak ikut tertindih oleh juga. Karena suaminya itu menahan berat badannya dengan sikunya ketika jatuh. Dan beruntunglah dirinya, sebab suaminya tidak akan tahu kalau tadi ia sehabis menangis. Pastilah suaminya itu mengira rasa sakit kakinya membuat matanya menjadi merah.
"Mana yang sakit?" tanya Radit, meraba kakinya mencari letak rasa sakitnya.
Saat sentuhannya mengenai area yang nyeri, Widya kembali berteriak sembari memukul tangannya. "Sakit! Kamu ingin membunuhku, ya!? Jangan sentuh, dasar kamu Barbar!" pukulnya pada lengan suaminya. Air matanya menetes di kedua pipinya merasakan rasa nyeri di kakinya yang terkilir.
Suara derap langkah kaki banyak orang di luar memberitahukan pada Widya kalau suara jeritannya pastilah terdengar hingga keluar. Ia bisa mendengar suara bantingan yang berasal dari pintu luar, dan tak berapa lama di ambang pintu kamar, berdiri neneknya bersama para warga yang saling mendorong satu sama lain untuk melihat hal apa yang telah memicu jeritannya.
__ADS_1
Tidak peduli pada orang-orang yang sedang menonton mereka, Radit mengangkatnya dari lantai dengan perlahan agar tidak menyakiti kakinya yang terkilir.
Terlalu malu dengan kondisinya saat ini--dalam gendongan suaminya--Widya menyembunyikan wajahnya di depan dada Radit.
"Permisi, istriku saat ini perlu diurut." Dengan gagahnya Radit menyeruak keluar dari kerumunan para penonton, wajah seriusnya membuat semua orang bergeser memberikan jalan baginya keluar rumah.
Di belakang mereka, neneknya berjalan mengikuti dengan raut wajah penuh kekhawatiran. Tersenyum dari balik bahu suaminya, Widya berusaha menenangkan neneknya, yang tiba-tiba terlihat begitu renta di matanya.
Tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan Mila, yang sedang memegang pergelangan tangan neneknya. Mata temannya itu juga dipenuhi kekhawatiran serta rasa sedih bercampur rasa bersalah. Mungkin melihatnya dalam pelukan Radit mengoyak luka hatinya lagi.
Sungguh melelahkan harus berada di antara mereka berdua, tapi ia tak ada waktu memikirkan perasaan sakit hati temannya itu. Saat ini Widya merasa nyaman berada dalam dekapan Radit. Mungkin ini pengaruh rasa kantuknya sehingga ia ingin tidur saat ini juga dalam perlindungan suaminya ini. Melirik suaminya yang sedang menatap lurus ke depan, garis kekhawatiran terlihat di wajah suaminya.
Pemikiran tentang Radit akan selalu ada untuknya ketika ia terluka membuatnya tersenyum bahagia. Ternyata punya suami tidaklah seburuk dugaannya.
°°
Perasaan bodohnya yang tidak pada tempatnya ini membuat Mila ingin memukul dirinya sendiri. Ini bukanlah saatnya ia merasa cemburu melihat Widya berada dalam pelukan lelaki yang saat ini masih dicintainya. Tetapi, tanpa diinginkannya perasaannya yang masih belum pulih dari rasa sakit hatinya ini terbakar api cemburu melihat Radit membopong Widya begitu mesra.
Sungguh bodoh, ia tidak memiliki hak untuk merasa marah seperti ini. Apalagi kedua temannya itu berpelukan mesra seperti itu karena Widya sedang terluka. Mengepalkan kedua tangannya untuk menguatkan dirinya, dirasakannya kuku jemarinya menusuk telapak tangannya. Ia tidak boleh membiarkan perasaan sakit hatinya terus menggerogotinya, sudah saatnya menghadapi kenyataan melepaskan cinta pertamanya.
Sebenarnya hari ini Mila ingin pergi ke kebun ayahnya, tapi dalam perjalanannya ia mendengar suara jeritan seseorang. Penasaran apa yang menimbulkan suara jeritan itu, ia ikut berbondong-bondong bersama yang lain menuju ke arah sumber suara itu.
Seketika ia langsung menyesali keputusannya saat melihat Radit keluar dari rumah Nenek Aya sambil membopong Widya.
Saat itulah Nenek Aya menghampirinya untuk membantunya berjalan mengikuti cucunya yang akan diantar ke tukang urut. Mengembalikan pikirannya pada saat ini, Mila tersenyum menenangkan pada Nenek Aya, ia menepuk punggung tangannya lembut.
"Jangan khawatir, Nek. Widya akan baik-baik saja."
__ADS_1
"Terima kasih, Mil. Nenek sekarang sudah agak tenang karena ada kamu," balasnya, menepuk punggung tangan Mila.