
Seharusnya sekarang ini Widya dan Radit sudah berada di kota. Sayangnya, yang terjadi sekarang adalah Widya termenung murung di rumahnya menanti kepulangan Radit. Beberapa jam yang lalu para warga membawa suaminya itu ke suatu tempat yang jaraknya lumayan jauh dari sini, begitulah yang dikatakan Radit padanya.
Memberengut kesal, Widya memandang keluar rumahnya dengan perasaan tidak sabar. Sebenarnya ada berapa banyak pohon yang tumbang akibat badai hujan tadi malam, renung Widya muram. Melirik mobil yang diparkir di halaman rumahnya dengan penuh minat, terpikir olehnya untuk menjemput Radit menggunakan mobil itu. Namun, percuma saja, ia tidak memiliki kunci mobilnya. Suaminya yang penuh perhitungan itu membawa kunci itu bersamanya.
Mungkin dia sudah mengira kalau akan terpikirkan oleh Widya menggunakan mobil itu untuk menyusulnya. Menghela napas panjang, Widya terduduk lesu di tempat duduknya.
"Sudah kesepuluh kalinya Kak Widya menghela napas panjang seperti itu," ujar Ririn yang duduk tidak jauh darinya. "Sabarlah, mungkin sebentar lagi Bang Radit akan pulang."
"Dan sudah kesepuluh kalinya juga kamu mengatakan hal itu padaku," balas Widya.
Ririn menyengir pada Widya. "Apa Kak Widya takut Bang Radit akan membatalkan janjinya lagi?"
"Iya, aku memang takut dia akan melakukan hal itu."
"Hmm ... Aku rasa Bang Radit akan menepati janjinya kali ini," angguk Ririn penuh keyakinan.
"Begitukah?" ucap Widya, merasa sedikit tenang melihat keyakinan Ririn. "Aku harap kamu benar."
Meskipun merasa agak ditenangkan oleh Ririn, tetap saja Widya belum bisa merasa tenang sepenuhnya sampai Radit menampakkan dirinya. Ada kalanya ia merasa kalau merasa senang terlalu berlebihan dan yakin hal yang diinginkannya akan terwujud, pasti dalam sekejap mata perasaan senang itu akan sirna saat penantiannya ternyata sia-sia belaka. Ini semua diakibatkan karena Radit selalu saja mengecewakannya saat ia terombang-ambing oleh perasaan bahagia.
Dengan setengah hati Widya mendengarkan cerita Ririn, ia hanya bergumam dan tersenyum pada adik iparnya itu. Ia tidak peduli kalau respons pasifnya itu akan menyinggung Ririn. Sekarang ini isi kepalanya hanya dipenuhi dengan berbagai macam kemungkinan yang akan mengakibatkan Radit membatalkan perjalanan mereka lagi.
Sudah mencapai titik batas kesabarannya, Widya mengambil ponselnya yang tergeletak di sampingnya untuk menghubungi Radit. Tidak menyadari perhatian Widya berada di tempat lain, Ririn masih saja mengoceh tak ada habisnya di hadapannya. Mengabaikan celotehan Ririn, ia langsung menekan tombol untuk menghubungi Radit.
Gelisah menunggu Radit mengangkat teleponnya, tiba-tiba saja Widya mendengar nada dering ponsel berbunyi tidak jauh darinya. Menolehkan kepalanya, ia sangat kaget kalau sumber suara itu berada tepat di samping tempat duduknya. Di ambang pintu rumahnya berdirilah sesosok pria yang ia sangat nantikan kepulangannya. Penampilannya yang lusuh dan dipenuhi peluh keringat, tidak tahu mengapa, terlihat sangat tampan di mata Widya.
__ADS_1
Mungkin ini diakibatkan Widya sudah sangat menantikan kepulangannya sejak tadi, makanya tanpa pikir panjang ia langsung meloncat kegirangan dari tempat duduknya dan memeluk erat Radit. Tidak menduga akan mendapatkan pelukan hangat itu, Radit hampir saja terjungkal ke belakang saat menyambut Widya dalam pelukannya.
"Aku pikir kamu akan membatalkan janjimu lagi, hampir saja aku pergi menyusulmu kalau kamu nggak mengangkat teleponku," ujar Widya, memundurkan tubuhnya untuk menatap Radit dengan raut kesal. "Kamu nggak tahu betapa senangnya aku melihatmu pulang. Nah, sekarang ayo bersiap-siap sebelum hari menjadi gelap."
"Kalau aku tahu kamu akan menyambutku sehangat ini, mungkin dari dulu aku akan selalu melakukannya," ucap Radit, menyeringai kegirangan pada Widya.
Mencoba melepaskan pelukannya, Widya dibuat kaget saat Radit menyentaknya agar semakin dekat padanya.
"Ini bukan saatnya menggodaku, kamu harus cepat-cepat membersihkan dirimu supaya kita bisa cepat berangkat," omel Widya, mengeryitkan alisnya.
"Biarkan aku menikmati sambutan hangatmu ini lebih lama lagi. Kapan lagi kamu akan memelukku seperti ini?" Radit mengangkat bahunya seraya memeluk Widya semakin erat.
Di belakang mereka, Ririn berdeham untuk mengingatkan keduanya kalau dia berada di sana.
"Kalau saja kalian lupa, aku masih ada di sini. Ya ampun, Bang Radit kamu bau sekali! Mandi sana gih," suruh Ririn, menjepit hidungnya dengan kedua jarinya.
"Yang dikatakan Ririn benar, kamu memang bau," setuju Widya, mendorong tubuhnya menjauh dari Radit.
Senang dengan tindakan Widya menyetujui ucapannya, Ririn menjulurkan lidahnya pada Radit.
"Tapi bukankah sebelumnya kamu sendiri melemparkan tubuh mungilmu ini padaku tanpa mempermasalahkan bau tubuhku?" Radit menaikkan alisnya sambil tersenyum mengejek.
"Itu karena tadi aku terlalu senang saja, jadi tanpa kusadari aku sudah berada dalam pelukanmu," bantah Widya. "Sudahlah, jangan mengulur waktu lebih banyak lagi. Waktu kita nggak banyak."
"Baiklah, baiklah, aku mengerti." Radit mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Tapi, setelah mandi aku nggak bisa langsung berangkat begitu saja. Aku perlu memulihkan tenagaku."
__ADS_1
"Sebenarnya ada berapa banyak pohon yang kamu angkut sampai tenagamu terkuras habis begini?"
"Jumlahnya memang nggak banyak, tapi bukan itu saja yang membuatku lelah. Ada beberapa hal yang terjadi di peternakanku juga. Makanya aku membutuhkan waktu lebih lama dari yang seharusnya," ucap Radit, menjawab pertanyaan Widya sambil melangkah pergi ke arah kamar mandi.
Sebelum menghilang ke dalam kamar mandi, Radit berseru lantang dari arah dapur.
"Dan kamu bocah tengik, sebaiknya kamu sudah pulang sebelum aku selesai mandi! Keberadaanmu di sini hanya menganggu saja."
Setelah mengucapkan itu, Radit segera masuk ke dalam kamar mandi sembari bersiul riang.
"Siapa peduli? Toh aku ke sini bukan untuk menemui Bang Radit, dasar nyebelin!" teriak Ririn, menendangkan kakinya ke udara.
Menahan tawanya melihat tingkah kedua kakak beradik yang seperti tikus dan kucing itu, Widya menghampiri Ririn untuk menenangkannya. Yang tidak ada gunanya, karena Ririn sudah terlanjur merasa tersinggung dengan nada mengusir yang dilontarkan Radit tadi padanya.
"Jangan tersinggung begitu. Kamu tahu sendiri kalau Radit nggak serius dengan ucapannya," ujar Widya lembut.
"Ha! Omong kosong. Abangku itu selalu punya cara membuatku naik darah dengan ucapan kejamnya." Ririn mengipasi dirinya, merasa terlalu panas karena dibakar oleh rasa amarah. "Sudahlah, aku pulang saja. Aku nggak jadi mengantarkan kepergian Kak Widya. Tapi, ingat ya! Kak Widya jangan lupa sama oleh-oleh yang kusebutkan tadi."
"Iya, aku pasti akan mengingatnya. Kamu nggak perlu khawatir," senyum Widya.
Beranjak berdiri juga dari tempat duduknya, Widya berniat mengantarkan Ririn sampai ke teras rumah.
"Oy, Bocah! Jangan cengeng karena diusir gitu doang," seru Radit lantang, sengaja menyampaikan hal itu sebelum kembali menutup pintu kamar mandinya dan tertawa keras di dalam sana.
Sepertinya suaminya itu memang memiliki kebiasaan menyebalkan membuat orang terdekatnya kesal dengan menggoda mereka tiada habisnya.
__ADS_1
Mendelik marah ke arah kamar mandi, Ririn melangkahkan kakinya menujh kamar mandi untuk meluapkan rasa kesalnya pada Radit. Sebelum dia melangkah lebih jauh, Widya menarik tangannya untuk menghentikannya membuat keributan yang lebih besar lagi. Dibutuhkan usaha yang keras untuk menenangkan Ririn dan menyuruhnya agar segera pulang ke rumah.
Melambaikan tangannya pada Ririn yang pergi dengan suasana hati yang begitu buruk, Widya berusaha mati-matian agar tidak tertawa terbahak-bahak melihat wajah masam adik iparnya yang terlihat begitu menggemaskan baginya. Salah sedikit saja, adik iparnya itu nanti akan marah juga padanya, kalau tahu ia menikmati pertengkarannya dengan Radit tadi.