
Memalingkan wajahnya, Radit menyembunyikan senyuman di wajahnya dari tatapan penuh selidik Widya. Reaksi ketakutan istrinya itu setiap ia melakukan pendekatan intim selalu ingin membuatnya tertawa geli sekaligus ada rasa sakit hati juga. Perasaan sakit hati itu ditimbulkan karena ia merasa Widya terlalu bersikap waspada kepada dirinya, padahal ia bukanlah orang asing, melainkan suaminya sendiri.
Sepertinya istrinya itu masih belum terbiasa disentuh olehnya, mungkin itulah yang menyebabkannya selalu malu setiap Radit mengutarakan keinginannya ingin lebih dekat dengannya. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa ia memang begitu ingin memiliki anak bersama Widya. Namun, ia juga tidak ingin memaksakan kehendaknya jika Widya belum siap untuk tidur bersamanya.
Karena itulah perlahan-lahan ia mulai melakukan pendekatan supaya istrinya yang selalu tersipu malu setiap disentuh olehnya itu akan terbiasa dengan sentuhannya. Lagipula, ia juga sangat menikmati reaksi Widya, yang selalu kehabisan kata-kata ketika ia melakukan pendekatan yang begitu intim padanya.
"Kamu nggak berpikir selamanya kita akan hidup berdampingan seperti ini tanpa mengharapkan seorang anak, 'kan?" tanya Radit, berusaha tidak tertawa melihat Widya tersentak di tempat duduknya.
Menurunkan tangannya ke pangkuan, Widya menengok ke kiri dan kanan, seolah-olah mencari solusi untuk lari dari percakapan itu. Melirik piringnya dan milik Radit, dia beranjak berdiri dengan cepat dari tempat duduknya dan pura-pura sibuk membereskan meja.
"Sebaiknya kamu cepat berangkat kerja sana! Biar aku saja yang mencuci semua piring kotor ini."
Alis Radit melonjak naik mendengarkan nada mengusir dari suara Widya.
"Jadi, kamu mengusirku nih?"
"Jangan konyol!" seru Widya, suaranya terdengar agak bergetar. "Bukannya kamu sendiri tadi yang bilang kalau banyak pekerjaan yang sedang menunggumu di peternakan."
"Hmmm ...." Tatapannya tak sekali pun beralih dari Widya. "Baiklah, aku pergi."
Suara helaan napas Widya terdengar begitu jelas olehnya.
"Kali ini kamu kubiarkan lolos, tapi lain kali kita akan melanjutkan pembicaraan ini lagi," lanjut Radit.
__ADS_1
Terdengar suara tarikan napas tajam dari Widya. Mengibaskan tangannya, dia menyuruh Radit untuk pergi secepatnya dari sana.
Tidak ingin pergi begitu saja, Radit dengan sengaja memeluk Widya dari belakang. Seketika piring yang dicuci oleh Widya terlepas dari tangannya. Menolehkan kepala Widya menghadapnya, Radit mencium sudut bibirnya.
Melepaskan pelukannya, Radit pura-pura tidak memperhatikan ekspresi syok di wajah Widya.
"Hati-hati, Istriku. Untung saja piringnya nggak pecah. Kalau begitu, sampai bertemu lagi," kedip Radit nakal pada Widya.
Setelah memastikan Radit sudah keluar dari rumah, Widya terduduk lemas di lantai dekat tempat cuci piring. Semakin lama menghadapi serangan intim dari Radit akan membuat dirinya menjadi gila. Suaminya itu selalu saja membuatnya tak berkutik setiap kali dia melancarkan sentuhan dan ciuman mesra kepadanya.
Bukannya ia tak menyukainya, hanya saja setiap kali Radit melakukan pendekatan kepadanya, rasanya jantungnya akan meledak saat itu juga. Berbeda jauh dengan suaminya itu, yang begitu terbiasa melakukan keintiman seperti itu. Memikirkan itu saja sudah membuat darah Widya mendidih. Terlihat sekali kalau suaminya itu memiliki pengalaman lebih banyak daripada dirinya. Ia dulu setiap kali berkencan dengan seseorang, tidak pernah mengijinkan mereka menyentuhnya terlalu intim. Ia selalu memberi batasan, dan jika mereka melewati batas, maka ia akan mengakhiri hubungan itu saat itu juga.
Berberapa mantannya dulu berpikir kalau Widya sangat kaku, tetapi ia tak pernah peduli apa yang mereka pikirkan tentang dirinya. Sejak kecil ia berpikir kalau hanya suaminya kelak saja yang boleh menyentuhnya seintim mungkin. Namun, setelah sekarang ia memiliki seorang suami, rasanya ia akan pingsan di tempat kalau suaminya menyentuhnya. Rasa malunya serta perasaan canggung disentuh seintim itu oleh seseorang yang dulunya dibencinya sangatlah aneh.
Hentikan pikiran kotormu, Widya! Ini sangat memalukan.
Beranjak berdiri, ia segera melanjutkan pekerjaannya mencuci piring. Berharap semoga saja air dingin yang mengguyur tangannya juga akan mendinginkan wajahnya yang masih terasa panas.
∞ ∞
Tepat seperti dugaannya, Gilang hari ini memang menghindarinya, pikir Radit muram. Sehabis makan siang di rumahnya tadi, ia pergi ke peternakan temannga itu dan diberitahu kalau Gilang hari ini tidak masuk kerja. Sepertinya temannya itu sedang bersembunyi di suatu tempat, demi lari dari pertanyaan yang akan ditanyakan Radit kepadanya hari ini.
Selama apa pun dia bersembunyi, Radit sudah bertekad akan menginterogasi temannya itu. Memikirkan foto Widya yang masih ada di ponselnya langsung membuat seluruh tubuhnya terbakar oleh rasa amarah.
__ADS_1
"Kali ini apa lagi yang membuatmu kesal, Kawan? Lama-lama tanah itu akan berlubang kalau kamu gali terus," decak Deni, menggeleng sedih pada tanah yang digali oleh Radit.
Menghentikan aktivitasnya, Radit menatap terkejut pada tanah di dekat kakinya.
"Aku ... ah sial!" Radit mengumpat kasar. "Kalau bukan karena Si Kampret itu, aku nggak mungkin seperti ini."
"Kalau aku boleh tahu, siapakah 'Si Kampret' yang sudah membuatmu murka seperti ini?"
Melotot marah, Radit menatap geram pada sesuatu yang ada di belakang Deni.
"Kamu nggak perlu tahu, ini urusanku dengan kampret itu," ujar Radit, mengertakkan giginya.
Menengokkan kepalanya pada sesuatu yang dilihat Radit di belakangnya, Deni mencari seseorang yang dimaksudkan oleh temannya itu. Anehnya, tak ada apa pun di belakangnya, selain hamparan rumput hijau nan luas di sana. Mengembalikan tatapannya pada temannya, Deni menatap Radit kebingungan.
"Sebenarnya apa yang sudah dilakukan 'kampret' ini sampai membuatmu kesal begini?"
Radit membuka kemudian menutup mulutnya kembali. Sejenak ia berpikir, apakah ia harus menceritakan hal ini pada Deni atau tidak. Namun, setelah berpikir selama beberapa saat ia memutuskan untuk menyimpan masalah itu untuk diselesaikan oleh dirinya sendiri.
"Ayolah, Dit, jangan bersikap penuh rahasia begini! Mungkin saja 'kan aku bisa membantumu. Lagipula kita ini sudah berteman lama, nggak perlu sok rahasia-rahasiaan segala," desak Deni.
"Daripada kamu merengek, lebih baik kamu melanjutkan pekerjaanmu sana! Pekerja baru kita masih perlu diajarkan lagi," usir Radit, mengibaskan tangannya.
Mengabaikan protes Deni yang begitu penasaran, Radit kembali melanjutkan pekerjaannya. Nanti, kalau hal ini tidak bisa diselesaikan oleh dirinya sendiri, ia akan meminta solusi pada temannya itu. Akan tetapi, untuk sekarang ia akan menghadapi masalah ini seorang diri dulu. Walau bagaimanapun Gilang tetaplah temannya, ia tidak ingin mempermalukan teman masa kecilnya itu dengan mengungkapkan rahasianya yang telah diam-diam menyimpan perasaan suka kepada istrinya.
__ADS_1