
Radit berusaha menyelipkan tubuhnya di antara orang-orang yang berkerumun di hadapannya. Diuntungkan dengan postur tubuhnya yang besar dan tinggi, dari kejauhan Radit akhirnya bisa melihat Widya yang sekarang ini berdiri membelakanginya.
Tak jauh dari sana Ayu--istri Deni--terlihat sangat begitu panik. Dia memandang Widya dengan ketakutan sembari berusaha pelan-pelan mendekatinya. Baru saja Ayu membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, Widya memalingkan wajahnya menatap Ayu dengan raut tak senang.
Kilatan matanya seolah berkata "Melangkah sejengkal saja, kamu akan mati di tanganku". Begitulah yang Radit lihat dari tatapan istrinya. Tak heran Ayu melangkah mundur, menyerah mencoba menghentikannya.
Lebih parahnya lagi, Radit baru memperhatikan jika pedagang yang ada di hadapan Widya, ternyata seluruh badannya basah kuyup, seakan-akan ada seseorang yang telah menyiraminya.
Tidak perlu mencari tahu siapa pelakunya, sebab ia melihat tangan Widya berada di dalam wadah ikan, bersiap mencipratkan air itu kepada siapa pun yang berani menyinggungnya. Bahkan ia menduga, suara jeritan yang didengarnya tadi berasal dari para wanita yang berkerumun di dekat penjual ikan itu.
Kelihatan sekali kalau semua orang yang ada di sana telah menyudutkan Widya sehingga memancing amarah dalam diri istrinya. Makanya, para wanita itu kondisinya tak jauh berbeda dari penjual ikan yang disiram itu.
Jika ia pikirkan baik-baik, padahal Widya kalah jumlah dalam pertengkaran itu, tapi anehnya semua wanita tidak ada satu pun yang berani melawannya. Seluruh tubuhnya masih bersih--seperti saat Radit meninggalkannya tadi--kecuali, tentu saja, kedua tangannya dalam keadaan berbeda.
"Ulangi lagi omongan kalian tadi, maka semua air yang ada di sini akan aku lemparkan semua pada kalian!" seru Widya, memposisikan tangannya, bersiap mengangkat wadah ikan itu kapan saja.
"Dasar kamu perempuan liar!" hardik salah satu wanita di sana.
"Nggak berpendidikan!" timbrung yang lainnya.
"Nggak punya sopan santun!" timpal penjual ikan itu. "Sudah salah, sok bertindak jadi korban pula. Siram aja lagi kalau berani!"
"Tahu apa kamu!"
Bukan hanya sekadar omongan belaka, Widya mencipratkan air kepada semua wanita itu sekali lagi. Lalu dimulalah lagi suara jerit-menjerit itu.
"Ya ampun. Ini mengerikan," ujar Deni, berjingkat di sampingnya, terperangah melihat kejadian yang ada di depannya. "Kamu harus melakukan sesuatu, Dit."
"Itulah yang sedang kulakukan sekarang," sahutnya, mendesakkan dirinya, mencoba mencapai ke tempat Widya berada. "Kalian semua menyingkirlah dari hadapanku!"
Raugan murkanya itu berhasil menarik perhatian semua orang, yang sedang asyik menonton pertunjukkan itu. Perlahan mereka mulai menyingkir untuk memberikan jalan padanya sambil berbisik-bisik.
Hanya satu orang yang tidak terpengaruh oleh kedatangannya, yaitu Widya. Dia memang telah berhenti menyirami para wanita menyebalkan itu, tetapi dia menolak membalikkan badan menatapnya. Sikap tubuhnya yang kaku itu menunjukkan jika istri pemarahnya ini tidak merasa bersalah sedikit pun telah kepergok melakukan sesuatu yang buruk.
"Untunglah kamu datang tepat pada waktunya, Dit," lega Ayu, berlari menghampirinya.
Mengabaikannya, Radit terus melanjutkan langkahnya mendekati Widya. Sedetik pun matanya tak pernah beralih memandangi punggung kaku istrinya.
"Ikut aku sekarang juga!"
__ADS_1
Radit menyambar pergelangan tangan Widya seraya menyeretnya berjalan mengikutinya. Di belakangnya, beberapa wanita yang merasa dirugikan akibat ulah Widya, berteriak meminta pertanggungjawabannya.
"Kamu menyakitiku!" seru Widya, memukul-mukul punggung tangannya. "Lepaskan aku! Aku belum selesai memberikan pelajaran lada para wanita bermulut busuk itu."
Tak menghiraukan protes keras istrinya, Radit berjalan mendekati temannya, Deni, yang sekarang ini telah berdiri bersama Ayu yang bergelayut di lengannya.
"Den, tolong bantu aku menyelesaikan kerusakan yang telah disebabkan istriku. Maaf jika telah merepotkanmu dan istrimu," sesal Radit, memberikan tatapan meminta maaf pada Ayu yang masih terlihat syok.
"Aku baik-baik saja," ujar Ayu, memaksakan senyuman di bibirnya.
"Kamu pergilah. Aku akan menangani kekacauan di sini," suruh Deni.
"Terima kasih. Nanti kita bicarakan hal ini lagi di peternakanku."
**
Melempar Widya ke sofa, Radit berjalan mondar-mandir di hadapan istrinya. Ia mencoba menenangkan emosinya yang menggelegak sebelum menceramahi istrinya panjang lebar.
"Kasar sekali kamu! Setelah aku dipermalukan di sana alih-alih menenangkanku, kamu malah melemparkanku seperti seonggok barang tak penting."
Ketika Widya beranjak berdiri dari sofa, Radit langsung menghentikannya dengan mendorong bahunya agar kembali duduk lagi. Tak mau kalah, Widya sekuat tenaga melawannya.
"Jadi, selain ingin mengasariku, kamu juga berniat membunuh istrimu, begitu?"
"Aku nggak pernah berniat membunuhmu. Aku cuma sekadar mengatakannya saja."
"Sama saja."
"Widya, dengarkan aku dulu."
Bertolak belakang dengan cengkraman kuatnya di kedua pundak Widya, ia menatap istrinya penuh kelembutan.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang."
"Kamu nggak tahu apa-apa. Kalau kamu mengetahuinya, kamu nggak mungkin memperlakukanku begini."
"Aku juga nggak ingin sekasar ini kepadamu, tapi perbuatanmu barusan benar-benar membuatku marah."
"Aku melakukan apa yang harus kulakukan. Kamu nggak bisa mengharapkanku bersikap tenang ketika ada yang berusaha memfitnah dan menjelekkanku."
__ADS_1
"Meskipun mereka salah, tetap saja itu nggak membetulkan perbuatanmu," lanjut Radit, mengabaikan tatapan menusuk dari istrinya. "Apa yang telah kamu lakukan tadi hanya akan memperburuk situasi sekarang. Tindakanmu tadi malah menjadikanmu persis seperti yang digosipkan semua orang tentangmu. Kamu nggak seharusnya menyikapi fitnahan para wanita itu dengan menyirami mereka seperti tadi."
"Lalu aku harus bersikap bagaimana? Tersenyum berterima kasih kepada mereka? Mengatakan 'Ya ampun, betapa tersanjungnya aku atas omongan bijak kalian', begitu?" ucap Widya sarat sarkasme. "Masih untung air yang aku lemparkan pada mereka, bukannya ikan yang ada dalam wadah air itu."
"Widya! Aku ini sedang serius."
"Aku juga serius!" balas Widya sama ketusnya. "Memangnya kamu pikir aku bercanda, hah?"
Memijat pelipisnya sejenak, Radit kemudian duduk di sebelah Widya seraya menghadapkan Widya menatapnya.
"Kumohon, Widya. Ingat, kamu ini sudah menikah. Berapa kali aku menekankan hal ini padamu?"
"Apa hubungannya pernikahan kita dengan masalah ini?" Widya mengerutkan keningnya.
"Keduanya berhubungan. Karena kamu sudah menikah, kamu harusnya bisa bersikap lebih bijaksana saat menyikapi suatu masalah. Jangan biarkan emosi sesaat mengambil alih dirimu. Itu hanya membuatmu terlihat seperti bocah alih-alih seorang wanita yang sudah berkeluarga."
"Yang perlu mendengarkan di sini sepertinya adalah kamu, Dit." Widya berdecak sambil menggelengkan kepalanya. "Jika kamu memaksakan kedewasaan kepada seseorang, hanya karena dia telah menikah, maka kamu membuang-buang waktumu. Kedewasaan nggak mungkin muncul begitu saja hanya karena sebuah pernikahan."
Widya menutup mulut Radit yang bersiap menyanggah ucapannya.
"Seseorang akan bersikap dewasa ketika dia menginginkannya, bukan karena orang lain menginginkannya. Kamu nggak bisa memaksakan kehendakmu. Semua orang akan dewasa pada waktunya, bukan pada waktumu."
Menurunkan tangan Widya yang menutupi mulutnya, selama sesaat Radit hanya menatap istrinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Setelahnya ia langsung merengkuh Widya ke dalam pelukannya.
"Baiklah, aku mengerti. Hanya saja jangan lagi mengulangi tindakan barbarmu tadi. Ingat aku ini anak Pak Kades di desa ini. Sepertinya kamu selalu saja melupakan hal itu."
Radit tersenyum kecil mendengarkan erangan Widya, yang sepertinya memang lupa kalau dia adalah menantu seorang Kepala Desa.
"Sepertinya aku benar-benar harus mengontrol sikap implusifku ini." Melepaskan pelukannya, Widya menatapnya menyesal. "Sekarang aku mulai menyesalinya. Aku lupa kalau tindakan implusifku ini juga akan mempengaruhi kehidupan tenang orang lain."
"Kamu tenang saja. Aku akan menyelesaikan masalah ini untukmu," janjinya, tidak kuasa melihat kesedihan istrinya. "Apa pun yang terjadi aku pasti akan menemukan dalang penyebar gosip palsu ini. Masalah Ayahku, kamu nggak perlu mengkhawatirkannya. Aku nanti akan berbicara padanya."
"Semoga saja Ayahmu nggak membenciku."
"Jangan berpikiran buruk begitu. Sekarang ini bersihkan dulu dirimu, setelah itu pergilah beristirahat."
Setelah Widya membersihkan dirinya, Radit mengantarkan Widya ke dalam kamar tidur mereka, kemudian meminta istrinya berbaring tidur sebelum pergi meninggalkannya seorang diri. Ada banyak hal yang harus diselesaikannya hari ini. Namun, yang paling utama akan dilakukannya sekarang adalah menemui Gilang.
Membiarkan masalahnya berlarut-larut begini hanya akan memperburuk situasi di antara mereka. Sudah saatnya mereka membicarakan masalah yang sudah lama tertunda ini sebelum keadaan semakin memburuk.
__ADS_1