Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Menjaga Jarak


__ADS_3

Meskipun Radit merasa agak terganggu dengan gangguan itu, ia tetap enggan melepaskan cengkramannya di kerah baju Gilang. Namun, jika ia tetap melakukannya, itu hanya akan menarik perhatian lebih lagi dari Mila. Sekarang saja mata Mila masih melebar kaget menatapnya seraya menganga lebar. Nampak sekali jika dia sangat syok dengan apa yang dilihatnya.


Menurunkan tangannya, yang tadi siap melayangkan tinju ke wajah Gilang, Radit dengan enggan melepaskan cengkramannya dari kerah baju Gilang. Akan tetapi, tatapan tajamnya tidak pernah meninggalkan temannya itu. Ia tidak bisa mempercayai dirinya sendiri mengucapkan apa pun pada Mila untuk menenangkannya, sebab ia masih terlalu marah pada Gilang. Takutnya, nada suaranya yang kasar akan menakuti Mila, bukannya malah menenangkannya.


Merapikan bajunya yang kusut, Gilang mengangkat sebelah tangannya ke arah Mila.


"Bukan apa-apa, Mil, cuma perkelahian biasa antara teman."


"Apa kamu yakin?" lirih Mila, melirik ketakutan ke arah Radit, yang masih bergeming di tempatnya. "Kenapa aku merasa kalian berdua sedang bertengkar hebat?"


"Kembalilah ke rumahmu. Kami nggak apa-apa, aku bisa menjaminnya," ucap Gilang lagi, meyakinkan Mila agar meninggalkan mereka berdua.


"Aku... Aku nggak bisa. Rasanya kalau aku meninggalkan kalian berdua saja, kalian akan saling baku hantam," tolak Mila, bergeming di tempatnya berdiri.


"Kamu nggak perlu pergi, biar aku saja yang pergi," ujar Radit, berusaha keras tersenyum pada Mila.


Setelah mengatakan itu, Radit mengalihkan tatapannya kembali pada Gilang. Sorot dingin dari pancaran matanya terlihat sangat jelas oleh temannya itu. Bahkan saat berbicara pada Gilang, nada suaranya terdengar sangat kaku dan sedingin es.


"Jika kamu masih menganggapku sebagai teman, hapus fotonya dari handphonemu! Itu bukanlah hal yang sulit untuk kamu lakukan, 'kan?"


"Bagaimana kalau aku nggak mau melakukannya?" ujar Gilang, tidak gentar oleh kemarahan Radit. "Ayolah, ini hanyalah sebuah foto."


Dalam sekejap Radit menghantamkan tinjunya ke pohon yang ada di samping kepala Gilang. Mila yang sedari tadi menyaksikan percakapan mereka, terkesiap kaget oleh pukulan Radit itu. Kedua tangannya terangkat menutup mulutnya.


"Walaupun cuma foto, aku tetap nggak suka ada lelaki lain menyimpan foto istriku di galeri handphonenya," geram Radit, membisikkan perkataan itu di telinga Gilang. "Ini peringatan terakhirku untukmu. Kalau aku mengetahui kamu masih menyimpan fotonya, aku nggak menjamin apa yang akan terjadi padamu nanti."


Usai menyampaikan hal itu, Radit berjalan pergi meninggalkan Gilang bersama Mila di sana. Ia sadar tidak seharusnya ia pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Mila. Apalagi temannya itu sangat kaget oleh perilaku kasarnya tadi, tetapi rasa kesal yang masih dirasakannya pada Gilang, membuatnya tidak mampu mengucapkan apa pun untuk menenangkan temannya itu.


Radit juga tadi sempat melihat ekspresi kekhawatiran di wajah Mila saat dia menatap tangannya yang terluka karena memukul pohon tadi. Sejenak ia merasa Mila ingin berlari ke arahnya, tetapi sepertinya dia menahan diri dan mengurungkan niatnya. Anehnya lagi, dia terlihat merasa sangat malu saat Radit menangkap tatapan matanya. Ia benar-benar tidak bisa menebak apa yang ada dipikiran Mila.

__ADS_1


Kenapa dia harus merasa canggung setelah ia menikah? Apakah suatu hal aneh menunjukkan rasa kekhawatiran pada temanmu sendiri? Entahlah, sekarang ini ia tidak ingin terlalu memikirkannya.


°°


Dengan panik, Mila berlari menghampiri Gilang, yang terduduk lemas di tanah.


"Apa kamu baik-baik saja?" Mila menatap khawatir pada Gilang seraya menyentuh bahunya. "Sebenarnya apa yang kamu lakukan sampai membuat Radit marah begitu? Ini pertama kalinya aku melihat dia semarah itu."


"Aku baik-baik saja. Seharusnya kamu mengkhawatirkan kondisi pohon yang dipukulnya tadi daripada aku," canda Gilang, memaksakan dirinya tertawa. "Apa yang ada di dalam sana?"


Mengikuti arah pandangan Gilang ke tas kecil yang dibawanya, Mila mengeluarkan kotak bekal yang ada di sana.


"Biasalah, aku tadi habis mengantarkan bekal untuk Ayahku."


"Apa masih ada sisanya?"


"Sepertinya masih ada." Menutup kotak bekalnya kembali, Mila menyipitkan matanya. "Jangan mengalihkan pembicaraan, Gilang! Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi."


Mengambil kotak bekal itu dari tangan Mila secepat kilat, Gilang melahap sisa makanan yang ada di sana.


"Sudah aku bilang, itu hanyalah pertengkaran biasa antara lelaki," jawab Gilang dengan mulut penuh makanan. "Astaga ini enak sekali! Kamu nggak tahu betapa bersyukurnya aku dengan sisa bekal Ayahmu ini."


Walaupun enggan mengakhiri pembicaraan mengenai pertengkaran Gilang dan Radit tadi, Mila akhirnya menuruti kemauan Gilang untuk tidak membahas mengenai hal itu lagi. Ia tidak ingin terlalu memaksa Gilang agar menceritakan perihal masalahnya dengan Radit padanya. Mungkin saja itu adalah hal yang sangat bersifat sangat pribadi, makanya Gilang menolak membicarakan hal itu.


"Pelan-pelan, Lang! Nanti kamu tersedak." Mila mengeluarkan botol air minum dari tasnya dan memberikannya pada Gilang. "Kamu ini terlihat seperti orang yang belum makan selama seharian saja."


"Faktanya memang begitu."


"Nggak mungkin!"

__ADS_1


"Percaya atau nggak, nyatanya aku memang belum makan selama seharian," jawab Gilang, mamasang wajah sangat serius.


Sontak saja Mila tertawa terpingkal-pingkal mendengarkan pengakuan mengejutkan itu.


"Bagaimana mungkin! Memangnya di rumahmu nggak ada makanan?"


"Ceritanya panjang dan aku nggak ada waktu untuk menceritakannya padamu."


Di tengah canda ria mereka, tiba-tiba Sendi muncul dan ikut menimbrung bersama mereka berdua.


"Ada apa nih, kok kayaknya kalian asyik sekali ngobrolnya?"


Beranjak berdiri, Mila terburu-buru membereskan isi tasnya.


"Lho mau ke mana kamu, Mil? Aku belum selesai makan," rengek Gila, meminta kotak bekalnya kembali.


Melirik resah pada Sendi yang terlihat sangat kecewa dengan kepergiannya, Mila mengulurkan tas kecilnya pada Gilang. Langsung saja Gilang tersenyum cerah, seperti anak kecil yang senang mendapatkan mainannya kembali.


"Aku akan meninggalkan ini padamu, tapi jangan lupa untuk mengembalikannya lagi, kalau nanti kamu sudah selesai menghabiskannya."


Gilang hanya menganggukkan kepalanya tanpa mendongak menatap pada Mila, sepertinya dia terlihat sangat kelaparan. Memalingkan wajahnya pada Sendi yang berdiri di sebelahnya, Mila tersenyum ramah padanya, kemudian berpamitan pergi, meninggalkannya bersama Gilang di sana.


Di lubuk hatinya, jujur saja, Mila sangat merasa bersalah sudah bersikap begitu terang-terangan menjaga jarak darinya. Namun, hal ini memang diperlukan jika ia ingin Ibu Sendi berhenti menuntutnya menerima perasaan anaknya itu. Meskipun ia begitu tak tega melihat ekspresi terluka di wajah Sendi setiap kali ia menghindarinya.


Sendi bukanlah orang bodoh, tentunya, dia pastilah sadar kalau Mila tidak ingin berada di satu tempat yang sama dengannya. Tetapi sepertinya biasanya, dia selalu pantang menyerah. Apa pun yang dilakukan Mila untuk menghindarinya, dia selalu punya cara agar bisa mengobrol dengannya.


Yang menjadi permasalahannya sekarang ini, Sendi tidak mengetahui alasan Mila menghindarinya kali ini bukanlah karena malu bersamanya, melainkan karena Ibunya. Menghadapi rasa malu digoda semua orang karena selalu didekati Sendi bukanlah perkara besar. Lain halnya jika orang tua mereka ikut-ikutan mencampuri urusan asmara mereka berdua. Apalagi sampai memaksanya untuk menjalin hubungan yang serius dengan Sendi. Ia sangat tidak menyukainya.


Perasaan seseorang tidak bisa begitu saja dipaksakan. Makanya, ia lebih memilih menyakiti perasaan Sendi yang tidak mengetahui masalah ini dan berharap dia akan menyerah mengejarnya.

__ADS_1


__ADS_2