Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Perpisahan


__ADS_3

Siang harinya, ketukan pintu memberitahukan kepada Radit dan Widya, jika ada tamu yang datang. Mereka berdua yang sedang sibuk memindahkan meja rias dari kamar Radit ke kamar Widya yang ada di sebelah, dengan cepat menghentikan aktivitas itu.


Takut yang datang adalah orang tua mereka, keduanya dengan panik memasukkan meja rias itu kembali ke dalam kamar Radit. Lalu membenahi diri mereka agar terlihat rapi. Badan mereka dipenuhi keringat karena sibuk memisahkan barang yang ada di kamar Radit.


Memastikan penampilannya tidak terlihat lusuh di depan cermin meja riasnya, Widya cemberut melihat pantulan dirinya yang terlihat sangat berantakan. Mengambil tisu dari meja samping pintu kamar, ia menyeka keringat dari wajah serta lehernya lalu kembali ke meja rias untuk berdandan.


"Sudahlah, nanti saja dandannya. Kasihan tamu kita menunggu," ujar Radit, menarik Widya berdiri dari kursi kecil yang menghadap meja riasnya.


"Apa kata tamu kita nanti saat melihat penampilan jelek dan bauku ini," sahut Widya jengkel.


Meski enggan, akhirnya Widya membiarkan Radit menggandeng tangannya.


"Kita bisa memberikan alasan kalau tadi kita sedang berbenah."


Mengulas senyuman lebar di bibirnya, Radit membukakan pintu rumahnya untuk tamu yang datang berkunjung. Di balik pintu, berdiri kedua orang tua Widya. Dilihat dari mobil yang diparkir depan rumah mereka, sepertinya kedua orang tuanya ingin berpamitan pulang untuk kembali ke kota.


Radit mempersilakan keduanya masuk ke rumah, orang tua Widya segera menolak.


"Tidak perlu, Dit. Kami hanya ingin bertemu kalian berdua sebelum kembali ke kota," kata ayah Widya.


Merengkuhnya ke dalam pelukannya, ibunya mengelus pipi Widya dengan rasa sayang. "Wid, jaga dirimu baik-baik, ya. Kalau ada apa-apa kamu bisa menghubungi Mama dan Papa."


"Aku pasti akan sangat merindukan kalian berdua," ucap Widya, membalas pelukan ibunya.


Menarik Widya menjauh agar pembicaraan mereka tak terdengar oleh ayahnya dan Radit, ibunya memberikan sebuah kotak kecil ke tangan Widya.


"Ini kunci rumah kalian yang ada di Bandung. Papamu sudah lama menyiapkannya untuk hadiah pernikahanmu." Merogoh ke dalam tas tangannya, Ibunya memberikan sebuah tiket. "Dan ini tiket yang sudah kami pesan untuk bulan madu kalian."


Menatap lama pada benda di tangannya, Widya terdiam membisu. Sesaat kemudian rona merah menghiasi kedua pipinya. "Astaga, Ma. Kami tidak membutuhkan tiket bulan madu ini. Radit terlalu sibuk dengan pekerjaannya, mana ada waktu untuk libur bulan madu," ucap Widya dengan suara kecil, tiket itu dimasukkannya kembali ke tas tangan ibunya.

__ADS_1


"Kalian ini pengantin baru, tidak ada salahnya berlibur sebentar untuk berbulan madu." Ibunya mengambil tiketnya kembali untuk diserahkan kepada Widya. "Jangan membantah! Terima saja ini, barangkali nanti kalian berubah pikiran. Tiketnya Mama pesan untuk akhir pekan nanti," bisik ibunya.


Di lain sisi, Radit berbicara dengan ayah Widya.


"Om nggak perlu khawatir, Widya nggak akan kekurangan apa pun selama dia di sini."


"Jangan memanggil 'Om' lagi, Dit. Kita sekarang sudah menjadi keluarga panggil saja Papa," pinta ayah Widya.


"Baiklah, Om, eh, Pa," ucap Radit canggung.


Menepuk pundaknya, ayah Widya tersenyum puas. "Nah, begitu baru menantu Papa."


Mendekati Widya dan ibunya, ayah Widya mengajak istrinya untuk segera pergi karena sopir mereka sudah menunggu lama di mobil.


Mengantarkan kepergian mereka sampai dekat mobil, untuk terakhir kalinya mereka semua berpelukan dan saling mengucapkan kata perpisahan. Setelah keduanya telah masuk ke dalam mobil, Widya dan Radit melambaikan tangan hingga mobil keduanya tak terlihat lagi. Lalu barulah mereka masuk ke dalam rumah kembali.


Menengok ke belakang, Bu Gina melihat anaknya untuk terakhir kalinya lalu berpaling dan bersandar dipelukan suaminya.


"Sudahlah, Ma. Jangan sedih terus. Papa yakin Radit tidak akan menyakiti anak kita. Dia anak yang baik," ucap Pak Darman, mengusap-usap punggung istrinya.


"Mama tahu, tapi ini terlalu menyakitkan, Pa. Kenapa anak kita harus berada sejauh ini dari kita. Andai saja suaminya tinggal di kota, pasti Mama bisa sering mengunjunginya."


"Bersabarlah. Nanti kalau Papa ambil cuti, kita berdua bisa menemui mereka lagi."


Bu Gina hanya menganggukkan kepala, tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun lagi. Memejamkan matanya, dia mengingat kembali hari pernikahan anaknya. Bu Gina teringat interaksi anaknya dengan suaminya di pelaminan. Padahal anaknya menyebut suaminya menjengkelkan sebelum hari pernikahan, tetapi hari itu keduanya terlihat sangat akrab satu sama lain. Ini pertanda kalau mereka suatu hari nanti bisa saling mencintai. Bu Gina tersenyum bahagia membayangkan kemungkinan itu.


^^


Menutup pintu di belakangnya, Radit melihat benda yang berada di tangan istrinya. "Apa yang ada di tanganmu itu?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Oh, ini." Memperlihatkan kedua benda di tangannya. "Mamaku memberikan kunci rumah kita yang ada di kota, dan ini tiket bulan madu kita," ucap Widya tak acuh.


"Tiket bulan madu? Yang benar saja!" Radit mendengus tak percaya. "Aku nggak punya waktu untuk pergi ke mana pun, apalagi pergi berbulan madu."


"Seperti yang kuduga, kamu pasti akan berkata begitu. Makanya aku sudah memberitahukan hal itu pada mamaku tadi, tapi mamaku tetap ngotot memberikannya," gerutu Widya jengkel.


"Kalau begitu, buang saja tiket itu!"


Selama beberapa saat tak ada respons dari istrinya. Namun, matanya tiba-tiba berbinar seraya menatap Radit. Perasaan tidak enak seketika menghinggapinya melihat ekspresi girang istrinya. Kepala istrinya yang penuh akal itu, pasti saat ini sedang memikirkan sesuatu yang tidak akan membuatnya senang sama sekali. Dugaannya terbukti dari perkataan Widya selanjutnya, yang terlihat sangat antusias.


"Aku punya ide. Apa salahnya kita berdua pergi berbulan madu, kita bisa berpisah jalan saat sampai di sana. Aku perlu refreshing untuk menghilangkan rasa penatku terkurung di desa ini," ujar istrinya senang memikirkan ide cemerlangnya.


"Kalau kamu memang ingin pergi, silakan saja pergi sendiri. Aku tak berminat untuk ikut," tolaknya tegas.


"Jangan bodoh! Apa kata orang saat melihatku pergi berbulan madu seorang diri."


"Tumben sekali kamu memikirkan apa kata orang. Bukannya selama ini kamu nggak peduli apa kata orang?" ledeknya.


Perkataannya dibalas dengan tatapan setajam pisau yang baru diasah.


"Pokoknya aku nggak mau pergi, terserah kalau kamu nggak terima. Ini keputusanku!" Mengambil sepasang sepatu bot dari rak sepatu, ia bersiap pergi bekerja. "Nanti sore saja kita lanjutkan pemindahan meja riasmu, aku baru ingat aku ada janji membantu Pak Lukman membangun kandang ayamnya."


"Baik sekali suamiku ini," puji istrinya dengan nada menyindir. "Untuk orang lain kamu selalu ada waktu, tapi untuk istrinya sendiri nggak ada. Sungguh suami idaman."


"Aku tak ada waktu untuk berdebat denganmu. Sampai jumpa nanti sore," pamitnya, bergegas keluar rumah sebelum emosinya mengambil alih untuk membalas perkataan istrinya.


Mengikuti dari belakang, Widya berlari ke luar rumah untuk mengantar kepergiannya. Dengan suara yang begitu lantang, dia berseru padanya, "Cari uang yang banyak, ya, Suamiku. Istri cantikmu ini selalu menunggu kepulanganmu."


Menolehkan kepalanya ke belakang, Radit segera menyesalinya, karena istrinya mengedipkan matanya sambil mengerucutkan bibirnya mengirimkan ciuman dari jauh. Setelah itu dia membalikkan badan dan berjalan sambil melenggak-lenggokkan pinggulnya dengan berlebihan. Dasar Istri Pembangkang. Marah tidak mendapatkan keinginannya, dia sengaja bertingkah seperti itu untuk mempermalukan Radit di depan semua orang.

__ADS_1


__ADS_2