Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Akibat Perkataan


__ADS_3

Sepulang dari pasar, nenek Aya terkejut melihat cucu kesayangannya pulang dengan mata merah dan langsung berlari ke dalam kamarnya lalu mengunci pintu. Bahkan, saat ditanya apa yang sudah terjadi cucunya tak menjawab sama sekali. Menempelkan telinga di pintu, nenek Aya mendengar isak tangis yang terendam oleh bantal. Sepertinya, Widya tidak ingin orang lain tahu kalau dia sedang menangis.


Sejak kecil cucunya itu jarang sekali menangis. Ia punya sifat keras kepala dan manja. Kedua orang tuanya selalu memenuhi apapun keinginannya karena ia anak semata wayang. Pasti sudah terjadi hal buruk di luar sana sampai cucunya sedih seperti itu.


Menunggu di teras rumah, nenek Aya terlihat gelisah. Ia mondar mandir ke sana kemari, jelas sekali ia memikirkan sesuatu yang sangat serius. Mungkin cucu perempuannya yang kasar itu sudah mengatakan hal buruk tentang Radit. Menghampiri nenek Aya, Radit disambut dengan tatapan kelegaan. Meneliti dari ekspresi nenek Aya, sepertinya Radit salah menduga. Nenek Aya terlihat sangat pucat. Kakinya yang lemas membuatnya hampir terduduk di lantai tapi Radit menahannya.


“Syukurlah kamu sudah kembali, Dit. Ceritakan pada nenek apa yang sudah terjadi? Kenapa Widya pulang seperti itu?”


“Seperti itu bagaimana, nek?” tanya Radit heran.


Seingat Radit, terakhir kali ia melihat perempuan kasar itu ia terlihat baik-baik saja. Apa sesuatu terjadi padanya saat dalam perjalanan pulang?


“Widya menangis," jawab nenek Aya.


Radit hampir saja mengeluarkan gelak tawa karena rasa tak percaya. Bagaimana mungkin, perempuan kasar tak berperasaan itu bisa meneteskan air matanya. Itu sungguh bayangan yang sangat konyol di benak Radit. Tapi, melihat nenek Aya memasang raut khawatir, Radit menahan dirinya. Mustahil nenek Aya berbohong. Atau mungkin nenek Aya salah lihat.


Ini sangat tak masuk akal karena pagi ini Radit tidak melihat setetes air mata pun darinya bahkan saat ia di caci maki oleh semua orang di pasar. Saat Radit menasihatinya soal sikap kasarnya pada penjual ikan pun, ia tidak terlihat menangis sama sekali atau saat Radit mengatakan soal kedua orang tuanya. Ah, tunggu dulu. Kalau diingat lagi, saat itu Widya membelakanginya, apa mungkin saat itu ia menangis? Apa perkataan Radit menyakitinya? Sepertinya begitu. Radit benar-benar tak menduganya kalau perempuan kasar tak berperasaan itu bisa sakit hati.


“Radit, jawab pertanyaan Nenek, apa yang sudah terjadi dengan Widya?” nenek Aya menarik lengan baju Radit menyadarkannya dari lamunannya.


“Sebenarnya begini, Nek...” Radit menceritakan apa yang terjadi pada Widya di pasar tanpa menceritakan soal perkataannya pada Widya. Radit ingin memastikan sendiri apa benar dugaannya soal tangisan itu diakibatkan olehnya.


°°

__ADS_1


Hari sudah menjelang siang, Widya tetap berdiam diri di dalam kamar. Meski neneknya sudah memanggilnya untuk makan, Widya hanya terdiam tak menjawab dan neneknya mengomel tentang orang sakit yang sebentar lagi akan mengurusi orang sakit juga karena menolak untuk makan.


Sebenarnya, Widya sudah kelaparan tapi ia tidak ingin neneknya melihat mata sembap Widya. Ini semua karena lelaki sialan itu. Andai saja perkataannya tidak semenyakitkan itu bagi Widya. Kenapa lelaki itu harus mengucapkan hal yang mengusik hati nurani Widya.


Jujur, Widya tidak suka merasa serapuh ini. Kalau ia sampai tahu perkataannya sudah membuat Widya menangis pasti ia akan mentertawakannya. Tapi, ia tidak akan tahu karena ia tak melihat air mata Widya tadi pagi.


Sore harinya, Widya keluar dari kamarnya setelah matanya tidak terlalu bengkak lagi. Neneknya tidak mengatakan apapun padanya, ia tetap asyik dengan tontonannya.


Widya tidak tahu apakah neneknya sudah tahu mengenai kejadian di pasar tadi pagi. Tapi, mengingat gosip di tempat ini cepat sekali berhembus seperti hembusan angin pasti neneknya sudah tahu.


Mungkin sikap diam neneknya karena ia tahu Widya tidak ingin mengungkit soal itu. Selesai makan, Widya berniat kembali ke kamar, tapi suara Mila yang memanggilnya dari luar menghentikan langkahnya.


Hahhh..mungkin ia datang untuk membahas gosip hari ini. Widya menyeret kakinya untuk membuka pintu.


“Masuk, Mil.” Widya mempersilakan Mila bersama bocah perempuan yang diajaknya.


“Nggak usah, Wid. Kita mengobrol di teras saja. Hari ini cuacanya sedang sejuk untuk berada di luar rumah,” saran Mila yang sudah duduk di kursi teras rumah neneknya.


Widya pun duduk bersama mereka.


“Oh iya. Perkenalkan Wid, ini Ririn adik Radit.” Ririn melambaikan tangannya pada Widya memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Widya menyambut jabat tangannya sambil tersenyum seramah mungkin.


Hal yang tak di inginkan Widya saat ini adalah pengingat keberadaan lelaki sialan yang sudah membuatnya murung hari ini oleh teguran tajamnya. Adiknya dan teman masa kecilnya memang tidak bersalah apapun padanya tapi mereka berdua membuat ia membayangkan kembali kejadian buruk pagi ini.

__ADS_1


Meletakkan minuman dan cemilan di meja untuk melayani teman cucunya, neneknya berterima kasih pada keduanya karena sudah mau datang menemui cucunya.


“Ya ampun. Nggak perlu repot, Nek,” kata Mila membantu neneknya meletakkan cangkir minuman di meja.


“Wah, kebetulan sekali. Aku lagi lapar.” Ririn mencomot biskuit di hadapannya dengan antusias.


“Aku bisa mengurus tamuku, Nek. Nenek istirahat saja supaya cepat sembuh.” Widya mendorong pelan punggung neneknya agar kembali ke dalam rumah.


“Jadi orang sakit sungguh melelahkan. Gerak sedikit disuruh istirahat,” keluh Neneknya.


“Sudah jangan bawel, orang sakit harus menurut.”


Menghampiri kedua tamunya lagi, Widya mengacuhkan tatapan sinis serta bisikan orang yang lewat. Biar mereka lihat kalau Widya tidak terpengaruh sedikit pun perihal gosip buruk tentang dirinya.


Ririn tersedak karena terlalu banyak memasukkan biskuit dalam mulutnya sekaligus. Menepuk punggungnya, Mila mengomeli sifat sembrono Ririn.


Berbeda dengan kakaknya yang selalu bersikap tidak terlalu banyak bicara kecuali diperlukan untuk mengkritik perilaku seseorang, adiknya Ririn sangat cerewet. Ketika ia membuka mulutnya, maka siapa pun akan sulit untuk berhenti bicara.


Hampir setengah jam Widya mendengarkan cerita mereka tanpa banyak bicara, ia hanya mengangguk kecil atau tersenyum sambil oh..emm..saja.


Tak sanggup menahan dirinya lagi, akhirnya Widya mengeluarkan pertanyaan yang sejak tadi pasti ingin di dengar oleh kedua orang di depannya ini.


“Kenapa kalian berdua nggak bertanya soal gosip hari ini? Aku tahu, kalian sejak tadi penasaran soal gosip itu,” kata Widya santai sembari menyeruput minumannya.

__ADS_1


__ADS_2