
Nada suara lembut Radit mengirimkan getaran perasaan tidak enak di tulang belakang Widya. Firasatnya mengatakan apa yang ingin disampaikan Radit kepadanya akan membuatnya merasa tidak senang.
Mendesah di tempat duduknya, Radit hanya bisa menatap pasrah melihat penolakan darinya secara tidak langsung dengan duduk di sofa lain. Lalu mengutarakan apa yang ingin disampaikannya.
"Begini, seperti yang kamu tahu kita sekarang sudah menikah, jadi sudah saatnya kita membicarakan perihal tugas masing-masing di rumah ini." Radit berhenti sejenak, dia melirik sekilas padanya.
Widya memberikan anggukkan, mendorongnya melanjutkan.
"Aku yakin kamu pasti nggak bisa memasak, jadi tugas itu biar aku saja yang lakukan. Tugasmu hanya membersihkan rumah dan mencuci pakaian. Soal mencuci piring, kita bisa mencucinya masing-masing sehabis menggunakannya. Bagaimana, apa kamu keberatan?" tanyanya menanti jawaban.
"Aku nggak keberatan sama sekali." Setidaknya tugasku nggak terlalu banyak sebagai seorang istri.
Radit menghela napas lega. Sayang sekali, belum saatnya dia bernapas lega karena Widya masih belum selesai menyampaikan pendapatnya.
"Kecuali untuk satu hal, aku nggak terima caramu meremehkan kemampuan memasakku. Siapa bilang aku nggak bisa memasak? Aku bisa kok masak."
Widya bisa melihat kilatan mencemooh terpancar dari mata suaminya. "Katakan padaku, apa yang bisa kamu masak, Istriku?"
"Memang nggak banyak. Aku nggak suka menggoreng jenis makanan apapun. Cipratan minyak goreng hanya akan membuat kulitku ternoda. Tapi, ada satu hal yang aku yakini bisa kulakukan, aku jago membuat rebusan."
"Wah, kalau begitu kamu bisa membuat sop? Aku sungguh nggak menduganya. Maafkan aku sudah meremehkanmu tadi," ucap suaminya tulus.
"Bukan, bukan seperti itu. Hanya rebusan biasa, misalnya merebus ayam, sayur, dan semacamnya, tapi masalah membumbui aku bukanlah ahlinya."
Mulut Radit menganga lebar, terperangah mendengar penjelasannya. Aneh sekali, memangnya apa yang membuatnya memasang wajah syok seperti itu. Tidak ada yang aneh dari penjelasannya tadi. Tiba-tiba saja semburan tawa terbahak-bahak keluar dari mulut suaminya.
Tersinggung mendengar tawa suaminya, Widya berdiri mengacak pinggang. "Apanya yang lucu? Aku nggak sedang berusaha melawak."
"Tentu saja ini lucu. Apa katamu tadi, merebus tanpa membumbui?" Tawanya meledak lagi. "Bahkan anak SD pun bisa melakukannya!" semburnya dengan nada geli.
"Berani-beraninya kamu! Nggak semua orang bisa merebus dengan baik sepertiku. Anak SD sekalipun nggak akan tahu seperti apa tingkat kematangan yang pas dari masakan yang direbusnya," geramnya.
__ADS_1
Melambaikan tangan menyerah, Radit memintanya duduk kembali seraya meminta maaf sudah menyinggungnya. Tetapi Widya tidak bodoh, ia masih bisa mendengar nada geli dari suara Radit, meskipun dia berupaya keras menyembunyikannya. Biarlah, ia sudah terlalu lelah untuk memperdebatkan banyak hal hari ini.
"Aku mengerti maksudmu. Maafkan jika selera humorku telah melukai harga dirimu yang jago memasak rebusan ini," ungkitnya lagi mengejek kemampuan memasak Widya. Berdeham, dalam sekejap nada suara Radit berubah menjadi serius. "Meski begitu, kita sudah sepakat kalau aku yang akan memasak."
"Ya, kita sepakat. Tapi, ada yang ingin aku tanyakan."
"Tanyakan saja, nggak perlu sungkan."
"Apa kita nggak memiliki mesin cuci? Setelah kuperhatikan baik-baik, aku nggak melihat mesin cuci di rumah ini. Apa kamu melihatnya di suatu tempat?"
"Kita nggak punya mesin cuci, dan nggak akan pernah memilikinya," tegas Radit.
Ucapannya itu membuat Widya agak kebingungan.
"Apa maksudmu? Kalau kita nggak punya mesin cuci, bagaimana aku bisa mencuci tumpukan baju kotor yang kita miliki?"
Sebelum mendengar Radit menjawab pertanyaannya, perasaan tidak enak beberapa waktu lalu kembali mengirimkan getaran di tulang punggungnya. Widya bisa merasakan kalau jawaban suaminya ini tidak akan menyenangkannya.
Seperti yang diharapkannya, Widya memang tidak menyukai ide mencuci baju mereka dengan tangannya. "Jangan konyol! Apa gunanya kita memiliki uang jika bukan digunakan demi kenyamanan...."
"Kenyamanan dirimu bukan diriku," gumam Radit, menyela omongannya.
Seolah tak mendengarkan sindiran itu, Widya melanjutkan perkataannya, "bersama. Kalau kamu memaksa, maka kamu akan mendapatiku membeli mesin cuci itu dengan uangku sendiri," gertaknya, tatapan tajamnya menghujam langsung pada mata Radit.
Beranjak berdiri dari tempat duduknya, Radit mendekati tempat duduknya dan memaksanya mendongak memandangnya, yang berdiri menjulang di hadapannya. "Jika kamu melakukannya, maka kamu akan mendapati aku menjual mesin cuci itu kembali." Kilatan mata suaminya menunjukkan jika dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Bangkit dari tempat duduknya, Widya berdiri begitu dekat dengan Radit. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya, bergetar menahan dorongan untuk menampar wajah suaminya. "Kamu nggak akan berani! Aku berhak membeli apa pun dengan uang yang aku miliki."
"Ya, aku berani. Dan, aku juga berhak mengatur apa yang aku miliki. Kamu sekarang istriku, jadi, apa yang menjadi milikmu juga akan menjadi milikku. Karena kamu milikku!" tegas Radit, mengertakkan giginya.
"Omong kosong! Aku bukan milikmu!" bantahnya, tak terima dengan kenyataan sekarang ia sudah menjadi milik suaminya seutuhnya.
__ADS_1
Mengelus dagunya lembut, sebuah seringai kemenangan melengkung di bibir Radit. "Tak ada gunanya kamu mengelak, itu kenyataannya, Istriku Sayang." Menurunkan tangannya, Radit berpamitan untuk kembali ke kamarnya.
Sebelum memasuki kamarnya, Radit sejenak menoleh dari balik bahunya, memandang Widya yang masih terdiam membeku di tempatnya.
"Kalau kamu membutuhkanku, aku ada di sebelah kamarmu. Perlu kamu ingat, pintu kamarku tak pernah terkunci." Senyuman menggoda menghiasi wajahnya saat menutup pintu kamarnya perlahan.
Dari dalam kamarnya, Radit mendengar suara bantingan pintu dari kamar Widya. Biarkan saja istri pembangkangnya itu mengamuk melampiaskan semua amarahnya di dalam kamar sana. Bagaimanapun juga ia sudah memenangkan pertarungan ini. Walaupun besok akan ada banyak pertanyaan yang diberikan kepadanya mengenai pertengkarannya dengan istrinya hari ini. Masalah itu biar besok saja ia pikirkan, sekarang ia hanya perlu tidur. Memejamkan matanya, senyuman lebar menemani tidurnya.
***
Di halaman depan rumahnya, Pak Benny menunggu anaknya, Radit, lewat depan rumahnya. Melirik jam tangannya, ia memastikan kalau jam berangkat kerja anaknya belum lewat. Jam tangannya masih menunjukkan pukul 05.05 WIB. Syukurlah ia tidak terlambat. Karena lambat sedikit saja ia akan kehilangan kesempatan untuk berbicara dengan anaknya.
Tadi malam saat pulang dari pertemuannya dengan Pak Gunawan, ia tak sengaja mendengar pertengkaran anaknya dengan istri yang baru dinikahinya ketika melewati jalan daerah rumah mereka. Suara teriakan anaknya itu begitu menggema hingga terdengar ke luar rumah.
Hal itu membuat Pak Benny menjadi bertanya-tanya, apa gerangan yang sudah membuat anaknya yang selalu berperilaku tenang itu bisa bertindak sekasar itu pada istrinya? Apa dia tidak sadar amukannya telah menarik perhatian banyak tetangga yang telah mendengarnya.
Saking malunya Pak Benny dengan tatapan para warga yang memandangnya kasihan, ia hanya tersenyum kecut, kemudian berjalan cepat pulang ke rumahnya. Kepikiran masalah rumah tangga anaknya membuatnya tak bisa tidur nyenyak semalaman. Makanya sekarang ia berdiri disini menunggu anaknya lewat untuk membicarakan masalah ini.
Di ujung jalan, ia melihat anaknya sedang berjalan menundukkan kepalanya menghindari tatapan dari para warga yang lewat. Setidaknya anaknya itu sadar bahwa perbuatannya tadi malam sudah membuatnya menjadi pusat perhatian pagi ini.
Ketika tatapan mereka bertemu, ekspresi gelisah dan rasa bersalah terlihat jelas di wajah anaknya. Anaknya itu pasti sadar kalau Pak Benny ingin berbicara empat mata dengannya. Langkah kakinya begitu berat ketika berjalan menghampirinya.
"Selamat pagi, Pak," salamnya muram.
"Bapak ingin berbicara denganmu sebentar, apa kamu keberatan?' tanya Pak Benny, menautkan kedua alisnya.
"Tentu saja aku nggak keberatan, Pak." Tangannya terulur mempersilakan Pak Benny berjalan terlebih dahulu ke dalam rumah.
°°
Mimpi buruk kini telah menghampirinya, Radit tertunduk lesu mengikuti ayahnya dari belakang. Ia lupa kalau pertengkarannya tadi malam, tentu saja akan diketahui oleh ayahnya. Tak ada gunanya melarikan diri dari pembicaraan ini karena itu hanya akan membuat ayahnya semakin marah.
__ADS_1
Duduk di kursi seberang ayahnya, Radit menegakkan posisi duduknya untuk menghadapi badai besar yang akan dihadapinya. Tatapannya lurus menatap mata ayahnya tanpa berkedip, menunggu semburan amarah yang akan keluar dari mulut ayahnya.