Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Ketakutan


__ADS_3

Berlari panik ke arah pintu keluar rumahnya, Widya tiba-tiba menghentikan langkahnya di depan pintu, ia berpikir kalau dia pergi kabur lagi ke rumah neneknya, firasatnya mengatakan kali ini Radit akan membawanya pulang dengan menggendongnya seperti sekarung beras di pundaknya, dan membiarkan semua orang menyaksikan kejadian itu. Walaupun ia belum terlalu lama mengenal Radit, tapi ia tahu hal itu pasti akan benar terjadi jika ia berani mengujinya.


Malam ini saja Radit hampir menghancurkan pintu kamar neneknya--kalau saja Widya tidak terlambat membukakan pintu--suaminya itu selalu melakukan apa yang dikatakannya jika dia benar-benar marah, renung Widya. Ini salahnya terlalu terbawa emosi sehingga menyebabkannya lupa tentang hukuman yang akan didapatkannya, jika berani menentang Radit dengan kabur dari rumah seperti beberapa waktu lalu.


Perutnya menegang mengingat ucapan terakhir yang dikatakan Radit sebelum meninggalkannya untuk mandi tadi. Widya sangat tidak siap untuk tidur bersama suaminya itu. Ini terlalu cepat baginya. Meskipun ia sudah menerima statusnya sebagai seorang istri, lain halnya dengan kewajibannya melayani suaminya di tempat tidur. Membayangkan hal itu saja membuat keringat dingin mengalir deras di belakang punggungnya.


Menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, Widya segera menepis gambaran tidur bersama Radit di dalam kepalanya. Berjalan kembali ke ruang keluarga, Widya memperhatikan sekelilingnya, matanya terhenti pada kamar Radit yang terbuka lebar di hadapannya. Sebuah ide brilian muncul di kepalanya, mungkin kamar suaminya itu satu-satunya jalan baginya untuk kabur dari hukuman itu. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia langsung berlari ke kamar itu secepat mungkin, takut Radit tiba-tiba muncul dari dalam kamar mandi, lalu menggagalkan rencananya.


~ ~


Masih dalam suasana hati yang riang, Radit berjalan santai ke arah kamarnya. Menyusuri koridor ruang keluarga, sebuah bundelan besar di atas sofa yang menghadap ke arah televisi menarik perhatiannya. Melangkahkan kakinya perlahan, ia terkekeh geli menyadari apa yang ada di balik bundelan selimut itu.


Istri mungilnya yang penakut bersembunyi di dalam sana, seperti seorang korban yang takut bertemu dengan pembunuhnya. Dilihat dari gerak-geriknya yang gelisah, sepertinya dia merasa tak nyaman Radit berdiri terlalu dekat dengannya.

__ADS_1


"Berhentilah tertawa seperti itu! Suara tawamu itu membuatmu terdengar seperti psikopat," tegur Widya kesal.


"Dari barbar, penyelingkuh, pembohong, sekarang kamu menjuluki suamimu sendiri 'Psikopat'. Kreatif sekali," ucap Radit sarat sarkasme. "Nggak ada gunanya kamu bersembunyi di sana, Sayang. Malam ini aku akan tetap membawamu ke tempat tidurku." Gerakan dari dalam selimut itu berhenti.


"Bisakah kamu memberikanku kesempatan untuk lepas dari hukuman ini? Kalau kamu melakukannya, aku akan sangat berterima kasih, Suamiku Yang Berbudi Luhur." Nada suaranya begitu tegang di telinga Radit.


"Nasi sudah menjadi bubur, yang terjadi tetaplah terjadi. Kamu menuai apa yang kamu tanam, nggak ada toleransi lagi kali ini," ujar Radit tegas. "Apa kamu sadar, Istriku, ucapanmu itu benar-benar menyakiti harga diriku. Apa sebegitu mengerikannya untuk tidur bersamaku?" Radit sengaja membuat suaranya terdengar begitu terluka.


"Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa ini hukuman? Berarti kamu sangat menyadari bahwa hal ini pasti nggak akan membuat diriku senang. Dan nyatanya, memang begitu." Melipat tangannya di depan dada, Widya menatap tajam padanya. "Aku menolak keras hukuman ini. Aku nggak ingin tidur bersamamu. Aku belum siap."


"Siap, nggak siap, kamu tetap akan tidur bersamaku. Kalau memang harus, aku akan menggendongmu untuk masuk ke dalam sana." Kepalanya menunjuk ke arah kamarnya.


"Apa ini memang harus dilakukan?" Radit menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan itu. "Di mana kunci kamarmu?"

__ADS_1


Senyuman nakal kembali melengkung di bibirnya. "Apa kamu mencarinya, Istriku? Apa kamu tadi berniat mengurung dirimu sendiri di dalam kamarku, selagi aku sedang mandi?"


Menunduk pada handuk yang melingkari pinggulnya, Radit memperlihatkan 3 kunci yang tergantung di pinggir handuknya. Kedua kunci kamar Widya tergantung di sisi kiri sedangkan kunci kamar Radit tergantung di sisi kanan. Kedua mata Widya melebar begitu besar pada pemandangan itu, dia menutup mulutnya dengan tangan, terlalu kaget oleh kelakuan Radit menjepitkan kunci di pinggir handuknya.


"Aku ini nggak bodoh, istriku sayang. Aku tahu kamu pasti berniat mengurung dirimu di kamarku saat kuberitahukan hukumanmu ini. Makanya, sebelum menjemputmu tadi, aku sudah menyimpan kunci kamarku terlebih dahulu." Berjalan lebih dekat lagi, Radit menantang Widya untuk mengambil kunci itu dari jepitan handuknya. "Kalau kamu begitu sebegitu tak menginginkannya tidur bersamaku, ayo sini ambil sendiri kuncimu."


Memalingkan wajahnya yang sudah merah merona, Widya mendorong tubuh Radit menjauh. Menarik tangannya kembali, dia meremas tangannya begitu erat di pangkuannya.


"Dasar kamu cowok mesum, menjauhlah dariku! Pasang bajumu sana! Apa kamu nggak takut masuk angin, berjalan dengan keadaan setengah telanjang seperti itu? Dan sudah kukatakan, aku nggak suka melihat tubuh jelekmu itu," cercanya seraya mengibaskan tangan mengusir Radit pergi.


"Ke mana perginya istriku yang genit tadi? Bukankah saat di rumah nenekmu tadi, kamu nggak mau beranjak dari atas tubuhku, eh, sekarang bilang tubuhku jeleklah, apalah. Bilang saja kalau kamu malu." Dengan sengaja Radit mengelus pipi Widya.


Seluruh badan Widya langsung menegang oleh sentuhan itu, postur tubuhnya begitu kaku, matanya tetap fokus memandang dinding yang ada di belakangnya. Takut istri pemalunya itu akan jatuh pingsan, jika ia menggodanya lebih lama lagi, Radit berpamitan masuk ke dalam kamarnya untuk berpakaian.

__ADS_1


__ADS_2