
Menyelipkan rambut Widya ke belakang telinga, Radit tersenyum melihat wajah Widya mengerut dalam sembari menyentuh rambutnya yang disentuh Radit tadi sehingga kembali menutupi wajahnya. Walaupun terganggu oleh gangguan itu, dia masih saja belum terbangun dari tidurnya.
Ini semua berkat cerita panjang lebarnya yang disampaikannya pada Widya beberapa jam lalu. Widya yang merasa lelah sepanjang hari akhirnya tertidur pulas di sampingnya, dan Radit merasa bersyukur akan hal itu. Setelah ia usah payah menahan Widya agar tidak pergi mendatangi Gilang karena telah membuat keributan di peternakannya.
Mendengarkan perilaku Gilang yang suka ikut campur, Widya tidak mampu menahan luapan emosinya untuk memberikan pelajaran pada mantan temannya itu. Meskipun ia senang dengan kemarahan istri mungilnya ini, tetapi di satu sisi, ia tidak menginginkan satu lagi masalah tambahan yang akan diperbincangkan oleh seluruh desa ini.
Dua masalah tadi siang saja sudah cukup membuat Radit dan Widya jadi bahan gosip selama berbulan-bulan. Keributan besar itu tidak akan semudah itu hilang dari desa yang dipenuhi biang gosip ini. Apalagi semenjak Radit menikahi Widya, selalu ada saja biang gosip menanti masalah yang akan ditimbulkan mereka lagi.
Kali ini Radit yakin para biang gosip itu tidak akan melepaskannya dan Widya begitu saja dari peristiwa menggemparkan hari ini. Ia juga sadar akan susah baginya dan Widya menangani masalah ini. Keributan yang mereka buat hari ini terlalu menggemparkan sehingga akan susah sekali membuat semua orang di desa Manju melupakannya.
Lebih dari itu, ada hal yang lebih dikhawatirkannya, yaitu menghadapi Ayahnya, yang Radit tahu sebentar lagi akan menghubunginya.
Tidak berapa lama apa yang ditakutinya terjadi juga, ia mendapat pesan dari Ayahnya untuk segera ke rumahnya sekarang juga. Bangun perlahan dari tempat tidurnya, Radit hati-hati turun dari ranjang agar tidak membangunkan Widya yang masih tertidur pulas.
"Mau ke mana kamu?"
Baru saja mau beranjak berdiri, Radit dikagetkan oleh pertanyaan yang diajukan oleh Widya itu. Menolehkan kepalanya dari balik bahu, Radit melihat mata istrinya itu masih setengah mengantuk.
"Maafkan aku sudah membangunkanmu. Kamu kembali saja tidur, aku hanya pergi sebentar." Radit menyelimuti Widya.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Mau ke mana kamu?" Widya menyingkirkan selimut dari tubuhnya dengan alis dikernyitkan. "Kita tadi sudah sepakat bahwa tak ada lagi rahasia di antara kita, dan belum sampai sehari kamu sudah berniat main rahasia-rahasiaan lagi padaku."
Menghela napas, Radit duduk di pinggir ranjang. "Aku cuma pergi ke rumah Ayahku sebentar. Kamu tahu sendiri 'kan, ada begitu banyak hal yang harus kujelaskan padanya mengenai masalah hari ini."
"Ya ampun!" pekik Widya, meloncat turun dari atas ranjang dan berlari menghampiri lemari pakaian. "Aku lupa kalau kamu ini anak Kepala Desa, tentu saja, berita pertengkaran kita hari ini akan didengar olehnya. Aku yakin sudah banyak desas-desus buruk mengenai kita masuk ke telinga Ayahmu."
"Sedang apa kamu?"
Radit menangkap pergelangan tangan Widya, yang sibuk memilah-milah pakaian di dalam lemari.
"Apa lagi yang aku lakukan, kalau bukan bersiap-siap menemanimu ke sana," jawab Widya, melepaskan pegangan Radit dari tangannya dan kembali mencari pakaian di dalam lemari. "Aku nggak akan membiarkanmu menghadapi Ayahmu seorang diri. Walau bagaimanapun, aku juga terlibat dalam masalah ini. Jadi, nggaklah aneh kalau aku juga harus ikut denganmu untuk membicarakan masalah ini bersama Ayahmu. Aku juga sangat yakin Ayahmu perlu mendengarkan penjelasan perihal masalah ini dariku juga."
"Kamu salah. Ayahku hanya ingin berbicara berdua saja denganku." Radit sekali lagi menghentikan Widya, dan menggenggam tangannya yang sedari tadi terlihat gemetaran. "Jangan paksakan dirimu, Sayang. Pertemuanmu dengan Ayahku hanya akan membuatmu pingsan."
"Kamu jangan sembarangan mengambil kesimpulan. Tanganku gemetar bukan karena aku gugup ataupun takut, aku cuma kurang tenaga karena belum makan sejak tadi siang," elak Widya, menarik tangannya dari genggaman Radit lagi, lalu menyembunyikannya di belakang tubuhnya. "Lagi pula aku nggak selemah itu! Yang benar saja, aku akan pingsan. Seumur hidupku aku nggak pernah sekali pun mengalami hal yang namanya 'Pingsan', seperti yang kamu bilang."
Radit tidak menjawab sanggahan berapi-api itu, ia hanya membalas pembelaan Widya dengan memeluknya erat.
__ADS_1
"Apa katamu sajalah, Istriku."
"Sudah lama sekali aku nggak mendengarmu mengucapkan kalimat menjengkelkan itu. Ternyata kalimat itu masih memiliki kekuatan untuk membuatku kesal setiap kali mendengarnya."
Melepaskan pelukannya, Radit menyeringai pada Widya, yang langsung dibalas dengan tinjuan keras di perutnya.
"Tunggu saja kalau aku pulang nanti. Kamu akan mendapatkan balasan yang setimpal dariku," gertaknya, mengulas senyuman penuh arti. "Sebaiknya kamu persiapkan dirimu baik-baik, karena balasanku akan menguras seluruh tenagamu."
Mengecup kening Widya lembut, Radit menahan gelak tawanya melihat istrinya yang terdiam membisu dengan wajah kemerahan, kemudian ia segera berpamitan untuk pergi menghadapi Ayahnya yang sekarang ini pasti sedang menunggu tak sabar di rumahnya.
Sebenarnya ia tadi berbohong pada Widya. Pesan yang dikirimkan oleh Ayahnya tadi mengatakan kalau dia ingin menemui mereka berdua sekaligus, bukan cuma Radit seorang diri saja.
Meskipun merasa bersalah sudah membohongi istrinya, Radit tidak menyesal sedikit pun. Ia tidak mau menambah beban pikiran lagi pada Widya. Semua kekacauan hari ini saja sudah membuat istrinya itu lelah secara batin dan fisik. Jika ia membawanya menemui Ayahnya juga, maka itu hanya akan membuat Widya tambah stres.
Lagi pula Radit lebih dari mampu menghadapi Ayahnya seorang diri. Ia tahu Ayahnya tidak akan menghakimi seseorang hanya berdasarkan cerita dari satu pihak saja. Karena itulah dia memanggil Radit untuk mengetahui masalah ini lebih jelas.
Kalau pun nantinya Radit akan dimarahi habis-habisan oleh Ayahnya, setidaknya itu lebih baik daripada Widya juga ikut-ikutan kena semprot oleh masalah ini.
∞ ∞
Semakin kamu dilarang, maka kamu akan semakin melanggarnya. Mungkin karena ungkapan inilah, Ririn memberanikan diri membuka sedikit pintu kamarnya untuk menguping pembicaraan Ayahnya dan Radit di luar.
Makanya demi mengetahui hal itu, Ririn semakin menjulurkan kepalanya keluar dari balik pintunya.
"Ririn! Sedang apa kamu di sana?" bentak Ayahnya, melotot marah padanya.
Terkejut mendapati dirinya kepergok oleh Ayahnya, ia segera menutup pintu kamarnya secepat kilat seraya mengunci pintu kamarnya dengan tangan gemetar dari dalam. Bersandar lemas di pintu, Ririn menyentuh dadanya yang berdegup kencang.
Dentuman cepat jantungnya terdengar nyaring sekali di telinganya. Seakan-akan ada pemain drum sedang bermain di dalam tubuhnya.
Berlari menghampiri ranjangnya mengambil ponselnya yang berada di sana. Tangannya gemetaran ketika mencari kontak Mila. Ia harus menghubungi seseorang untyk diajak berbicara. Mungkin dengan berbincang akan mengurangi sedikit ketakutannya.
Setelah menekan tombol memanggil di layar ponselnya. Ririn dengan gelisah berjalan bolak-balik menunggu Mila mengangkat teleponnya. Sayangnya, tidak ada jawaban.
Namun, ia tidak menyerah begitu saja. Ririn kembali menghubungi Mila untuk kedua kalinya, yang untungnya kali ini diangkat. Tanpa memberikan kesempatan pada Mila menyahut, ia sudah menyerocos duluan.
"Kak Mila ke mana aja sih, kenapa lama sekali mengangkat telepon dariku? Apa Kakak nggak tahu, hari ini banyak sekali hal yang menimpaku. Setelah tadi siang dimarahi Bang Radit dan Kak Widya, sekarang Ayah juga melampiaskan rasa kesalnya padaku. Padahal 'kan yang sal...."
__ADS_1
"Tenangkan dirimu, Rin. Tarik napas dalam-dalam, kemudian hembuskan perlahan. Lakukan itu terus menerus sampai kamu menjadi tenang."
"Ini bukan saatnya Kak Mila menyuruhku menarik keluarkan napasku! Hal itu nggak akan membuatku tenang sama sekali. Situasiku saat ini begitu genting. Aku rasa sebentar lagi aku akan mengalami pingsan untuk kedua kalinya dalam hidupku."
"Turuti saja perkataanku, Ririn. Setidaknya itu akan membantumu sedikit tenang. Kalau kamu nyerocos nggak jelas begini terus, aku tetap nggak akan memahami apa yang kamu katakan padaku."
Meskipun selama beberapa saat Ririn mengomel panjang lebar mengenai permintaan itu, akhirnya ia menurutinya juga. Yang tampaknya agak sedikit membantu menenangkannya.
"Bagaimana, apa kamu sudah agak tenang sedikit?" tanya Mila.
"Yah, agak mendingan sih, tapi itu tetap tak menghilangkan rasa takutku. Rasanya aku ingin meloncat keluar saja dari jendela kamarku, sebelum Ayah menemuiku."
"Jangan berpikir hal yang aneh-aneh, Ririn," nasehat Mila, terdengar sangat tidak menyukai ide buruknya. "Nah, sekarang jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi. Mulailah pelan-pelan, jangan terburu-buru seperti tadi. Kalau kamu ngerocos seperti tadi, aku nggak akan memahami ceritamu sepatah kata pun."
Butuh upaya keras bagi Ririn menyampaikan ceritanya dengan perlahan-lahan, tetapi berkat kesabaran Mila, ia akhirnya bisa menceritakan semua hal yang terjadi hari ini dengan begitu jelas.
Usai bercerita panjang lebar, Ririn mengambil napas sejenak sambil menunggu tanggapan dari Mila setelah mendengarkan ceritanya tadi.
"Pantas saja hari ini Widya nggak mengangkat telepon dariku. Ternyata dia sedang mengalami masalah besar di sana."
"Dari semua tanggapan yang ada, kenapa harus kalimat itu yang pertama kali Kakak ucapkan? Aku 'kan sudah bilang, tujuanku menelepon Kak Mila untuk membantuku mencari tahu penyebab Ayah marah pada Bang Radit. Jadi, menurut Kakak bagaimana? Masalah dengan Kak Nadin atau Bang Gilang?"
"Ini bukan saatnya bagimu mempertanyakan masalah itu. Yang harus kamu pikirkan dan lakukan sekarang adalah membantu Abangmu dan Widya mengatasi masalah ini. Apalagi Widya, dia pasti membutuhkan teman berbagi cerita," ujar Mila sedih. "Sayang sekali, aku berada di sana untuk menemaninya. Masih banyak hal yang harus aku lakukan di sini."
"Sudah cukup nasehatnya. Aku nenelepon bukan untuk mendengarkan nasehat Kak Mila juga. Lagi pula aku terlalu takut menemui Kak Widya, mengingat sikap dinginnya tadi. Yang ada saat aku ke rumahnya nanti, hanya bantingan pintu yang menyambut kedatanganku."
"Widya nggak mungkin melakukan hal itu, percayalah. Walaupun dia suka bersikap kasar, tapi dia nggak akan sekejam itu padamu. Walau bagaimanapun kamu tetap saja adik iparnya."
"Ha! Kakak nggak lihat saja tadi sikap garang Kak Widya pada Bang Radit. Dia yang suaminya saja nggak segan-segan dilumpuhkannya di depan semua orang, apalagi aku yang cuma adik iparnya ini."
Ririn semakin dibuat kesal saja saat Mila menanggapi omongannya itu dengan tertawa terbahak-bahak di telepon. Baru saja ingin memarahi Mila, suara ketukan pintu di balik pintu kamarnya mengangetkan Ririn setengah mati. Ia sampai terlonjak dan menabrak pinggir ranjangnya hingga jatuh terjengkang ke atas kasurnya.
"Nanti aku telepon lagi. Sekarang ini Sang Hakim sedang memanggilku."
Dengan panik Ririn menutup teleponnya, tanpa menunggu jawaban dari Mila.
"Ririn, buka pintunya!" Gedor Ayahnya, sudah mulai kehabisan kesabaran menunggunya membuka pintu. "Ayah harus membahas perilakumu yang suka menguping itu. Buka pintunya sekarang juga, sebelum Ayah semakin marah."
__ADS_1
"Ya, Ayah. Ririn datang," sahutnya setengah hati.
Ririn menyeret kakinya melangkah mendekati pintu kamarnya untuk membukakan pintu.