Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Pertemuan


__ADS_3

Bingung dengan sikap diam Widya yang sedang menatap kejauhan, Mila melambaikan tangannya di depan wajahnya. Selama beberapa detik tidak ada respons apa pun, tetapi tidak berapa lama kemudian Widya mengerjap kaget pada Mila yang menatap heran padanya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, Wid?" tanya Mila, rasa ingin tahunya terpancar dari tatapan matanya yang mengamati Widya saksama.


"Bukan hal penting. Ayo kita pergi!" jawab Widya, memaksakan sebuah senyuman sambil menggandeng lengan Mila kembali.


Dari kilatan matanya terlihat bahwa Mila tidak mempercayai ucapannya sama sekali. Namun, dia menyimpan rasa penasarannya itu di benaknya saja. Dia tidak ingin Widya merasa tidak nyaman oleh pertanyaannya lagi.


"Omong-omong, kenapa penampilanmu hari ini lain dari biasanya?" Tatapan mata Mila menelurusi penampilan Widya dari atas hingga ke bawah.


"Apa aku terlihat aneh?" tanya Widya, mengerucutkan bibirnya menunduk melihat pakaian yang dikenakannya.


Tersenyum cerah, Mila menepuk ringan lengan Widya yang menggandengnya. "Bukan aneh, hanya saja terlihat seperti bukan dirimu saja."


"Sudah kuduga." Widya menghela napas. "Sayangnya Radit si sok tahu itu nggak akan setuju dengan pendapatmu. Baju dan rok norak ini dia belikan khusus untukku. Dia berharap aku bisa menyesuaikan diri dengan orang-orang di desa ini," keluh Widya.


"Berarti kamu memakai pakaian seperti ini karena Radit menyuruhmu?" tanya Mila tergelak.


"Ha! Yang benar saja, Mil. Aku nggak mungkin melakukan sesuatu yang nggak kusukai hanya karena Radit menginginkannya," dengus Widya. "Radit itu nggak punya pengaruh sebesar itu untuk membuatku jadi orang yang diinginkannya. Aku memakai pakaian norak ini agar nggak menarik perhatian orang-orang kepo saja. Kamu tahu sendiri 'kan bagaimana semua orang di desa ini memandangku ketika aku lewat? Karena itulah aku mencoba berdandan ala gadis desa seperti ini. Walaupun itu nggak berhasil." Menghela napas frustasi, Widya menunduk lesu.


"Kasihan sekali," ucap Mila dengan nada yang tidak terdengar iba sedikit pun. "Memangnya siapa yang sudah memergokimu dengan penyamaran yang terlihat sempurna seperti ini?"


"Siapa lagi kalau bukan tukang gosip menyebalkan paling tenar di seluruh desa ini," sahut Widya ketus. "Jangan tersinggung, aku nggak marah padamu." Widya memasang senyum manis kembali di wajahnya.


"Aku nggak tersinggung kok," balas Mila tersenyum. "Malang sekali dirimu. Dari semua orang yang ada, kenapa kamu harus bertemu ratunya para iblis." Gelengnya muram.


"Itulah."


Saling bertatapan, keduanya tertawa secara bersamaan oleh pembicaraan itu. Di ujung jalan keduanya melihat sesosok perempuan yang tidak begitu asing sedang berkendara menggunakan sepeda motor menuju ke arah mereka. Berhenti tidak jauh dari mereka berdua, perempuan itu melambaikan tangan begitu semangatnya pada mereka.


"Astaga, apa yang dilakukannya?" Widya menoleh heran pada Mila yang berdiri di sampingnya.


"Ya apa lagi kalau bukan naik motor," jawab Mila, mengendikkan bahunya.


"Anak Kecebong itu bisa naik motor?" Tunjuknya tak percaya pada Ririn yang duduk santai di atas motornya.


"Aku bisa mendengarmu, Kak Widya," seru Ririn jengkel, garis wajahnya mengerut begitu dalam mendengar nama panggilan yang diberikan Widya pada dirinya.


"Ups, sorry." Menutup mulutnya dengan tangan, mata Widya berkilat mengejek pada Ririn.

__ADS_1


"Hahhh sayang sekali, padahal tadinya aku berniat mengajak Kak Widya naik motor bersamaku untuk berkeliling desa sekaligus mendatangi Bang Radit di peternakannya. Ya sudah aku pergi sendiri saja." Menaikkan standar motornya, Ririn menyalakan mesin motornya kembali.


Berlari cepat ke samping Ririn, lengan Widya menyenggol ringan sikunya. "Eyyy, gitu aja kok marah. Aku cuma bercanda. Nanti aku kasih permen deh."


"Aku bukan anak kecil, Kak Widya."


Secara bersamaan ketiganya tertawa saat Widya mengulurkan satu bungkus permen pada Ririn dengan menggoyang-goyangkan kedua alisnya naik turun.


"Sebelum kita berdua pergi, antarkan aku pulang dulu untuk berganti pakaian. Rasanya risih sekali mengenakan rok panjang ini," keluh Widya, menunduk melihat rok panjangnya. "Kamu naik motor sendiri saja ke rumahku. Aku dan Mila mengikutimu dari belakang dengan berjalan kaki."


"Kayaknya aku nggak bisa deh, Wid. Aku mesti pulang buat bantu ibuku di rumah." Mila menatap sedih pada kedua temannya.


"Yaudah. Kalau gitu, kita jalan bareng aja sampai sekiranya dekat rumah kamu, mumpung aku bawa payung nih." Widya membuka payung untuk menaungi dirinya dan Mila. "Lagian rumah kita searah."


"Oke. Kalau gitu, aku duluan pergi ke rumah Kak Widya, ya." Ririn segera memutar balik motornya dengan lihai.


Teringat sesuatu, Widya menghampiri Ririn seraya menyerahkan kunci rumahnya. "Karena aku berjalan kaki mungkin aku akan terlambat sampai. Jadi, kamu bisa memakai kunci ini untuk membuka pintu kalau aku belum juga datang."


"Oke, siap laksanakan!" Memberi hormat berlebihan layaknya Polisi, Ririn langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


°°


Di lain sisi, Radit yang sudah selesai mengurutkan pinggangnya yang nyeri akibat jatuh dua kali oleh Widya tadi malam, berjalan kembali ke peternakannya bersama Deni yang ikut bersamanya ke tempat Mbah Romlah. Tentu saja, selama perjalanan mereka Deni kembali mengejeknya.


Walaupun ia sudah mengelak berulang kali, dan menceritakan penyebab sebenarnya pinggangnya sakit, semua orang tidak mempercayainya sama sekali. Karena lingkaran hitam di bawah matanya memperkuat dugaan mereka. Padahal Mata Panda ini ia dapatkan akibat tidak bisa tidur nyenyak semalaman.


"Kasih tahu dong, Dit, berapa ronde yang kamu habiskan bersama istrimu tadi malam sampai membuatmu jadi nyeri pinggang begini?" tanya Deni, memberikan tatapan nakal padanya.


"Nggak ada pertanyaan yang lebih berfaedah lagi ya, selain pertanyaan mesum kamu itu," cela Radit cemberut.


Menyenggol lengan Radit, kali ini Deni berbisik kecil dengan nada sekongkol padanya. "Ayolah, Bro, jangan kaku begitulah. Pembicaraan seperti ini sudah menjadi hal yang wajar bagi kaum pria."


"Wajar jidatmu!" cetus Radit. "Sudah aku bilang, nyeri pinggangku ini nggak ada hubungannya dengan hal-hal mesum di kepala kalian semua itu."


"Baiklah, baiklah. Kalau begitu, jelaskan arti lingkaran hitam di bawah matamu itu?" Menaikkan satu alisnya, mata Deni berkilat geli.


Mengatupkan bibirnya menjadi garis tipis, Radit menolak menjawab pertanyaan itu. Yang mengakibatkan ledakan tawa dari Deni terdengar begitu menggelegar di telinga Radit. Baru saja Radit berniat menegur tawa nyaring temannya itu, seseorang berjalan mendekati mereka. Tangannya melambai-lambai pada mereka berdua sambil memanggil nama mereka penuh semangat.


Mengenali orang itu sebagai teman kecilnya, Radit segera berjalan menghampirinya. Ditepuknya punggung temannya itu sekuat tenaga sebagai tanda penyambutan karena sudah lama tidak bertemu.

__ADS_1


"Kapan kamu pulang? Dasar kamu ini ya, sudah nggak datang ke pernikahanku, pulang nggak bilang-bilang lagi." Radit memukul punggungnya lagi.


"Kenapa nggak ada kabar, ke mana aja kamu selama ini? Kok susah sekali buat dihubungin. Apa kamu tersesat di sebuah pulau tak berpenghuni?" tanya Deni mengejek.


"Yah, bisa dibilang begitu. Aku juga nggak menyangka kalau kampung tempat kakek dan nenekku itu nggak ada sinyal sama sekali," gelengnya muram. "Dan mengenai kepulanganku, aku baru pulang kemarin." Dia membalas menepuk Radit di punggungnya. "Aku bukannya nggak mau datang, tapi kondisi nggak memungkinkan aku pulang cepat. Kamu juga sih nggak sabaran, nikah kok


buru-buru kayak dikejar setan."


"Ceritanya panjang. Nanti aku ceritakan kalau ada waktu," sahut Radit, merangkul bahu temannya erat.


"Aku dengar calon istrimu cantik bagaikan dewi. Apa itu benar?" Senggolnya pada sisi tubuh Radit.


"Emang cantik, Lang. Buktinya teman kita ini nggak bisa menahan diri tiap malam," cetus Deni menjawab pertanyaan Gilang pada Radit.


"Nggak bisa menahan diri bagaimana maksudmu, Den?" tanya Gilang kebingungan, tetapi dia melemparkan tatapan nakal pada Radit seperti yang dilakukan Deni padanya tadi.


Dalam sekejap semua kejadian yang terjadi pada Radit hari itu diceritakan Deni semuanya pada Gilang hingga ke detail-detailnya sekaligus. Bahkan dia berbisik kecil pada Gilang di hadapan Radit dengan ekspresi penuh sekongkol.


Selesai mendengar keseluruhan cerita itu, Gilang juga ikut-ikutan menggoda Radit seperti yang lainnya. Dongkol diejek terus-menerus, Radit berjalan cepat meninggalkan mereka berdua. Yang tentu saja diikuti oleh keduanya.


Setelah beberapa lama, arah pembicaraan mereka berganti ke topik lain. Dengan penuh minat, Radit juga ikut mendengarkan pembicaraan itu sambil terus berjalan.


"Hei, apa kalian tahu, tadi aku bertemu seorang Bidadari cantik di Gudang Buku lho," kata Gilang, tersenyum penuh arti.


"Hah? Bagaimana mungkin di desa kita ini ada Bidadari. Selama aku tinggal di sini aku belum menemui cewek cantik seperti itu, kecuali kalau yang kamu temui itu istri dari Radit, mungkin aku akan mempercayainya," celetuk Deni, mendengus tak percaya.


"Tentu saja itu bukan istri Radit. Aku yakin itu. Penampilannya nggak seperti gadis kota seperti yang semua orang bicarakan tentang istri Radit. Gadis itu mengenakan pakaian seperti para gadis di desa ini, dan jujur, ini pertama kalinya aku melihat perempuan secantik itu." Mendongak menatap langit, Gilang tersenyum mengingat wajah gadis cantik yang ditemuinya tadi.


"Apa kamu tahu namanya?" tanya Radit ikut menimbrung.


"Sayangnya dia nggak memberitahuku." Gilang tertunduk lesu. "Tapi tenang saja, Mila kelihatannya berteman baik dengannya." Matanya berbinar-binar menatap mereka berdua.


"Aku jadi penasaran sama tampang itu cewek," ujar Deni penasaran.


Menyetujui perkataan temannya itu, Radit menganggukkan kepalanya.


"Nanti deh kalau aku ketemu lagi sama itu cewek, aku bakalan kenalin dia sama kalian." Gilang merangkulkan tangannya pada pundak Radit dan Deni di kedua sisi tubuhnya.


Melanjutkan perjalanan mereka lagi, dari kejauhan Radit melihat temannya yang bernama Dimas berlari ke arah mereka dengan napas memburu. Setelah mengambil napas secara perlahan, dia menyampaikan berita besar pada mereka bertiga.

__ADS_1


"Hai, Lang," sapanya terlebih dahulu pada Gilang. Mengalihkan pandangannya pada Radit, tatapan matanya terlihat cemas. "Ada kabar buruk, Dit." Jeda sejenak. "Istrimu dan adikmu kecelakaan. Mereka mengalami tabrakan di persimpangan dekat peternakanmu, dan...."


Sebelum temannya Dimas menyelesaikan kalimatnya, Radit sudah melesat pergi meninggalkan mereka semua. Perasaan panik menjalari sekujur tubuh Radit, yang ada di pikirannya sekarang hanyalah segera pergi menemui istri dan adiknya, dan berharap keduanya tidak terluka parah.


__ADS_2