Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Pengakuan


__ADS_3

Mendelik marah mendengar balasan ejekan Radit terhadap dirinya, Widya dengan sengaja menghujamkan kukunya di sisi leher Radit yang dirangkulnya. Sayangnya, hal itu tidak membuat Radit menjerit kesakitan seperti yang diharapkannya, melainkan dia meremas kuat lengan Widya sebagai tanda dia sangat tidak menyukai apa yang dilakukan Widya terhadap lehernya.


Tidak menyerah sampai disitu saja hingga mendapatkan respon yang diinginkannya, Widya sekuat tenaga membuat dirinya sekaku mungkin dalam gendongan Radit. Ia ingin Radit kecapekan menggendongnya sampai ke rumah mereka. Dan, tindakannya kali ini mendapatkan perhatian dari suaminya itu.


Berhenti sejenak di tengah jalan, Radit menunduk menatapnya. Air mukanya terlihat gelap saat tatapan matanya bertemu pandang dengan Widya yang membalas balik melotot padanya.


"Lakukan itu lagi, maka kamu akan mendapati tubuh kecilmu ini kulemparkan seperti sekarung beras di atas pundakku," ancamnya, mengertakkan giginya.


Sadar itu bukanlah sekadar ancaman belaka, Widya langsung merilekskan postur tubuhnya. Akan tetapi, sebelum melakukan itu ia melemparkan tatapan murka pada Radit yang kembali melanjutkan perjalanannya. Ia sangat tahu kapan harus mengalah. Karena jika ia tidak menuruti perkataan suami barbarnya ini, ia akan sangat dipermalukan di depan tetangganya nanti.


Setelah sampai di rumah mereka, Radit menurunkan Widya dengan perlahan ke lantai teras rumah mereka untuk mengambil kunci di saku celananya. Membuka pintu, dia memapah Widya masuk ke dalam. Segera setelah pintu menutup, Widya langsung melepaskan pegangan Radit dari lengannya.


"Nggak perlu berakting sok baik lagi, sekarang sudah nggak ada yang melihat," ucap Widya ketus. "Aku bisa mengurus diriku sendiri."


Mengabaikan perkataannya, Radit menyeretnya ke tempat wastafel berada untuk membersihlan luka goresan di belakang sikunya.


"Aku bisa melakukannya sendiri!" ronta Widya melepaskan pergelangan tangannya dari Radit.


Mencengkram lengannya kuat, Radit tetap memaksa membersihkan luka Widya. "Jangan melawan! Aku hanya membantumu."


"Tapi, aku nggak membutuhkan bantuanmu sama sekali," cetus Widya merengut kesal.


"Sayangnya, aku perlu membantumu, kalau nggak, aku nggak akan tenang," ujar Radit balas merengut.


"Apa maksudmu? Aku nggak mengerti sama sekali," sahut Widya mengernyit.


Radit tidak menjawab pertanyaan Widya, dia hanya fokus membersihkan luka Widya dengan sangat berhati-hati agar tidak menyakitinya. Setelah selesai membersihkan luka itu dari pasir-pasir yang menempel di kulitnya, Radit menggiringnya ke sofa dan menyuruhnya duduk diam di sana selagi dia pergi mengambilkan sesuatu di laci lemari samping televisi mereka. Tidak berapa lama kemudian, Radit kembali dengan membawakan sebuah kotak lumayan besar yang berisikan berbagai macam obat-obatan serta alat untuk membersihkan luka.


"Kemarikan tanganmu!" pintanya, mengulurkan tangan.

__ADS_1


Menurutinya tanpa protes, Widya memperhatikan Radit dengan saksama. "Kamu nggak perlu melakukannya, aku bisa melakukannya sendiri."


"Aku meragukannya. Kamu nggak akan bisa membersihkan dan memperban lukamu ini seorang diri. Kalaupun bisa, kamu hanya akan membalutnya dengan sembrono," ujar Radit tanpa menatap Widya sama sekali. Tatapan matanya tetap fokus pada luka di belakang siku Widya.


"Aku nggak mengerti sama sekali dengan sikap perhatianmu ini. Padahal 'kan di rumah ini hanya ada kita berdua. Jadi, nggak ada gunanya kamu bersikap sebagai suami baik seperti ini."


Kali ini ucapan Widya mendapatkan perhatian Radit, matanya menghunjam begitu dalam ketika menatap Widya penuh keheningan. Beringsut tak nyaman di tempat duduknya, Widya memalingkan wajahnya demi menghindari tatapan itu.


Namun, tangan Radit menangkup dagu Widya agar kembali melihat ke arahnya.


"Memangnya kamu pikir kekhawatiranku tadi hanyalah akting di luar sana?" tanyanya dengan nada suara yang begitu serius. "Aku ini bukan seperti kamu yang bisa berakting begitu bagusnya saat orang melihat. Aku tadi benar-benar khawatir padamu. Kamu nggak tahu saja betapa terkejutnya aku saat mendengar kabar kecelakaan dirimu dan Ririn dari temanku."


"Apa kecelakaan? Jangan konyol, kami hanya terjatuh! Omong kosong dari siapa kamu mendengarkan kabar itu?" dengus Widya. Berlawanan dengan ucapannya yang mengejek, nada suaranya terdengar bergetar di telinganya.


"Aku belum selesai dengan ucapanku." Radit meremas pelan dagunya. "Saat aku tahu kamu hanya terjatuh dari motor bersama Ririn, aku tetap saja nggak menyukai mendapati kamu terluka. Melihat apa yang menjadi milikku terluka seperti ini," ditunjuknya luka goresan yang meleceti kulit Widya, "membuatku ikut sakit juga. Aku harap kamu nggak berkendara bersama Ririn lagi."


Mendengarkan pengakuan menggebu-gebu seperti itu dari Radit, untuk sesaat Widya tidak tahu harus merespon seperti apa. Rasanya begitu aneh dan mendebarkan. Lalu Widya tertawa canggung sambil menepuk pelan lengan Radit, ujung mulutnya berkedut memaksakan sebuah senyuman di bibirnya.


Tanpa menggubris lelucon payah itu, Radit kembali pada tugasnya membalut luka Widya yang sudah selesai dibersihkannya. Lega oleh sikap diam Radit yang tidak berniat merespon leluconnya, Widya dengan santai menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


Sembari memejamkan matanya, ia mendengar Radit mengembalikan kotak yang dibawanya tadi ke laci lemari samping televisi. Lalu dirasakannya Radit kembali duduk di sebelahnya. Tanpa membuka matanya sekalipun, ia sangat mengetahui kalau sekarang ini Radit sedang menatap dirinya dalam diam.


Apa lagi yang diinginkannya dariku?


Masih memejamkan matanya, Widya menolak untuk menatap suaminya itu. "Apa yang kamu lakukan? Apa kamu nggak berniat kembali ke pekerjaanmu?"


"Tatap aku, Widya." Nada suaranya terdengar kaku di telinga Widya.


"Untuk apa? Bicara saja, aku bisa mendengarmu," tolak Widya tak acuh.

__ADS_1


"Lepas pakaianmu!" suruhnya blak-blakan.


Kedua mata Widya seketika membuka mendengar permintaan tak terduga itu, dipalingkannya wajahnya menghadap Radit. Mungkin karena ekspresinya menunjukkan rasa kengerian, Radit menjelaskan maksud perkataannya.


"Nggak perlu takut seperti itu. Aku hanya ingin memastikan kalau tubuhmu nggak mendapatkan luka memar," ujarnya menenangkan Widya yang sudah terlanjur panik.


"Aku bisa mengeceknya sendiri, kamu nggak perlu repot membantuku mengeceknya." Menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, Widya beringsut menjauh dari Radit yang duduk begitu dekat dengan dirinya.


"Nggak perlu malu, kita ini sudah menikah," bujuknya, mendekati Widya kembali.


Merentangkan tangannya di kedua sisi sofa, Radit memerangkap Widya supaya tidak bisa pergi darinya. Matanya berbinar nakal saat menyusuri tubuh Widya. Sikapnya itu terlihat layaknya predator yang siap menerkam incarannya. Wajahnya kian mendekat dengan senyuman penuh arti ketika memandang Widya yang bergidik ketakutan di bawahnya.


"Kamu tadi bertanya padaku, dari mana aku mendapatkan kalimat puitis itu, 'kan? Sekarang aku akan memberitahukannya padamu," bisiknya parau di telinga Widya.


"Aku sudah nggak peduli lagi dari mana kamu mendapatkan kalimat itu. Jadi, menjauhlah dariku! Kamu membuatku nggak nyaman, baumu seperti orang yang habis diurut," dorong Widya keras.


"Ah! Bau ini, ya? Ini aku dapatkan karena tendangan mautmu tadi malam." Menarik kerah bajunya, Radit mengerutkan hidungnya mencium bau yang menempel di bajunya.


"Maafkan aku. Aku nggak tahu kalau tendanganku bisa membuatmu salah urat." Melemparkan tatapan menyesal, Widya kembali mendorong dada Radit. "Menyingkirlah! Sudah cukup aku mendapatkan luka karena jatuh dari motor hari ini, jangan lagi kamu tambah dengan membuatku sesak napas dengan cara mendesak tubuhku di bawahmu."


Mengangkat tubuhnya menjauh, Radit membantu Widya bangun dari posisinya yang berbaring di sofa.


"Maafkan aku. Aku nggak berniat membuatmu sesak napas. Aku tadi hanya berniat menggodamu saja," ucapnya tanpa nada penyesalan sedikit pun.


"Dasar kamu kurang kerjaan, bisa-bisanya kamu menggodaku di saat aku terluka seperti ini," cela Widya dengan bibir mencebik.


"Aku nggak bisa menahan diri, responmu terlalu menyenangkan untuk dilewatkan. Apalagi saat kamu manyun seperti ini." Dijepitnya kedua bibir Widya yang manyun di hadapannya.


"Aish!" tepis Widya pada jemari Radit yang menekan kedua bibirnya. "Berhenti membuatku marah!"

__ADS_1


Mengacuhkan peringatan itu, Radit kembali menjepit kedua bibir Widya. Sebagai balasannya kali ini Widya tidak memukul tangannya seperti tadi, melainkan menggigit pergelangan tangannya sekuat tenaga. Menjerit kesakitan, Radit menatap tak percaya pada bekas gigitan Widya di tangannya.


__ADS_2