Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Kebebasan


__ADS_3

Tidak sanggup menahannya lagi, Widya menyemburkan tawanya. Ririn menyengir oleh ledakan tawa Widya.


"Benar juga sih, hehe. Mungkin, instingku?" tanyanya menduga.


"Insting apaan," ejek Widya.


"Ah, masa bodolah. Pokoknya bagiku Kak Widya adalah Kakak Iparku yang paling The Best," diacungkannya jempolnya menyatakan rasa bangganya. "Kak Nadin nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan Kak Widya."


"Aku nggak mempercayaimu." Usahanya agar terlihat galak gagal total oleh senyuman senangnya.


Mengaitkan tangannya di lengannya, Ririn tersenyum semanis mungkin padanya. "Jadi, sekarang Kakak nggak marah lagi, 'kan?"


Mengacak rambut Ririn, ia menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan adik iparnya itu. Percuma saja berusaha terlihat marah padanya, itu tidak akan berhasil, ia terlalu menyayangi adik iparnya ini.


Ririn memiliki pesona yang tidak bisa dihindari. Dia selalu bisa membuat orang senang dengan tingkah menyenangkannya. Terutama ocehan cerewetnya itu selalu membuat Widya terhibur mendengarnya. Berbeda jauh dengan abangnya yang selalu membangkitkan sisi kekanakan dalam dirinya.


Mau tidak mau Widya mengakui pada dirinya sendiri jika ia memang selalu bersikap kekanakan ketika berhadapan dengan sikap menyebalkan Radit. Tingkahnya yang selalu sok benar itu menantang Widya untuk mengoreksinya. Setiap ada kesempatan ia tidak bisa menahan diri melawan tiap ucapan yang dilemparkan Radit padanya. Kehidupan rumah tangganya ini terlihat seperti pertandingan bulu tangkis, tiap harinya ia selalu saling tangkis-menangkis dengan suaminya itu.


Bingung melihat Widya yang tiba-tiba tergelak, Ririn menatapnya seperti melihat orang gila.


"Jangan menatapku seperti itu! Aku masih waras," tegurnya pada Ririn.


"Aku nggak memandang begitu," elak Ririn.

__ADS_1


"Omong kosong!"


Mereka berdua pun melanjutkan pembicaraan mereka dengan membahas hal lain. Widya sudah mendapatkan banyak informasi yang dibutuhkannya, jadi, ia tidak mau lagi mendengarkan kisah cinta Radit di masa lalu lebih rinci. Jika Radit dan mantannya seumuran, tentunya sekarang mantannya itu sudah menikah. Jadi, ia tak perlu khawatir akan adanya orang ketiga, yang akan tiba-tiba muncul merusak rumah tangga mereka berdua.


Widya tidak ingin memikirkan kenapa ia tidak suka Radit bertemu lagi dengan mantannya itu. Meskipun di lubuk hatinya yang terdalam Widya tahu betul.jika ia agaknya memiliki perasaan yang tidak ingin diakuinya kepada dirinya sendiri ataupun orang lain. Perasaan cemburu hanyalah untuk orang-orang bodoh, yang takut kehilangan pasangannya, dan ia tidak seperti itu.


Ini hanyalah sebuah perasaan tidak ingin berbagi sesuatu yang menjadi miliknya kepada siapa pun. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan emosi bodoh bernama Cemburu.


°°


Sepulang bekerja, Radit tidak sengaja berpapasan dengan teman baiknya, Mila. Sudah lama sekali ia tidak berjumpa dengan temannya itu. Ia merasa jika belakangan ini Mila suka menghindarinya. Setelah ia pikirkan baik-baik, hal ini bermula semenjak dirinya telah menikah dengan Widya.


Radit mengira, mungkin Mila bersikap seperti itu karena tidak ingin orang lain salah paham dengan kedekatan mereka berdua. Meskipun semua orang di desa ini sudah tahu mereka berdua hanya sebatas teman, tentu tidaklah baik terlihat akrab bersama lelaki yang sudah beristri.


Kali ini mereka tidak bisa lagi mengatasi hubungan mereka yang sudah mulai renggang. Akan tetapi, Radit merasa lega bahwa teman masa kecilnya itu bisa akrab dengan Widya.


Melambaikan tangannya dengan canggung, Mila memaksakan senyuman di wajahnya. Radit benar-benar merasa kasihan padanya.


"Kamu sudah pulang, ya? Emm... itu aku," menggaruk kepalanya, Mila terlihat kebingungan harus mengatakan apa lagi agar situasi canggung di antara mereka berdua segera berakhir.


"Nggak perlu canggung gitu, Mil. Kita nggak melakukan sesuatu yang salah, bersikaplah seperti biasanya saja," ucap Radit lembut. "Jika kamu merasa nggak nyaman dengan keberadaanku, aku akan pergi secepatnya dari hadapanmu."


Menatap sendu padanya, Mila tersenyum meminta maaf padanya. "Aku minta maaf kalau sudah menyinggungmu, Dit. Aku hanya belum membiasakan diri saja dengan statusmu yang sekarang. Rasanya akan aneh sekali kalau aku bersikap seperti dulu padamu."

__ADS_1


"Aku paham. Kamu nggak perlu menjelaskannya. Aku tahu, kamu perlu waktu dengan statusku sekarang." Ditepuknya bahu Mila saat melewatinya. "Sampai bertemu lagi."


Radit bisa merasakan kalau saat ini Mila sedang memandangnya dari belakang. Sebenarnya ia sangat merindukan teman periangnya itu, rasanya begitu hampa tidak bisa mendengar tawa riang temannya itu seperti dulu lagi. Kecanggungan di antara mereka berdua sungguh membuatnya frustasi, tapi tidak ada yang bisa dilakukannya. Sekarang ia tidaklah sebebas dulu yang bisa berteman dengan siapa saja, ia sekarang sudah memiliki seorang istri, yang tentunya tidak suka suaminya bergaul dengan perempuan mana pun.


Setibanya di rumahnya, Radit mengetuk pintu, lalu menunggu Widya membukakan pintu seperti biasanya. Ketukannya hanya disambut dengan teriakan Widya dari dalam rumah, jika ia bisa membuka pintunya sendiri. Berpikir istrinya itu sedang sibuk dengan pekerjaan rumahnya, Radit segera masuk ke dalam rumah.


Suasana hatinya yang sudah muram karena bertemu dengan Mila tadi seketika bertambah lebih muram lagi saat melihat pemandangan di dalam rumahnya. Kepalanya serasa berdenyut, mungkin perkataannya kemarin malam akan benar-benar terjadi. Ia akan terkena stroke karena istri pemalasnya ini.


Duduk santai dengan kaki yang dijulurkan ke atas meja, Widya terlihat mengobrol asyik dengan seseorang di ponselnya. Menjepit ponsel dengan sisi wajahnya, dia terlihat sangat serius menghiasi kukunya dengan cat kuku. Lebih parahnya lagi, sekelilingnya dipenuhi dengan remah-remah makanan yang belum dibersihkannya, beberapa bungkus camilannya yang terlihat kosong tergeletak di atas meja.


Dari posisinya berdiri Radit bisa melihat ada beberapa semut yang masuk ke dalam bungkus camilannya itu.


Hal mengerikan apa yang menyebabkan kekacauan di sekitarnya ini? Apa obrolannya segitu pentingnya sehingga membiarkan rumah mereka berantakan seperti ini?


Mengepalkan kedua tangannya, Radit menahan dorongan menggucang-guncang tubuh Widya saat itu juga. Mengertakkan giginya, ia berbicara di antara giginya.


"Apa yang kamu lakukan?"


Merasakan kemurkaan Radit dari nada bicaranya, dengan cepat Widya mengakhiri pembicaraannya di ponselnya. Dia langsung beringsut gelisah di tempat duduknya, lucunya nada bicaranya terdengar tenang, seolah dia tidak melakukan kesalahan.


"Kamu nggak perlu marah begitu. Aku tadi hanya mengobrol dengan tanteku. Sudah lama sekali kami nggak saling kontak."


"Aku bukannya melarangmu mengobrol dengan tantemu atau siapapun, tapi lihatlah kekacauan yang ada di sekelilingmu ini!" Radit merentangkan tangannya supaya Widya sadar dengan kekacauan yang sudah diperbuatnya.

__ADS_1


__ADS_2