Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Karena Gosip


__ADS_3

Saat tiba di rumah, Widya mendapati pintu rumah neneknya dalam keadaan terkunci ketika ia memutar gagang pintu. Sepertinya neneknya sedang keluar rumah. Mengangkat pot bunga yang ada di sebelah pintu, Widya mengambil kunci yang ditinggalkan neneknya. Untunglah kebiasaan neneknya belum berubah. Kalau tidak, Widya terpaksa menunggu neneknya bersama Mila di teras rumah. Setelah membuka pintu, Widya mempersilahkan Mila masuk dan pamit untuk berganti pakaian.


Usai berganti pakaian santai, Widya menyuguhkan Mila minuman dingin dari dalam kulkas.


“Cuaca sedang panas, jadi kita minum ini saja.”


“Nggak perlu repot, Wid. Aku Cuma mampir sebentar kok.”


“Oh iya, terima kasih sandalnya--”


Belum sempat Widya menyelesaikan perkataannya, Mila menyela, “Nggak perlu berterima kasih, Wid. Kamu bisa mengambilnya, aku punya banyak kok sandal seperti itu.”


Seolah tak mendengar perkataan Mila, Widya melanjutkan perkataannya, “… tapi, kamu bisa mengambilnya kembali. Aku nggak membutuhkannya.”


“Oh! Tentu saja. Maaf, aku lupa kamu 'kan kaya. Jadi, kamu pasti punya banyak sandal bagus daripada punyaku.” Wajah Mila merona, merasa malu dengan ucapannya barusan.


Menatap Mila yang duduk canggung di hadapannya, Widya tak habis pikir manusia bodoh seperti ini masih ada. Bukannya merasa tersinggung dengan perkataannya, dia malah meminta maaf. Ini salah satu jenis manusia yang sangat dibenci Widya. Bersikap baik kepada siapa saja tanpa ada prasangka, hanya akan membuatnya terlihat bodoh dan mudah dimanfaatkan.


Merasa kasihan pada Mila yang sedari tadi menunduk menatap tangan di pangkuannya, Widya memulai pembicaraan untuk mencairkan suasana canggung di antara mereka.


“Kulihat kamu sudah kenal lama dengan Radit. Apa kalian seumuran?”


Mengangkat kepalanya cepat, Mila merasa lega dengan pergantian topik pembicaraan mereka.


“Nggak kok, aku lebih muda 7 tahun darinya. Sejak kecil aku selalu mengikutinya, makanya sekarang kami bisa sedekat ini.”


Mengamati ekspresi Mila yang berseri-seri ketika membahas Radit, Widya bisa menebak kalau Mila sangat menyukai Radit.

__ADS_1


“Jauh sekali umur kalian. Biar kutebak, selama kalian akrab pasti kamu nggak pernah sekali pun menganggapnya Kakak, 'kan?”


“Kenapa kamu bisa mengambil kesimpulan seperti itu?" Ekspresi kaget terpancar dari wajah Mila.


“Karena kamu menyukainya,” ucap Widya penuh keyakinan.


Memegang kedua pipinya, Mila merona. “Apa itu terlihat jelas?” Widya mengangguk kecil. “Semoga Radit nggak menyadarinya sepertimu.”


“Aku meragukannya. Mungkin saja, dia menyadarinya, tapi berpura-pura tak tahu. Apa kamu pernah mengakui perasaanmu padanya?” tanya Widya penasaran.


“Sebenarnya pernah. Beberapa tahun lalu, aku mengakui perasaanku padanya. Tapi, seperti yang kuduga, dia hanya menganggapku sebagai adik dan teman saja.”


“Meski ditolak, kamu masih berteman dengannya. Apa kamu nggak sakit hati?”


“Aku sudah menyukainya sejak lama, tentu saja aku sakit hati. Tapi, aku nggak ingin pertemanan lama kami hancur karena perasaan sepihakku, dan aku juga ingin di sisinya terus. Walau hanya sebagai teman.” Mila melemparkan tatapan memelas kepada Widya. “Makanya Wid, kumohon jangan pernah bilang sama Radit tentang hal ini. Aku sudah berjanji padanya untuk menghapus perasaanku. Kalau dia tahu, dia akan menjauhiku lagi.”


Dari teras rumah terdengar suara batuk-batuk neneknya. Neneknya sudah kembali sambil membawa bermacam-macam belanjaan di kantong plastik di kedua tangannya. Widya heran kenapa neneknya masih sempat saja belanja dalam keadaan tak sehat begini. Apa neneknya benar-benar sakit? Seharusnya dia banyak istirahat dan membiarkan Widya saja yang belanja. Bukankah itu tugasnya saat dia dikirim ayahnya ke sini. Mengambil plastik belanjaan dari kedua tangan neneknya, Widya membawa barang belanjaan itu ke dapur.


“Ternyata kita kedatangan tamu, ya. Mila, kamu mau bergabung makan siang bersama kami?” tawar Neneknya, mengajak Mila makan siang bersama.


“Nggak perlu repot, Nek. Aku harus pulang membantu ibu memasak makan siang.” Berdiri cepat dari posisi duduknya, Mila berpamitan pulang. “Sampai ketemu besok, Wid.”


“Dah. Hati-hati di jalan!” Widya melambaikan tangan.


“Nenek senang kamu sudah mendapatkan teman, apalagi orang itu Mila, dia anak yang baik.” Senyum lebar terulas di bibir neneknya. “Ngomong-ngomong, kamu kenapa cepat sekali pulangnya, Wid? Apa kamu ada masalah dengan Radit, seperti kata gosip di luar sana?”


“Gosip?”

__ADS_1


Neneknya menceritakan gosip yang di dengarnya selama dia belanja di warung Ibu Aminah. Membelalakkan matanya, Widya mendengarkan gosip konyol yang diceritakan neneknya dengan perasaan campur aduk. Bagaimana bisa gosip konyol itu bisa tersebar secepat itu, terlebih lagi siapa pula yang menyebarkan gosip tak berdasar seperti itu.


Saat pertengkaran itu terjadi, hanya ada Widya, Mila dan cowok menyebalkan itu di sana. Tidak mungkin, Mila yang menyebarkan gosip konyol itu, dia baru saja pulang dari rumah Widya. Jadi, ini hanya tinggal menyisakan satu orang, yaitu cowok menyebalkan itu. Semakin dipikirkan, itu malah lebih tidak masuk akal lagi. Mana mungkin cowok menyebalkan itu menyebarkan gosip yang tidak menguntungkannya.


Kalau begitu, siapa dan kenapa? Kepala Widya serasa ingin pecah memikirkan dalang gosip konyol ini.


“Wid, Wid, apa kamu mendengarkan nenek? Kenapa kamu melotot begitu, kamu marah sama nenek?”


Mengerjapkan matanya berulang kali, Widya memasang senyum manis di bibirnya. “Nggak kok, Nek. Nggak ada alasan aku harus marah sama Nenek. Aku hanya memikirkan siapa yang sudah menyebarkan gosip konyol itu.”


“Jadi, itu tidak benar?”


“Tentu saja. Kami berdua saling membenci, Nenek. Jadi, gosip konyol yang mengatakan aku menolak Radit itu bohong.”


“Hati-hati, Sayang. Benci dan cinta itu beda tipis.”


“Itu adalah istilah bodoh yang sering aku dengar. Bagaimana mungkin benci dan cinta beda tipis?” cemooh Widya.


“Itu benar. Karena benci kamu jadi sering memikirkannya dan rasa ketertarikan akan muncul dengan sendirinya.”


“Hal itu nggak akan pernah terjadi padaku dan cowok menyebalkan itu, Nenek.”


“Jangan terlalu yakin. Kita nggak pernah tahu apa yang terjadi besok, mungkin saja besok kalian akan menikah.” Neneknya terkekeh membayangkan kemungkinan itu dalam benaknya.


“Nenek, itu tidak lucu!”


Entah mengapa, perasaan tak enak tiba-tiba tumbuh dalam benak Widya. Semoga saja firasat tak berdasar ini bukanlah apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2