
Mengedarkan pandangan pada sekitarnya, Widya menatap penuh rasa bersalah melihat kekacauan yang telah diperbuatnya. Rumahnya terlihat seperti kapal pecah, sampah berserakan di mana-mana, di lantai tersebar remah-remah makanan bekas dirinya dan Ririn saat mengobrol siang tadi.
Awalnya ia berniat membersihkan rumahnya saat Ririn pulang tadi, tapi kedatangan neneknya dan telepon dari tantenya membuatnya lupa perihal tugas rumahnya.
Widya terlalu asyik bercengkrama sehingga lupa untuk membersihkan rumahnya. Belum lagi ia malah menghiasi kukunya dengan cat kuku, yang sekarang masih dalam kondisi belum kering. Mengintip dari balik bulu matanya, Widya melihat sikap tubuh Radit yang begitu kaku, terlihat sekali dia sedang marah besar.
Untuk sesaat Widya merasa terintimidasi, namun ia segera mengendalikan dirinya agar tidak meringkuk ketakutan di sudut kursi. Beranjak berdiri dari tempatnya duduk, dihampirinya Radit dengan berani. Mendongak menatap padanya, Widya berbicara dengan nada setenang yang ia bisa.
"Aku akan membereskan semua kekacauan yang telah kuperbuat, tapi nggak sekarang. Nanti, setelah cat kuku milikku ini kering." Widya memperlihatkan cat kukunya pada Radit, ia melirik gugup pada kepalan tangan Radit di samping tubuhnya.
"Selesai aku mandi, aku mengharapkan semua kekacauan ini sudah selesai dibereskan." Tatapan tajamnya menghentikan Widya membantah ucapannya. "Aku nggak peduli cat kukumu itu akan rusak atau nggak. Ini ulahmu, jadi, kamu harus membereskannya. Suka ataupun nggak," lanjutnya, menatap dingin pada Widya.
Mengalihkan tatapannya pada lengan baju suaminya, Widya menghindar menatap mata Radit yang terihat begitu dingin seperti kutub utara.
"Baiklah. Aku akan membersihkannya, tapi apa kamu bisa membantuku mencuci piring? Nggak banyak kok cuma beberapa gelas," bujuk Widya, memberanikan diri menatap matanya.
"Kita sudah menyepakatinya. Kamu akan mencuci sendiri piring yang telah kamu gunakan. Aku perlu istirahat, jangan memberikanku pekerjaan lagi. Apa kamu nggak punya rasa pengertian? Bukannya membantuku melepas rasa lelah, kamu malah mrnambah rasa lelahku saja."
"Kamu benar. Aku ini memang bukan istri yang pengertian. Sungguh nggak tahu malu sekali diriku ini, berani meminta bantuanmu yang lelah karena sangat sibuk membantu banyak orang," ujar Widya sarkatis.
"Apa kamu ingin memulai pertengkaran denganku, Istriku?" tanya Radit geram.
Memperlihatkan senyuman semenawan mungkin, Widya menepuk lengan baju Radit seolah ada debu di sana. "Mana mungkin, Suamiku. Aku nggak seberani itu. Maaf, jika aku sudah menyinggungmu, aku nggak bermaksud begitu. Sudah sana mandilah, aku akan membersihkan rumah ini secepat mungkin."
Senyuman menawan Widya tidak mempan terhadap Radit karena suaminya tetap menatap tajam padanya. Namun, dengan enggan Radit menuruti permintaan Widya agar pergi meninggalkannya seorang diri membersihkan ruang keluarga.
Memandang muram pada cat kukunya, Widya mendesah sedih. Tidak ada gunanya mempercantik diri, suaminya lebih senang dengan istri yang rajin bersih-bersih daripada istri yang suka merawat dirinya, renungnya muram.
__ADS_1
***
Siang hari berikutnya, Radit turun dari atap rumah Mbah Romlah setelah selesai menambal atap sengnya yang bocor. Di bawahnya, Mbah Romlah membawakan segelas air untuknya. Dia tersenyum berterima kasih pada Radit saat ia mengambil gelas itu.
"Terima kasih, Dit. Mbah nggak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa selain sama kamu. Tinggal seorang diri itu memang merepotkan. Andai saja anak mbah ada di sini pasti mbah nggak akan merepotkanmu."
"Nggak perlu sungkan, Mbah. Selama aku masih bisa membantu, aku akan melakukannya. Lagi pula aku juga sangat berterima kasih atas bantuan Mbah mengurut istriku beberapa waktu lalu. Berkat pijatan Mbah yang hebat itu sekarang istriku sudah bisa berjalan normal lagi," sahut Radit.
"Nggak perlu berterima kasih, itu sudah menjadi tugas mbah. Syukurlah kalau pijatan mbah membuat istrimu cepat sembuh. Kamu nggak perlu berlebihan begitu memuji pijatan mbah," ujar Mbah Romlah malu oleh pujian Radit.
"Aku nggak berlebihan, Mbah. Itu memang benar."
Pembicaraan mereka tiba-tiba terhenti saat Deni--teman sekaligus pekerjanya di peternakan--datang menyerukan namanya dari kejauhan. Napasnya tersengal ketika tiba di hadapan mereka, mengatur napasnya sejenak, dia kemudian menyampaikan ada hal mendesak yang membutuhkan perhatian Radit di peternakan.
Setelah berpamitan dengan Mbah Romlah, mereka berdua pun segera berjalan kembali ke peternakannya.
"Sebenarnya hal mendesak apa yang membutuhkan perhatianku? Terakhir kali aku meninggalkan peternakan nggak ada hal aneh yang terjadi," kata Radit, menolehkan kepalanya pada Deni yang berjalan di sebelahnya.
"Kamu hanya membuatku semakin penasaran saja."
"Oh ya, selama perjalananku ke sini tadi aku mendengar gosip mengenai istrimu."
Langkah Radit seketika terhenti mendengar kabar itu. "Gosip apa lagi kali ini? Meskipun aku sudah lama tinggal di sini, aku selalu takjub bagaimana gosip di desa ini cepat sekali menyebar seperti burung terbang di langit."
"Bukan kamu saja, aku juga merasakan hal yang sama." Deni menolehkan kepalanya, kilatan matanya terlihat gelisah saat menatap Radit. "Mengenai gosip istrimu, sepertinya ini juga akan membutuhkan perhatianmu."
Terdiam sejenak, Deni terlihat agak ragu untuk melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
"Katakan saja," desak Radit tak sabar.
"Aku dengar ada seorang lelaki muda dari kota datang mengunjungi istrimu di rumah, dan mereka berpelukan mesra di teras rumahmu."
Radit mengabaikan hatinya yang serasa panas mendengar kabar itu. "Mungkin itu sepupunya yang datang dari kota."
"Parahnya lagi, aku dengar lelaki itu mencium pipi istrimu!" lanjut Deni. "Kalau dia memang sepupu istrimu, rasanya aneh saja dia seberani itu mencium seorang perempuan yang sudah menikah."
"Bukankah lebih aneh lagi jika istriku membiarkan dirinya terlihat bermesraan dengan lelaki lain saat begitu banyak orang memperhatikan? Gosip itu konyol! Siapa yang sudah menyebarkan gosip tak senonoh seperti itu?" tanya Radit kesal.
"Aku nggak tahu siapa sumber pasti dari gosip perselingkuhan istrimu ini, tapi ada beberapa orang yang bilang, jika Bu Leni menyaksikan kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri," jawab Deni.
"Oh kalau begitu sekarang semuanya jelas. Itu hanyalah gosip omong kosong yang nggak membutuhkan perhatianku sama sekali." Radit segera melanjutkan perjalanannya.
Mengejar langkah kaki Radit yang begitu cepat, Deni segera berjalan di sebelahnya lagi. "Memang omongan Bu Leni itu nggak bisa dipercaya, tapi bukan dia saja yang menyaksikan kejadian itu, Dit. Ada yang mengatakan, ada beberapa orang juga yang menyaksikannya. Walaupun mereka berkata nggak melihat kejadian lelaki itu mencium pipi istrimu sih."
"Cukup sudah pembicaraan mengenai gosip omong kosong ini! Peternakanku lebih membutuhkan perhatianku daripada gosip tak masuk akal itu," seru Radit lantang.
Deni langsung menutup mulutnya serapat mungkin, dia berjalan diam di sebelah Radit. Sepertinya dia sadar kalau mengungkit gosip itu lagi hanya akan membuat Radit semakin marah.
Radit sepenuhnya mempercayai kesetiaan Widya pada pernikahan mereka. Namun, mendengar gosip tentang seorang lelaki datang mengunjunginya tanpa ada Radit di sana membuatnya agak marah.
Siapa sebenarnya lelaki muda yang berani sekali memeluk istrinya di depan banyak orang?
Dengan tak sabar Radit mempercepat langkahnya, ia ingin segera menyelesaikan masalah yang ada di peternakannya agar bisa pulang secepat mungkin.
#TBC
__ADS_1
***NOTE : Sekadar ingin memberitahukan jika Author akan rehat untuk sementara waktu, dan ada kemungkinan cerita ini gak akan berlanjut karna kurangnya antusiasme dari para readers (kalaupun ada😔).
Oh ya gak lupa juga Author ingin mengucapkan terima kasih banyak pada orang-orang yang sudah meninggalkan jejak dan memberikan vote pada Author😁makasih banyak atas dukungannya selama ini, Sampai jumpa lagi di lain waktu~🙋*