
Butuh usaha keras bagi Widya agar tidak menampar wajah yang tidak ingin dijumpainya lagi itu. Padahal ia sudah melupakannya, tapi kenapa lelaki brengsek itu harus muncul di saat ia sedang bersama dengan Radit. Rasanya masih sangat menyakitkan jika mengingat apa yang dilakukan lelaki brengsek itu padanya dulu.
"Sudah lama nggak bertemu, apa kabar?" ujarnya, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Menatap tak peduli pada uluran tangan itu, Widya menelengkan kepalanya seraya makin mengeratkan gandengannya di lengan Radit.
Merasa malu uluran tangannya tak digubris, lelaki brengsek itu berusaha keras memasang tampang pura-pura tidak marah dan sakit hati. Yang sayangnya gagal dia lakukan karena kedua teman lelakinya yang ada di sebelahnya tergelak melihatnya diacuhkan oleh Widya. Ha! Rasakan itu. Bagaimana rasanya dipermalukan di depan orang lain?
Tidak ingin dia saja yang merasa malu, kali ini dia menyerang Widya dengan menyindirnya.
"Kamu nggak mungkin melupakanku, 'kan? Rasanya itu nggak mungkin mengingat kita punya sejarah yang panjang dulu," ucapnya tersenyum picik. "Apa mungkin karena itu kamu nggak mau menjabat tanganku? Ayolah, Wid, itu sudah lama sekali, nggak perlu diingat lagi. Jangan jadi pendendam gitu dong!"
Beraninya lelaki brengsek ini mengungkit hal itu lagi dengannya. Sialan dia! Ya, benar, Widya masih mengingatnya. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan lelaki yang pernah menjadi cinta pertamanya ini. Bahkan ia masih mengingat namanya dengan sangat jelas, Erlangga Pratama Wijaya atau biasa dipanggil dengan sebutan Angga.
Menyebutkan namanya saja terasa begitu memuakkan. Betapa menyebalkannya bagi Widya karena masih mengingat nama lelaki itu dengan sangat jelas. Mungkin ini semua disebabkan perbuatan lelaki brengsek ini padanya di masa lalu sehingga sangat sulit sekali baginya untuk melupakannya semudah itu. Ingatan menyakitkan itu masih terasa segar di ingatannya, seperti halnya ikan yang masih segar ketika dipancing, begitu pula kenangan buruk itu.
4 tahun lalu..
Akhirnya hari ini datang juga. Setelah memendam perasaan selama 3 tahun lamanya, kini lelaki yang sangat disukainya itu akan menyatakan cinta padanya. Semenjak pertama kali Widya melihatnya di lapangan basket, saat itu juga ia jatuh cinta padanya. Tetapi, mereka berbeda kelas, jadi ia tidak bisa melihat lelaki itu lebih sering. Makanya tiap hari ia cuma bisa mencuri-curi pandang pada lelaki itu dari kejauhan, ia terlalu malu untuk menatap wajah lelaki itu dari dekat.
Berbeda jauh dari sikapnya yang suka berbicara blak-blakan, ketika berhubungan dengan lelaki yang disukainya itu, ia akan bersikap begitu pemalu. Meskipun begitu, ia berusaha keras agar lelaki itu menyadari keberadaannya, yang tentunya bukanlah hal yang sulit. Memiliki wajah berparas cantik seperti dirinya ini, tentu saja, akan menarik perhatian ke mana pun ia pergi.
Saat lelaki itu memandangnya untuk pertama kalinya, Widya sangat yakin kalau dia juga terpesona padanya. Sayangnya, rasa terpesona itu tidak membuatnya mendekati Widya atau pun menyatakan cinta padanya. Setiap harinya Widya begitu frustasi ketika lelaki itu hanya mencuri-curi pandang padanya, sama seperti yang selama ini ia lakukan. Kalau begini kapan mereka pacaran? Sepertinya lelaki itu mempunyai sifat pemalu sama seperti dirinya.
Lalu penantian panjang Widya berakhir saat lelaki itu sekelas dengannya ketika ia menginjak kelas 3 SMA. Saat itulah, Widya merasa kalau meteka memang ditakdirkan bersama. Namun, meskipun mereka sudah sekelas, dibutuhkan waktu setengah tahun bagi lelaki itu untuk menyatakan cinta padanya. Ya sudahlah, itu lebih baik daripada lelaki itu hanya diam saja, tidak melakukan apa pun untuk mendekatinya. Kesabarannya selama 2 setengah tahun ini setidaknya berbuah hasil.
Tidak disangka pula, untuk ukuran lelaki pemalu seperti dirinya, dia berani melakukan hal itu di dalam kelas mereka. Meskipun malu dilihat dan disoraki teman-teman sekelasnya, Widya mampu menahannya sebab inilah yang selama ini ia inginkan. Menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, Widya menunggu dengan sabar lelaki itu memberikan buket bunga mawar itu padanya.
Kemudian tanpa diduganya, lelaki itu malah memberikan buket bunga mawar itu pada teman sebangku yang ada di sebelah Widya. Belum cukup sampai di situ, rasa terkejut Widya semakin bertambah saat teman sebangkunya itu meliriknya dengan tatapan mengejek.
"Nah, lihat! Wajah cantikmu itu belum tentu bisa mendapatkan apa pun yang kamu inginkan." Begitulah tulisan kalimat yang terpampang di wajah sombongnya itu pada Widya.
Tidak berhenti di situ saja, rasa terlukanya dipermalukan seperti itu di depan teman-teman sekelasnya ditambah lagi saat lelaki yang sudah disukainya begitu lama ini mengucapkan sesuatu yang lebih menyakitinya lebih dalam lagi.
__ADS_1
"Kamu nggak berpikir bunga ini untukmu 'kan, Wid?" ujar Erlangga, tersenyum mengejek. "Sepertinya selama ini kamu sudah salah paham. Aku nggak pernah menyukaimu sama sekali, dan lagian aku nggak terlalu menyukai cewek sepertimu."
Cukup sudah! Widya tidak akan membiarkan kedua musang ini mengejeknya di atas penderitaannya. Beranjak berdiri dari tempat duduknya dengan memundurkan kursinya dengan kasar, Widya melemparkan tatapan sinis pada Erlangga.
"Siapa juga yang mengharapkan bunga bangkai itu darimu? Memangnya kamu pikir aku juga menyukaimu? Percaya diri sekali kamu, Ha!"
"Jangan berdusta, semua orang di sini tahu kalau kamu selama ini menyukaiku," balasnya, tidak terima Widya mengatainya.
Mengedarkan pandangan pada sekelilingnya, Widya menatap semua orang yang ada di sana sama sinisnya.
"Katakan padaku, wahai makhluk-makhluk sok tahu, apakah selama ini aku pernah mengatakannya secara langsung dengan mulutku sendiri, kalau aku menyukai si kepedean ini!" tunjuk Widya pada Erlangga sembari menunggu tanggapan semua teman sekelasnya.
Tak ada jawaban apa pun, hanya bisikan-bisikan menyebalkan yang mengisi ruangan kelas itu.
"Nah, lihat! Sekarang di sini siapa yang kepedean? " senyum Widya mengejek pada Erlangga. "Kalau kamu sudah selesai denganku, aku akan meninggalkanmu bersama cewek pujaanmu ini. Semoga kalian berbahagia, kalian berdua benar-benar pasangan yang cocok."
Dengan tergesa-gesa Widya menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalannya. Lebih lama lagi di sini, ia akan kehabisan napas. Ia perlu tempat untuk menyendiri.
Mengepalkan tangannya, Widya menahan diri agar tidak berbalik dan menghantam kepala lelaki sialan itu dengan sebuah kursi yang berada di dekatnya. Menarik napas dalam-dalam, selama beberapa saat Widya mencoba meredakan rasa marahnya, sebelum menyahut perkataan itu.
Tanpa membalikkan badannya, Widya berkata dengan nada setenang mungkin, "Tahu apa kamu tentang jalan hidupku? Sebaiknya kamu berkaca dulu, sebelum mengataiku kasar."
Usai menyampaikan hal itu, Widya langsung keluar dari ruangan kelas itu. Lalu selama setengah tahun itu pula, ia menjaga jarak dari semua orang yang ada di kelas itu. Ia benar-benar tidak sudi berteman dengan para munafik itu. Seorang diri lebih baik daripada menghabiskan waktunya berbasa-basi bersama mereka.
Untungnya setelah perdebatan itu, Erlangga tidak lagi mengganggunya, bahkan bisa di bilang dia menganggap Widya seolah tak ada di sana. Baguslah, toh ia juga tidak menganggap dia ada di sana.
Kembali ke masa sekarang, lihatlah tampang tak berdosa lelaki brengsek itu. Setelah menyakitinya seperti itu, berani-beraninya dia menunjukkan wajah musangnya itu di hadapannya lagi.
"Kejadian apa ya yang kamu maksud? Aku nggak mengingatnya sama sekali," bohong Widya, senang melihat lelaki brengsek itu sakit hati kalau dia tak berarti apa pun bagi Widya hingga pantas untuk diingat. "Tentu saja aku mengingatmu, kita 'kan pernah sekelas, bukankah begitu? Mengenai aku nggak ingin menjabat tanganmu, itu nggak ada hubungannya sama sekali dengan hal yang kamu bicarakan. Tetapi, suami pencemburuku ini nggak senang kalau melihatku berjabat tangan dengan sembarang pria."
Dengan cepat, Radit menoleh ke arahnya dengan raut wajah yang mengatakan 'Aku nggak begitu, jangan berdusta!'. Mengabaikan tatapan itu, Widya semakin erat saja menggandeng lengannya.
"Oh, kamu sudah menikah? Aku pikir dia ini pacarmu." Erlangga mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Radit. "Maaf kalau aku sudah menyinggungmu, aku nggak bermaksud begitu."
__ADS_1
"Nggak masalah."
Menarik tangan Radit yang berniat menyambut uluran tangan Erlangga itu, Widya sekali lagi mendapatkan tatapan teguran dari suaminya itu.
"Aku juga maunya begitu, tapi suamiku ini terlalu nggak sabar untuk memilikiku. Jadi ya, seperti yang kamu lihat sekarang." Widya mengangkat bahunya.
"Kenapa kamu nggak mengundangku dan teman-teman kita yang lain? Seharusnya kamu mengundang kami di hari bahagiamu."
"Teman? Aku ragu kalau kalian dulu itu temanku," sindir Widya, tidak bisa menahan nada muak di suaranya. "Kalau aku mengundang kalian, itu hanya akan merusak hari bahagiaku saja."
"Kamu benar-benar nggak berubah ya, masih saja kasar seperti dulu," balasnya, menyindir balik Widya.
"Kamu juga sama, nggak berubah, tetap saja brengsek seperti dulu," balas Widya, tidak mau kalah.
Dalam sekejap mereka berdua saling beradu tatap dengan geram, yang membuat orang yang ada di dekat mereka merasa tidak nyaman.
"Oh iya aku baru ingat, kenapa kamu nggak menghadiri acara reuni kelas kita? Rasanya nggak mungkin kalau kamu nggak mengetahuinya," ucapnya, memasang ekspresi polos di wajahnya. "Astaga! Aku baru ingat. Kamu 'kan nggak bergabung di grup kelas kita."
Dasar brengsek, sekarang dia menyerangnya dengan mengungkit soal dirinya yang tidak ada di grup WA kelas mereka.
Tiba-tiba Widya merasakan otot tegang di lengan Radit ketika mendengarkan sindiran pedas itu ditujukan padanya. Menengandah menatap Radit, ia melihat raut murka di wajah suaminya itu. Kalau ia biarkan, mungkin tidak lama lagi akan terjadi baku hantam di sini. Meremas pelan lengan Radit, ia mencoba memberitahukan pada suaminya itu agar menahan dirinya.
Widya tidak membutuhkan bantuan siapa pun untuk membungkam mulut si musang brengsek ini. Ia sangat mampu untuk melawan ucapan pedasnya.
"Oh soal itu," tawa Widya kecil, bertindak seakan-akan tidak terpengaruh oleh ejekan itu. "Sebenarnya aku pernah diundang masuk grup itu, tapi dalam beberapa detik aku langsung keluar dari sana. Apa kamu nggak melihatnya? Sepertinya nggak, melihat ketidaktahuan bodohmu ini yang mengira aku dikucilkan."
"Apa, bodoh?" geramnya, melotot marah pada Widya.
"Ya, bodoh. Apa lagi sebutannya untuk orang sok tahu sepertimu ini?" sahut Widya, sekuat tenaga menahan Radit bergerak maju. "Asal kamu tahu saja, sejak dulu aku nggak pernah ingin membuang waktuku dengan mengobrol denganmu. Kalau kamu cukup sadar diri, seharusnya kamu nggak mendatangiku. Permisi, masih banyak hal yang harus aku lakukan daripada meladeni obrolan tak pentingmu."
Lalu dengan langkah mantap, Widya melewati Erlangga dan kedua teman lelakinya itu. Rasanya menyenangkan sekali menyaksikan ekspresi terperangah di wajah lelaki brengsek itu.
Yang tidak disadari oleh Widya, diam-diam Radit melemparkan tatapan membunuh pada Erlangga di belakangnya saat dia berniat mengejar Widya. Beruntunglah dirinya memiliki teman pintar, sebab teman-temannya itu menghentikannya untuk menyusul Widya dan menerima tinju dari kepalan tangan yang sejak tadi ditahan oleh Radit di sisi tubuhnya.
__ADS_1