
"Oy, Dit, apa kamu mendengarkanku?" Deni melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Radit.
Menepuk pundak temannya, Radit berjalan melewatinya. "Aku pergi dulu, ada yang harus aku lakukan."
Dengan langkah terburu-buru, Radit meninggalkan Deni. Ia tidak mau mengulur waktu lagi, lambat selangkah saja, mungkin Gilang sudah pergi dari sini sebelum ia menemuinya.
Keluar dari pekarangan peternakannya, Radit hampir saja menubruk seseorang, yang hendak masuk ke dalam peternakaannya. Meraih tangannya sigap, Radit membantu orang itu berdiri tegap.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanyanya pada Nadin. "Sebaiknya kamu pulang saja, aku nggak ada waktu meladenimu."
"Tunggu dulu!" Nadin menyambar pergelangan tangannya. "Aku cuma mau berpamitan padamu."
Ucapannya itu cukup menghentikan Radit saat ia hendak menarik kasar pergelangan tangannya dari Nadin. Apa lagi ini? Sebenarnya ada berapa banyak orang yang ingin mengejutkannya hari ini.
"Kamu sekarang bisa tenang, aku nggak akan pernah lagi mengusik hidupmu," lanjutnya, melepaskan perlahan pegangannya dari tangan Radit. "Setelah beberapa hari ini merenungkan kelakuanku beberapa waktu lalu, akhirnya aku menyadari, seharusnya aku nggak melakukan itu padamu maupun istrimu. Aku sungguh menyesalinya."
Rasanya begitu sulit bagi Radit mempercayai penyesalan Nadin, setelah apa yang telah dia perbuat pada kehidupan rumah tangganya. Akan tetapi, ia tidak bisa memungkiri bahwa ada nada ketulusan di suara Nadin. Bahkan matanya pun menunjukkan rasa penyesalan yang begitu dalam.
Namun, Radit tidak bisa menghentikan benaknya bertanya-tanya, apa gerangan yang mendasari penyesalan mendadak ini dari Nadin. Padahal terakhir kali mereka berjumpa, ia masih ingat begitu jelas apa yang dikatakan Nadin padanya.
Malam itu ketika Radit sedang bertugas meronda, ia dikejutkan dengan kemunculan Nadin saat berjalan begitu angkuhnya menghampirinya, seolah-olah tak pernah ada yang terjadi pada mereka berdua.
Sebelum ia sempat mengatakan sepatah kata pun padanya, ternyata Nadin mendahuluinya. Dia hanya berkata beberapa kata saja, tapi kalimat itu mampu membungkam Radit hingga tak sanggup menyanggah omongannya. Nadin telah membuatnya kebingungan harus merespons bagaimana atas ucapan blak-blakannya itu.
Bahkan, bukan Radit saja yang terperangah oleh perkataan itu. Deni, temannya, yang saat itu sedang bersamanya, juga tidak mampu menyembunyikan reaksi terkejutnya.
Dalam benaknya, Radit masih bisa mendengarkan pengakuan Nadin malam itu.
"Kukatakan satu hal padamu, aku nggak menyesali sama sekali tindakanku terhadapmu hari itu!" Setiap katanya dia tekankan sembari menatapnya tak goyah.
Beberapa patah kata itu saja cukup menjelaskan beberapa hal padanya. Berarti Nadin juga tidak menyesali perbuatannya yang telah melukai Widya. Jika begitu, kenapa dia meminta maaf pada istrinya siang itu? Apa dia sedang bersandiwara demi mendapatkan simpati dari orang-orang?
Meski dalam benaknya dipenuhi banyak pertanyaan, Radit tak sempat menyuarakannya, sebab Nadin telah berjalan pergi meninggalkannya dan Deni, tanpa menengok sekalipun.
Sekarang dia ada di sini. Sekali lagi mengejutkan Radit atas pengakuan tak terduganya ini. Jadi, wajar saja jika ia agak kelimbungan saat mendapatkan kabar kepergiannya ini. Pasti ada suatu hal yang mendasari kepergian mendadaknya ini. Untunglah, setelah beberapa saat Radit mampu memulihkan dirinya.
"Katakan padaku, apa yang menyebabkanmu berubah pikiran seperti ini?" tanyanya, pura-pura memasang raut tak tertarik. "Soalnya terakhir kali kita bertemu, kamu nggak menunjukkan tanda-tanda akan meninggalkan desa ini secepatnya. Malahan aku masih ingat begitu jelas apa yang kamu katakan malam itu."
Rona wajah Nadin seketika berubah kemerahan, seakan-akan dia sangat malu atas sikapnya malam itu.
"Mengenai malam itu, aku juga sangat menyesalinya," lirihnya, menunduk malu. "Aku benar-benar tak tahu apa yang ada dipikiranku saat itu. Bisakah kamu melupakannya?"
Melupakannya? Enak sekali perempuan ini berbicara, setelah dia membuatku selama beberapa hari ini begitu gugup dan takut setiap kali pergi meninggalkan Widya di rumah.
Pengakuannya malam itu cukup membangkitkan bayangan-bayangan mengerikan di kepalanya. Radit sangat takut, apa kiranya yang akan dilakukan Nadin lagi pada kehidupan rumah tangganya.
"Memintaku melupakannya rasanya itu agak...." Radit sengaja tidak menuntaskan perkataannya. "Jujur saja, pengakuanmu malam itu benar-benar membuatku teramat sangat terkejut. Aku nggak tahu kalau kamu memiliki sifat tak tahu malu sebesar itu."
"Aku akui, aku memang bertindak tak tahu malu malam itu, tapi kini aku benar-benar menyesalinya," ucap Nadin, menangkupkan kedua tangannya di wajahnya. "Aku mohon, Dit, lupakan tindakan implusifku malam itu. Aku... aku tak tahu harus berkata apa lagi."
Nadin menengandah menatapnya dengan raut wajah penuh penyesalan. Sepertinya dia benar-benar menyesalinya. Meskipun rasanya mustahil melupakan pengakuan Nadin malam itu saat ini juga, Radit tidak punya pilihan lain selain mengabulkan permintaan putus asanya itu.
"Baiklah, aku mengerti. Tapi setidaknya, jelaskan padaku, apa yang mendasari kepergian mendadakmu ini?"
__ADS_1
Apa kamu janjian dengan Gilang untuk meninggalkan desa ini secara bersamaan? Radit menahan lidahnya mengatakan hal itu.
"Sepertinya tak ada gunanya merahasiakan hal ini darimu. Karena kamu pasti akan mendengarkannya dari orang lain juga," jawab Nadin, melirik gugup padanya. "Dan seperti yang kamu tahu, aku datang kemari juga bukan untuk tinggal di sini selamanya. Walaupun cuti yang kuambil ini memang ha...."
"Bisakah kamu berhenti berputar-putar!" potong Radit kesal. "Langsung saja ke intinya, nggak perlu bertele-tele atau menunda-nunda menjawab pertanyaanku. Aku ini nggak ada waktu mendengarkan cerita panjangmu itu."
"Kamu ini nggak sabaran sekali," gumam Nadin, sengaja mengalihkan pandangan darinya. "Aku akan pergi bersama kedua orang tuaku. Mereka memutuskan akan pergi meninggalkan desa ini... selamanya. Nah, sudah kukatakan!"
Sejenak tidak ada tanggapan dari Radit. Apa yang harus kukatakan? Sepertinya seluruh warga di sini sedang mengadakan acara pindahan secara serempak. Apalagi yang mendalanginya jika bukan hal itu?
"Aku tahu kamu pasti terkejut. Aku sangat memahaminya."
Ya, sangat.
"Sebenarnya kabar kepindahan orang tuaku ini belum ada apa-apanya, jika dibandingkan apa yang akan aku katakan selanjutnya ini," lanjut Nadin, mengulas senyum canggung di bibirnya. "Aku harap kamu mau mengerti setelah mendengarkannya."
Oh Tuhan, apa lagi ini? Belum cukup ia dikejutkan dengan kabar kepindahan beberapa orang dari desa ini, sekarang Nadin mengatakan padanya bahwa ada hal yang lebih mengejutkan dari berita ini.
Radit mengamati Nadin bertambah gugup saat tidak mendapatkan tanggapan apa pun darinya. Dia menggigit bibir bawahnya sembari menengok ke kiri dan ke kanan. Tampaknya hal yang ingin dikatakannya kali ini sangatlah luar biasa sehingga membuat Nadin segugup ini.
"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan. Aku akan mendengarkanmu sebaik mungkin."
Menarik napas gemetar, Nadin menghembuskannya perlahan. "Perlu keberanian yang begitu besar dariku untuk mengatakan hal ini padamu. Sebelumnya, aku ingin meminta maaf dahulu padamu. Kupastikan padamu aku juga baru mengetahui hal ini. Andai saja aku mengetahuinya lebih awal, mungkin aku nggak akan bertindak seperti itu padamu malam itu."
Radit sangat lelah dengan penjelasan berbelit-belit Nadin ini. Ia tak bisa menahan helaan napas jengkelnya, yang tentunya terdengar jelas oleh Nadin. Menyadari ketidaksabarannya, Nadin akhirnya memberanikan diri menjelaskan mkasudnya secepat yang dia bisa.
"Sebenarnya ayahku adalah dalang dari gosip yang menjelek-jelekkan istrimu. Maafkan aku, ini semua salahku!"
Nadin menundukkan kepalanya, takut melihat reaksi Radit setelah mendengarkan pengakuan itu.
Memberanikan diri memandangnya, bibir Nadin gemetar saat melihat matanya.
"Dit, dengarkan aku! Aku tahu saat ini kamu pasti sedang marah besar, tapi...."
"Marah saja nggak bisa menggambatkan perasaanku saat ini," balas Radit dingin.
"Aku mohon, maafkan ayahku. Dia melakukan hal itu karena ingin melindungiku."
"Tapi nggak sepantasnya dia menggunakan cara kotor seperti ini demi melindungimu!" bentaknya, tak kuasa menahan emosinya. "Maafkan aku. Tinggalkan aku sendiri, aku perlu menenangkan pikiranku."
"Radit, dengarkan aku dulu!" Nadin menyambar lengannya lagi. Pancaran matanya terlihat begitu putus asa. "Aku mohon, jangan memarahi ayahku. Kalau kamu ingin marah dan meluapkan emosimu, tujukan saja padaku. Ini semua salahku."
"Aku nggak serendah itu, Nad. Meskipun perilaku ayahmu membuatku geram, aku nggak akan mendatanginya sambil memaki-maki." Perlahan dilepaskan genggaman erat Nadin dari lengannya. "Aku perlu berbicara berdua saja dengan ayahmu. Dia harus menjelaskan padaku, kenapa dia begitu tega melakukan hal ini terhadap istriku."
Tidak mau menyerah, Nadin mencoba menghadang jalannya. Direntangkannya kedua tangannya agar Radit tidak bisa berjalan melewatinya.
"Sudah kukatakan padamu, dia melakukan hal ini demi melindungiku!"
"Walaupun begitu, aku perlu mendengarkan hal ini langsung darinya!"
Radit mendorong pelan Nadin yang menghalangi jalannya.
"Kamu nggak perlu menemuinya! Ayahku sudah mengakui perbuatannya pada semua orang. Jadi, kamu bisa tenang, sekarang istrimu nggak akan lagi mendapatkan kebencian orang-orang di sini."
__ADS_1
Radit tetap tidak menghentikan langkahnya. Hingga Nadin mengucapkan sesuatu yang membuatnya terdiam sesaat di tempatnya.
"Dan kukatakan satu hal lagi padamu, bukan ayahku yang menyebarkan gosip mengenai perselingkuhan istrimu dengan Gilang. Camkan hal itu dalam benakmu, sebelum kamu menemui ayahku!"
Informasi itu sedikit membantu Radit mengenai tindakan apa yang harus dilakukannya sekarang.
**
Perjumpaannya beberapa waktu lalu menemui Gilang tidaklah selancar yang dipikirkannya. Upaya apa pun yang dilakukannya sepertinya tidak pernah membuahkan hasil. Berbagai halangan selalu saja menghentikannya menjumpai teman lamanya itu.
Padahal Radit sangat yakin jika kali ini ia akan menemukan Gilang di rumahnya. Nyatanya dia sedang tak ada di rumah, Lagi. Saat mampir tadi hanya ibunya saja yang ada di sana. Ibunya menyampaikan padanya jika Gilang beberapa jam lalu sedang bepergian bersama ayahnya dan hingga sekarang belum kembali pulang.
Pasrah tidak bisa menemui Gilang lagi, akhirnya Radit memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Selama perjalanannya mencari Gilang tadi, ia sudah memutuskan tidak akan menemui ayah Nadin. Yang terpenting sekarang ini baginya, gosip buruk mengenai Widya sudah menghilang.
Lagi pula ayah Nadin sudah menyesali perbuatannya, jadi, tidak perlu lagi mengungkit masalah ini. Walaupun pasti Widya akan berkata hal lain, jika dia mengetahui fakta ini. Radit yakin istrinya itu akan menemui keluarga Nadin langsung saat mendengarkan berita ini.
Kalau sudah begini, lebih baik merahasiakannya dari Widya saja. Tetapi, jika ia pikirkan baik-baik, rasanya mustahil menutupi hal ini dari istrinya. Walau bagaimanapun dia pasti akan mendengarkan berita ini dari orang lain.
Jantung Radit mencelos saat Widya membukakan pintu di hadapannya. Padahal ia sangat yakin belum mengetuk pintu itu sama sekali. Jadi bagaimana caranya dia tahu kalau Radit ada di sini? Mungkin istrinya ini memiliki indra keenam.
"Kenapa kamu diam saja di situ?" ujar Widya, menelengkan kepala menatapnya heran.
"Bagaimana kamu tahu aku ada di sini, perasaan tadi aku nggak ada mengetuk pintu."
"Dari dalam tadi aku mendengar suara langkah kakimu. Karena kamu belum juga menampakkan dirimu, makanya aku keluar untuk melihat apa yang menghalangimu masuk ke rumah," jawab Widya. "Aku pikir, mungkin kamu mengira pintunya terkunci dari dalam."
Mendorong pelan Widya masuk kembali ke rumah, Radit menutup pintu rumah. "Aku baru tahu kalau selama ini kamu hapal suara langkah kakiku. Dan mengenai kenapa aku belum juga masuk tadi, itu karena aku sedang banyak pikiran."
"Memangnya apa yang kamu pikirkan sampai terdiam bengong gitu di luar? Apa sesuatu telah terjadi di peternakanmu?"
"Peternakanku baik-baik saja," jawab Radit lelah, menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. "Yang nggak baik-baik saja adalah orang di sekitarku. Hari ini aku mendapatkan kabar kepindahan beberapa orang dari desa ini."
"Benarkah?" Widya melompat duduk di sampingnya. "Kalau begitu, kamu sama denganku. Aku juga baru saja mendengar kabar kepindahan seseorang beberapa waktu lalu."
Seketika Radit menjadi waspada. "Siapakah orang itu, kalau boleh aku tahu?"
"Kamu nggak akan mempercayainya. Orang itu adalah Mila."
"Apa?" seru Radit, tidak bisa menutupi rasa terkejutnya. "Astaga, ada apa dengan para warga desa ini."
"Aku maklum dengan keterkejutanmu, aku juga bereaksi seperti itu tadi saat Mila memberitahuku," ujar Widya, bersandar santai di pundaknya. "Omong-omong, kamu belum memberitahuku, siapa orang lain yang akan pergi meninggalkan desa ini juga."
Tubuh Radit seketika menegang. Memberitahukan hal itu berarti ia juga harus menceritakan pada Widya penyebab kepergian mendadak keluarga Nadin dan juga Gilang. Yah, walaupun Radit belum tahu jelas apa penyebab sebenarnya kepergian teman lamanya itu.
Tetapi, Radit bisa menebaknya. Ia menduga itu pastilah berhubungan dengan dirinya dan Widya. Apalagi yang bisa menjelaskan kepergian mendadaknya ini selain Gilang mencoba melarikan diri dari mereka berdua. Itu baru dugaannya saja, belum ada kepastian sebelum ia mendengar langsung dari mulut Gilang.
"Radit, apa kamu mendengarkanku?" Widya mendongakkan kepala menatapnya.
"Hah?" sahutnya kaget. "Oh, maafkan aku. Banyak hal yang memenuhi pikiranku saat ini."
"Lebih baik kamu utarakan isi pikiranmu itu padaku daripada memendamnya sendiri."
"Widya, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu."
__ADS_1
"Mendengarkan namaku disebut olehmu, aku menduga pasti ini sesuatu yang begitu serius," duga Widya, memposisikan dirinya duduk tegap. "Katakan saja, aku akan mendengarkanmu dengan tenang."
Radit kurang yakin akan hal itu. Meskipun begitu ia tetap memberanikan dirinya menceritakan semua kejadian hari ini pada Widya.