
Sudah sejam lebih lamanya Widya duduk bersama Radit di sofa menonton televisi. Awalnya Radit duduk di sofa yang lain, tetapi tidak berapa lama kemudian dia pindah di sofa tempat Widya duduk. Lalu kian lama Widya merasakan Radit semakin mepet duduk mendekatinya. Bahkan bisa dibilang, sisi tubuh mereka sekarang saling bersentuhan.
Merasa tak nyaman dengan kedekatan itu, Widya selalu beringsut menjauh untuk memberi jarak di antara mereka berdua. Semakin ia bergeser, maka Radit akan melakukan hal yang sama juga hingga akhirnya Widya terpojok di ujung tempat duduknya. Tidak bisa menahan rasa jengkelnya lebih lama lagi, Widya memberengut kesal pada Radit yang duduk di sampingnya.
"Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa hari ini kamu bersikap nggak seperti biasanya?" celetuk Widya kesal.
"Memangnya aku biasanya seperti apa?" jawabnya polos.
"Biasanya kamu nggak pernah agresif seperti ini. Apa kamu salah makan atau...." Memicingkan matanya, Widya memasang ekspresi penuh curiga. "Kamu meminumnya!"
"Minum apa maksudmu?" tanya Radit mulai kebingungan.
"Minum obat yang pernah diberikan Pak Sugeng padamu di malam pernikahan kita," jawab Widya yakin. "Aha! Sekarang semuanya jadi jelas, kenapa hari ini kamu bertindak begitu genit setelah kita pulang. Pasti kamu sudah meminum obat yang kusimpan di lemari riasku, 'kan?"
"Kamu ini ngomong apaan sih, aku nggak paham."
"Jangan pura-pura bodoh deh. Memangnya karena apa lagi kamu jadi agresif begini, kalau bukan karena obat sialan itu."
"Imajinasimu terlalu liar. Segitu anehnya kah seorang suami menggoda istrinya sendiri?"
"Ya, aneh," angguk Widya serius. "Kalau itu orang lain mungkin nggak aneh, tapi ini kamu lho, kamu." Widya kembali melayangkan tatapan curiga pada Radit.
"Aku nggak pernah sedikit pun meminum obat itu. Kalau kamu nggak percaya, cek saja sendiri di lemari riasmu," sahut Radit, raut wajahnya menunjukkan perasaan tak bersalah sedikit pun.
Meneliti wajah Radit begitu cermat, Widya mencari tanda-tanda kebohongan dari tatapan matanya. Anehnya, ia merasa jika Radit berkata yang sebenarnya, ekspresi wajahnya sangat tenang, tidak ada kegelisahan sama sekali seperti orang yang berbohong.
Mengingat suaminya itu memiliki sikap berbudi luhur, rasanya tidaklah mungkin jika dia tipikal orang yang suka berbohong, pikir Widya dalam benaknya.
__ADS_1
Lalu kenapa sikapnya hari ini begitu... begitu... Meresahkan?
"Kalau itu benar, kenapa hari ini kamu begitu berbeda?" tanya Widya heran.
"Berbeda, bagaimana?"
"Pertama, kamu memintaku tidur bersamamu. Kedua, kamu selalu mencari kesempatan untuk menyentuhku. Ketiga, kata-kata yang keluar dari mulutmu itu selalu saja hal mesum. Nah, sekarang jelaskan padaku, kenapa kamu jadi begini?"
Menghela napas jengkel, Radit langsung memberikan jawabannya. "Yang pertama, pasangan suami istri tidur bersama bukanlah sesuatu yang sangat aneh. Kedua, apa salahnya menyentuh istriku sendiri?. Dan yang terakhir, aku hanya menggodamu saja. Kamu saja yang terlalu kaku sehingga menanggapinya begitu serius," tatapnya mengejek. "Bagaimana, apa penjelasanku ini menjawab semua pertanyaan konyolmu itu?"
Mengerutkan keningnya, Widya beranjak berdiri untuk berjalan mondar-mandir di hadapan Radit yang masih duduk santai di tempatnya duduk. Menghentikan langkahnya, Widya mengambil remote televisi untuk mematikannya. Setelah itu barulah dia berdiri menghadap pada Radit dengan jarak yang begitu dekat.
"Sekadar mengingatkanmu saja, kita ini bukanlah pasangan suami istri pada umumnya. Apa kamu lupa kalau kita ini menikah karena terpaksa, bukan karena saling mencintai? Jadi, wajar saja sikap agresifmu hari ini membuatku agak gelisah." Menaikkan sebelah alisnya, Widya menunggu tanggapan seperti apa lagi yang akan diberikan Radit padanya.
Ikut berdiri juga, Radit melangkahkan kakinya sekali, dia menutup jarak di antara mereka berdua. Tentu saja hal itu membuat Widya waspada sehingga ia mundur perlahan-lahan agar kembali memberi jarak di antara mereka. Sampai akhirnya Widya merasakan meja di belakangnya menghalanginya mundur lebih jauh lagi saat Radit maju mendekatinya lagi.
Mendorong tubuh Radit dengan kedua tangannya, Widya berusaha menahan Radit agar tidak terlalu dekat dengannya. Sayangnya, hal itu tidak berguna sama sekali. Karena Radit melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang Widya, kemudian menariknya mendekat.
"Apa yang kamu lalukan, apa kamu gila?" Widya menggeliat gelisah, berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Radit yang begitu erat.
Menunduk sedikit, Radit berbisik di telinganya. "Aku nggak pernah sekalipun melupakan penyebab kita terjebak dalam pernikahan yang sama-sama kita nggak inginkan ini. Tetapi, wahai Istriku Yang Polos, aku ini juga seorang lelaki. Melihat istri cantikku setiap hari pastilah ada rasa ingin menyentuhnya."
Selesai menyampaikan kalimat itu, Radit melepaskan pelukannya seraya melengkungkan senyum menggoda di bibirnya.
"Aku... Aku... Emm... Itu aku," jengkel oleh kegagapannya, Widya membelalakkan matanya pada Radit dengan kesal. "Aku mengerti maksudmu, tapi tetap saja aku belum siap melayanimu sebagai seorang istri di tempat tidur. Jadi, berhentilah membayangkan hal-hal mesum di kepalamu itu!" Menyilangkan tangan di dadanya, Widya mengangkat dagunya angkuh.
Tiba-tiba saja Radit terbahak-bahak mendengar pengakuan Widya itu, matanya berkilat geli menatap Widya.
__ADS_1
"Apa yang kamu tertawakan? Aku nggak sedang melucu!" seru Widya marah.
Radit langsung menghentikan tawanya. Walaupun sudut bibirnya terlihat berkedut menahan senyuman, bahkan matanya masih berkilat geli menatap Widya.
"Sebenarnya aku jadi bertanya-tanya, yang mesum itu siapa? Maksudku mengatakan 'Tidur Bersama' itu, kita tidur dalam satu kamar yang sama, bukan kita akan melakukan aktivitas bersama di atas tempat tidurku." Tergelak, Radit kembali tertawa.
Seluruh darah dalam tubuhnya mengalir ke wajah Widya, wajahnya terasa memanas mendengar penjelasan itu. Andai saja ada lubang di bawah kakinya, mungkin saat itu juga Widya ingin terjun ke dalam sana untuk menutupi rasa malunya yang begitu besar.
Widya benar-benar tak mengira bahwa ia telah salah mengartikan ucapan Radit padanya.
Mungkin dia benar, yang mesum di sini adalah aku.
"Tapi, kalau boleh jujur sih, aku nggak keberatan jika kamu menginginkan sesuatu yang lebih, selain tidur denganku," goda Radit.
"Lupakan omongan bodohku tadi. Sekarang ayo tidur!" Tanpa menunggu lebih lama lagi, Widya langsung menyeret Radit untuk mengikutinya ke dalam kamar sebelum dia mengubah pikirannya.
"Kamu ini nggak sabaran sekali," godanya kembali, pasrah diseret Widya ke dalam kamar.
Setelah menutup pintu kamar, nyali Widya kembali menciut lagi saat memandang Radit melemparkan tubuhnya ke atas kasurnya.
"Jangan lupa, matikan lampunya," pintanya. Menarik selimut, Radit langsung bersiap untuk tidur.
Menyadari bahwa Widya masih berdiri membeku di tempatnya, Radit menatapnya keheranan.
"Kenapa kamu malah diam saja di sana?"
"Nggak tahu mengapa, rasanya ini nggak benar," jawab Widya lirih.
__ADS_1
"Mulai lagi ini anak," gumam Radit jengkel. "Cuma tidur doang, apa susahnya sih. Terserah kamu sajalah, aku mau tidur. Besok aku harus berangkat kerja pagi-pagi sekali. Kalau kamu mau berdiri di situ sepanjang malam, silakan."
Membaringkan kepalanya dengan nyaman di bantal, Radit memejamkan matanya tanpa mempedulikan Widya lagi.