
Tak perlu menunggu waktu lama, sesampainya mereka di rumah, Widya berdiri menghadapnya dengan tangan disilangkan, saat ia tengah sibuk mengunci pintu rumah. Memejamkan matanya, Radit bersiap menghadapi amukan istrinya.
Setelah menarik napas panjang, ia membuka matanya kembali untuk memandang Widya. Ia dibuat terkejut saat Widya menarik kerah bajunya sambil menguncang-guncangkan tubuhnya begitu kuat. Sungguh suatu keanehan tubuh sekecil istrinya ini memilki tenaga sekuat itu.
"Berani-beraninya ... berani sekali ... berani sekali kamu membodohiku! Dasar kamu bajing*n paling brengsek yang pernah kutemui." Guncangnya lagi. "Kamu adalah lelaki terburuk di antara yang terburuk. Aku membencimu!"
Ragu-ragu, Radit memberanikan dirinya meremas pelan bahu istrinya.
"Tenangkan dirimu, Wid. Kita bisa membicarakan ini baik-baik."
Menyentak kasar kedua tangan Radit dari bahunya, Widya melotot marah padanya.
"Perset*n dengan sikap tenangmu!" serunya murka. "Jika kamu memang sudah muak denganku, harusnya kamu katakan saja langsung hal itu padaku. Kamu nggak perlu menyelingkuhiku begini."
"Ya ampun, Widya! Aku nggak berselingkuh darimu. Omong kosong apa yang kamu bicarakan ini?" seru Radit. Kali ini giliran dia yang mengguncang tubuh istrinya. "Semua ini hanya kesalahpahaman."
"Kesalahpahaman? Jangan mencoba melucu," dengus Widya, tersenyum sinis padanya. "Semua sudah jelas. Selama ini kamu masih berhubungan dengan mantan sialanmu itu. Aku punya mat, dan aku bisa melihat kalau kamu sangat merindukan mantan menormu itu."
"Aku tahu saat ini kamu sedang dibakar api cemburu, tapi kalau kamu bisa tenang sedikit saja, maka kamu akan menyadari sikap marah-marahmu ini hanya membuang-buang energi," balas Radit meminta Widya agar bersikap logis. "Kalau aku berniat menemui mantanku itu diam-diam, terus untuk apa tadi aku mengajakmu ke reuni ini bersamaku? Tuduhanmu sungguh tak beralasan!"
"Bisa saja 'kan itu salah satu rencanamu. Kamu sengaja mengajakku, yang sejak awal kamu sudah tahu aku pasti akan menolaknya. Akui saja, ini rencana picikmu bersama Betadin sok lugu itu."
"Dia punya nama, Widya. Namanya Nad--"
"Aku nggak peduli siapa namanya," potong Widya, sebelum Radit sempat menyelesaikan ucapannya. "Intinya kamu sudah merencanakan muslihat busuk ini bersama mantan sialanmu itu. Oh, bukan, selingkuhamu lebih tepatnya."
"Widya!"
Kesabarannya sudah mencapai batasnya mendengar tuduhan demi tuduhan yang dilontarkan Widya padanya. Mendorong istrinya ke dinding, ia memaksakan istrinya menatap kedua matanya.
"Tatap mataku! Apa aku terlihat seperti lelaki yang mengkhianati istrinya sendiri? Apa aku terlihat seperti lelaki keji, seperti tuduhan yang kamu berikan padaku?" ucapnya geram, frustasi menghadapi sikap keras kepala Widya. "Mungkin mulut bisa berbohong, Widya, tapi mata nggak bisa berbohong. Aku masih menginginkanmu. Hingga rasanya aku mau gila setiap kali aku melihatmu."
"B-Bagaimana mungkin?" Widya bergetar saat menatapnya, matanya mencari-cari tanda kebohongan di kedalaman matanya. "Aku nggak mengerti. Ini aneh."
__ADS_1
Tak kuasa menatap mata Radit lebih lama lagi, Widya memalingkan wajahnya, dan menolak menatap matanya lagi.
"Widya, dengarkan aku," pintanya lembut, menyentuhkan jemarinya di dagu Widya agar kembali menatapnya. "Katakan padaku, kenapa kamu berpikir aku sedang berselingkuh darimu? Bagaimana bisa pertemuan tak disengaja antara aku dan Nadin bisa membuat otakmu ini memikirkan berbagai macam hal buruk tentangku."
"Itu semua karena kamu nggak pernah menyentuhku lagi," lirih Widya, mengerucutkan bibirnya tak senang. "Wajar saja aku mengira kamu sudah nggak menginginkanku lagi."
Hening. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Radit saat mendengarkan pengakuan itu.
Gelisah tidak mendapatkan tanggapan apa pun darinya, Widya akhirnya memberanikan diri memandang wajahnya kembali. Kemudian, wajahnya mengerut kesal, dia merasa tak senang atas apa yang dia lihat.
"Kenapa kamu malah tertawa? Aku sedang berbicara serius padamu, bukannya sedang melucu," cetus Widya, memukul dadanya kesal.
"Aku nggak tertawa," elak Radit, menangkap kepalan tangan istrinya. "Memangnya aku mengeluarkan suara tawa, nggak 'kan?"
"Mulutmu memang nggak mengeluarkan suara apa pun, tapi matamu terlihat menari-nari. Dan itu, sudah cukup membuktikan padaku, kalau kamu sedang mentertawakanku!"
"Jangan marah, Sayang," bujuknya, memeluk istri mungilnya itu ke dalam pelukannya. "Aku nggak tahu kalau kamu begitu merindukan sentuhan dariku. Andai saja aku tahu, mungkin aku sudah sejak lama menerkammu."
Radit tidak bisa menahan dirinya untuk terkekeh geli. Ternyata saran yang diberikan Deni padanya memang membuahkan hasil. Awalnya ia ragu hal itu akan berhasil, mengingat sikap santai Widya padanya selama ini.
Oleh karena itulah tadi siang kesabarannya sudah mencapai batasnya, sehingga hampir saja ia melahap istrinya ini di gudang buku, seperti seekor serigala yang belum diberi makan selama seminggu. Sampai akhirnya Gilang muncul dan merusak suasana di sana. Betapa ia ingin melemparkan temannya—atau lebih tepatnya mantan temannnya—ke luar pintu lalu mengunci pintu dari dalam supaya tak ada lagi yang mengganggunya.
Namun, jika ia pikirkan baik-baik, ada bagusnya juga Gilang mengganggunya dari pikiran liarnya terhadap Widya. Akan sangat memalukan sekali jika ia kepergok oleh warga lain sedang bermesraan bersama istrinya di gudang buku, di saat yang lainnya tengah sibuk gotong-royong di luar.
Kejadian itu hanya akan memancing skandal baru lagi di keluarganya. Tetapi tetap saja, ia tidak bisa menoleransi sikap sok protektif Gilang terhadap istrinya. Dia seharusnya tahu yang mana bukan miliknya.
"Lepaskan aku, Radit! Aku bisa kehabisan napas kalau kamu memelukku seerat ini," keluh Widya, memukul-mukul punggungnya untuk menyadarkannya dari lamunannya.
"Maafkan aku," ujarnya, mengendurkan pelukannya. "Aku hanya terlalu bahagia. Aku nggak tahu kalau kamu menginginkanku sama besarnya seperti aku menginginkanmu."
"Apa kamu yakin? Mungkin kamu salah orang. Bukankah Betadinmu itu yang kamu inginkan?" sindir Widya, tetap teguh tidak mempercayainya.
"Ayolah Widya sayang, jangan membohongi dirimu sendiri." Radit menyentak Widya mendekat, hingga dada mereka saling menempel. "Kamu tahu siapa yang aku inginkan."
__ADS_1
"Apa yang ka--"
Widya tidak bisa menyelesaikan ucapannya sampai akhir, sebab Radit menyergap bibirnya secepat kilat. Tidak ada ampunan dalam ciuman itu. Semua rasa lapar yang ia pendam selama ini, ia tumpahkan dalam ciuman menggebu-gebu itu.
Dengan susah payah Widya menarik dirinya dari ciuman panas itu.
"Radit ... dengarkan aku. Ini bukan saatnya bagi kita berciuman."
"Ini waktu yang tepat bagi kita untuk berciuman, Sayangku."
Lalu ia kembali memagut bibir Widya. Sejenak ia memberikan ruang bagi Widya untuk mengambil napas sebelum menciumnya kembali.
Meski awalnya melawan, akhirnya Widya menyerah juga terhadap ciuman itu. Sekarang dia sama antusiasnya dengan Radit. Tanpa malu-malu lagi Widya merapatkan dirinya sedekat mungkin padanya seraya mengaitkan lengannya di sekeliling leher Radit.
Ini gila! Jika ia tidak berhenti, maka ia akan melahap istrinya ini di ruang tamu sekarang juga. Ini bukanlah yang ia inginkan. Akan sangat mengerikan bagi Widya jika mereka melakukan hal itu di sini.
Dengan susah payah ia memaksakan dirinya melepaskan dirinya dari ciuman menggairahkan itu. Rengekan protes terlepas dari bibir Widya saat ia menjauhkan tubuh mereka berdua.
Selama sesaat ia membiarkan Widya memulihkan dirinya. Ketika istrinya itu mulai sadar sepenuhnya, ia tidak bisa menahan seringai puas terukir di wajahnya. Yang tentunya, tidak disukai oleh istrinya itu.
"Kamu mempermainkanku!" tuduhnya, memukul-mukul kembali dada Radit.
"Nggak ada yang mempermainkan siapa pun, Sayangku" sahut Radit, menangkap kedua tangan istrinya. "Kita akan melanjutkan apa yang kita lakukan beberapa hari yang lalu di kamar. Bukan di sini."
Usai mengucapkan hal itu, Radit membopong Widya dan berderap cepat ke arah kamar mereka.
"Apa yang kamu lakukan? Turunkan aku!" Widya meronta-ronta dalam gendongannya. "Kita masih belum selesai dengan pembicaraan kita berdua tadi."
"Menurutku kita sudah selesai membicarakan hal itu. Kita sama-sama saling menginginkan. Nggak ada orang ketiga, hanya kita berdua," tegas Radit, menutup pintu kamarnya dengan tendangan kakinya. "Sekarang nggak ada lagi yang perlu dijelaskan. Kita akan berbicara melalui bahasa tubuh saja sekarang."
Kali ini Widya berhenti meronta-ronta dalam gendongannya. Dia hanya bisa terdiam membisu menatapnya sambil menelan ludah.
Ya, sekarang saatnya bagi kita menyelesaikan apa yang selama ini tertunda.
__ADS_1
Dengan pemikiran itu, Radit membaringkan Widya perlahan di atas ranjang mereka berdua.