
Akhirnya Radit bisa bernapas lega. Hari-harinya kini ia lalui tanpa ada masalah yang menimpa rumah tangganya lagi. Walaupun terkadang ia masih belum bisa melepaskan kewaspadaannya.
Ada kalanya Radit berpikir, ketenangan ini tidak akan bertahan selamanya. Meskipun sekarang dua sosok yang telah mengganggu kehidupan rumah tangganya belum lama ini sudah pergi belum lama ini, ia merasa, jika sedikit saja ia lengah, maka bom waktu itu akan meledak di hadapannya.
Sejujurnya, Radit agak merasakan kehilangan sosok Gilang, teman masa kecilnya. Tetapi ia tidak punya kendali atas keputusan Pak Sugeng terhadap temannya itu. Di satu sisi, ia juga agak merasa bersalah kepada Nadin dan orang tuanya. Walau bagaimanapun ia dan Widya turut andil perihal kepergian mereka dari desa ini.
Namun beberapa waktu lalu, Radit mengetahui jika kepergian keluarga Nadin tidak ada hubungannya dengan gosip yang disebabkan ayahnya. Pesan yang ia dapatkan dari Nadin memberitahukan padanya, jika orang tuanya memutuskan pindah dari desa ini berhubungan dengan masalah pribadinya. Dia menegaskan bahwa Radit dan Widya tidak ikut andil dalam keputusan orang tuanya itu.
Nadin tidak tahu betapa berterima kasihnya Radit atas informasinya itu. Namun ia curiga, kalau mantannya itu sengaja memberitahukan hal ini padanya karena tahu ia memiliki perasaan bersalah terhadap kepindahan orang tuanya.
Jika dipikirkan lagi, ini bukanlah saatnya bagi Radit memikirkan maksud Nadin mengirimkan pesan itu padanya. Yang harus dipikirkannya sekarang adalah bagaimana mengatasi perilaku warga di sini pada istrinya. Mengingat kembali perlakuan acuh tak acuh mereka terhadap Widya membuat suasana hatinya menjadi buruk.
Radit sudah mulai muak memghadapi tingkah laku para warga desa ini. Bagaimana bisa mereka dengan tidak tahu malunya tidak pernah mengucapkan permintaan maaf karena telah mengumbar kebencian terhadap Widya. Alih-alih minta maaf, mereka malah menghindar ketika tak sengaja bersitatap dengan istrinya. Lucu sekali!
Yang lebih membuatnya marah, ada beberapa orang yang masih menyebarkan gosip buruk mengenai Widya. Kali ini gosip mengatakan, kedatangan istrinya ke desa ini hanya membawa petaka. Hal itu mereka yakini saat melihat beberapa orang mulai pindah dari desa ini satu per satu. Bahkan Mila yang dekat dengan Widya pun ikut pergi meninggalkan desa ini. Begitulah gosip yang saat ini masih beredar.
Radit berusaha mengabaikannya. Karena walau bagaimanapun, semua itu tidaklah benar adanya. Akan tetapi, mendengarkan bisik-bisik orang di sekitarnya, kesabarannya sudah mulai menipis. Oleh sebab itulah ia sudah tak segan lagi menunjukkan kejengkelannya kepada para penggosip itu.
Biar mereka tahu seberapa tak sukanya Radit meladeni kemunafikan yang mereka pertontonkan. Jika mereka menginginkan rasa hormatnya, maka mereka juga harus menghormati istrinya. Widya tidaklah seburuk yang kalian pikirkan! Ingin rasanya ia berteriak begitu di telinga para kepala batu itu.
"Apa yang kamu pikirkan sampai membuat wajahmu berkerut menakutkan begitu?" Mila berdiri di hadapannya sambil menelengkan kepalanya. Ia mengamati wajah Radit saksama.
Kemunculan dan pertanyaannya itu, tentu saja, seketika menyadarkan Radit dari lamunannya. Ia mengedip, terkejut mendapati sekarang ini ia sedang berdiri diam di tengah jalan sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
Mengendurkan otot-otot kaku di wajahnya, Radit langsung memasang ekspresi bersahabat.
"Sejak kapan kamu ada di sini?"
"Sejak kulihat kamu berdiri termenung, seperti sebatang pohon di pinggir jalan?" tanya Mila balik. Sudut bibirnya berkedut menahan senyuman. "Ah, bukan! Sejujurnya sebelum itu aku sudah memanggil-manggilmu dari kejauhan, tapi karena tak ada tanggapan aku berlari menghampirimu." Mila mengangkat bahunya. "Dan seperti itulah. Selama beberapa saat aku mengamatimu sedang asyik dengan isi pikiranmu hingga tak menyadari keberadaanku."
Radit tersenyum kecut. "Kuharap kamu bisa memakluminya. Seperti yang kamu ketahui, belakangan ini banyak masalah menimpaku. Jadi, begitulah."
Mila mengangguk. "Aku tahu. Tanpa kamu katakan pun, aku mengetahui isi kepalamu itu selalu dipenuhi oleh Widya." Menghela napas, Mila menepuk pundaknya. "Bersabarlah. Kamu pasti bisa melaluinya bersama Widya."
__ADS_1
"Terima kasih."
Radit dan Mila saling bertukar senyuman, kemudian berjalan bersama.
"Kamu mau ke mana?" tanya Radit, memecah keheningan di antara mereka.
"Sama seperti tujuanmu," jawab Mila.
"Kamu ingin menemui Widya?"
"Ya. Kenapa? Apa kedatanganku akan menganggu kalian berdua?" lirih Mila, melemparkan tatapan sedih padanya.
"Tentu saja nggak!" serunya, melambai-lambaikan tangannya panik. "Kedatanganmu selalu disambut di rumahku."
"Apa kamu yakin? Tampaknya nggak begitu," sahut Mila, menunduk lesu. "Mana ada suami yang senang diganggu saat sedang menghabiskan waktu makan siangnya bersama istri tercintanya."
"Aku bukanlah suami seperti itu!" cetus Radit, tidak tahan mendengarkan prasangka Mila lebih lama lagi mengenai kepribadiannya. "Kamu mengenalku dengan baik, dan tentunya kamu juga tahu, aku bukanlah tipikal orang berpikiran dangkal seperti itu."
Mila mendongak. "Semua orang pasti berubah."
Radit semakin dilanda rasa bersalah saat Mila membuang muka darinya. Ia menjulurkan tangan ingin menyentuh bahu Mila. Lalu ia mengurungkan niatnya dengan menarik kembali tangannya. Ia benar-benar tak mengerti atas sikap Mila yang sangat sensitif ini. Dulu dia tak seperti ini.
Apa tinggal di kota selama beberapa minggu telah merubah sikap teman lamanya ini menjadi seseorang yang sensitif? Radit tak tahu.
"Sebenarnya, jika kita membicarakan soal perubahan. Justru dirimulah yang telah berubah, Mil. Aku sekarang sungguh tak mengerti dirimu," ujarnya, tidak bisa lagi menahan semua isi pikirannya. "Rasanya kamu seperti bukan dirimu lagi semenjak aku mulai menikah. Aku merasa kamu perlahan-lahan mulai menjauh dariku."
Tiba-tiba tubuh Mila berguncang-guncang di hadapannya. Membalikkan badan Mila menghadapnya, Radit semakin dibuat terkejut saat mendapati mata Mila terlihat berkaca-kaca.
Ketika ia hendak mengatakan sesuatu kepada temannya itu, mendadak Mila menyemburkan tawa di hadapannya. Tawanya semakin bertambah saat Mila menatap wajahnya.
Ada apa dengannya? Apa dia mulai mengalami kegilaan?
"Aku nggak gila, Dit," celetuk Mila, mengagetkannya. Lalu dia kembali tertawa lagi.
__ADS_1
Apa selain gila, dia juga bisa mendengarkan suara di dalam benakku?
"Berhenti menatapku begitu!" seru Mila, menyeka air mata di sudut matanya. "Tampangmu sekarang ini benar-benar terlihat konyol sekali."
"Yang terlihat konyol itu justru kamu!" balasnya. "Beberapa detik lalu kamu baru saja menangis, tapi sekarang kamu malah tertawa-tawa seperti orang gila. Jadi sebenarnya, siapa di sini yang konyol?"
"Aku? Menangis? Yang benar saja!" dengus Mila, menggeleng-geleng menatapnya. "Aku tadi nggak menangis. Aku tadi sedang menahan tawaku. Jujur, saja, Aku tak tahu kalau kamu akan selucu ini."
"Lucu? Seingatku, aku tadi nggak sedang melawak."
"Hal lucu nggaklah harus didasari lawakan. Yang membuatmu lucu adalah reaksimu atas sikapku yang pura-pura sedih tadi. Aku nggak tahu kalau kamu bisa tertipu segampang itu oleh sandiwaraku."
"Jadi tadi kamu sedang berakting?" tanyanya, tak percaya sudah kena tipu.
"Jadi kamu baru tahu?" balas Mila, tersenyum mengejek.
Radit menggeleng. "Wah, aku nggak tahu kamu bisa sejahil ini, Mil."
"Aku nggak bisa menahannya. Kamu seriusan banget sih nanggapinnya. Jadi, ya gitu," Mila mengangkat bahunya. "Aku nggak bisa menahan diri menjahilimu."
Radit tidak bisa memarahi Mila, sebab senyuman Mila menular padanya. Lagi pula ini memang salahnya. Akibat masalah demi masalah yamg selalu menghantui rumah tangganya, sekarang ia selalu menanggapi segala sesuatunya dengan serius.
"Omong-omong, bagaimana dengan kepergianmu, Mil? Apa semuanya berjalan lancar?" tanyanya, mengganti topik pembicaraan. "Kudengar Sendi menyalahkan dirinya atas kepergianmu dari desa ini. Apa kamu sudah menemuinya?"
Dalam sekejap wajah Mila berubah murung. "Ya. Aku barusan bertemu dengannya untuk membicarakan masalah kepergian mendadakku ini."
"Apa kamu sudah menjelaskan padanya, kalau masalah kepergianmu ini nggak ada hubungannya dengan dia?"
Radit tidak mampu menahan rasa ingin tahunya. Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Padahal ia tak berniat menanyakan masalah kepergian Mila lebih lanjut. Karena ia tak ingin membuat suasana hati Mila menjadi lebih murung saat membicarakan hal ini.
"Seperti yang kamu tahu sendiri, dia tak menerima penjelasanku ini begitu saja," jawab Mila, memandang jauh ke depan. "Sepertinya dia sudah meyakini dalam dirinya bahwa aku memang merencanakan kepergianku ini karena menghindarinya. Dasar cowok bebal, memangnya dia pikir aku ini hanya memikirkan dia saja apa? Apa begitu susahnya mempercayai soal kepergianku ini memang karena aku ingin melanjutkan pendidikanku di kota."
Mengerjap-ngerjapkan matanya, Radit kaget mendengarkan gerutuan teman masa kecilnya itu. Ternyata teman penyabarnya memang telah hilang. Ia masih belum terbiasa dengan kepribadian baru Mila ini.
__ADS_1
Menyadari tatapan takjubnya itu, Mila menolehkan kepala seraya cengengesan padanya. Setidaknya bukan Radit saja yang sadar atas perubahan drastisnya itu.