Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Perselisihan


__ADS_3

Mengetuk pintu rumah neneknya, dengan perasaan tak sabar Widya menunggu neneknya membukakan pintu. Beberapa puluh detik kemudian--yang terasa sejam baginya--neneknya datang membukakan pintu, dan terkejut melihatnya berdiri di depan pintu sambil memegang kopernya yang begitu besar. Bahkan ia bisa mengetahui dari raut wajah neneknya itu, kalau banyak pertanyaan yang ingin diajukannya pada dirinya. Akan tetapi, neneknya mengurungkan niatnya saat melihat sekitarnya, begitu banyak pasang mata memperhatikan kedatangan Widya ke rumahnya penuh rasa ingin tahu.


Tanpa sepatah kata pun neneknya memberikan celah agar ia bisa segera masuk ke dalam rumah, kemudian langsung menutup pintunya. Menyuruhnya duduk di sofa ruang tamu, beneknya mengambilkan minuman dari dapur lalu duduk di sampingnya sembari menyodorkan segelas air putih ke dalam genggaman tangannya.


"Ceritakan pada nenek, apa yang membuatmu datang sepagi ini sambil membawa koper besarmu itu?" ranyanya, menggerakkan kepalanya merujuk pada koper Widya yang ada di samping tempat duduk.


"Aku kabur dari rumah," jawab Widya gamblang. Jawaban terus terangnya itu membuat neneknya terperanjat di tempat duduknya. "Dengan disaksikan para tetangga dan juga Radit," lanjutnya.


Kali ini neneknya menatapnya penuh keengerian, seolah Widya adalah makhluk mengerikan yang tak dikenalnya. Mulut neneknya terbuka lalu tertutup lagi, kemudian terbuka lagi, seperti ikan yang mengap-mengap saat keluar dari air. Syok oleh penjelasannya, neneknya terlihat kebingungan harus berkata apa padanya. Ditariknya napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, rasa syoknya kini telah hilang, digantikan dengan tatapan tegas yang mengarah pada Widya.


"Nenek tidak tahu apa yang sudah terjadi pada kalian berdua hingga membuatmu mengambil keputusan gegabah seperti ini, tapi ini salah, Sayang. Kamu harus kembali ke rumahmu dan membicarakan masalah kalian berdua baik-baik." Neneknya beranjak berdiri, menariknya agar segera bersiap kembali ke rumah suaminya.


"Nggak ada yang perlu dibicarakan. Semua sudah jelas, Nek. Radit hanya menginginkanku sebagai pembantunya daripada istrinya. Lagi pula dia tak berusaha menghentikanku untuk minggat dari rumah hari ini." Tanpa disadarinya air matanya mulai menetes di kedua pipinya saat mengingat ketidakpedulian Radit tadi.


Menyeka air matanya dengan kasar, Widya berjuang menahan isak tangisnya.


Kaget melihat Widya yang tiba-tiba mulai menangis, nenekbya kembali duduk di samping memeluknya sembari menepuk punggungnya menenangkan. "Jangan menangis, Sayang. Katakan lebih jelas, apa maksudmu Radit memperlakukanmu seperti pembantu?"


Membalas pelukan neneknya, Widya menceritakan penuh emosional perihal masalah mesin cuci yang menjadi keputusannya minggat dari rumah pagi ini.


°°

__ADS_1


Berdiri terpaku di tempatnya, Radit hanya bisa terdiam memandang kepergian Widya yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya. Ia menatap langit teras rumahnya, berharap ini hanyalah khayalannya saja.


Paginya yang indah sudah rusak berkat istrinya yang kekanakan mempernalukannya di depan para tetangga dengan membantah perintahnya. Semua mata yang terarah padanya membuatnya sangat tak nyaman. Membalikkan badan, ia segera masuk ke dalam rumah seraya menutup pintu rumahnya berusaha menghalangi pandangan kasihan dari luar sana.


Berderap cepat ke arah dapur, diletakkannya semua belanjaannya dari pasar dengan kasar. Terdengar suara pecahan dari dalam plastik belanjaannya. Dibukanya plastik hitam yang membungkus beberapa telor di dalam sana. Ya ampun! Inilah akibat emosi mengambil alih dirinya, ia jadi lupa kalau di dalam plastik belanjaannya ada telor.


Terduduk di kursi meja makan, ditangkupkannya kedua tangan di wajahnya. Radit sangat lelah menghadapi semua masalah rumah tangganya yang tak ada habisnya ini. Percuma saja tadi ia berhasil mengelak saat ayahnya bertanya mengenai keributan tadi malam bersama istrinya, sekarang pasti ayahnya akan kembali bertanya padanya tentang aksi kabur yang dilakukan istri pembangkangnya itu. Mungkin seumur hidupnya ia tidak akan pernah merasakan kedamaian dalam rumah tangganya ini.


Kursi yang didudukinya terjungkal ke belakang saat Radit tiba-tiba bangkit berdiri dari kursinya. Tidak ada gunanya bermuram durja seperti ini, ia harus segera menyusul Widya, yang pasti sekarang ada di rumah neneknya. Duduk merenungkan nasib buruknya tidak akan menyelesaikan masalah. Sudah saatnya ia bertindak tegas pada istrinya itu.


Membiarkannya melakukan sesuatu semaunya seperti ini hanya akan membuat Radit terlihat seperti suami yang payah. Ini akan menjadi terakhir kalinya Widya mempermalukannya seperti ini di depan orang-orang. Kali berikutnya ia tidak akan bersikap lunak lagi padanya.


Meskipun di dalam benaknya Radit tidak begitu yakin ini akan menjadi terakhir kalinya Widya bertindak semaunya, terlepas dari ia mengambil sikap tegas untuk mendisiplinkan perilakunya.


°°


"Nenek tahu. Mata pandamu itu memberitahukannya pada nenek," ujar neneknya terkekeh geli. Menepuk punggung tangannya penuh kasih sayang, neneknya menatap sendu. "Ya, tidurlah. Mungkin setelah tidur, pikiranmu akan jernih kembali dan menarik keputusanmu ini."


Menundukkan wajahnya, Widya bergumam pelan. "Aku nggak yakin."


"Hah, kamu ngomong apa, Wid?" Neneknya mendekatkan telinganya.

__ADS_1


"Bukan apa-apa, Nek," jawab Widya, tersenyum manis.


Suara ketukan pintu mengagetkan Widya dan neneknya, memandang satu sama lain, keduanya saling bertanya dalam diam, siapa yang telah datang. Lalu terdengar suara berat yang sudah tak asing lagi baginya, memanggil namanya dari balik pintu.


Beranjak berdiri dari tempatnya duduk, Widya berjalan mondar-mandir, panik mendengar suara Radit memanggilnya. Di satu sisi, ia ingin segera membukakan pintu dan mengomeli suaminya yang terlambat mengejarnya. Namun, di sisi lain ia ingin bersembunyi, kalut suaminya akan melihat matanya yang memerah sehabis menangis.


"Widya, apa yang kamu lakukan? Suamimu menunggu di luar sana," kata neneknya, menyeretnya ke depan pintu. "Selesaikanlah masalah kalian berdua, tak ada gunanya menghindar seperti ini." Neneknya memberi isyarat dengan tatapannya agar ia segera membukakan pintu.


"Maafkan aku, Nek." Menyentak lepas lengannya dari neneknya, Widya berlari ke dalam kamar dan mengunci pintunya dari dalam.


"Astaga, Widya!" seru neneknya. Menghela napas dibukanya pintu untuk menghadap Radit. "Syukurlah kamu sudah datang. Widya ada di dalam kamar, Dit."


"Maafkan kami berdua karena sudah membuat keributan di rumah nenek sepagi ini," sesal Radit, menundukkan kepalanya.


"Nggak apa." Tepuk Nenek Aya di bahu Radit. "Dalam rumah tangga pastilah akan terjadi pertengkaran, entah kamu menginginkannya atau tidak. Apalagi kalian berdua masih pengantin baru, tentunya ada beberapa hal yang membuat kalian berselisih pendapat. Nenek maklum kok. Kalau begitu, nenek akan meninggalkan kalian berdua untuk berbicara empat mata."


"Terima kasih, Nek." Radit menggenggam tangan Nenek Aya lembut untuk menunjukkan rasa terima kasihnya, kemudian segera masuk ke dalam rumah.


Di belakangnya Radit, Nenek Aya menutup pintu pelan untuk memberikan privasi bagi mereka berdua.


Para tetangga yang sedari tadi menguping pembicaraannya dengan Radit langsung berhamburan menghampiri Nenek Aya untuk mengorek informasi darinya. Mereka bertanya secara bersamaan, apa yang sudah terjadi pada rumah tangga cucunya. Mengabaikan rentetan pertanyaan yang tak ada habisnya itu, Nenek Aya berjalan santai menikmati sejuknya udara pagi.

__ADS_1


Nenek Aya tak terlalu khawatir dengan keadaan Widya yang ditinggalkan seorang sendiri bersama Radit di dalam rumahnya. Karena masalah yang mereka hadapi hanyalah masalah sepele. Tentunya masalah ini tidak akan membuat Radit bersikap kasar atas sikap gegabah Widya kabur dari rumah. Cucu menantunya itu pasti bisa menundukkan sifat keras kepala Widya tanpa kekerasan.


__ADS_2