Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Sikap Tak Bersahabat


__ADS_3

Perasaan terluka telah ditipu oleh Radit seperti ini sungguh menyakiti perasaan Widya. Ia tidak menyangka kalau suaminya itu masih berhubungan dengan mantan pacarnya itu. Karena jika mereka tidak pernah saling kontak, tidak mungkin Radit bersikap dingin begini padanya.


Apalagi yang bisa menjelaskan perilaku menjaga jaraknya pada Widya beberapa hari ini, selain karena Radit telah berjanji akan bertemu dengan mantan pacarnya itu diam-diam di acara reuni hari ini. Mungkin dia sudah menyerah pada Widya malam itu, jadi Radit kini memilih untuk kembali ke pelukan mantannya itu.


Berarti kalau begitu, Radit berniat menceraikannya? Sepertinya begitu, kalau mengingat tadi dia sudah melepaskan cincin nikah mereka berdua. Bahkan jika Widya pikirkan baik-baik, kejadian sore tadi di rumah buku mungkin hanyalah khayalannya saja, saat ia mengira Radit akan menciumnya. Justru sebaliknya, mungkin saat itu ia yang berniat mencium suaminya di sana.


Tidak! Ini bukan saatnya untuk merenungkan kebodohan dan aksi tipu muslihat Radit padanya. Yang harus dilakukannya sekarang adalah menyusul suami penipunya itu ke tempat pertemuan rahasianya bersama mantan pacarnya itu. Tentu saja, kalau Radit memang benar akan ke sana, atau itu juga salah satu kebohongannya yang lain pada Widya.


Tunggu dulu! Ini bukan saatnya bagiku untuk menarik kesimpulan gegabah seperti ini. Bisa saja ini hanya kesalahpahaman belaka.


"Kak Widya! Apa Kak Widya mendengarkanku?" panggil Ririn dengan nada suara lelah.


"Oh?" Widya hanya menatap Ririn dengan tampang masih tidak bisa fokus.


"Apa yang Kakak pikirkan sampai nggak mendengarkanku berbicara? Ini bukanlah saatnya untuk melamun, Kak Widya," ujar Ririn, menghela napas frustasi. "Kalau kita hanya terus diam di sini, nanti keburu acara reuni itu selesai."


"Apa perempuan itu sudah menikah?" celetuk Widya, mengabaikan peringatan Ririn.


"Perempuan yang mana?"


Kali ini Ririn yang terlihat tidak bisa fokus, dia memberikan tatapan kebingungan pada Widya.


"Tentu saja si Betadin itu, memangnya siapa lagi?" cetus Widya kesal.


"Namanya Nadin, Kak Widya, bukan Betadin," tegur Ririn.


"Terserah, aku nggak peduli." Widya melambaikan tangannya tak acuh. "Jawab saja pertanyaanku, dia sudah menikah atau belum?"


"Memangnya apa hubungannya status Kak Nadin dengan hal ini?"


"Ririn!"


Suara tak sabar Widya mengurungkan niat Ririn untuk bertanya lebih banyak lagi.


"Setahuku dia belum menikah. Kalau dia sudah menikah pasti seluruh desa ini akan tahu. Aku dulu 'kan sudah pernah bilang kalau kedua orang tuanya ada di sini, jadi nggak mung...."


"Nanti saja cerita panjang lebarmu itu," ucap Widya, memotong ocehan Ririn dengan cepat. "Sekarang kita harus bergegas, waktu kita nggak banyak."


"Aku 'kan sudah bilang dari tadi, tapi Kak Widya tetap aja ngeyel," gumam Ririn, mengerucutkan bibirnya tak senang.


"Tapi, ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan."


"Ya ampun, Kak Widya! Banyak sekali pertanyaan yang ada di kepala Kak Widya itu."


"Ini penting. Bagaimana kamu tahu kalau si Betadin itu...jangan mengingatkanku lagi soal namanya!" tegur Widya, melihat mulut Ririn terbuka untuk membetulkan panggilannya untuk mantan pacar Radit itu. "Dari mana kamu mendengar soal kedatangan perempuan itu? Padahal selama seharian ini aku nggak mendengarkan apa pun dari para warga di sini mengenai kedatangannya."


"Aku ini punya banyak informan di mana pun, Kak Widya. Jadi, mengetahui hal seperti ini bukanlah hal sulit bagiku. Intinya, aku selalu tahu apa yang terjadi di desa ini lebih dahulu daripada orang lain."

__ADS_1


"Aku curiga semua informanmu itu adalah para penggosip tersohor di desa ini," ujar Widya, menyipitkan matanya curiga. "Tapi sudahlah, itu bukan urusanku. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana caranya menyusul Radit secepat mungkin ke sana. Apa kami punya solusi?"


"Sayangnya nggak," desah Ririn murung. "Semua kendaraan yang ada di rumah sedang dipakai oleh Ayah dan Bang Radit. Sekarang di rumah cuma ada sisa sepeda butut yang sudah lama tak terpakai."


"Mungkin aku bisa ke sana dengan berjalan kaki. Tadi kata Radit tempat reuni mereka nggak terlalu jauh dari sini."


"Ya memang nggak jauh. Itu cuma berlaku kalau Kak Widya pergi dengan sepeda motor," sahut Ririn, menatap skeptis. "Kalau Kak Widya ke sana berjalan kaki, yakinlah ketika tiba di sana semua orang sudah pulang ke rumah masing-masing. Kalau jaraknya memang sedekat itu, nggak mungkin Bang Radit ke rumah untuk meminjam motor."


"Inilah kenapa aku dari dulu bilang padanya kalau kami harus punya mobil. Jika begitu 'kan aku nggak akan sepusing ini untuk menyusul si keparat penipu itu," gumam Widya, berbicara pada dirinya sendiri. "Lalu kita harus bagaimana? Apa kita pinjam dari tetangga saja? Oh, nggak, nggak, nggak. Aku nggak punya satu pun tetangga yang aku akrab di sini."


"Itulah sejak dahulu aku sudah bilang untuk mengakrabkan diri dengan para tetangga. Kak Widya sih nggak bisa dibilangin," gerutu Ririn. "Kalau saja Kakak selama ini mendengarkan saranku, kita nggak perlu pusing begini,"


"Oh iya, kita pinjam pada temanmu saja!" seru Widya, tersenyum cerah. "Nah, ayo sana pergi! Aku akan menunggumu di sini sambil bersiap-siap."


Meskipun Ririn menggerutu panjang lebar, setidaknya adik iparnya itu tidak menolak permintaannya. Saat dia baru saja berbelok dari arah rumah Widya, tiba-tiba sesosok yang tak asing melewati depan rumahnya menggunakan sepeda motor. Sebelum motor itu pergi lebih jauh, Widya langsung memanggil sosok yang berkendara di atas motor itu.


Bagaikan bantuan yang turun dari langit, Gilang muncul entah dari mana, menyelamatkan Widya dari krisis ini. Malam ini dia secara kebetulan menampakkan dirinya di depan rumahnya. Karena tidak ingin membuang kesempatan emas itu, makanya Widya tanpa pikir langsung berseru memanggilnya.


Dampak dari seruannya itu, bukan hanya menghentikan Gilang saja, tetapi Ririn juga berhenti tepat di dekat kendaraan Gilang berhenti.


"Tunggu di sana, jangan pergi! Aku perlu mengambil sesuatu," pinta Widya, mengangkat tangannya memberi tanda agar keduanya jangan bergerak sejengkal pun dari sana.


Kemudian ia berlari ke dalam rumah secepat mungkin, mengambil kue kering yang diolahnya kemarin. Ada gunanya juga ia mencoba membuat kue kering itu, kini ia bisa memanfaatkannya. Namun, ia tak mengira kalau kue kering buatannya itu akan digunakannya demi menyusul suami penipunya.


Berjalan kembali ke luar rumah, Widya menghampiri kedua orang yang sedang mengobrol serius itu. Lalu ia menyerahkan kue kering itu ke dalam genggaman tangan Gilang.


Ia tahu sekali mengapa Gilang menyebutnya seperti itu. Sebab kue kering buatannya itu tidaklah sempurna seperti buatannya dengan Ibunya waktu di kota. Kue kering buatannya itu bentuknya sungguh tidak sedap dipandang, bahkan ada beberapa kue yang agak gosong dalam bingkisan itu.


"Mungkin kue buatanku terlihat begitu buruk di matamu, tapi aku bisa menjamin kalau rasanya tidaklah seburuk penampilannya," ucap Widya, tersenyum malu-malu. "Langsung ke pokok permasalahannya saja. Aku memberikan ini padamu, karena aku ingin meminta tolong padamu."


"Baiklah, aku akan menerima pemberianmu ini. Dan soal balasan dari 'kue' ini," ujarnya, mengangkat bingkisan itu. "Aku sudah mendengarnya dari Ririn tadi. Tapi ingat, pemberianmu ini masih belum cukup untuk membalas pertolonganku. Lain kali berikan aku 'kue' yang lebih baik dari ini. Apa kamu keberatan dengan permintaanku?"


"Tentu saja nggak! Kamu tenang saja, kalau aku ada waktu luang lagi, aku akan membuatkanmu 'kue' yang lebih bagus lagi daripada ini," janji Widya. "Sekarang biarkan Ririn mengantarmu ke rumah. Aku harus mempersiapkan diriku, sebelum Ririn kembali."


Usai mengatakan itu, Widya berlari kecil kembali ke dalam rumahnya sembari melambaikan tangannya.


"Sekarang biarkan aku bertanya," ucap Ririn, menolehkan kepalanya kepada Gilang setelah Widya memasuki rumahnya. "Kenapa Bang Gilang ada di sini? Apa Bang Gilang nggak akan datang ke reuni kali ini?"


"Aku nggak ada niat ke sana. Jangan bertanya lagi!" Gilang menghentikan Ririn yang ingin bertanya lebih lanjut. "Cepatlah naik! Ingat ini mendesak, seperti katamu tadi. Selama perjalanan ke rumahku, kamu bisa menceritakan padaku mengenai hal mendesak apakah ini."


"Pass," tolak Ririn, segera duduk di belakang. "Kalau Bang Gilang aja ogah bagi-bagi cerita, aku juga akan melakukan hal yang sama. Nah, ayo jalan!"


Ririn.memberikan aba-aba pada Gilang dengan menepuk pundaknya.


∞ ∞


Setelah tiba di tempat tujuan, Ririn segera meninggalkannya sendiri di sana untuk menyelesaikan urusannya. Kini tibalah saatnya bagi Widya menemui kedua pasangan itu di tempat ini. Malam ini ia sudah berdandan habis-habisan, bahkan ia mengenakan gaun pesta kesayangannya. Hal ini ia lakukan supaya meningkatkan kepercayaan dirinya untuk melabrak perselingkuhan suaminya.

__ADS_1


Biar dia menyesal sudah melepaskan perempuan secantik diriku.


Demi bisa datang ke sini, Widya harus mengatasi rasa ketakutannya menaiki motor bersama Ririn lagi. Adik iparnya itu tidak pernah berubah, dia masih saja begitu liar saat mengendarai sepeda motor. Sepertinya dia tidak terpengaruh sedkit pun perihal kecelakaan yang pernah menimpa mereka berdua dulu. Yah, tidak heran kecelakaan itu memang tidak terlalu parah. Namun, tetap saja ingatan dirinya terlempar dari sepeda motor waktu itu masih terasa begitu jelas di ingatannya.


Walaupun begitu, untunglah mereka berdua bisa tiba dengan selamat di tempat reuni sekolah suaminya ini. Acara reuninya ternyata diadakan di rumah makan yang berjarak sekitar 15 menit dari rumahnya. Di perjalanan mereka tadi, Ririn sempat mengatakan padanya jika para alumni ini selalu mengadakan acara reuni di tempat ini. Mungkin karena ini adalah rumah makan orang tua salah satu teman sekolah Radit, begitulah yang dikatakan Ririn padanya.


Sangatlah mudah menemukan tempat para alumni itu berkumpul. Suara hiruk pikuk mereka menggema dalam rumah makan itu. Mengedarkan pandangannya, Widya mencari suaminya di antara semua orang yang sedang bercakap-cakap ria di sudut ruangan itu.


Lalu matanya menangkap seorang pria berbadan lebih besar dari lainnya, duduk paling pojok di atas bangku panjang itu. Sebelum memanggilnya, Widya terdiam sebentar di tempatnya untuk mengendalikan ekspresi wajahnya. Barulah ia berseru riang memanggil nama suaminya seraya berjalan menghampirinya.


Aha! Lihatlah wajah penipu itu. Dia terlihat kaget sekali dengan kedatanganku.


"Widya, kenapa kamu ada di sini? Bukankah seharusnya kamu ada di rumah?" ujar Radit, menatap kebingungan padanya.


Itulah yang kamu mau. "Tentu saja aku ke sini untuk menemuimu." Kenapa, apa kamu berharap aku nggak ada di sini? "Aku sengaja ingin memberikanmu kejutan."


"Siapa nih, Dit? Istrimu ya?" tanya seorang lelaki penasaran.


"Ini dia nih istri Radit yang cantik itu," sahut seorang lelaki yang ada di sebelah lelaki yang bertanya itu.


"Wow tangkapan yang bagus, Bung," goda seorang lelaki, yang duduk paling ujung dekat dinding.


"Kenalkan dia pada kami dong, Dit. Kami 'kan nggak sempat datang ke pernikahanmu waktu itu, jadi kami belum mengenalnya," pinta seorang perempuan.


Selama beberapa saat semua orang yang ada di sana berbicara secara bersamaan sehingga menimbulkan kegaduhan yang membuat kepala Widya terasa mau pecah. Akan tetapi, ada satu orang yang menarik perhatiannya saat Radit menenangkan teman-temannya yang heboh bukan kepalang itu.


Di seberang tempat Radit duduk ada seorang perempuan berdiam diri menatap kehebohan di sekitarnya dengan tenang. Dia seolah tak terlalu peduli oleh keributan yang disebabkan kemunculan mendadak Widya. Atau bisa dibilang, dia tak terlalu tertarik dengan status Widya sebagai istri Radit.


Seolah merasakan tatapan Widya padanya, perempuan itu melirik ke arahnya, dan matanya sempat bergetar ketika membalas tatapan permusuhan dari Widya. Lucunya lagi, dia bertindak pura-pura tak menyadari kesinisan Widya padanya, dia melengkungkan senyuman bersahabat di wajah munafiknya itu.


"Widya, kenapa kamu diam? Ayo duduk!" tarik Radit pelan pada lengannya.


"Oh, tentu saja," senyum Widya semanis mungkin.


Mendekati tempat duduk Deni yang berada di samping Radit, ia meminta secara tidak langsung pada teman baik suaminya itu agar memberikan ruang padanya. Menyadari permintaan tak terucap itu, Deni segera bergeser sedikit dari tempatnya.


Saat ia sudah duduk di bangkunya, Radit meletakkan jaketnya ke atas kaki Widya yang berada di bawah meja.


"Kenapa dari semua pakaian yang ada kamu harus mengenakan gaun minim ini?" bisik Radit jengkel.


"Ini nggak minim sama sekali. Gaunnya masih di bawah lutut," balas Widya datar.


"Itu tetaplah gaun yang minim. Lihat saja saat kamu duduk, gaun cantikmu ini tersingkap ke atas lutut."


Akting yang sangat sempurna, suamiku. Jangan kamu kira aku akan tertipu oleh sikap protektifmu ini.


"Kamu terlalu berlebihan," sahut Widya, menutup pembicaraan omong kosong itu dengan tatapan matanya saat Radit ingin protes lagi.

__ADS_1


Meski enggan, Radit akhirnya tidak mengeluh lagi padanya mengenai gaunnya. Bukan karena dia mengalah pada Widya, melainkan teman-temannya tidak memberikan kesempatan padanya untuk berbicara secara pribadi lagi padanya. Sifat ingin tahu teman-teman masa sekolahnya itu menyelamatkan Radit dari amukan Widya yang hampir saja meledak.


__ADS_2