Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Mengambil Tindakan


__ADS_3

Sorot mata Radit menyelidik penuh kecurigaan menatap kedua mata Widya. Meskipun matanya dipenuhi dengan air mata tertahan, Radit juga melihat ketakutan terpancar dari kedua bola mata Widya. Saat itu juga ia tahu kalau istrinya itu sedang bersandiwara. Tampak jelas sekali kalau dia berusaha menghindari tatapan tajam Radit yang diarahkan padanya.


Sudah kuduga. Sedari awal ketika Radit melihat keributan ini, ia sudah merasa ada yang aneh. Apalagi saat ia melihat Widya sedang terduduk lemas di tanah dalam keadaan menangis, ia sudah merasa ada sesuatu yang terasa begitu janggal. Padahal belum lama ini istrinya itu terlihat begitu tangguh ketika diserang Tika dan Nita, tetapi anehnya hari ini dia terlihat begitu lemah. Bahkan sampai terjatuh dan menangis tersedu sedan, hanya karena sebuah dorongan, seperti yang tadi didengar olehnya dari bisikan sekelilingnya.


Melirik sekilas pada kerumunan di sekelilingnya, Radit sadar bahwa semua orang sedang memperhatikannya begitu lekat. Mereka sepertinya menunggu Radit dengan penuh antisipasi. Dilema memikirkan harus memihak pada siapa, tiba-tiba dirasakannya genggaman tangan Widya yang begitu kuat mencengkram lengan jaketnya.


Mengembalikan perhatiannya kembali pada istrinya, ia melihat sorot mata penuh permohonan di kedua matanya. Kelihatan sekali kalau Widya ingin Radit tidak membongkar sandiwaranya di depan semua orang yang sedang menonton. Sepertinya dia sadar kalau Radit sudah mengetahui pertunjukan konyolnya yang sedang dilakukannya.


"Buka matamu lebar-lebar, Dit, istrimu ini rubah licik!" seru Nita, menudingkan jarinya pada Widya.


"Jangan teperdaya sama tampang sok lugunya itu," kata Tika, memandang jijik pada Widya.


Sudah cukup! Mendengarkan hinaan terus menerus dari para ular berbisa ini membuat Radit tahu sekarang ia harus mengambil tindakan seperti apa untuk menyelesaikan perkara ini.


"Apa kamu bisa berdiri sendiri?" ucap Radit dengan nada khawatir, meletakkan tangannya pada tangan Widya di jaketnya.


Mengerjapkan matanya, Widya menatap Radit selama beberapa saat. Matanya berkilat senang saat sadar kalau Radit telah memihak padanya, lagi. Menopangkan tangannya di lengan Radit dengan kuat, Widya berusaha berdiri dari tempatnya. Tubuhnya goyah menabrak samping tubuh Radit ketika suara erangan kesakitannya mengisi kesunyian. Semua orang menahan napas, memandang mereka berdua dengan rasa penasaran yang tidak di tutup-tutupi.


"Aw, sepertinya kakiku terkilir," ringis Widya, menatap sedih pada kaki kanannya.


"Pendusta!" seru Tika dengan nada suara melengking tinggi. "Nggak mungkin kamu terkilir. Berhentilah membohongi semua orang dengan dustamu itu!"


"Kenapa kamu menuduhku seperti itu?" ucap Widya, terluka oleh tuduhan yang dilontarkan Tika padanya. "Padahal rasanya baru saja aku bisa berjalan normal, sekarang kakiku terkilir lagi."


Ratapan Widya yang diucapkannya begitu lantang, sengaja dilakukannya agar semua orang di sana bisa mendengarnya. Menahan senyumnya, Radit memaksakan ekspresi serius di wajahnya.


"Ini peringatan terakhirku untuk kalian, aku harap setelah kejadian kali ini kalian nggak akan mengulanginya lagi," kata Radit dengan nada peringatan. "Ketiga kalinya kalian mencari masalah lagi, aku akan membawa kalian pada Ayahku agar kalian sadar perbuatan kalian ini sudah keterlaluan."


Seketika mata Nita terbuka begitu lebarnya, kilatan ketakutan terpancar jelas di kedua matanya. Berbeda halnya dengan Tika, perempuan itu malah terlihat begitu geram oleh peringatan itu. Kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya, matanya berkilat dengan rasa amarah yang begitu besar. Lalu mulutnya siap membuka untuk melawan ucapan Radit, yang kemudian diurungkannya saat Nita menyentuh lengannya ringan dan menggelengkan kepala padanya. Setidaknya temannya itu sadar kalau membantah Radit bukanlah tindakan yang bijaksana.

__ADS_1


Melirik dari balik bulu matanya, Radit melihat sudut bibir Widya berkedut menahan senyuman di wajahnya. Seolah sadar dengan tatapannya, Widya menolehkan kepalanya memandang Radit. Kemudian dia langsung memasang ekspresi memelas seraya bersandar lemas di lengannya dengan sikap manja.


"Jadi?" Radit menukikkan sebelah alisnya dengan nada bertanya.


Lucunya istrinya itu malah ikut menukikkan alisnya kepada dirinya, bertanya dalam diam apa maksud Radit.


Mencondongkan tubuhnya mendekat, Radit berbisik pelan di telinganya, "aku cuma bertanya, apa kamu ingin aku bopong seperti biasanya atau kulemparkan saja tubuh mungilmu ini di bahuku karena perilaku nakalmu."


"Nggak keduanya, papah aku saja," balas Widya, berbisik balik di telinga Radit.


Menuruti kemauan Widya itu, Radit memapahnya untuk berjalan pergi dari para kerumunan yang masih menonton mereka.


"Bagus sekali akting kesakitanmu itu," sindir Radit, berbisik pelan.


"Ini memang diperlukan jika harus mengakhiri sebuah pertunjukan dengan sangat sempurna."


"Dasar kamu penipu ulung, bisa-bisanya kamu melakukan sandiwara terencana seperti itu pada mereka berdua."


"Semuanya sudah terlihat jelas saat aku menatap kedua matamu itu," jawab Radit. "Asal kamu tahu saja, aku melakukan itu bukan karena memihakmu, tapi aku merasa mereka berdua memang pantas dipermalukan seperti itu, mengingat mereka sering melakukan penindasan seperti ini."


Tidak memahami maksud ucapannya, Widya membuka mulutnya untuk bertanya maksud dari ucapannya barusan. Yang sayangnya, tidak sempat ditanyakannya saat Nenek Aya berjalan tergopoh-gopoh menghampiri mereka berdua.


"Nenek dengar Tika dan Nita menyerang kamu lagi?" Nenek Aya mengamati Widya lekat-lekat. "Ya ampun! Apa yang terjadi padamu? Ini nggak bisa dibiarkan, nenek akan berbicara langsung pada mereka berdua."


"Nggak perlu, Nek, aku baik-baik saja. Lagipula kami sudah menyelesaikan masalah ini," ucap Widya, panik melihat kemarahan neneknya.


"Apanya yang baik-baik saja, lihatlah kamu jadi pincang begini!" seru Nenek Aya geram. "Radit tolong rawat Widya baik-baik, nenek mempercayakan dia padamu."


"Tenang saja, Nek, Widya aman bersamaku," angguk Radit.

__ADS_1


"Sekarang pulanglah!" suruh Nenek Aya. "Nenek akan menemui kedua perempuan jahat itu."


Mengelus pipi Widya penuh kasih sayang, mata Nenek Aya sarat emosi ketika memandang cucunya itu. Lalu dia berjalan pergi meninggalkan Radit bersama Widya, memandang kepergiannya yang berjalan layaknya tentara yang siap bertempur di medan perang.


"Nenek!" panggil Widya, berusaha melepaskan diri dari rangkulan Radit. "Apa yang kamu lakukan, kita harus menghentikan nenekku."


"Jangan khawatir. Aku yakin Nenek Aya nggak akan membunuh mereka berdua," ujar Radit tak acuh, memaksa Widya supaya berjalan kembali bersamanya.


Menanamkan dirinya sekuat tenaga dalam pijakannya di tanah, Widya menolak paksaan Radit untuk menyeretnya berjalan ke arah berlawanan dari neneknya. Mulutnya terkatup rapat sembari menatap kukuh pada Radit.


"Seperti yang kamu inginkan, nggak ada pilihan lagi selain melakukan ini," bopong Radit, mendekap Widya erat dalam pelukannya.


"Turunkan aku!" teriak Widya, meronta-ronta liar dalam pelukannya.


"Berhenti meronta-ronta! Berontaklah terus, maka aku akan menciummu tanpa segan di sini, saat ini juga dengan sangat mesra. Aku bersumpah!"


Ancamannya itu, tentu saja, berhasil. Widya dalam sekejap berhenti meronta-ronta dan menutup mulutnya membentuk garis tipis.


"Begini lebih baik," senyum Radit penuh kemenangan. "Mengenai nenekmu, inilah akibat dari sandiwara bodohmu itu, jadi biarkan saja nenekmu menyelesaikan masalah ini untukmu. Dengan begitu Tika dan Nita tidak akan berani lagi mengusikmu. Pertengkaran seperti ini memang membutuhkan pertolongan seseorang yang lebih tua."


"Aku cuma mengkhawatirkan nenekku, aku takut dia jadi sakit lagi karena ulahku ini. Kamu tahu sendiri nenekku itu sudah sangat tua, melihatnya seperti itu menyakitiku," lirih Widya, menenggelamkan wajahnya dalam dada Radit.


"Makanya berhenti membuat nenekmu khawatir. Kamu 'kan tahu sendiri dia sangat menyayangimu, nggak heran kalau dia marah besar mendengar cucunya ditindas oleh seseorang. Jadi, wajar saja kalau dia sampai turun tangan seperti itu."


Menghela napas panjang, Widya mendongakkan kepalanya menatap Radit. "Itu juga mauku, sayangnya warga di sini selalu saja memulai perkelahian denganku. Sungguh menjengkelkan."


"Berlatihlah untuk lebih bersabar lagi dan nggak terlalu menyimpan dendam pada orang-orang yang menyakitimu," ucap Radit lembut.


Radit tidak tahu harus bagaimana menafsirkan tatapan mata yang diperlihatkan Widya padanya, kilatan matanya tak terbaca olehnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Widya menyandarkan kepalanya dengan sangat nyaman di dadanya. Sikap manisnya itu membuat hati Radit terasa membuncah dan membangkitkan berbagai macam pikiran liar di kepalanya. Salah satunya melemparkan tubuh mungil istrinya ke atas ranjangnya dan melakukan sesuatu, yang pastinya akan membuat seluruh tubuh Widya menjadi memerah.

__ADS_1


Menepiskan bayangan menggairahkan itu dari kepalanya, Radit memusatkan perhatiannya kembali pada jalanan yang ada di depannya. Ia tidak ingin membuat dirinya dan Widya jatuh terjerembab karena tidak terlalu memperhatikan jalanan.


__ADS_2