Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Menghindari Keterlibatan


__ADS_3

Selama beberapa waktu yang terasa begitu lama, Gilang dan Radit saling beradu tatap. Kelihatannya mereka berdua punya kemampuan berbicara melalui tatapan mata saja. Begitulah kesimpulan yang didapatkan oleh Widya, ketika dua sahabat itu saling melemparkan tatapan tajam satu sama lain.


Sudah tidak tahan dengan posisinya yang terkukung dalam perangkap Radit lebih lama lagi, Widya mencubit lengan suaminya yang terentang di sisi kepalanya untuk menyadarkannya dari adu tatap dengan Gilang. Kedua orang ini sepertinya akan terus berbicara melalui telepati, kalau ia terus membiarkan hal itu.


Ketika tidak ada respons apa pun dari Radit, barulah Widya ingat jika suaminya itu mati rasa setiap kali ia cubit di otot lengannya yang sekeras batu itu. Kali ini ia sengaja berdeham untuk menarik perhatian suaminya. Namun, bukannya Radit yang merespons dehaman itu, malah sebaliknya, Gilang yang menanggapinya.


"Aku rasa Widya nggak merasa nyaman berada dalam kukunganmu itu. Sebaiknya kamu biarkan dia pergi dari sana," ujarnya, memperingatkan Radit tanpa segan.


"Tahu apa kamu tentang istriku?" balas Radit ketus, menunjukkan rasa ketidaksenangan terhadap sikap sok tahu Gilang padanya. "Justru dia nggak merasa nyaman karena ada kamu di sini. Kalau kamu punya kesadaran diri, seharusnya kamu segera pergi dari sini. Apa kamu nggak melihat, kalau kamu sekarang ini sedang mengganggu kami berdua."


"Aku nggak ada maksud mengganggu kalian berdua, asal kamu tahu saja," balas Gilang, tersinggung oleh sindiran itu. "Aku kemari karena disuruh warga di luar sana untuk membantu kalian di sini. Para warga di luar sana khawatir saat kalian belum juga menyelesaikan tugas kalian di sini. Makanya aku disuruh datang kemari untuk melihat keadaan di sini."


Widya cuma bisa bolak-balik memandang mereka secara bergantian. Melihat kedua sahabat ini saling berdebat karena dirinya secara langsung, sungguh pemandangan yang begitu menghibur. Tetapi di waktu yang sama juga sangat menegangkan, sebab ia takut kedua sahabat ini akan saling baku hantam, jika ia melihat dari ekspresi geram di antara mereka berdua.


"Ternyata ada bagusnya aku ke sini. Dugaan para warga memang benar," lanjutnya, melemparkan tatapan menuduh pada Radit. "Lihatlah apa yang kamu lakukan di sini? Bisa-bisanya di tengah kegiatan gotong-royong begini, kamu menyerang istrimu di sini!"


BOOM! Bagaikan sebuah bom yang dilemparkan di tengah perang, kalimat itu meledakkan sesuatu di dalam diri Radit. Terbukti dari otot lengannya yang kian menegang di sisi kepala Widya serta tarikan napasnya yang begitu cepat. Menurunkan kedua tangannya dari sisi tubuh Widya, dia berjalan menghampiri Gilang dengan postur tubuh yang begitu kaku.

__ADS_1


Seiring waktu aksi debat ini semakin menegangkan saja, mungkin secepatnya ia harus menghentikan perdebatan ini, renung Widya gugup.


"Apa urusannya denganmu aku menyerang istriku atau nggak di sini? Aku bebas melakukan apa pun padanya, karena dia adalah istriku, bukan istrimu, Bung!" geram Radit, memukulkan kepalan tangannya di bahu kiri Gilang begitu kuat.


Pukulan itu membuat Gilang mundur selangkah ke belakang. Dari tempatnya berdiri, Widya melihat mata Gilang berkilat dengan rasa kemurkaan atas sikap kasar Radit padanya. Lalu dia menarik kerah baju Radit sambil mengangkat tinjunya.


Berlari terburu-buru, Widya memisahkan mereka berdua dengan menyelipkan tubuhnya di antara mereka berdua. Panik keduanya akan benar-benar saling baku hantam di sana dan menarik perhatian para warga yang ada di luar sana.


"Kalian berdua hentikan! Kalian pikir kalian sedang ada di mana?" desis Widya, menoleh bolak-balik pada keduanya. "Kalau mau bertengkar, bertengkar saja sana di tempat yang nggak ada penontonnya! Adu tinju di sini hanya akan menarik perhatian semua orang di luar sana."


"Dia yang.memulai menghantamkan tinjunya padaku!" seru Gilang murka.


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, dasar kamu banteng pemarah!"


"Tapi kamu sudah melewati batas dengan mencampuri urusanku dengan Widya, dasar kamu brengsek!"


"Kalian berdua hentikan saling menyumpah satu sama lain!" desis Widya, berusaha tidak meninggikan suaranya agar tidak terdengar oleh orang lain di luar sana.

__ADS_1


Seolah peringatan Widya hanyalah angin lalu, keduanya tetap saling menyumpahi satu sama lain. Yang lebih membuatnya kesal lagi, Radit menarik kasar lengannya untuk menjauh dari Gilang. Dia merasa sangat tidak senang Widya berada sedekat itu dengan sahabat lamanya.


Setelah ia pikirkan baik-baik, ini bukanlah pemandangan menghibur sedikit pun. Menyaksikannya secara langsung malah membangkitkan rasa amarah dalam dirinya. Apalagi kalau mengingat ucapan Radit tadi, yang mengibaratkan Widya ini seperti sebuah barang yang berhak dia apakan saja. Berani sekali dia berkata begitu tentang Widya, dihadapan temannya Gilang pula.


Padahal sudah berhari-hati dia memperlakukan Widya tidak lebih dari teman serumah, yang tidak dia minati untuk disentuh sama sekali. Sekarang apa? Dia menujukkan rasa kepemilikannya terhadap Widya di depan Gilang. Dengan sengaja menyindir temannya itu, yang tidak akan pernah memiliki kesempatan memilikinya.


Semakin lama mendengarkan ocehan sombong suaminya itu, Widya khawatir bukan mereka berdua saja yang saling baku hantam di sini, tapi ia juga. Tentu saja, tinjunya itu akan ia tujukan pada wajah angkuh suaminya ini.


"Baiklah, lanjutkan saja perkelahian bodoh kalian ini. Tapi, jangan sertakan aku dalam keributan ini."


Usai menyampaikan itu, Widya melangkahkan kakinya meninggalkan kedua sahabat kekanakan itu di rumah buku. Ia tidak peduli dengan mereka, tenggorokkannya akan jadi kering jika tetap berada di sana. Terserah mereka saja kalau ingin saling adu tinju di sana sampai babak belur, ia tidak mau tahu lagi.


"Widya!" panggil Radit, "Mau ke mana kamu?"


Ditatapnya kepergian Widya dengan raut tidak percaya. Radit terperangah oleh sikap Widya yang tidak mau tahu itu. Memangnya dia pikir siapa yang sudah menyebabkan kekacauan ini? Mengalihkan perhatiannya kembali pada Gilang, Radit menatap temannya itu dengan ekspresi tidak bersahabat.


"Kuserahkan tugas di sini padamu!" Radit meletakkan sapu yang digenggamnya ke dalam telapak tangan Gilang. "Kita lanjutkan lain waktu saja perdebatan kita ini."

__ADS_1


Akhirnya ditinggalkan seorang dirilah Gilang di rumah buku itu. Melirik sekilas pada sapu yang berada dalam genggamannya, Gilang kemudian mengamati sekelilingnya dengan rasa ketidakpercayaan. Keadaan rumah buku itu masih dalam keadaan masih belum terlalu bersih, bahkan buku-bukunya masih banyak yang tergeletak sembarangan di lantai.


Mulanya Gilang ke sini untuk membantu kedua pasangan itu, tetapi sekarang ia ditinggalkan seorang diri di rumah buku ini. Membersihkan semua kekacauan yang ditinggalkan pasangan suami-istri itu. Pintar sekali mereka kabur dari tugas ini dan menyerahkannya dengan tidak tahu malu padanya. Ia sangat menyesal menuruti kemauan warga yang menyuruhnya ke sini tadi.


__ADS_2