
Dugaan Widya salah. Mereka berdua ternyata dibawa ke rumah neneknya. Mengapa? Apa ayah Radit akan melaporkan hal ini pada neneknya, baru setelah itu membicarakan masalah ini di suatu tempat.
Widya tak menyukai ini. Sudah cukup neneknya tambah sakit karena masalah yang sudah disebabkannya selama di sini. Apa hal ini tidak bisa ayah Radit bicarakan besok saja. Menyampaikan pemikirannya, Widya mendapatkan tatapan tajam dari ayah Radit, yang membuatnya langsung menghentikan aksi protesnya.
Mengetuk pintu, mereka bertiga menunggu neneknya membukakan pintu. Tak berselang lama, neneknya membukakan pintu dengan raut wajah masih setengah mengantuk.
“Ada apa ini ramai-ramai?” Celinguk neneknya melihat pemandangan di depan pintu rumahnya. Menemukan cucunya, Widya, di antara kerumunan, neneknya semakin dibuat kebingungan. “Kenapa kamu di luar, Wid? Bukankah seharusnya kamu di kamarmu?”
Menghampiri neneknya, Widya mengaitkan tangan di lengan neneknya. “Ini rumit, Nenek. Aku nggak tahu harus menjelaskan dari mana dulu.”
“Maaf mengganggu tengah malam begini, permasalahan ini begitu mendesak. Jadi, saya tidak bisa menunda membicarakan masalah ini lebih lama lagi dengan Anda," sela ayah Radit, tersenyum meminta maaf pada neneknya.
“Baiklah. Silahkan masuk, Pak Kades,” ujar neneknya mempersilahkan masuk.
Sebelum masuk, ayah Radit menyuruh para warga untuk menunggu di luar. Memprotes perintahnya, suara ricuh para warga membuat gendang telinga Widya mau pecah. Melantangkan suaranya, ayah Radit menyuruh semuanya diam dan menegaskan kalau dia perlu menyelesaikan permasalahan ini dengan keluarga Widya tanpa diganggu banyak orang. Ayah Radit berjanji akan membuat keputusan yang akan menyenangkan semua pihak. Setelah memastikan Radit sudah masuk ke dalam, ayah Radit meminta izin pada neneknya untuk menutup pintu agar para warga di luar tidak ada yang menguping pembicaraan mereka. Neneknya menganggukkan kepala sebagai tanda menyetujui saran itu.
Ketika semuanya sudah duduk di sofa ruang tamu neneknya. Suasananya langsung berubah begitu tegang sehingga membuat Widya menggeliat gelisah di tempat duduknya.
Ayah Radit berdeham dan segera menyampaikan maksud kedatangannya ke rumah neneknya di tengah malam begini.
“Sekali lagi saya minta maaf sudah membangunkan Anda semalam ini. Tetapi maksud kedatangan saya kesini untuk melamar cucu Anda, Widya, untuk dipersunting anak lelaki saya, Radit,” kata ayah Radit.
“Apa?” seru Widya terkejut.
Saking kagetnya, Widya sampai berdiri dari posisi duduknya. Melirik sekilas pada neneknya, Widya bisa melihat kalau neneknya sama terkejutnya dengan dirinya. Beda halnya dengan Radit yang tetap bergeming di tempatnya, seolah-olah dia sudah menduga apa yang barusan diucapkan ayahnya.
*I*ni konyol!
“Widya, duduk!” perintah Neneknya, yang langsung dituruti Widya. “Kalau Pak Kades berkenan, apa Pak Kades bisa mengatakan kepada saya kenapa tengah malam begini Bapak ingin melamar cucu saya?”
Ayah Radit langsung menceritakan kejadian memalukan di gudang buku yang disaksikannya bersama para warga di luar saat mencari anaknya Radit.
__ADS_1
“Itu nggak seperti yang Om duga! Kami nggak melakukan hal tak senonoh di dalam sana. Radit hanya membantuku mengambil serangga yang masuk ke dalam bajuku. Om dan para warga di luar sana salah paham mengenai kejadian di gudang buku itu,” jelas Widya panjang lebar.
“Orang di luar sana tidak mempedulikan apa yang sebenarnya terjadi, Widya. Mereka hanya mempercayai apa yang mereka lihat, tidak peduli apa yang kamu katakan ini benar adanya," ujar ayah Radit menjelaskan.
“Kalau begitu, semua orang di luar sana sungguh bodoh! Konyol sekali menghakimi seseorang hanya karena prasangka buruk mereka,” cemoohnya, tak mampu menahan diri.
“Widya! Jaga ucapanmu di depan Pak Kades." Neneknya melotot padanya, tampak marah atas sikap kurang ajarnya.
“Tapi, Nek--” protes Widya lagi.
“Cukup! Ucapan Pak Kades benar. Hal ini hanya bisa diselesaikan dengan pernikahan.”
“Aku menolak!” cetus Widya menentang. “Seandainya pintu gudang itu nggak terkunci dari luar, aku pasti nggak akan terkurung di sana bersama Radit.”
“Apa maksudmu, Nak? Pintunya tidak terkunci. Saat kami tiba di sana, palang kayu ada di tanah dekat pintu,” tatap ayah Radit kebingungan.
Terbelalak, Widya menatap ayah Radit tak percaya. “Nggak mungkin!”
“Sudahlah, Wid. Tidak ada yang bisa kamu lakukan selain menerima keputusan ini. Menentangnya hanya akan memperburuk keadaan. Nanti akan ada gosip kalau kamu mengandung anak Radit dan sebagainya di luar sana. Kejadian ini hanya akan menjadi aib dalam hidupmu.”
“Aku nggak hamil!" Widya refleks menyentuh perutnya. "Aku nggak peduli gosip tentangku. Karena apa yang dikatakan orang di luar sana mengenai hal ini nggak benar sama sekali. Jadi, aku nggak takut.”
“Jangan keras kepala, Widya. Keputusan sudah diambil. Apa pun yang kamu katakan tidak akan mengubah keadaan, penolakanmu ini hanya akan mempermalukan kedua orang tuamu saja.”
Widya menutup mulutnya menahan protes yang ingin diucapkannya lagi. Ia tahu ucapan neneknya benar. Tidak ada yang bisa dilakukannya. Sekarang ia sudah kalah dalam perdebatan mengenai pernikahan konyol ini.
Radit yang sedari tadi diam di tempat duduknya, dalam hati merasa takjub dengan keberanian Widya menentang masalah pernikahan ini. Apa ia tidak bisa melihat kalau keputusan ini bukanlah hal yang bisa ditentang mereka berdua. Sikap beraninya menyampaikan pendapatnya memang perlu diacungi jempol. Namun, sikap kurang ajarnya hanya membuat Radit menghela napas gundah. Sebentar lagi perempuan kasar ini akan menjadi istrinya. Sungguh mimpi buruk.
“Kalau boleh saya tahu, kapan pernikahan ini akan dilangsungkan, Pak Kades?” tanya Neneknya.
“Secepatnya. Rencananya saya ingin melaksanakan pernikahan ini lusa, kalau Anda tidak keberatan,” saran ayah Radit, yang membuat Widya tersentak di tempat duduknya.
__ADS_1
“Baiklah. Besok saya akan mengabarkan berita ini kepada orang tua Widya yang ada di kota. Mungkin siang besok mereka akan tiba di sini untuk membicarakan persiapan pernikahan dengan Pak Kades.”
Kemudian Radit dan ayahnya berpamitan pulang. Di luar rumahnya, para warga masih menunggu dengan sabar demi mendengar keputusan yang diambil ayah Radit dan neneknya. Saat mengumumkan lusa anaknya akan menikah dengan Widya, sorakan gembira terdengar bergemuruh dalam kerumunan itu. Mereka semua silih berganti mengucapkan selamat pada Radit yang akan segera menikah.
Tidak ingin mendapatkan ucapan selamat dari para warga juga, Widya segera memasuki rumahnya. Ia berjalan murung ke dalam kamarnya. Saat ini hal yang dibutuhkannya adalah istirahat, dan melupakan kejadian malam ini dari benaknya. Meskipun ia tahu, itu sangatlah mustahil terjadi.
Nasi sudah menjadi bubur. Acara jalan malamnya telah merusak masa depannya menjadi wanita karier. Dan sepertinya, ia akan selamanya terperangkap di desa ini. Di benaknya Widya bisa membayangkan wajah ayah dan ibunya yang berseri-seri ketika mendengar kabar pernikahan ini besok.
Bukankah itu yang mereka inginkan sebelum mengirimnya ke desa ini.
“Nenek harap kamu mengerti, Wid. Nenek mengambil keputusan ini demi kebaikanmu,” tepuk Neneknya di bahu Widya.
“Ini bukan demi kebaikanku, tapi demi kebaikan kalian, para orang dewasa yang merasa keputusan yang kalian ambil selalu benar.”
“Widya!”
“Aku lelah, Nek. Aku perlu istirahat. Selamat malam,” pamit Widya memasuki kamarnya.
“Tidurlah. Mungkin besok kamu lebih bisa menerima kenyataan ini,” ucap Neneknya di depan pintu kamar Widya. Lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya untuk tidur juga.
Sementara itu, Radit berjalan ke dalam rumah bersama ayahnya yang berada di depannya. Radit tahu setelah mereka masuk ke dalam pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan ayahnya padanya mengenai kejadian malam ini. Membalikkan badan, ayahnya berdiri menunggu di ruang tamu saat Radit menutup pintu.
“Sebelum kamu tidur, Bapak cuma ingin memberitahumu kalau mulai besok sampai hari pernikahanmu, kamu jangan keluar rumah dulu.”
“Aku mengerti, Pak,” kata Radit menurut.
“Baguslah kalau kamu mengerti. Sekarang tidurlah. Hari sudah semakin larut.”
“Selamat malam, Pak. Bapak juga tidurlah.”
Ya, Radit sangat mengerti apa yang dimaksud ayahnya barusan. Ia akan dipingit.
__ADS_1