
Menenangkan detak jantungnya yang berdegup begitu kencang, Widya perlahan mengambil napas dalam-dalam. Sialan, berani-beraninya suami menjengkelkannya itu membuat dirinya kehabisan kata-kata seperti ini. Melirik diam-diam pada Radit, ia bisa melihat seringaian yang tersungging di bibir mesumnya itu. Dari semua hal yang terbesit dipikirannya, ia tidak pernah berpikir jika omongannya barusan akan dibalas seperti itu.
Selama sesaat ia menduga suami barbarnya itu kan melakukan hal yang sama seperti malam yang lalu--membopongnya ke kamar dan membentaknya--atau bahkan mengabaikan perkataannya. Dan mengenai sindirannya mengenai hukuman yang akan diberikan Radit padanya, Widya tahu, di lubuk hatinya yang terdalam jika Radit tidak akan pernah melakukan hal sekeji itu padanya.
Ia sengaja mengatakan hal itu hanya untuk membuatnya marah dan melihat reaksi seperti apa yang akan ditunjukkannya kali ini. Tapi, tidak pernah terpikirkan olehnya, justru omongan mesum seperti itu yang akan keluar dari mulut suaminya. Kalau Radit sengaja mengucapkan kalimat itu supaya Widya merasa malu dan terdiam membisu, maka dia telah berhasil melakukannya.
Ini sungguh menyakiti harga diri Widya. Kenapa ia harus bersikap begitu pemalu hanya karena beberapa patah kata candaan seperti itu. Lagi pula mereka sekarang sudah menikah, jadi, tak ada gunanya bertindak seperti orang bodoh begini. Bersikap malu-malu layaknya bunga putri malu--disentuh langsung layu--hanya akan membuat Radit merasa di atas awan. Pastilah dia akan selalu menggunakan cara ini untuk menyerang kelemahannya.
Tidak bisa dibiarkan!
Berjalan mendekati suaminya, Widya menutup jarak di antara mereka. "Kamu pikir, aku akan percaya begitu saja dengan apa yang kamu katakan barusan?" Mendengus, ia mengangkat dagunya angkuh. "Aku tahu, kamu mengucapkan itu hanya untuk membuatku malu."
Menundukkan kepalanya, bibir Radit hanya berjarak beberapa senti dari bibirnya. "Apa itu berarti kamu memintaku menciummu, Istriku Sayang?"
Tanpa Widya inginkan mata dan bibirnya bergetar mendengar ucapan itu. Sial, sial, sial. "Aku tahu, kamu cuma menggertak. Ah, sudahlah, aku capek melanjutkan perdebatan menyebalkan ini terus," kata Widya, bersikap pura-pura tenang seraya mundur menjaga jarak.
__ADS_1
Mengambil botol kecil dari tangan Radit, ia memasukkannya ke dalam laci atas meja riasnya. "Botol ini biar aku saja yang menyimpannya. Kita tak pernah tahu, mungkin saja suatu saat nanti kamu tiba-tiba tergoda untuk meminumnya dan menyerangku di tengah malam."
Senyum kemenangan melengkung di bibir Radit. "Aku jamin itu nggak akan pernah terjadi." Dalam sekejap senyumannya menghilang digantikan dengan raut masam terpampang di wajahnya. "Kalau kamu begitu takutnya, kamu bisa memegang kunci cadangan kamarmu agar aku nggak bisa masuk kamarmu lagi. Yah, walaupun itu mustahil terjadi."
"Ide bagus. Nah, sekarang ayo lanjutkan pekerjaan kita. Hari sudah mulai larut, dan aku juga perlu mandi."
Mereka berdua pun kembali mengangkut meja rias Widya ke dalam kamarnya dan saling berbenah di kamar masing-masing. Tak berapa lama, Radit mendatanginya untuk memberitahukan pada Widya jika dia ingin mandi duluan karena mereka hanya mempunyai satu kamar mandi di rumah ini. Widya mengangguk menyetujui dan kembali melanjutkan menyusun barang-barangnya.
Begitu banyak barang yang harus disusunnya. Mengembuskan napas jengkel, Widya melipat pakaiannya sembarangan dan memasukkannya asal-asalan ke dalam lemari. Besok saja ia merapikan lipatan pakaiannya, hari ini ia terlalu lelah menyelesaikan proses susun menyusun semua barang pada tempatnya.
Mengharapkan Ririn untuk menemani kesehariannya pun percuma saja. Karena bocah cerewet itu saat ini sedang sibuk menghadapi masa ujian sekolahnya. Maka yang tersisa cuma satu orang, tidak lain tidak bukan, tentu saja neneknya yang selalu ada untuk dirinya. Akan tetapi, Widya yang sekarang bukanlah seperti dirinya yang dulu.
Widya sekarang sudah memiliki keluarganya sendiri. Jika ia selalu berkeliaran di sekitar neneknya pasti akan ada desas-desus yang mengatakan ia sudah melupakan tugas-tugasnya sebagai seorang istri. Tentulah tidak baik terus-menerus bersama neneknya demi menghabiskan waktu luangnya yang sangat banyak ini.
Terlalu sibuk dengan isi pikirannya yang berkeliaran dari satu orang ke orang lain, Widya tidak menyadari saat Radit telah selesai mandi dan memanggilnya dari ambang pintu.
__ADS_1
"Oh, Tuhan!" pekiknya kaget, menutup matanya dengan kedua tangannya agar tidak melihat suaminya yang saat ini sedang bertelanjang dada berdiri di ambang pintu kamar begitu gagahnya. Selembar handuk terlihat melingkari pinggulnya. "Apa kamu nggak bisa berpakaian lebih dulu sebelum datang ke sini!"
"Santai saja, Istriku. Ingat, kita ini sudah menikah, tentu bukanlah masalah besar berpenampilan seterbuka ini di hadapanmu," ucapnya santai. Ia bisa mendengar ada nada geli di suara suami barbarnya itu.
"Pergi sana! Aku nggak pernah tertarik untuk melihat tubuh jelekmu itu."
Jawaban yang didapatnya hanyalah suara kekehan dari Radit. Sepertinya, suaminya ini begitu menikmati menggoda dirinya yang sangat pemalu ini.
Sialan dia!
Bangkit berdiri dari posisi berlututnya di lantai, Widya bersiap mandi. Baru saja ia hendak berjalan ke kamar mandi, suara raungan suaminya ketika memanggil namanya terdengar dari dalam kamarnya. Astaga, apa lagi *i*ni? pikirnya muak. Haruskah Radit berteriak seperti orang kerasukan setan seperti itu. Bukankah suami sok benarnya itu pernah berkata padanya agar jangan pernah berteriak supaya tidak terdengar para tetangga di luar. Lalu apa itu yang baru saja didengarnya dari kamar, jika bukan suara teriakan?
Membalikkan badannya, Widya berjalan menghampiri Radit yang sedang mengamuk di dalam kamarnya.
"Apa lagi sih, raunganmu barusan mungkin telah membangunkan seluruh penduduk desa ini," kata Widya kesal.
__ADS_1
"Apa ini?" Mengikuti arah telunjuk suaminya, Widya menatap ngeri pada apa yang dilihatnya.