Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Tidak Ada Yang Boleh Tahu


__ADS_3

Selama sisa hari itu, Widya menghabiskan kesehariannya di dalam rumahnya saja. Keputusan itu diambilnya demi menghindari bertemu dengan teman Radit secara tidak sengaja lagi. Entah mengapa, firasatnya mengatakan, teman Radit yang ditemuinya di Rumah Buku akan berusaha untuk menemuinya kembali jika ia keluar rumah.


Begitu pun hari-hari berikutnya, Widya selalu mengulangi kesehariannya yang membosankan di dalam rumahnya. Di benaknya Widya sangat ingin kembali ke Rumah Buku untuk membaca buku yang belum selesai dibacanya. Namun, apalah daya, ia tidak bisa mengambil risiko pergi ke sana lagi untuk menyelesaikan bacaannya.


Lalu seperti sebuah meteor yang jatuh dari langit, terbesit ide cemerlang di dalam kepala Widya. Mengambil ponselnya, ia segera mengirim pesan pada Mila untuk membawakannya buku cerita yang telah dibacanya di Rumah Buku agar diantarkan ke rumahnya. Yang tentu saja, dituruti temannya itu dengan senang hati tanpa bertanya mengapa Widya tidak mengambilnya sendiri.


Ditemani buku-buku ceritanya yang sangat banyak, Widya tidak merasa jenuh sedikit pun berada di rumahnya seorang diri saat Radit tidak ada di rumah ataupun ketika tidak ada seorang pun yang mengunjunginya. Adakalanya ia juga bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, sampai kapan ia akan mengurung dirinya di dalam rumah demi menghindari teman Radit. Memikirkan hal itu saja membuat suasana hati Widya menjadi suram kembali. Ia merasa dirinya seperti seorang pengecut.


Nanti setelah aku siap.


Suatu hari tibalah giliran Radit bertugas menjaga pos ronda bersama teman-temannya


"Kenapa belakangan ini kamu mengurung diri di rumah, apa telah terjadi sesuatu di luar sana yang menghalangimu keluar rumah?" tanya Radit sambil menyorotkan lampu senter ke depan wajah Widya.


Menghalangi sorot cahaya itu dengan tangannya, Widya menjawab ketus, "Apa yang kamu lakukan? Berhenti mengarahkan lampu senter itu kepadaku."


Mematikan lampu senternya, Radit memasang ekspresi tak bersalah sedikit pun. "Aku cuma mengecek apa lampu senternya masih berfungsi atau nggak."


"Tapi nggak harus menyorotinya ke depan mukaku juga, kali," gerutu Widya.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku," ucapnya, mengganti topik ke arah pembicaraan mereka tadi.


"Hanya ingin saja," jawab Widya tak acuh.


Menyipitkan matanya, Radit menatapnya curiga. "Begitukah? Apa kamu yakin?"

__ADS_1


Tatapan curiga itu membuat Widya semakin gugup. "Memangnya harus ada alasan lain, ya, aku nggak mau keluar rumah? Kalau aku ingin, ya, ingin saja," jawab Widya dengan nada agak melengking.


"Nggak usah marah gitu, aku 'kan cuma bertanya. Sensi amat jadi orang."


Menghembuskan napas lega, Widya bersyukur Radit mengira suaranya yang agak melengking disebabkan oleh pertanyaannya yang telah menyinggungnya, bukan karena rasa gugupnya takut ketahuan berbohong. Untunglah, saat itu ia terselamatkan suara ketukan pintu dari luar rumahnya.


"Siapa itu?" tanya Widya.


"Oh, palingan itu temanku. Tadi siang kami sudah berjanji untuk bertemu di rumahku supaya bisa berangkat bersama-sama," jawab Radit sambil mengancingkan jaketnya. "Ayo keluar. Aku sekalian ingin memperkenalkannya padamu," ajak Radit menarik tangan Widya.


"Temanmu yang mana?" tanya Widya was-was. "Sebaiknya aku di sini saja, kapan-kapan saja kamu memperkenalkan kami berdua." Menghentikan langkahnya, Widya menarik lepas tangannya dari genggaman Radit.


"Sudah ikut saja, nggak perlu gugup begitu." Menoleh sekilas pada Widya yang berdiri di belakangnya, Radit langsung menghentikan langkahnya saat melihat wajah Widya berubah menjadi agak pucat. "Ada apa denganmu, apa kamu sakit?"


"Aku baik-baik saja." Widya mengelap keringat dingin yang menetes di keningnya.


"Tentu saja nggak!" seru Widya lantang.


"Nah, gitu dong. Itu baru istriku yang pemberani." Digenggamnya kembali tangan Widya sambil berjalan kembali menuju pintu depan.


Membukakan pintu rumahnya, Radit menyambut hangat kedatangan temannya, yang sudah diduga Widya adalah lelaki asing yang ditemuinya di rumah buku beberapa hari lalu. Mengerang dalam hati, Widya berharap pertemuan itu segera berakhir tanpa ada masalah.


Terlalu sibuk memperkenalkan Widya dengan temannya yang bernama Gilang itu, Radit tidak menyadari jika Widya sebenarnya sangatlah gugup untuk menatap langsung kepada temannya itu.


"Senyum dong, Wid. Kenapa kamu memasang ekspresi kaku begitu? Ini pertama kalinya kalian bertemu, jangan terlalu tegang begitu, temanku nggak akan memakanmu." Menelengkan kepalanya, Radit menatap heran pada Widya yang tersenyum canggung kepada temannya. "Atau ini bukan pertama kalinya kalian bertemu?"

__ADS_1


Mendengarkan pertanyaan itu dicetuskan Radit dengan nada menggoda, Widya tidak bisa menahan reaksi terkejutnya. Ia langsung berdiri begitu tegangnya di sebelah Radit.


"Iya, ini memang bukan pertama kalinya kami bertemu," sahut Gilang mengiyakan. Sontak saja kedua mata Widya membeliak kaget menatapnya. "Bukankah kami sudah pernah bertemu sebelumnya di tempat istri dan adikmu jatuh dari motor?" lanjutnya, menatap lurus pada Widya.


Sialan, dia menggodaku. "Sayang sekali, aku nggak terlalu fokus saat itu. Jadi, aku kurang yakin apakah aku melihatmu di sana juga atau tidak," ucap Widya, membalas tatapan Gilang tanpa berkedip sedikit pun.


Menyadari nada permusuhan dari nada suara Widya, semburan tawa meluncur keluar dari mulut Gilang. "Ternyata apa yang kamu katakan benar, Dit. Istrimu ini memang kasar."


Mengalihkan pandangannya ke arah Radit yang mengendikkan bahu pura-pura tak bersalah, Widya mendelik marah kepada suaminya karena sudah berani menjelekkan dirinya di depan temannya.


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," ujar Radit membela diri.


"Dasar nggak tahu malu, berani-beraninya kamu menggosipkanku di belakangku," desis Widya marah. "Hari ini kamu tidur saja di pos ronda!"


Berbalik pergi, Widya masuk kembali ke dalam rumah sambil membanting pintunya keras.


Biar saja orang lain mendengar.


"Seperti yang kamu lihat, istriku itu nggak bisa dikontrol. Kalau sudah marah, ya gitu, main banting sana sini," tunjuk Radit cuek ke arah pintu yang tertutup dengan gerakan kepalanya.


"Apa kamu nggak takut dia benar-benar membiarkanmu tidur di pos ronda malam ini?" tanya Gilang, menengok kembali ke arah pintu rumah Radit saat berjalan beriringan bersama temannya ke tempat pos ronda.


"Tenang saja, dia nggak akan berani melakukan itu. Meskipun dia gampang marah, dia nggak akan melakukan apa yang diancamkannya kepadaku. Karena kalau dia melakukan itu akan ada hukuman yang menantinya," jawab Radit sambil tersenyum penuh arti.


"Kalau boleh aku tahu, apa hukumannya?" Mata Gilang berbinar menanti jawaban temannya itu.

__ADS_1


"Ra-Ha-Si-A."


Radit langsung berlari meninggalkan Gilang, yang mengejarnya sambil tiada hentinya bertanya hukuman seperti apa yang tidak ingin diungkapkannya kepada sahabat kecilnya sendiri. Menutup kedua telinganya, Radit tetap menolak menjawab pertanyaan temannya itu. Baginya hukuman itu hanya dirinya dan Widya saja yang boleh tahu.


__ADS_2