
Radit mengamati dalam diam saat Widya merenggangkan badannya bersiap mengerahkan seluruh tenaganya untuk membuka pintu yang ada di hadapannya.
Selama mengamatinya, Radit memikirkan kembali bagaimana ia bisa berakhir di tempat ini bersama perempuan kasar yang ada di hadapannya ini.
Malam ini Radit bertugas keliling desa dan saat sedang mengecek keadaan sekitar, ia melihat pintu gudang buku terbuka kecil. Jadi, ia mengecek ke dalam dan mendapati ada seseorang di dalam yang sedang berdiri sambil membaca buku. Dan ternyata orang itu adalah Widya.Bagaimana bisa perempuan kasar itu berada di sini saat tengah malam?
Melupakan rasa penasarannya, Radit menggelengkan kepalanya, ia takjub melihat perempuan kasar itu kini sedang bergulat dengan sebuah pintu.
Sepertinya Radit harus menghentikan usaha Widya membukakan pintu malang itu, karena perempuan kasar itu sepertinya bertekad akan menghancurkan pintu itu jika tidak bisa terbuka juga.
"Hentikan! Kamu bisa merusak pintu itu." Radit menarik lepas cengkraman tangan Widya dari gagang pintu yang terbuat dari besi itu.
Widya mendorong tubuhnya menjauh. "Biarkan saja. Minggir!"
Mundur beberapa langkah, Widya bersiap menendang pintu itu.
"Sudah cukup!" cegah Radit, menarik kerah baju Widya agar menjauhi pintu.
"Jangan mencegahku!" Widya memberontak, menarik lepas kerahnya dari genggaman tangan Radit. "Kita harus melakukan sesuatu supaya bisa keluar dari sini."
"Tenang saja, pasti nanti ada yang lewat."
"Aku meragukannya," cetus Widya skeptis.
Menjentikkan jarinya, Widya menatap Radit dengan mata berbinar. "Aku tahu. Aku akan menjerit sekencang mungkin supaya orang di luar sana tahu kita terkurung di sini."
"Jangan membuat keributan hanya karena hal sepele seperti ini. Terkurung di sini sebentar tidak akan membunuhmu."
"Sepele, katamu? Kita terkurung. Berdua." Sorot mata Widya menunjukkan rasa keengerian. Seolah berdua saja dengannya adalah hal yang begitu menakutkan.
"Jadi, kamu lebih suka terkurung sendiri?"
"Bukan begitu juga maksudku."
"Oh, jadi maksudmu, aku akan menyerangmu saat kita berdua saja, begitu? Aku tegaskan, itu nggak akan terjadi," ujar Radit dingin.
"Jangan konyol. Aku tahu kamu nggak serendah itu. Aku hanya nggak nyaman saja bersama denganmu lebih lama lagi di sini. Apa kamu lupa kalau aku ini membencimu?"
"Aku paham maksudmu," angguk Radit mengerti.
__ADS_1
Radit membujuk Widya menjauhi pintu dan menyuruhnya duduk di kursi dekat jendela. Berdiri di sebelahnya, Radit meyakinkan Widya kalau seseorang pasti akan melewati daerah sekitar sini nantinya. Karena ia tahu, sebentar lagi orang yang meronda bersamanya malam ini akan mencarinya, sebab mereka pasti mulai menyadari jika ia terlalu lama meninggalkan pos ronda.
Di sebelahnya, Widya mengomel pada jendela yang dijeruji. Dia berkata, andai saja jeruji itu tidak ada pasti mereka bisa kabur lewat situ.
Kepala perempuan ini sepertinya saat ini hanya dipenuhi pikiran bagaimana caranya keluar dari tempat ini secepatnya. Sembari menunggu dan memecahkan keheningan, Radit mencoba mengajak Widya mengobrol. Ia bertanya mengapa Widya bisa ada di gudang buku ini. Tertawa kecil, Radit tak menduga jawaban yang didengarnya barusan. Ternyata ini semua hanya karena seekor tikus. Kemudian hening lagi.
°°
Astaga, ini canggung sekali.
Berdeham, Widya mencoba untuk memecahkan keheningan di antara mereka. Ia mencoba bertanya mengenai asal mula tempat gudang buku ini bisa terbentuk.
Lalu Radit menceritakan semuanya itu bermula dari keinginan para warga untuk menyimpan semua buku pelajaran, novel, komik, dan sejenisnya yang sudah tidak dibaca lagi digabungkan dalam satu tempat. Para warga berpikir daripada membuang atau membakarnya, lebih baik menyimpannya di suatu tempat andai saja ada yang ingin membacanya lagi. Karena itulah gudang buku ini akhirnya terbentuk. Begitulah yang dikatakan Radit kepadanya.
Melihat seluruh ruangan di gudang buku ini dipenuhi dengan debu dan sarang laba-laba, sepertinya sudah lama sekali ada yang mampir ke sini.
Mengutarakan pendapatnya agar gudang ini dibersihkan, Radit menyahut jika setiap bulan desa mereka selalu mengadakan gotong-royong membersihkan seluruh lingkungan di desa ini. Lalu hening lagi.
Tanpa diduga, perut Widya berbunyi akibat kelaparan. Ya, ampun! ini memalukan. Widya memalingkan wajahnya, menutupi rasa malunya yang pasti terlihat jelas di wajahnya.
"Apa kamu belum makan?" tanya Radit, berusaha keras menahan tawanya.
"Kebiasaanmu itu hanya membuatmu kelaparan."
"Terserah. Intinya, makan malam hanya akan membuatku gendut."
"Ya, apa katamu saja."
Widya mengulangi perkataan Radit seperti burung beo dengan nada mengejek.
Angin yang berhembus dari jendela membuat Widya meringkuk kedinginan. Ia tidak mengenakan jaket saat keluar rumah tadi, sebab jaketnya berada di dalam kamarnya.
Melirik Radit yang memakai jaket, Widya menggosok lengannya berulang-ulang kali, sengaja menunjukkan ia sangat kedinginan. Tapi tidak ada respon apa pun. Sialan.
"Dingin sekali." Widya berpura-pura menggigil.
Radit hanya mengangguk mengiyakan.
"Kalau kamu punya sifat gentleman sedkit saja dalam darahmu, seharusnya kamu meminjamkan jaket itu untukku."
__ADS_1
"Aku nggak mau kedinginan."
"Dasar egois. Gayanya saja yang sok baik di depan orang, tapi meminjamkan sebentar jaketmu untuk seorang cewek yang kedinginan saja nggak mau. Yah, aku juga nggak terlalu mengharapkannya sih," sindir Widya, memandang rendah pada Radit sebelum membuang muka.
Melepaskan jaketnya, Radit akhirnya memberikan jaket itu padanya. "Baiklah, baiklah. Nih!"
"Nah, gitu dong dari tadi."
Berdiri dari tempat duduknya, Widya bersiap memasang jaket yang dipinjamkan kepadanya. Ia sengaja mengabaikan gerutuan Radit di sebelahnya.
Tiba-tiba Widya melemparkan jaket Radit ke lantai sambil memekik. Meloncat-loncat kecil sambil mengibaskan baju di punggungnya, Widya memberitahukan pada Radit bahwa ada serangga yang baru saja masuk ke dalam bajunya.
"Lakukan sesuatu!" pekik Widya, memberikan punggungnya pada Radit. "Aaa ... serangga nakal itu terus meraba kulitku."
"Apa yang harus kulakukan? Aku nggak mungkin memasukkan tanganku ke dalam bajumu."
"Cepat buang serangga nakal itu dari bajuku sekarang juga. Kamu 'kan bisa membuangnya tanpa menyentuh kulitku." Widya menarik kerah baju belakangnya agar serangga yang menempel dalam bajunya tidak mengenai kulitnya. "Cepat! Aku bisa merasakan serangga nakal itu masih menempel di baju dalamanku."
"Rasanya ini kurang pantas untuk kulakukan," ujar Radit ragu.
"Lupakan kepantasan! Ini darurat."
Ragu memasukkan tangannya, Radit memejamkan mata menenangkan dirinya. Menarik ujung baju Widya dengan tangan kiri, Radit dengan hati-hati memasukkan tangan kanannya ke dalam baju Widya.
Keduanya sama-sama terlonjak kaget saat Radit tidak sengaja menyentuh kulit punggung Widya. Ditariknya keluar tangannya yang masih belum terlalu jauh masuk ke dalam baju Widya.
"Apa yang kamu sentuh!?" Rona merah menjalar di wajah Widya.
"Aku nggak sengaja menyentuhnya. Ini terlalu sulit." Tangan kanan Radit terasa terbakar oleh sentuhan itu tadi.
Menghembuskan napas jengkel, Widya meminta Radit melakukannya lagi. "Astaga, aku bisa merasakannya. Cepat, Dit!" desak Widya panik. Ia bisa merasakan serangga itu bergerak di dalam bajunya.
Mencoba lagi, tangan Radit terdiam di bawah baju Widya saat pintu terbuka dengan bunyi BRAKKK.
"Apa yang kalian lakukan?" bentak ayah Radit, kaget melihat posisi mereka berdua yang begitu intim.
Semua orang yang datang bersama ayah Radit terkesiap serempak. Dengan cepat, Radit menarik tangannya dari ujung baju Widya. Keduanya menatap ngeri melihat pemandangan yang ada di depan mereka. Begitu banyak orang berdiri di sana menatap mereka berdua penuh spekulasi.
Memejamkan matanya, Widya berharap ini hanyalah mimpi buruk, dan sebentar lagi ia akan terbangun dari mimpinya.
__ADS_1
Sepertinya malam ini tidak akan cepat berakhir, pikir Widya muram dalam benaknya.