Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Kabut Gairah


__ADS_3

Meraba ke dinding samping pintu, dinyalakannya lampu kamar Widya, hanya untuk mendapati kamar istrinya terlihat begitu berantakan. Begitu banyak jenis pakaian tergeletak amburadul di atas kasurnya, bahkan meja riasnya yang dipenuhi berbagai macam peralatan berhias juga terlihat tak tertata rapi di sana.


Semua kekacauan itu terlihat seolah di sana telah terjadi perampokan, tetapi jika mengingat semua tempat lain yang ada di rumahnya dalam keadaan bersih, tentu pastilah itu bukan perbuatan perampok. Kalau begitu, ke mana Widya, kenapa kamarnya terlihat seperti kapal pecah begini? Kalau dia kabur rasanya itu sangatlah mustahil, beberapa hari ini tidak ada hal yang bisa memicu tindakan tersebut, pikir Radit mulai kebingungan.


Mengambil ponsel di saku celananya yang tidak robek, Radit segera menelepon Widya untuk menanyakan keberadaan istrinya itu. Selama beberapa detik tidak ada jawaban, kemudian tiba-tiba ia mendengar suara nada dering ponsel Widya berbunyi tidak jauh darinya. Dari suaranya, Radit menduga jika suara itu tidaklah berasal dari kamar Widya, melainkan dari belakangnya.


Memusatkan pendengarannya, ia mulai sadar jika suara itu berasal dari luar rumahnya. Melangkah perlahan ke arah ruang tamu, Radit menengok terkejut saat Widya masuk ke dalam rumah sambil memegang ponsel di tangannya.


Secara bergantian Widya melihat ke ponselnya dan Radit, dia langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaketnya.


"Dari mana saja kamu?" Radit melirik berbagai macam bungkusan belanjaan memenuhi kedua tangan Widya.


Diulurkannya semua bungkusan itu kepada Radit, yang terdiam melongo di tempatnya berdiri.


"Bawakan ini untukku," pintanya dengan ekspresi manja.


"Kamu bisa membawanya sendiri," tolak Radit menyilangkan tangannya. "Jawab pertanyaanku, kamu dari mana saja? Kenapa jam segini baru pulang?"


Meletakkan semua bungkusan itu di atas meja ruang tamu, Widya menghempaskan tubuhnya ke atas sofa dekat pintu.


"Seperti yang kamu lihat, aku baru saja pulang dari shopping," jawabnya dengan nada kelelahan.


"Sama siapa kamu pergi?"


"Ayahmu, adikmu, dan juga Mila. Tadi siang mereka mengajakku ke pusat kota untuk bersenang-senang," jawab Widya riang. "Mungkin mereka sadar aku butuh hiburan, makanya mereka berinisiatif menghiburku dengan membawaku jalan-jalan keluar dari desa membosankan ini. Sikap pengertian mereka berbeda jauh dari seseorang."


Sindiran tajam itu menusuk dada Radit seperti pisau, yang sudah diasah sejak lama untuk ditikamkan padanya.


"Aku ini sibuk," ujar Radit membela diri. "Harusnya kamu menghubungiku kalau mau pergi bersama keluargaku ke pusat kota. Karena sikap sembronomu itu aku mengira sesuatu yang buruk sudah terjadi padamu."


"Kenapa kamu bisa mengira begitu?"


"Kondisi kamarmu yang memprihatinkan membuatku menyimpulkan berbagai macam spekulasi."

__ADS_1


Widya menyeringai malu. "Apa boleh buat, aku tadi terburu-buru. Dan mengenai masalah meneleponmu, aku nggak melakukannya karena aku lupa, aku baru saja ingat setelah dalam perjalanan pulang. Tapi karena aku mengira sebentar lagi akan sampai rumah, jadi kuputuskan nggak menghubungimu saja."


"Sungguh pemikiran yang cerdas." Suara Radit sarat sarkasme.


Tiba-tiba Widya menepuk kedua tangannya keras, ia berseru kalau ada sesuatu yang ingin diberikannya pada Radit. Mengobrak-abrik tas belanjaannya, kedua tangannya begitu sibuk mencari hadiah yang sudah dibelikannya untuk Radit. Berseru senang, diangkatnya kaos berwarna hitam bertuliskan I'm Monster dari salah satu bungkusan belanjaannya.


Membuka lebar kaos itu di depan tubuh Radit, dia tersenyum cerah memandang hadiahnya.


"Ini dia yang kucari-cari dari tadi, aku yakin sekali kaos ini akan sangat cocok untukmu."


"Kenapa aku merasa kamu membelikan kaos ini untuk mengejekku, ya?"


"Bagaimana mungkin kamu mengira pemberianku ini sebagai bahan ejekan untukmu?" pukul Widya pelan di pundaknya, kilatan tawa di kedua matanya terlihat begitu jelas oleh Radit. "Aku ini hanya membalas kebaikanmu saja. Selama ini 'kan aku belum pernah memberimu apa pun."


"Begitukah? Lalu apa maksud tulisan ini? tunjuk Radit pada tulisan di kaosnya. "Bukankah ini membuktikan kamu ingin membalaskan dendam padaku karena sudah membelikanmu baju ala desa, seperti yang kamu katakan padaku saat aku memberikanmu pakaian pemberianku."


"Itu sepenuhnya salah, aku membelikanmu kaos ini karena mengingatkanku padamu," senyuman menawan melengkung di bibirnya.


"Jangan tersenyum seperti itu, nanti aku menyukaimu."


Memekik, Widya menyentak kepalanya menjauh dari dada Radit, tangannya mengepal erat menempel di dada Radit agar tubuhnya tidak terlalu melekat padanya.


"Apa yang kamu lakukan, lepaskan aku!"


"Aku cuma ingin membalas kebaikan istriku karena sudah membelikanku sebuah baju yang begitu kerennya untukku."


"Nggak perlu repot, aku nggak membutuhkan balasanmu." Rona wajah Widya terlihat memerah saat memalingkan wajahnya.


Memegang dagu Widya di jemarinya, Radit memaksa Widya menatapnya. "Sayangnya, aku yang perlu."


Radit mendaratkan ciuman cepat di pipi kanan Widya, ia menyeringai lebar melihat kedua bola mata cokelat gelap Widya terbuka lebar menatapnya.


"Kamu menciumku. Lagi." Bibirnya bergetar, sebelah tangannya menyentuh pipi yang dicium oleh Radit tadi.

__ADS_1


"Itu bukan ciuman, itu hanya kecupan, Manisku," senyum Radit menggoda. "Kalau kamu nggak tahu bedanya, aku akan dengan senang hati menunjukkannya padamu."


Secepat kilat kedua tangan Widya menutup mulut Radit, yang menunduk mendekatinya. "Nggak, terima kasih. Aku sama sekali nggak ingin tahu apa bedanya."


Menyingkirkan tangan Widya dari mulutnya, seringai lebar terukir kembali di wajah Radit.


"Sayang sekali, padahal aku akan senang sekali menunjukkannya padamu."


"Sebenarnya kenapa kamu melakukan ini padaku? Apa maksudmu melakukan ci... kecupan tak diinginkan ini padaku?" tanya Widya gemetar.


"Aku cuma ingin lebih dekat denganmu saja," jawab Radit mengangkat bahunya. "Awalnya di sini," sentuhnya ringan di pipi kiri Widya, "kemudian di sini," berpindah ke pipi kanannya, "lalu berikutnya ini dan berakhir di sini," elusnya di kening Widya, kemudian jari telunjuknya perlahan mengelus penuh sensual pada bibir bawah Widya.


Suara dentaman jantung Widya bergema liar di dadanya. "Bagaimana mungkin dari kening lalu langsung ke bibir, harusnya ke hidung dulu."


Kaget dengan ucapannya barusan, Widya menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Oh, begitu. Aku nggak tahu kalau kamu sedetail itu, Istriku," goda Radit.


"Lepaskan aku! Apa kamu belum mandi? Bau badanmu menyakiti indera penciumanku," berontak Widya melepaskan diri.


"Sekarang kamu mencoba mengalihkan pembicaraan, ckck, istriku yang malang."


Mengangkat tangannya ke atas tiba-tiba dari pinggang Widya, seketika Widya terhuyung ke belakang, hampir terjatuh akibat ulah Radit melepasnya secara mendadak. Menyadarkan sebelah tangannya di dinding, Widya mendelik marah pada Radit, yang tersenyum tanpa dosa kepadanya.


"Kenapa kamu malah marah, bukannya kamu sendiri yang memintaku melepasmu?" Sebelah alis Radit terangkat meminta penjelasan. "Soal aku belum mandi, bukannya kamu sama saja sepertiku, lalu kenapa kita nggak mandi bersama saja?"


Sebagai reaksi dari saran itu, Widya melemparkan kaos yang digenggamnya ke wajah Radit yang tersenyum nakal padanya.


"Dasar kamu mesum, mandi sendiri sana! Aku peringatkan padamu, jangan membiasakan dirimu keluar dari kamar mandi dalam keadaan menggunakan sehelai handuk saja. Bawalah pakaian ganti langsung ke dalam sepertiku."


"Itulah yang selalu aku kecewakan darimu, kamu nggak tahu betapa inginnya aku melihatmu mengenakan sehelai handuk lagi setelah waktu itu." Kedua matanya bersinar terang memandang tubuh Widya.


Sekejap tatapan mata Radit diselimuti bara api yang membara menelusuri tubuh Widya begitu sensualnya, tetapi kilatan penuh arti di matanya itu segera sirna saat mengembalikan tatapannya ke wajah Widya. Tanpa mengatakan apa pun lagi dia membalikkan badan, meninggalkan Widya seorang diri terpaku membeku di tempatnya berdiri.

__ADS_1


#TBC


__ADS_2