
Terbiasa bangun pagi, Radit beranjak dari tempat tidurnya bersiap-siap untuk mandi dan berangkat kerja. Namun, setelah selesai mandi dan bersiap pergi bekerja, para tetangga yang dilihatnya dari balik tirai jendela membuatnya tidak jadi pergi. Kalau ia pergi, mungkin ibu-ibu di luar sana akan menanyakan tentang malam pertama mereka sambil tertawa cekikikan.
Ia sudah terlalu mengenal semua orang di desa ini untuk tahu kebiasaan mereka bergosip. Ditambah lagi tadi malam ia bertengkar hebat dengan istrinya, tentunya para penggosip itu mendengar teriakkan mereka berdua. Dinding rumah di desa ini begitu tipis.
Duduk di sofa ruang tamu, Radit menangkupkan tangan menutupi matanya. Betapa bodohnya. Karena terlalu terbawa emosi tadi malam ia jadi lupa kalau pertengkaran mereka pasti akan didengar para tetangga yang haus gosip itu.
Yang lebih membuatnya kesal, istri pembangkangnya itu masih tertidur pulas di kamarnya tanpa menyadari akibat sifat kekanakannya kini mereka diterpa gosip. Lagi. Mungkin sepanjang hidupnya ia akan selalu diterpa gosip yang disebabkan oleh ulah istrinya yang pemarah itu.
°°
Ketukan pintu di kamarnya membangunkan Widya dari tidurnya. Melirik jam weker di meja samping tempat tidurnya, ia memberengut kesal saat melihat sekarang masih pukul 05.10 WIB. Apa gerangan yang dilakukan suami barbarnya membangunkannya sepagi ini. Mengambil bantal di sampingnya, Widya menutupi kepalanya dengan bantal itu dan mengabaikan ketukan di pintu. Terserah, ia tidak mau peduli, ia masih sangat mengantuk.
Seperti hantu, tiba-tiba saja Radit sudah ada di pinggir ranjangnya menyibakkan selimutnya dan melempar bantal yang menutupi kepalanya. Terlalu terkejut dengan kemunculannya, Widya refleks menjerit ketakutan. Dalam sekejap mulutnya dibekap Radit, yang meletakkan telunjuknya di bibir memintanya agar diam. Menolak diam, ia menggigit tangan yang membekap mulutnya sekuat tenaga.
Menarik tangannya, Radit menjerit kesakitan.
"Apa kamu gila!"
Menggosok mulutnya dengan ujung lengan bajunya, Widya menatap sinis. "Yang gila itu kamu! Apa yang kamu lakukan di kamarku sepagi ini? Bagaimana caranya kamu masuk, aku yakin tadi malam sudah menguncinya."
"Di laci meja samping pintu ada kunci cadangan semua pintu di rumah ini."
"Jadi kamu memanfaatkan kunci cadangan itu untuk menyerangku?" hardik Widya.
"Menyerang apanya? Aku hanya berniat membangunkanmu," ucap Radit kesal.
"Kamu membekap mulutku!"
"Aku hanya menyuruhmu diam! Teriakkanmu itu bisa terdengar oleh tetangga. Bisakah kamu bersikap tenang sebentar saja?"
"Kalau memang itu niatmu, sebaiknya kamu keluar. Aku nggak pernah berniat bangun sepagi ini," usir Widya lalu mengambil selimutnya kembali dan merebahkan tubuhnya di atas kasur lagi.
__ADS_1
"Ada hal penting yang harus kita bicarakan sekarang. Kalau kamu menolak, maka aku akan berbicara di sini saja."
Melempar selimutnya ke lantai, Widya langsung bangun dari tempat tidurnya. "Baiklah, baiklah. Aku perlu mandi untuk menyegarkan diriku. Jadi, Suamiku, bisakah kamu menungguku di ruang tamu?" Senyumnya manis meminta Radit meninggalkan kamarnya.
"Jangan lama," pinta Radit saat melewatinya.
"Kamu pikir aku dirimu, huh!"
**
Menunggu tak sabar di ruang tamu, Radit mondar-mandir sambil melirik sekilas ke arah jam dinding. Lama sekali istrinya mandi. Sudah hampir sejam lebih ia menunggunya, tapi belum juga ada tanda-tanda kedatangannya.
Menghentikan dirinya berjalan mondar-mandir, Radit bersiap mendatangi istrinya lagi. Mendengar suara langkah kaki yang datang mendekat membuatnya terdiam membeku, lalu dengan cepat ia duduk di sofa.
"Kamu ini berisik sekali. Aku bisa mendengar suara langkah kakimu yang mondar-mandir dari kamar," omel Widya.
Dengan anggun Widya duduk sejauh mungkin darinya.
"Memangnya aku dirimu yang suka bas bis bus terus beres gitu. Perempuan sepertiku membutuhkan banyak waktu untuk mandi dan berdandan, asal kamu tahu saja," ucap Widya mengomelinya. "Nah, sekarang katakan padaku, apa yang ingin kamu bicarakan? Aku harap pembicaraan ini sepadan dengan cara kasarmu membangunkanku pagi ini."
Menyibakkan tirai jendela sedikit, Radit menunjukkan pada Widya kerumunan para tetangga yang sedang berdiri di depan rumah mereka sambil berbisik-bisik. Apa yang terjadi, kenapa banyak sekali ibu-ibu di luar sana? pikir Widya heran. Melihat raut wajah mereka yang saling berbisik satu sama lain, ia bisa menebaknya. Para tetangga yang ingin tahu itu sedang bergosip. Ya, ampun! Apa mereka tidak punya kerjaan lain, selain menggosipkan kehidupan orang.
Menatap kembali pada Radit, Widya bertanya, "Apa yang mereka gosipkan kali ini?" Tubuhnya terasa bergetar menahan emosi yang kini mulai bergejolak dalam dirinya.
"Apa kamu lupa jeritan hebohmu tadi malam pasti terdengar oleh mereka. Belum lagi teriakkanmu beberapa jam yang lalu saat aku membangunkanmu. Mereka pasti sekarang bergosip tentang pengantin baru yang tidak harmonis," jawab Radit menghembuskan napas panjang, merasa lelah menghadapi semuanya. "Bagaimana kalau orang tua kita mendengar hal ini? Mereka pasti akan merasa malu. Ini semua karena kamu!"
"Kenapa malah aku yang disalahkan. Kalau kamu nggak membopongku layaknya sekarung beras, aku nggak mungkin akan menjerit. Dan soal pagi ini juga sama, kamu mengagetkanku!"
"Aku nggak akan melakukan hal itu kalau saja kamu nggak menyulut emosiku dengan tingkah kekanakanmu!" balas Radit, sorot matanya memancarkan kilatan jengkel. "Berbicara mengenai kejadian semalam, sebaiknya kamu membereskan semua kekacauan yang telah kamu buat."
"Sok dewasa sekali kamu. Seolah kamu nggak kekanakan saja," cibir Widya. Bangkit dari posisi duduknya, dia memberi hormat pada Radit dengan pose berlebihan, seperti seorang pelayan memberi hormat pada tuannya. "Kalau begitu, istrimu mohon undur diri dulu, Suamiku Yang Bersahaja."
__ADS_1
"Mau kemana kamu?"
"Membereskan semua kekacauan yang kamu sebutkan tadi." Mengibaskan rambut hitam panjangnya, Widya berjalan begitu elegan ke kamarnya.
Menyandarkan dirinya di sofa, Radit tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang untuk mengisi waktu luang. Kemudian ia teringat pagi ini ia belum sarapan sama sekali. Bangkit dari tempat duduknya, ia pergi ke dapur untuk mengolah sarapan pagi bagi mereka berdua. Istrinya yang cantik jelita itu pasti tidak bisa memasak, jadi percuma saja mengharapkannya menyiapkan makanan untuk mereka berdua.
Membuka kulkas untuk mencari bahan makanan yang bisa dimasak, ia hanya menemukan kulkas itu tidak memiliki apa pun yang bisa dimasak olehnya. Di dalamnya hanya berisi botol minuman. Sepertinya ia harus pergi ke pasar bersama istrinya untuk mengisi bahan makanan mereka.
Menutup pintu kulkas kembali, ia mencari ke laci lemari dapur berharap menemukan sesuatu. Untung saja, di sana ia mendapatkan sebungkus roti tawar serta berbagai jenis cemilan lainnya yang bisa dimakan. Mungkin ibu Widya yang telah membeli semua cemilan ini untuk anaknya tercinta, yang sekarang ini sedang sibuk membereskan kekacauan di dalam kamarnya.
Tak berapa lama kemudian, Widya duduk di seberang meja ikut menyantap roti yang sedang dimakannya.
"Aku sudah mengembalikan semua barangmu pada tempatnya. Jadi, apa sekarang aku boleh makan, Suamiku?" tanyanya dengan nada mengejek.
"Tentu saja, Istri Mungilku."
"Berhenti memanggilku seperti itu!" Gigitan kuat di rotinya menandakan istrinya sedang sangat marah.
"Kenapa nggak? Bukannya kamu sendiri yang bilang lebih suka dipanggil mungil daripada pendek?"
"Mendengarmu memanggilku seperti itu, rasanya terdengar sangat menghina."
"Kalau begitu, aku harus memanggilmu apa? Sayang? Istri Cantikku? Belahan Jiwaku? Hatiku?"
"Terserah, selama itu tidak mengandung penghinaan di dalamnya."
"Lucu sekali. Bukankah kamu juga memanggilku dengan nada menghina?"
Widya hanya mengangkat bahu tak peduli.
Pembicaraan mereka pun berakhir sampai di situ. Mereka berdua sama-sama memiliki suasana hati yang sangat buruk untuk melanjutkan pembahasan mengenai nama panggilan satu sama lain. Meneruskan pembicaraan itu hanya akan membuat mereka saling beradu mulut yang tak akan ada habisnya.
__ADS_1