
Tangan gadis yang bertugas di bagian resepsionis pun gemetaran sambil memencet tombol bantuan..
"Percuma.... Aku sudah membuat semua penjaga pingsan, mungkin tengah malam baru akan sadar..! " Ucap vivian yang kini telah berpindah tepat di belakang gadis lembut itu...
"Aku tanya sekali lagi.. Irwin ada di mana.??? " Tanya vivian karena sudah sepuluh menit waktu berlalu...
"Di.. Di ruang rapat lantai sepuluh, ruangan dengan pintu bercorak bunga sakura. " Jelas gadis resepsionis itu dengan gemetaran hebat..
"Makasih... Tapi untuk mempermudah proses nya, kau tidur siang dulu ya, PAK..! " Ucap vivian sambil memukul belakang leher gadis itu, dan akhirnya pingsan.
Dengan berlari, vivian menaiki lift dan berharap tak menemui siapapun.. Karena dia tak mau membuang waktu lagi...
"Ting... " Bunyi pintu lift yang terbuka.
"Tap.. Tap.. Tap.. Tap.. " Tapak kaki vivian melaju dengan sangat cepat, mata nya terus menelusuri lorong panjang yang dia lalui, sampai akhirnya menemukan pintu ruangan bercorak bunga sakura...
"BRAK....!!! " Dengan pikiran yang sudah semakin kalang kabut, vivian langsung membuka pintu rapat dengan sangat keras..
"Aku ada perlu dengan IRWIN AGREETE.....!! " Ucap vivian pada enam orang termasuk irwin dan hans yang sedang berunding.
"Maaf nona.. Kami tak tau urusan mu sepenting apa..! Tapi jika meeting ini di hentikan di sini, otomatis kerja sama dengan kantor the star akan di batalkan.! Dan harus memberikan uang kompensasi kepada kami..! " Jelas pria paru baya, yang duduk tepat di samping kanan irwin.
"Berapa jumlah uang kompensasi yang harus di bayar.? " Tanya vivian sambil melirik jam tangan nya terus menerus.
"Seratus Miliar dolar nona muda.. Saya harap anda dapat memahami nilai ini, dan keluar tanpa perlawanan dari ruangan rapat ini..! " Pinta pria paru baya itu dengan penuh hormat.. Bukan nya menghina, tapi memberitahu sebuah kenyataan agar semua pihak dapat di untung kan..
Tapi, jika seperti itu.. Pihak vivian yang akan mengalami kerugian paling besar. Karena harus kehilangan dua buah hati nya, yang baru dia dapat kan beberapa bulan lalu.
"Tak..! " Vivian yang melempar kartu black card di atas meja, tepat di hadapan pria paru baya itu.
"Aku tau saran mu bermanfaat untuk membawa keuntungan untuk ke dua pihak, tapi tidak bagi ku.. Ada sesuatu yang aku pertaruhkan saat menginjakkan kaki di kantor ini..!!! Dan nominal yang ada di kartu black card itu sama persis dengan nominal yang kau sebutkan tadi.. Lalu kata sandinya adalah alfabet A-J, Apakah ada sanggahan.? " Tanya vivian bertatapan mata dengan nya..
"Tak ada.. Tapi mari kita melihat persetujuan dari CEO perusahaan The Star, karena dia juga berhak berpendapat...
"Aku keberatan. Walaupun kau sudah memberikan uang ganti rugi, lalu yang kami dapat kan apa.? Tak ada.?? Berarti kerja keras dan keringat kami terbuang percuma dong.! Jawab irwin dengan angkuh..
"Aku akan menjalin kerja sama dengan perusahaan Mu. ! " Jawab vivian dengan mata nya yang terus melirik jam tangan nya.
__ADS_1
"Ah... Kau anak dari perusahaan apa.? "Tanya irwin acuh tak acuh.
Hei.. Aku kan sudah bilang, kejar wanita yang kau sayangi.. Bukan membuat jarak seperti ini.. Batin hans sambil menatap tajam ke irwin..
Aku punya cara ku sendiri.. Kamu tenang saja... Batin irwin
"Aku bukan anak dari perusahaan mana pun, aku pemimpin dari perusahaan Sky. Apakah kesepakatan ini dapat mencapai puncak saat ini juga.? " Ucap vivian, dengan waktu yang sudah lewat 20 menit..
"Baiklah.. Tidak buruk juga.. Hans, antar kan perwakilan dari perusahaan Berlian sampai tempat parkir, kesepakatan ku sesuai dengan yang wanita ini sampai kan. " Perintah irwin..
"Baik tuan.. " Ucap hans dan langsung lekas menjalan kan perintah irwin, dan meninggalkan vivian berdua dengan irwin di ruangan itu..
"Jadi.. Ada apa gerangan kau menghampiri ku seperti ini.? " Tanya irwin yang bahkan tak mempersilahkan vivian untuk duduk, padahal perasaan nya sedang berpesta ria karena wanita yang dia suka datang di hadapan nya..
"Aku ingin meminta pertolongan. ! " Pinta vivian dengan tatapan pilu di hadapan irwin.
"Ah.. Minta tolong yah.. Bukan nya kau yang meminta agar kita tak bertemu lagi.?? Aku berusaha semaksimal mungkin loh agar tidak berpapasan dengan mu seperti beberapa waktu lalu.. Lalu apa yang terjadi saat ini..?! " Ucap irwin.
"BRUK...! " Bunyi vivian yang berlutut di atas lantai..
"AKU MOHON.. HIKS... TOLONG DONOR KAN DARAHMU UNTUK ANAK ANAK KU... HIKS... AKU MOHON.. APAPUN AKAN AKU LAKUKAN UNTUK MU, MEMBERIKAN SELURUH SAHAM DI PERUSAHAAN SKY, MEMBERIKAN SEMUA UANG YANG AKU PUNYA, LALU......
" LALU... MEMBERIKAN RAGA KU SEBAGAI BAYARAN JUGA TAK APA.. TAPI AKU MOHON PADA MU, SELAMAT KAN KE DUA PUTRA KU.... HIKS.... "
Pinta vivian dengan uraian air mata yang teramat deras.. Kelopak mata nya memerah, pandangan mata nya benar benar menampakkan keputusasaan yang tak berujung, kedua tangan nya terus menyeka air mata yang jatuh, sosok vivian yang seperti ini adalah yang pertama dan mungkin yang terakhir kali dalam hidup nya, dan di saksikan oleh irwin seorang..
BANGS*TTT... aku tak tau kalo kondisi saat ini sangat darurat, bisa bisa nya aku masih memanfaat kan situasi ini demi menaruh dia di sisi ku....!! Aku kira, dia yang terus melihat jam karena merasa tak nyaman, tapi itu karena setiap detik saat ini sangat berharga bagi nya..
"Hiks.... Aku mohon.. Risal.. Rival.. Hiks.. kumohon.. Aku tak mau kehilangan mereka lagi.. Aku tak sanggup... Aku tak kuat.. Bahkan.. Hiks.. Bahkan aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.. Ku mohon... Irwin.. Aku mohon pada mu.. Sekali ini saja... Aku mohon... Hiks... Hiks... " pinta vivian terbata bata, dan penuh akan ketakutan yang luar biasa, jika harus kehilangan anak anak nya. !
"Hentikan.. Ku mohon.. Berhenti menangis dulu..!! Aku akan membantu mu, jadi berhenti lah menangis, aku yang tersiksa jika kau terus seperti ini... " Ucap irwin yang kini tengah duduk jongkok di hadapan vivian, dan kedua tangan nya yang memegang lengan vivian yang kecil lemah itu...
"Hiks... Hiks... Huwaaa... " Tangisan vivian semakin menjadi saat irwin menyetujui permohonan nya, irwin dengan lembut meletakkan kepala vivian di dada nya yang bidang. Dan memeluk vivian dengan gerakan tangan yang tulus.
Hangat..... Batin vivian yang saat ini sedang berada di pelukan irwin.
"Baiklah.. Untuk tangisan ini bisa kah untuk di pending dulu.?? Bukan kah dari tadi kau hanya melihat jam tangan ? Berapa waktu yang tersisa sat ini.?? " Bujuk irwin dengan nada halus, seperti sedang membujuk anak kecil..
__ADS_1
"Tersisa 35 menit lagi... " Jawab vivian menyeka air mata nya..
"Kalo begitu, apakah kau ingin menggunakan mobil ku.? " Tanya irwin
"Tidak.. Kecepatan mobil ku lebih cepat dan unggul dari yang lain" Jawab vivian dan langsung menggandeng tangan irwin turun ke lantai satu dan menaiki mobil yang dia banggakan..
Saat berada di atas lift~~
" Fandi, ini aku... Aku perintahkan untuk mengosongkan jalur dari jalan xx ke rumah sakit xx milik titin.. Kamu mengerti maksud ku kan.? " Perintah vivian dari jam tangan nya..
"Baik.. Akan aku lakukan.. " Jawab hans dari earphone yang di kenakan vivian.
"Bagus... " Jawab vivian..
"Ting.. " Pintu lift yang terbuka.
Dengan gesit vivian yang sedari tadi memegang tangan irwin di atas lift tanpa sadar, langsung berlari ke arah mobil nya yang di parkir kan tadi..
Sepanjang berlari, mata irwin tertuju pada setiap penjaga yang tergeletak di atas lantai...
"Apakah ini ulah mu.? " Tanya irwin.
"Yaah, aku tak punya pilihan lain.. Kau tenang saja, mereka akan terbangun saat tengah malam... " Jawab vivian enteng..
Tidak.. Yang aku maksudkan itu bukan tentang kau membunuh mereka atau bukan.. Tapi apakah badanmu yang sekurus ini dapat menjatuhkan mereka dengan mudah nya..?? Lalu kenapa pada malam itu kau hanya menggunakan pistol..? Batin irwin penuh tanda tanya..
"Aku yang akan mengemudi.. Kau duduklah dengan tenang.. " Ucap vivian yang sudah duduk di kursi pengemudi.
"Dari percakapan mu tadi di atas lift, jalur yang akan kita tempuh memakan waktu sepuluh menit.! Apakah tak akan terlambat.?? " Tanya irwin memasang sabuk pengaman..
"Tidak... Kita akan sampai dalam lima menit..!! " Jawab vivian dengan tatapan serius...
Entah kenapa perasaan ku jadi tak enak.. Lima menit.... Apakah dia pernah ikut balapan.?? Batin irwin menatap vivian.
Dan tentu saja, vivian langsung mengemudikan mobil nya dengan kecepatan di luar nalar... Dan mereka sampai di rumah sakit bukan dalam waktu lima menit, tapu empat menit...
Mungkin karena jalur nya kosong dan tak ada satu mobil ataupun motor yang melintas, mobil vivian melaju bagaikan roket..!! Atau mungkin vivian memang menginginkan kecepatan seperti ini...!
__ADS_1