
Setelah menghempaskan tangan vivian dengan sangat sensitif, irwin kembali ke ruangan nya menggunakan lift yang khusus di siapkan untuk nya.
Irwin pergi meninggalkan vivian yang terdiam membisu di tempat tanpa ekspresi apapun. Si kembar yang peka langsung menghampiri vivian dengan wajah pura pura tak tau apa yang terjadi saat ini. Padahal kalo mau membuat kesimpulan, setan cilik inilah dalang nya.
"Mama... Mama kenapa bengong sambil berdiri sih ? Mama gak capek yaah berdiri terus ? Padahal kaki risal udah sakit banget ! " keluh risal.
"Ma... Mama lagi berantem sama papa yaah ? Kenapa suasana nya bisa kaya gini ? " Seru rival yang memang sejak awal sudah menunjukkan pada vivian, bahwa dia adalah anak yang sangat peka terhadap situasi apapun.
"Ah... Ma... Mama sama papa gak berantem kok. Mungkin papa lagi banyak kerjaan aja makanya suasana nya kaya tadi, kalian jangan di ambil hati yaah, " ucap vivian menenangkan si kembar, padahal yang perlu di tenangkan saat ini adalah diri nya sendiri.
Hah... Mama udah mulai bersikap kaya yang aku prediksi kan, sekarang tinggal menambahkan sedikit bumbu, biar mama lebih kepikiran. Batin rival.
"Ma... Beneran semua nya baik baik aja ? Atau hanya perasaan rival aja yang berlebihan ? " sambung rival menggoyahkan perasaan vivian yang sedari tadi tak tenang.
"E... Em, kita jangan bahas ini lagi yaah. Yuk pulang ke rumah, mama tadi udah nyuruh chef dodo bikinin desert dari buah nanas, " ucap vivian lari dari pembicaraan.
Si kembar yang tau situasi saat ini pun langsung bergandengan tangan dengan vivian dan masuk ke lift.
...*Di dalam mobil*...
Vivian hanya duduk membisu, sambil menatap ke arah luar dari kaca mobil nya. Sedangkan si kembar sibuk memakan snack yang tersedia di dalam mobil.
Apa ada yang salah dengan irwin ? Apakah dia lagi bad mood ? Setau aku, suasana hati nya bakal ceria kembali kalo udah liat aku kok. Apa aku yang terlalu kepikiran ? Atau ini gara gara aku selalu lari saat membahas soal hubungan yang lebih serius ? Itu kan karena aku belum siap kembali ke kediaman satoru dan memperkenalkan irwin sama ayah ibu. Jangan kan irwin, si kembar aja belum aku kasih tau ke ayah ibu. Aku takut si kembar dan irwin akan di tolak mentah mentah oleh ayah. Apakah pemikiran ku ini terlalu berlebihan ? Atau ayah dan ibu hanya sebuah alasan yang aku pakai ? Apakah aku yang terlalu plin plan dan berlebihan ? Atau, apakah irwin sudah nyaman dengan wanita lain ? Wanita yang mau membalas perasaan nya dan memberikan status pada hubungan nya ? Hah, apa yang aku pikirkan ? Kenapa Seperti ada jarum yang tertancap di hati ku, saat aku membayangkan irwin tertawa dengan wanita lain ? Apakah ada yang bermasalah dengan organ dalam ku ? Atau ada yang bermasalah dengan perasaan ku ? Batin vivian penuh akan pertanyaan dan pemikiran nya sendiri.
"... Ma "
__ADS_1
"... Ama "
"MAMA " Teriak si kembar bersamaan.
"Hah ? Kenapa ? Ada apa ? " jawab vivian kaget.
"Apakah itu enak ? " tanya risal.
"Apa nya sayang ? " jawab vivian.
"Mama terus menggigit ujung jempol mama sampai darah, apakah darah mama seenak itu ? Sampai sampai mama tak mendengarkan panggilan kami ? " tanya rival sambil menyeka darah yang keluar dari jempol vivian dengan tisu.
Aku tak menyangka mama akan berada di situasi yang benar benar tak bisa dia temui jawaban nya sendiri. Aku rasa sekarang mama benar benar gelisah deh. Batin rival
"Ah... Mama hanya... Hanya... "
"Hanya apa ma ? " tanya rival.
"Hari ini mama kaya lagi banyak pikiran deh. Sampai sampai menjawab pertanyaan kaka aja terbata bata kaya gitu, " sambung risal.
"Mama hanya lagi banyak pikiran aja. Kalian kan tau sendiri kalo perusahaan mama baru di resmikan hari ini setelah renovasi, jadi banyak banget pekerjaan yang harus mama pikir kan, " jawab vivian berkeringat.
Mama lagi bohong saat ini. Batin si kembar kompak sambil bertatapan.
"Udah... Gak udah urus jari jempol mama lagi. Kalo mama diemin juga bakal kering terus sembuh. Kalian mikirin aja pelajaran yang bakal randi kasih ke kalian besok, " ucap vivian yang lagi lagi lari dari pembicaraan.
__ADS_1
"Hah... Untuk saat ini, kak randi udah mulai kasih pelajaran yang setara dengan anak SMP. Kaya cepat banget ma, " ucap risal.
"Kaya nya bukan pelajaran nya yang kecepatan deh dek, kita yang paham di setiap pelajaran terlalu kecepatan, " jawab rival.
"Apakah kita pura pura bodoh aja ? Biar kaya anak lain, " sahut risal memberi ide konyol.
"Kau benar benar bodoh yaah. Kita ini dari keluarga no satu loh. Kaka yakin, setelah ini kita bakal mendapat kan pelatihan. Iyah kan ma ? " tanya rival namun saat ini vivian sudah kembali bengong.
"Ah, kembar nya mama. Mama mau nanya, tadi waktu kalian sama papa, papa kalian lagi ngobrol sama cewe gak ? Atau mungkin ada masalah di projek yang dia bahas saat lagi rapat gitu ? " tanya vivian yang tiba tiba bersuara, tapi bukan penjawab pertanyaan rival, namun bertanya soal kelakuan irwin.
"Hem ? Papa gak ngobrol sama cewe kok ma ! " jawab risal.
"Ah satu hal yang ganjal dari papa hari ini, papa kebanyakan liat ke hp. Dikit dikit liat hp, terus kaya ada chat yang masuk terus. Soal nya hp papa dari tadi berisik banget. Bahkan kadang papa ketawa terbahak bahak saat baca chat di hp nya ma, " jawab rival yang tentu nya bohong. Jawaban ini sudah sangat matang dan tertera jelas di dalam benak nya, jelas... karena ini adalah rencana mereka.
"Kalian gak liat user name nya gitu ? Atau nama kontak yang papa kalian save ? " tanya vivian yang sudah seperti detektif saja.
"Gak tau juga sih ma. Tapi tadi ada kata kata bawel yang keluar dari mulut papa, " jawab risal mulai mengompori sang mama.
"Ah... Gitu yaah... Oke... " jawab vivian.
Apakah aku harus meretas handphone genggam milik irwin untuk mencari tau dia mengirim pesan dengan siapa ? Hei tunggu dulu, status apa yang ku punya dengan irwin, sehingga aku meretas hp nya ? Apakah tindakan ku ini dapat di benar kan ? batin vivian bergulat dengan kata hati nya.
"MAMA... JANGAN BENGONG LAGI, KITA UDAH SAMPAI RUMAH LOH. AYOK TURUN, RISAL UDAH GAK SABAR MAU MAKAN DESERT NANAS, " teriak risal yang membuat vivian kembali pada kenyataan saat ini.
"Iyah, tunggu mama dong, " ucap vivian mengikuti langkah kaki risal dari belakang. Dan tentu nya, rival masih berdiam diri di dalam mobil, ingin memberi kabar pada papa nya tentang perkembangan saat ini.
__ADS_1