
"Yakin masih mau pelukan ? Udah di ketawa sama ibu dan anak anak kamu loh, "
"Kan ini semua gara gara ayah, "
"Iya ini gara gara ayah, sekarang kamu udah tenang juga kan ? Nafas kamu udah kembali beraturan, tangan kamu gak gemetaran lagi, jadi sekarang waktu nya kamu jelasin ke ayah ibu yah, " bujuk sang ayah.
"Ayah gak bakal marah sama vivi kan ? "
"Iyah ayah gak bakal marah kok, "
"Janji yaah, "
"Iyah, mungkin ayah bakal jadikan seseorang sebagai alat pelampiasan, " ucap sang ayah sambil menatap irwin dengan tatapan tajam dan dingin.
Ah, jadi ini yaah yang nama nya rasa takut. Mana bulu kuduk berdiri lagi, fix ini sih aku bakal kena ampas nya. Perasaan aku udah gak enak dari tadi, batin irwin yang detak jantung nya sudah tak beraturan lagi. Namun yang patut di puji, raut wajah nya masih tampak tenang.
Hmpt... Lumayan juga bocah ini, baru kali ini aku bertemu dengan pria yang tidak gemetaran setelah mendengar ancaman dan melihat mata ku, puji ayah vivian, yang tak tau bahwa saat ini irwin sedang mengarahkan seluruh tenaga nya.
"Kak... Kalo mama manggil ayah ke orang itu, berarti dia kakek kita kan ? " tanya risal sengaja membesarkan suara.
"Em, kamu bener banget ! Jadi kalo orang itu kita panggil kakek, berarti yang mama panggil ibu tadi nenek kita, " sambung rival.
"KAKEK... NENEK... Kita boleh manggil kaya gini kan ? " ucap si kembar kompak dan menengadahkan wajah mereka ke andhika dan stefani dengan keimutan yang telah di jamin ampuh 100%.
"Boleh kok anak manis... Astaga, akhirnya aku udah bisa gendong cucu.. Vivi, kerja bagus, " ucap stefani sambil menggendong rival.
Andhika langsung melepas pelukan nya dari vivian, dan langsung menggendong risal.
"Setelah sekian lama... Akhirnya aku jadi seorang kakek juga... Padahal dengan sifat ke tiga anak ku yang keras kepala dan dingin ini, aku khawatir sampai mati pun tak ada yang manggil aku kakek.! " Ucap andhika penuh haru.
"Nama kamu siapa cucu kakek yang imut?"
"Risal... Risal satoru kakek, "
"Ah, pintar banget sih jawab nya. Udah imut, pasti pintar banget kaya mamanya dan kakek nenek, "
__ADS_1
"Cup." Risal mengecup pipi sang kakek.
"Makasih ya kek atas pujian nya, "
"Blush... ! " wajah sang kakek merona seketika.
"Astaga imut... Imut sekali... Kamu mau apa sayang ? Mainan ? Robot? Mobil mainan ? Pesawat mainan ? Ah, atau kamu mau kakek beliin mobil, pesawat, helikopter, dan robot sungguhan ? "
"I... Itu... Gak... Gak usah kakek... Itu terlalu berlebihan, " jawab risal kelabakan.
"Jadi kamu gak suka sama kakek kamu ini yaah ? Kakek kurang apa emang nya? " tanya andhika dengan wajah murung.
Celaka... Tingkat kebucinan kakek melebihi paman reynard dan mama... Risal harus apa ?????? jerit batin risal.
"Kakek... Risal suka banget kok sama kakek. Kan mama udah kasih aku sama kaka mobil, limosin, robot, pesawat, sama helikopter, jadi kalo kakek kasih kaya pemborosan... Jadi, kakek suapin risal makan aja, risal udah senang banget, " jawab risal yang menemukan jawaban yang terlintas sesaat di otak nya.
"Kalo gitu kakek bakal kasih kamu hadiah yang lain. Kalo soal suap menyuap, sudah pasti bakal kakek lakuin tanpa kamu suruh cucu kakek... "
Kakak... Tolong risal... Batin risal sambil memberi kode pada sang kaka. Namun apa boleh buat, saat ini rival sedang kesusahan dengan sang nenek yang terus mengecup pipi, kening, dagu, dan hidung nya karena gemas.
NERAKA... INI KAYA DI NERAKA.! KOK MAMA BISA MENANGANI KEBUCINAN YANG KAYA GINI ???? Teriak batin sang kembar.
Ucap vivian tepat di sebelah irwin dan terdengar jelas oleh si kembar, karena menggunakan earphone versi kecil dan sangat kecil yang si kembar buat sendiri.
TIDAK.!!! MAMA JANGAN KAYA GITU DONG ?! BANTU KITA MA !!! Teriak si kembar kompak di dalam hati.
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...~Beberapa saat kemudian~...
"Tuan Muda... Apakah ada tempat yang ingin Ke dua Tuan Muda datangi ? Kalau tidak ada, mari saya ajak berkeliling kediaman ini atau jalan jalan ke taman bunga, " ucap asisten Dewa sekaligus tangan kanan Andhika kakek si kembar.
"Hem, karena tadi kakek sama nenek mau bicara hal serius sama mama papa, kita di suruh jalan jalan sama asisten kakek. Dek, kamu mau kemana ? " tanya rival.
"Em, risal ikut kaka aja deh. Asalkan ada desert dari buah nanas. "
"Oke, Kak Dewa-"
"Tolong bicara yang santai saja dengan saya Tuan Muda. Tidak usah memanggil kakak, cukup nama panggilan saja, " sambung dewa karena merasa janggal di perlakukan penuh hormat oleh si kembar.
"Gak bisa. Kata mama, orang dewasa tetap orang dewasa. Panggilan hormat harus selalu ada, gak peduli seberapa banyak harta yang di miliki, " sahut rival dengan muka serius.
"Ah... Tuan Muda sangat mirip dengan Nona Vivian yaah, "
"Terima kasih atas pujian nya, tapi aku dan adik ku ingin pergi ke perpustakaan. Dan juga pasti akan memakan waktu lama saat membaca buku, jadi siapkan beberapa desert dan cemilan rasa nanas, dan dua gelas susu hangat. "
Dewa pun langsung memalingkan mata pada 10 pelayan yang sedang berdiri di belakang si kembar, dan ke sepuluh pelayan itu langsung bergegas ke dapur.
"Baik ke Dua Tuan Muda, silahkan ikuti saya." Ucap dewa sambil memandu jalan.
Tentu saat dalam perjalanan ke perpustakaan, dewa dan si kembar bercerita dengan sangat asik dan akhir nya menjadi akrap dalam hitungan menit. Di dalam perpustakaan pun, si kembar langsung fokus pada buku buku kuno dan besar karena penasaran akan isi nya.
Mereka berdua merasakan debaran, saat melihat buku catatan kuno dari bahasa mesir kuno yang terdahulu.. Hal ini sudah tidak membuat dewa kaget lagi, karena dia sudah melihat hal ini terjadi pada Reynard, robert, dan vivian.
Di saat si kembar sedang asik membaca buku buku kuno di perpustakaan, di sisi lain... Ada irwin dan vivian, yang sedang duduk di atas sofa dan berhadapan dengan Andhika dan Stefani, dengan atmosfer yang tidak baik.
Bahkan tak ada satu pelayan pun di dalam ruangan saat ini, setelah berpindah dari meja makan. Keheningan yang hakiki melanda ruangan yang di tempati ke empat orang ini, vivian yang merasa cemas jika sang ayah mengajukan pertanyaan aneh, dan raut wajah irwin yang tetap terlihat tenang padahal perasaan nya campur aduk dan tak karuan.
Sedangkan stefani sang ibu vivian, sedang menuangkan teh hijau yang di campur dengan susu putih dengan gerakan jari yang anggun dan penuh akan etika yang sulit di temukan saat ini.
"Teh nya sudah di tuang, silahkan di cicipi. Tante harap kamu dapat menyukainya, karena ini adalah salah satu rasa teh yang di sukai vivi, " ucap stefani sambil menatap mata irwin dengan suara yang lembut.
"Terima kasih tante, padahal tante tak perlu repot repot menyajikan teh untuk irwin, " jawab irwin sopan sambil menyeruput teh milik nya.
__ADS_1
Berani nya bocah ini cari muka dengan istri ku ?? batin andhika yang merasa cemburu karena perhatian istri nya teralihkan pada orang lain.
"Baik, Ayah rasa sudah cukup basa basi nya. Karena ayah ingin mendengar penjelasan nya saat ini. "