
"Hehehe... Aku tau kalo kamu pintar menilai orang orang yang berbakat seperti aku, jadi aku akan memilih anak anak, dan mengirim mereka ke perusahaan cabang sesuai dengan kemampuan mereka. Kamu jangan khawatir dan serahkan semua nya saja pada ku. Oke.?! "
"Iyah.. Iyah.. Aku percaya pada mu, Nanti kalo perusahaan nya udah selesai di urusin sama lidia, baru aku akan menghubungi kalian lagi. Untuk hari ini sampai sini saja, selamat malam. " Ucap vivian mematikan panggilan.
Saat vivian merasa semua urusan nya sudah terselesaikan, dia meletakan hp nya di atas meja, dan ingin mematikan lampu. Tapi,
"Brak." Bunyi pintu kamar vivian yang di buka dengan kasar.
Sontak bunyi yang lumayan besar itu sempat mengagetkan vivian. Vivian sempat berpikir ada pembunuh bayaran yang datang, tapi tak mungkin dengan membuka pintu secara paksa dan terang terangan begitu.
"MAMA.... " Teriak dua bocah cilik di depan pintu dengan amarah.
Vivian memalingkan pandangan pada suara yang memanggilnya itu,
"Loh..?? Kalian belum bobo.? Kenapa kalian datang ke kamar mama.? " Tanya vivian terheran heran.
Sedangkan rival dan risal mengabaikan pertanyaan dari vivian, dan melaju dengan langkah kaki yang cepat ke arah vivian. Dengan gerakan yang gesit, rival dan risal menaiki tempat tidur vivian yang terbilang lebih tinggi dari tempat tidur mereka.
Tak mau patah semangat, mereka terus berjuang dan akhirnya bisa duduk di atas tempat tidur dengan nafas yang ngos ngosan.
Dengan postur tubuh berdiri, rival dan risal berdiri di hadapan vivian yang sedang duduk bersila. Mereka memandangi mama mereka dengan tatapan marah, tidak terima, dan membutuhkan penjelasan.
"Kalian kenapa sih.? " Tanya vivian penasaran.
"MAMA....!! ANTARA KITA BERDUA, SIAPA YANG KAKAK, DAN SIAPA YANG ADIK.? POKOK NYA, SIAPA YANG LAHIR DULUAN MA.? " Tanya si kembar dengan berteriak.
"Hem.? Memang mama belum kasih tau ke kalian yaah.? " Tanya vivian.
Si kembar hanya menggelengkan kepala mereka.
"Hah... Kalian berdua ini.. Hanya masalah seperti ini aja, kalian harus sampai seheboh ini.? " Ujar vivian.
"........... " Rival
"............ "Risal.
__ADS_1
Si kembar hanya terdiam, tak merubah ekspresi, dan menunggu jawaban dari pertanyaan yang mereka lontarkan pertama kali.
"Hah.. Yang lahir duluan atau yang jadi kaka itu Rival. Karena Dokter yang membantu mama bersalin, pernah bilang kalo anak pertama itu yang punya tahi lalat di bawah mata. Karena yang punya tahi lalat di bawah mata hanya rival, sudah pasti rival yang jadi kaka."
"Sekarang jawaban ini sudah dapat memuaskan kalian berdua kan.? " Ucap vivian.
"Hahaha.... Risal, akulah yang menjadi kaka. Kan tadi juga udah aku bilang, pemikiran aku tuh lebih dewasa dari kamu.. Masa hal seperti ini harus di tanyakan sama mama." Ucap rival bangga.
"Hah..? Tidak mungkin.! Mama pasti salah info deh. " Sanggah risal yang terduduk lemah.
"Enggak risal... Kenyataan nya emang kaya gitu. " Ucap vivian memperkuat kenyataan yang menyakitkan bagi risal.
Karena risal merasa tak terima, dia menarik kerak baju pada piyama yang rival kenakan, sehingga posisi rival sama dengan nya.
"Kamu jangan kegirangan dulu dong. Kamu pikir dengan kamu jadi kaka, kamu udah menang dari aku gitu.? " Ucap risal yang menggenggam kerak kaka nya dengan kuat.
"Loh emang kenapa sih.? Kamu iri ya.? Emosi ya.? Kasian banget." Ledek rival yang tak mau kalah dari adik nya itu, dan membalas memegang kerak pada piyama milik risal.
Saat di tengah perkelahian antara ke dua kaka dan adik itu, tiba tiba mereka merasakan aura kemarahan dari sang mama. Yang berhasil membuat ke dua bocah cilik itu bergidik geri, dan memalingkan pandangan mereka pada vivian dengan keringat dingin.
"Jadi........ Bisa kalian jelas kan ke mama.? Kenapa kalian belum tidur, padahal tadi kalian berdua udah kelihatan nyenyak banget. " Tanya vivian penuh intimidasi dan di tambah dengan senyum marah pada wajah nya, sambil melipat kedua tangan di dada nya.
"Y.. Yaah.. Kalau itu... Em.. " Ucap risal bingung.
"Wah... Wah... Wah.. Wah... Kayak nya anak kembar mama lagi jalan sambil tidur deh, makanya kaya gini. Hehehe, Kalian kira mama bakal berpikir begitu.? " Ucap vivian.
Akhirnya, rival dan risal hanya duduk bersila di atas tempat tidur vivian, sembari menundukkan kepala mereka karena merasa bersalah.
"Sekarang jawab jujur... Selama ini, kalo mama bacain buku cerita atau nyanyiin lagu pengantar tidur, sampai kalian berdua terlelap itu hanya bohongan.? " Tanya vivian.
"Em.. Itu ma... " Rival
"Mama... Ah... " Risal.
"Kenapa gak bisa jawab pertanyaan mama.? Sesusah itu ya jawab pertanyaan mama.? Atau pertanyaan mama dalam bahasa indonesia gak kalian pahami dengan baik.? " Ujar vivian penuh emosi.
__ADS_1
"...........………"
"………………"
Si kembar hanya terdiam membisu. Seakan tak ada satu kata pun yang dapat mereka ucapkan...
"Hah... Kalo kalian gak mau jawab pertanyaan mama juga gak papa. Mulai sekarang, mama gak usah bacain buku cerita sama nyanyiin lagu buat kalian lagi deh. ajung ujung nya juga kalian gak tidur kan, tindakan mama selama ini ternyata sia sia yaah. " Keluh vivian dengan wajah sedih.
"JANGAN MA... " Teriak rival refleks.
"GAK MA... BUKAN KAYA GITU. " Sambung rival yang ikutan berteriak juga.
"Oh akhirnya kalian berdua bisa ngomong juga. Mama kira kalian berdua udah benar benar gak anggap mama lagi. " Seru vivian.
"Mama jangan sedih dong. " Bujuk rival.
"Pokok nya bukan kaya yang mama pikir. " Sambung risal.
"Terus kaya gimana.? " Tanya vivian mengurangi aura kemarahan nya, agar ke dua anak nya tidak terlalu terintimidasi, dan leluasa dalam berbicara.
"Mama... Tindakan kita bukan kaya yang mama pikirin kok. " Ucap rival.
"Ia ma.." Sambung risal.
"Mama jangan berhenti bacain buku dongeng buat rival sama risal yaah.! "Bujuk rival
"Ini hanya kesalahan Risal sama kak rival kok ma.. Gak ada hubungan nya sama gak menghargai mama atau gak menghormati mama... " Sambung risal yang memanggil rival dengan sebutan kaka, agar emosi vivian sedikit mereda.
"Kalo kalian menghargai mama, kalo kalian sayang sama mama, kenapa tindakan dan ucapan kalian bertolak belakang seperti ini......? " Tanya vivian.
"Jadi ma... Tadi itu rival hanya mau ngobrol bentar doang sama adik risal, gak tau kenapa... Pembahasaan nya jadi ke siapa yang jadi kaka dan adik.. " Jelas rival.
"Jadi sebagai pembuktian dan mencari nara sumber yang terpercaya, kita sampai ke kamar mama tanpa memperhitungkan situasi dan keadaan yang ada.. Jelas risal.
Vivian masih menatap si kembar dengan setengah percaya.
__ADS_1
"Em.. beneran kok ma.. " Ucap risal
"Rival sama adik juga gak tau kalo bakal menggangu waktu mama istirahat. " Ucap rival yang berusaha agar vivian dapat percaya...