
"Tap... Tap... Tap... Tap... " Barisan pelayan kediaman Andhika Satoru pun mulai berlari dan berbaris yang rapi menyambut vivian yang akan turun dari Jet pribadi nya.
Barisan pelayan nya sangat panjang bahkan sampai pintu masuk, tapi rapi, teratur, dan sama sama memberi hormat pada vivian.
"Sheet... " pintu jet yang terbuka. Semua pelayan memalingkan muka agar dapat melihat Nona bungsu mereka, yang selama ini tidak pernah pulang ke rumah ayah nya.
Mata mereka semua terbelalak, bahkan pelayan dari kejauhan sana saja dapat melihat dengan jelas, bahwa vivian berdiri bersama seorang pria dewasa, dan dua anak kecil. Mau di pikirkan bagaimana pun, terlihat jelas bahwa ini adalah penampakan satu keluarga.
"Tak... Tak... Tak... " langkah kaki vivian tetap melangkah bersama irwin, dan si kembar yang berada di antara papa dan mama nya sambil bergandeng tangan.
"Apakah tak ada kata sambutan untuk ku?" tanya vivian dengan mata dingin dan tajam.
"Ah... Se... Selamat datang Nona Vivian, dan sekeluarga, " teriak satu pelayan dan di ikuti pelayan lain dengan kejanggalan dan raut wajah yang sangat kaget.
"Ma... Risal kok kaya takut ? Gimana kalo nanti kakek gak suka sama aku dan kaka ?" tanya risal berbisik.
"Entahlah... Kalo soal ini mama juga gak tau, tapi kalo ayah berani macam macam sama kalian berdua, tentu mama gak akan tinggal diam. " Jawab vivian penuh keyakinan.
Si kembar yang mendengar jawaban mama mereka pun seakan mendapatkan kepercayaan diri, dan berjalan tegak seperti mama dan papa mereka.
"Selamat datang Nona, sudah lama sekali yaah semenjak terakhir kali Nona datang ke sini. Dan setelah sekian lama, anda kembali dengan kejutan besar. " Kata pria dengan wajah yang penuh akan keriput, namun senyuman tulus terpapar jelas di wajah nya.
"Em... Sudah lama sekali yah sejak terakhir kali, Josep. Wajah mu semakin banyak keriput saja. " Jawab vivian sambil menyebut nama josep penuh keakraban.
"Mau bagaimana lagi, waktu terus berjalan bagaikan air sungai. Kepala pelayan ini hanya bisa menikmati sisa sisa umur ini dengan mengabdikan diri pada Tuan Andhika. " Jawab nya memperbaiki kaca mata.
"Em, kesetiaan josep memang sudah tak bisa di ragukan lagi. Btw, dimana ayah menunggu ku ? " tanya vivian.
"Silakan ikuti saya, akan saya antar ke tempat Tuan dan Nyonya berada saat ini. Saat Nona menelepon tadi pagi, Tuan dan Nyonya langsung membuat satu kediaman ini seperti orang gila. Menyuruh para chef agar memasak semua makanan kesukaan nona dari makanan pembuka sampai penutup. Mendekor ulang kamar tidur nona, dan banyak hal lain nya, " kata josep.
"Seperti nya aku dapat membayangkan bagaimana peristiwa itu terjadi, " jawab vivian.
"Nona selalu tau seluk beluk dalam kediaman ini. Maaf kalau saya lancang, tapi siapa kah orang orang yang Nona bawa hari ini ? "
__ADS_1
"Ah, mereka adalah calon suami dan anak anak ku. "
"Ah, selamat sudah memiliki dua anak kembar yang tampan, manis, dan baik nona. Dan juga selamat sudah mendapatkan calon suami. "
"Kau tidak kaget seperti biasa nya yaah josep. "
"Karena hal seperti ini dapat terjadi kapan pun, yang perlu kita lakukan hanya bersyukur dan menjalani apa yang telah terjadi dengan setulus hati. "
"Klek... " Pintu yang di buka josep.
"Nona Vivian sudah datang Tuan dan Nyonya" Teriak josep.
Ayah dan Ibu vivian yang sedang duduk di meja makan yang panjang dan mewah pun memalingkan mata pada pintu yang baru di buka.
"Semoga berhasil nona" bisik josep undur diri.
"Hmph... Kau selalu mendukungku dari dulu yaah. Terima kasih, " jawab vivian berbisik dan tersenyum.
Andhika Satoru (Ayah vivian)
Stefani Satoru ( Ibu Vivian )
Wanita yang kecantikan nya tak pudar pudar meski sudah berumur. Yaah, mungkin karena perawatan dan sebagainya, tetapi menjadi sosok penting yang di butuhkan anak anak dan suami. Baik, sangat baik. Namun saat marah, seperti yang di katakan vivian tadi, sulit untuk mendeskripsikan nya.
"Ayah... Ibu... Vivian pulang, " ucap vivian karena bingung harus berkata apa terlebih dahulu. Lantaran raut wajah ayah dan ibu nya sangat kaget saat ini.
"Vivi... " ucap stefani sambil berjalan dan memeluk vivian dengan erat.
"Kamu itu kalo di kasih kebebasan buat berkarya di luar sana sampai lupa waktu yaah. Kamu gak pernah mikir apa kalo ibu itu kangen banget sama kamu ? Atau kamu gak rindu dan gak peduli lagi sama mama maka nya kaya gini yaah ? " pertanyaan beruntun pun keluar dari mulut sang ibu yang khawatir.
__ADS_1
"Bu.. Vivi juga kangen sama ibu... Kangen banget, " sahut vivian dan merangkul ibu nya dengan erat dan tangan nya yang gemetaran sehingga dapat di rasakan stefani.
"Kamu yakin mau menangis di saat seperti ini ? Banyak penjelasan yang harus kamu utarakan bukan ? Jadi jangan nangis dulu, ada ayah kamu di sana, " bisik sang ibu tepat di telinga vivian.
"Ibu selalu aja ngerti vivi... Makasih yaah bu, " sahut vivian.
"Apakah kalian berdua sudah selesai berpelukan ? Hei istri ku, aku juga ingin memeluk anak ku. Kasih aku ruang juga dong, " sahut sang ayah yang dari tadi kehadiran nya tidak di gubris oleh anak dan istri nya.
"Ayah... " ucap vivian.
"Kamu itu dari dulu sampai sekarang masih takut sama ayah yaah ? Makanya meluk ibu duluan ? " ucap andhika sambil memeluk vivian.
"Astaga... Di luar sana kamu gak makan kah ? Kenapa badan kamu tambah kurus ? Apa rey dan robert tidak merawat ku dengan baik ? "
"Hiks... Ayah... Hiks, " isak tangis vivian di pelukan sang ayah. Entah dari kalimat apa yang membuat vivian terharu, mungkin kehangatan orang tua yang selama ini dia rindukan membuat air mata yang berusaha dia tahan tak terbendung lagi.
"Cupp... Cup... Cup... Anak ayah yang satu ini masih kaya anak kecil yaah. " Ledek sang ayah sambil mengusap rambut vivian dengan lembut.
"Hiks... Jangan liat muka vivi... Pokok nya ayah sama ibu gak boleh liat muka vivi saat ini, " ucap vivian sambil membenamkan wajah nya di pelukan sang ayah.
"Iya... Iya.. Ayah sama ibu gak bakal ngintip muka kamu yang jelek banget pas nangis kok. Tenang aja. "
"Ih ayah ma. " Sahut vivian kesal.
"Kalo kamu mau tetap di pelukan ayah juga gak papa, tapi kamu yakin nafas kamu gak pengap ? "
"Biarin.. " jawab vivian.
"Ih kok anak ayah yang satu ini tambah bandel yaah "
"Biarin... " jawab vivian lagi.
"Pft... Puwahahaha... Hahaha, " Stefani, irwin, dan si kembar pun melepaskan hasrat tawa yang sedati tadi mereka tahan.
__ADS_1
Bagaimana tidak, si kembar seakan melihat sisi lain dari sang mama. Irwin yang merasa bahwa sikap vivian yang saat ini terlihat imut, dan stefani ibu vivian, yang merasa akhirnya setelah sekian lama melihat adegan suami dan anak nya yang berantem karena masalah sepele.